
Setelah mengakhiri cerita tentang dirinya, Nan Thian kini berbalik menatap kearah Zi Zi dan berkata dengan serius.
"Zi Zi setelah kita berpisah dahulu, apa yang terjadi ? di mana paman kecil, Siau Hei, Siau Yen, Siu Lian ?"
"Mengapa kamu bisa tiba tiba menjadi murid pulau pelangi.?"
tanya Nan Thian mengemukakan semua rasa ingin tahu, yang berkecamuk dalam pikirannya selama ini.
Zi Zi wajahnya seketika berubah muram dan sedih, untuk menghindari airmata nya runtuh.
Dia sedikit menengadah menatap kearah langit.
"Saat Zi Zi kak Sun Er, Kak Siau Yen dan kak Siu Lian menyusul kakak ke puncak Lian Hua Feng."
"Kami secara tidak sengaja bertemu dengan dua manusia berhati iblis.."
ucap Zi Zi memulai ceritanya dengan wajah sedih bercampur geram.
Nan Thian menatap Zi Zi dengan serius menunggu dengan sabar cerita lanjutan nya.
"Kakak mengenal mereka, mereka lah yang membuat kakak terjatuh kedalam jurang, bersama Naga Kadal Terbang.."
ucap Zi Zi penuh kebencian.
Nan Thian tahu siapa yang di maksud, dia menghela nafas panjang.
Sesaat kemudian karena melihat Zi Zi terus termenung, Nan Thian pun berkata pelan.
"Selanjutnya apa yang terjadi..?"
Zi Zi menoleh kembali menatap kearah Nan Thian dengan sepasang mata basah, dia berkata dengan penuh penyesalan diri,
"Ini semua salah Zi Zi, Zi Zi tidak pernah serius berlatih, Zi Zi terlalu tamak bermain, bahkan sering menganggu kakak Sun berlatih.."
"Andaikan Zi Zi tidak malas, tentu Zi Zi dan kak Sun bisa mengatasi mereka, sehingga tragedi itu tidak perlu terjadi.."
ucap Zi Zi tertunduk menyesal, dengan airmata mulai menitik kebawah.
Nan Thian tersenyum lembut dan berkata,
"Bibi kecil tidak bersalah, begitu pula paman kecil, itu bukan tanggung jawab kalian.."
"Bila mau di telusuri, akulah yang bersalah pada kalian semua, aku tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawab ku melindungi kalian dengan benar ."
"Tapi saat ini menyesal pun percuma, semua sudah terlanjur terjadi.."
"Saat ini yang penting adalah kedepannya, kedepannya kita tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama.."
"Ini adalah pelajaran berharga yang harus kita bayar dengan mahal.."
ucap Nan Thian pelan.
__ADS_1
Dia menepuk kedua bahu Zi Zi dengan lembut berusaha menenangkan rasa penyesalan dan rasa bersalah yang dirasakan oleh Zi Zi.
Ucapan dan sikap Nan Thian yang lembut sabar penuh pengertian, justru membuka tanggul yang membendung semua kesedihan penyesalan dan rasa bersalah Zi Zi.
Dia langsung menubruk kedalam pelukan Nan Thian menangis dengan sedih.
Semua perasaan nya tertumpah ruah saat dia merasa menemukan tempat berlabuh.
Nan Thian langsung terdiam kaku tidak tahu harus bagaimana menanggapi sikap bibi kecilnya ini.
Seluruh perasaannya kacau balau, apalagi saat wangi lembut menyeruak masuki Indra penciuman nya
Jantung dan perasaan di buat jungkir balik oleh bibi kecilnya ini.
Nan Thian terdiam kaku seperti patung.
Dia terlihat serba salah tidak tahu harus berkata apa, dan bagaimana harus bersikap.
Dia akhirnya hanya bisa membiarkan Zi Zi menangis sepuasnya, melepaskan semua rasa tertekan dan kesedihannya.
Setelah beberapa waktu berlalu, di mana tangis Zi Zi mulai mereda, Nan Thian dengan lembut memegang bahu bibi kecilnya.
Lalu dia mendorongnya menjauh darinya dan berkata,
"Bibi kecil tenangkan hati perasaan dan pikiran mu, jangan bersedih lagi.."
"Yang lalu biarlah berlalu, bila hanya menimbulkan duka dan kesedihan lebih baik lupakan saja."
Zi Zi menghapus sisa airmatanya dan berkata,
"Maaf kakak tampan, aku jadi mengotori pakaian mu.."
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Itu bukan masalah.. sebentar juga kering sendiri.."
"Asal bibi merasa lega dan bisa mengurangi rasa tertekan bibi, Thian Er pun merasa ikut lega.."
Zi Zi tersenyum manis menatap wajah Nan Thian, dia lalu memegang telapak tangan Nan Thian dengan lembut dan berkata,
"Kakak tampan emang selalu yang paling baik buat Zi Zi.."
"Kakak tampan berjanjilah jangan pernah tinggalkan Zi Zi lagi ya..?"
Nan Thian tersenyum lembut menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Baik, Thian Er berjanji.."