
Fei Yang menghela nafas kecewa, dia tidak bisa berbuat lebih, Karena kini sirkulasi Chi di dalam tubuhnya sendiri, semakin kacau dan tidak stabil.
Fei Yang memejamkan matanya sejenak mencoba menghimpun energi semesta alam.
Untuk mengisi beberapa titik Meridian di kedua telapak kaki nya.
Setelah itu dia langsung menghilang dari tempat itu.
Fei Yang melompat kedalam jurang, mengambil jalan memutar menuju alam dimensi rahasia ciptaan nya.
Setelah kembali ke tempat rahasia nya, Siau Huo yang pertama datang menyambut Fei Yang.
Melihat Siau Huo Fei Yang tersenyum lega, Fei Yang ingin mengulurkan tangannya membelai kepala Siau Huo.
Tapi tiba tiba dia merasa nafasnya sesak sulit bernafas, tangannya gemetaran sulit di gerakkan.
Begitu pula dengan anggota tubuhnya yang lain.
Menyusul kemudian pandangan matanya jadi gelap.
Fei Yang akhirnya jatuh tumbang kedepan, untung Siau Huo yang merasa ada yang kurang beres dengan sahabatnya.
Dia langsung memasang punggungnya, menyambut tubuh Fei Yang.
"Blukkk..!"
Fei Yang tertahan di punggung Siau Huo dalam posisi tengkurap.
Siau Huo kemudian dengan langkah hati hati membawa tubuh sahabatnya yang tidak sadarkan diri.
Menuju pondok di mana Xue Lian tinggal.
Xue Lian yang sedang menjemur selimut dan beberapa lembar pakaian yang baru habis dia cuci.
Terbelalak kaget, melihat kedatangan Siau Huo.
Dia buru buru menghentikan kegiatan nya.
Bergerak dengan langkah buru buru menghampiri Siau Huo.
Tak perlu di lihat lagi siapa yang ada di punggung Siau Huo, Xue Lian sudah bisa menebak itu Fei Yang.
Selain Fei Yang tidak akan ada orang lain yang bisa menumpang di punggung Siau Huo.
Jangankan menumpang di punggungnya, mendekati harimau yang selalu di selimuti oleh api itu saja sulit.
Hanya terhadap mereka yang dianggap keluarga saja, Siau Huo selalu menyimpan energi api alaminya itu.
Orang lain bertemu dengan Siau Huo tidak di jadikan santapan sudah harus bersyukur.
Xue Lian buru buru membantu menurunkan tubuh Fei Yang yang berat dari punggung Siau Huo.
Sesuai dugaan nya, pria yang datang itu memang suaminya.
Xue Lian membantu Fei Yang untuk duduk bersila memunggungi nya.
Sedangkan dia duduk di belakang punggung Fei Yang, membantu memberikan beberapa urutan dan menempelkan sepasang telapak tangan nya di punggung Fei Yang.
Tanpa memperdulikan keadaan nya sendiri, Xue Lian menyalurkan tenaga saktinya, untuk melancarkan peredaran hawa dan darah Fei Yang yang di beberapa titik ada yang tersumbat.
Belum lama Xue Lian bekerja, wajahnya mulai pucat, sepasang tangannya yang menempel di punggung Fei Yang, terlihat gemetaran.
Dari ubun ubun kepalanya juga mengepul uap tipis.
Dengan satu gerakan cepat, Xue Lian melepaskan kedua telapak tangannya yang menempel di punggung Fei Yang.
Lalu dia menggunakan satu jari telunjuk yang memancarkan cahaya panca warna, untuk di totokkan ke titik.Yao Yang Guan, Ming Men, yang terletak di bagian pinggang.
Lalu berpindah menotok ke titik Zhi Yang yang terletak di bagian punggung tengah, lalu berpindah ke titik Shen Zhu dibagian punggung sedikit di bawah jajaran pundak.
Kemudian berpindah ketitik Da Zhui, yang terletak tepat dititik tonjolan tulang tengkuk.
Berpindah lagi ketitik Ya Men Feng Fu, Nao Hu.. ketiga titik ini secara berurutan naik hingga kebagian paling bawah kepala belakang.
Sampai di sini Xue Lian menghembuskan nafas panjang.
Dia sedikit batuk batuk kecil, ada sedikit darah di ujung bibirnya.
Xue Lian dengan cepat menghapusnya dengan ujung lengan baju.
Agar jangan terlihat oleh Fei Yang saat dia sadar nanti.
Setelah menghimpun Tenaga dan konsentrasi.
Xue Lian memukul pelan pundak belakang Fei Yang, sehingga tubuh Fei Yang berputar setengah lingkaran, menghadap kembali ke arah Xue Lian.
Dengan gerakan cepat Xue Lian menotok titik Thian Tu di bawah dagu, bagian leher paling bawah,
Lalu berpindah Ju Que, Sheng Xue, Guan Yuan, Qi Hai.
Tiga titik secara beruntun ada di dada hingga ke Bawah pusar.
Kemudian kini tubuh Xue Lian yang mencelat keatas, dari posisi atas dengan kaki lurus keatas kepala menghadap kebawah.
Xue Lian memberikan totokan di bagian Bai Hui, titik di ubun ubun kepala Fei Yang.
Titik yang paling berbahaya, karena titik ini adalah titik dari berkumpul nya ratusan jalan darah dan syarat di kepala.
Salah sedikit orang yang terkena totokan di sana, bisa meninggal atau mengalami kelumpuhan.
Tapi bila di lakukan dengan tepat, titik ini bisa membantu kesadaran, bahkan bisa menolong orang yang hampir mati.
Begitu terkena totokan di bagian tersebut sepasang mata Fei Yang otomatis terbuka, sebelum tertutup kembali dengan kepala tertunduk kebawah.
__ADS_1
Kini nafasnya sudah teratur, Fei Yang seperti orang sedang tertidur pulas, dalam posisi duduk bersila.
Sedangkan Xue Lian, dia sudah kembali duduk bersila di posisinya, dengan posisi badan sedikit miring kekanan.
tangan kiri menekan tanah, tangan kanan memegangi dadanya yang terasa sesak dan penuh dengan cairan.
Baru setelah cairan itu di muntahkan dia bisa kembali bernafas lega.
Cairan yang di muntahkan Xue Lian adalah darah segar, Xue Lian buru buru menggunakan tanah menguburnya.
Kemudian dia kembali menggunakan ujung lengan bajunya menghapus sudut bibirnya sendiri.
Xue Lian yang terlihat semakin pucat dan lemah, dia masih mengeluarkan sebuah wadah kecil dengan tangan gemetar.
Dia mengoleskan salep itu di bagian perut Fei Yang, dan bagian lengan atasnya.
Setelah selesai, Xue Lian buru buru menegakkan posisi badannya, mengatur pernafasan sambil memejamkan sepasang matanya.
Tapi tidak berselang lama, sepasang alis Xue Lian terlihat mengernyit.
Keringat mulai muncul di keningnya, seperti titik titik mutiara kecil.
"Aduhhhh nak.."
"Kenapa harus sekarang nak...?"
Xue Lian mengeluh pelan, dia merasa perutnya mules dan sakit.
Sebentar muncul sebentar hilang, jarak tempo waktu semakin lama semakin cepat antara rasa sakit mules yang muncul dan menghilang.
Sebagai wanita berpengalaman, Xue Lian sadar, dirinya sebentar lagi hendak melahirkan.
Akibat pengerahan tenaga dalam menolong Fei Yang yang terlalu berlebihan tadi.
Xue Lian kini mengalami kontraksi yang lebih cepat dari jadwalnya.
Xue Lian yang merasa kondisinya tidak benar, dia ingin mencoba berdiri dan berjalan kedalam pondok.
Tapi ternyata antara keinginan dan kemampuan tidak sesuai harapan.
Karena tidak mampu berjalan, Xue Lian yang mulai mengeluarkan cairan bening bercampur darah di sela sela kakinya.
Memaksakan diri perlahan lahan merangkak kembali kedalam pondoknya.
Melihat Xue Lian yang seperti sedang kesulitan.
Siau Huo dengan sigap tiarap di hadapan Xue Lian, Xue Lian yang mengerti maksud Siau Huo.
Dia segera merangkak keatas punggung Siau Huo, berbaring di sana, membiarkan Siau Huo membawanya masuk kedalam pondok.
Saat tiba di dalam kamar, Xue Lian baru pindah dengan hati hati keatas ranjangnya.
Xue Lian terlihat terbaring terlentang dengan nafas memburu, saat berhasil mencapai ranjangnya.
Jeritan kesakitan Xue Lian dalam berjuang melahirkan bayi kembarnya.
Perlahan lahan membuat sepasang telinga Fei Yang bergerak gerak pelan.
Sepasang matanya yang terpejam, pelupuk matanya juga mulai bergerak gerak.
Perlahan-lahan kepala Fei Yang yang tertunduk juga sedikit bergerak gerak.
"Iaaaaaahhhhh...!"
Jeritan keras terakhir Xue Lian sebelum kemudian terdengar suara tangis bayi.
"Oeeekkk,...! Oeeekkk,...!"
Saat Xue Lian sedang mengumpulkan tenaga untuk bersiap mengeden sekali lagi untuk kelahiran anak keduanya.
Saat itulah sepasang mata Fei Yang terbuka lebar, karena mendengar suara jeritan keras istrinya, dan suara tangis bayi nya yang baru lahir.
"Xue Lian melahirkan,..ahh ini belum waktunya."
gumam Fei Yang dengan wajah khawatir.
Fei Yang buru buru berdiri, sambil menahan sisa rasa nyeri di luar dalam tubuhnya.
Fei Yang dengan langkah sempoyongan masuk kedalam kamar.
Saat melihat situasi di dalam kamar di mana istrinya dengan nafas Senin Kemis sedang berjuang sendirian.
Dengan darah membasahi tempat tidur, di mana terlihat bayinya sedang menangis di antara kedua sela sela kakinya.
Fei Yang yang awalnya bengong, begitu mendengar suara lemah istrinya.
"Yang Ke ke, banyu aku..."
"Bantu anak kita.."
Fei Yang langsung tersadar, dengan gerakan cepat Fei Yang mengambil kain pembungkus bayi yang sudah di siapkan oleh Xue Lian.
Dia buru buru maju membantu memotong Ari Ari putranya, lalu membungkus bayi merah yang sedang menangis keras itu, dengan kain yang dia siapkan.
Setelah selesai, Fei Yang terpaksa meletakkan bayi yang sedang menangis itu di samping istrinya.
"Sayang bertahan lah, aku pergi ambil air panas ."
ucap Fei Yang sambil membelai lembut kepala Xue Lian yang keningnya penuh keringat.
Xue Lian mengigit bibir bawahnya sendiri dan mengangguk lemah.
Fei Yang mengeraskan hatinya , dia buru buru pergi ke dapur memasak air hangat untuk keperluan istri dan anaknya.
__ADS_1
Saat ini yang bisa diandalkan hanya mereka berdua, ditempat ini, tidak ada tabib, bibi yang membantu kelahiran, ataupun pelayan.
Jadi yang bisa di andalkan hanya mereka berdua.
Fei Yang merasa tenaganya pulih sebagian meski belum lancar tapi masih bisa di gunakan.
Fei Yang yang tidak punya waktu lagi menggunakan kayu bakar memasak air.
Dia kini menggunakan telapak tangannya di tempelkan di wadah air, memanaskan air dengan hawa Yang nya
Dengan cara ini, meski sedikit menguras tenaga, karena kondisinya yang sedang keracunan.
Tapi setidaknya ini cara tercepat, untuk mendapatkan yang di butuhkan nya.
Fei Yang perlahan-lahan mulai paham, mengapa tenaganya yang tadinya habis total, kini bisa ada.
Xue Lian yang harusnya jadwalnya dua Minggu lagi, jadi berubah jadwalnya, lebih cepat dari perhitungan.
Semua ini pasti berhubungan dengan pengorbanan Xue Lian untuk menolong dirinya.
Sambil bekerja, tanpa terasa air mata haru dan perasaan bersalah telah runtuh jatuh menitik kedalam air yang sedang dia panaskan.
Sesaat kemudian Fei Yang sudah kembali kedalam kamar, untuk membantu memandikan bayinya, memberikan selimut hangat dan mengganti kain bedong baru.
Bayi Fei Yang, kini tidak menangis lagi, dia terlihat tidur dengan pulas di tempat tidur bayinya, yang memang sudah di siapkan oleh Fei Yang jauh jauh hari buat kedua anak kembarnya itu.
Fei Yang tersenyum puas menatap putranya yang baru lahir, sesaat kemudian dia sudah kembali kesamping istrinya dan berkata,
"Sayang ayo lah sekali lagi.."
"Masih ada satu lagi..semangat.."
Xue Lian tersenyum tipis, menatap Fei Yang dia mengangguk kecil.
Lalu dia mulai berjuang kembali, saat dia kembali menjerit keras berulang kali.
Urat urat hijau halus di dahi, hingga ke leher terlihat menonjol keluar.
Dalam sebuah teriakan keras, hingga kepala Xue Lian terangkat keatas menatap kearah celah diantara kedua paha nya, yang di tutupi selimut oleh Fei Yang.
Akhirnya terdengar suara tangis bayi kedua,
"Oeeekkk...! Oeeekkk...! "
Suara tangisnya yang nyaring memenuhi seluruh ruangan kamar tersebut.
Xue Lian akhirnya bisa menghembus nafas lega, tugasnya telah selesai.
Kepalanya terjatuh kembali kebelakang, matanya sedikit mendelik keatas, sebelum kemudian sepasang matanya pun kembali menutup rapat.
Fei Yang yang sedang tersenyum gembira, sambil memondong bayi kedua nya keluar dari celah kedua paha istrinya.
Saat melihat kearah Xue Lian senyumnya pun hilang berganti wajah cemas.
Dengan agak sedikit terburu-buru Fei Yang membereskan bayi kedua nya, memandikan menyelimuti nya dengan rapi, lalu di taruh di keranjang bayi yang kedua.
Fei Yang dengan buru-buru menggelar jarum peraknya di sisi kasur.
Lalu dengan gerakan cepat Fei Yang menusukkan jarum ke titik Hui Yin yang terletak di antara lubang anus dan V istrinya.
Di susul dengan tusukan di titik Guan Yuan.
Dua titik ini selain bisa menghentikan pendarahan hebat, juga bisa membantu melancarkan meningkatkan dan menjaga kestabilan Chi.
Lalu Fei Yang beralih ke titik Shan Zhong yang terletak di bagian antara ruas tulang dada kedua dan ketiga.
Titik ini bisa membantu menjaga ketenangan Jantung dan pikiran.
Setelah itu Fei Yang beralih ketitik
diatas pusar Sheng Que, yang bisa membantu memulihkan kesadaran.
Begitu titik ini di tusukan jarum oleh Fei Yang, dengan lembut, Xue Lian pun menghembuskan nafas lega
Sepasang matanya meski lemah tapi mulai bisa terbuka kembali, nafasnya mulai normal.
Hanya saja Fei Yang sedikit terkejut, melihat tatapan mata istrinya yang kosong, tidak normal
Mulutnya yang terbuka seolah ingin bicara', tapi tidak ada suara yang keluar.
Fei Yang buru buru mencabut semua jarum yang dia tusukkan tadi, lalu di masukkan kedalam sebuah mangkuk.
Setelah itu Fei Yang memegang lembut pergelangan tangan kiri Xue Lian memeriksa denyut nadinya.
Lalu Fei Yang meraba dada dan tenggorokan istrinya.
Beberapa saat kemudian Fei Yang terduduk lemas, di samping istrinya.
Sambil menghapus airmatanya sendiri yang runtuh.
Fei Yang lalu menunduk dan berbisik di samping telinga istrinya.
"Sayang kamu tenanglah dan sabar, aku akan merawat kalian dengan baik."
"Aku berjanji, aku pasti akan berusaha agar kamu bisa pulih kembali."
Mendengar suara bisikan Fei Yang, Xue Lian menoleh menatap kearah Fei Yang dengan tatapan mata kosong.
Dia memaksa kan diri memberikan sebuah senyum, lalu sepasang matanya kembali terpejam.
Dari kedua sudut matanya, mengalir dua titik air bening yang runtuh mengalir pelan ke bawah
Fei Yang menghela nafas panjang, lalu dengan lembut, Fei Yang menggunakan jempolnya menghapus air bening di sisi mata istrinya dan berkata,
__ADS_1
"Jangan bersedih sayang, aku berjanji pasti akan memberi mu kesembuhan ."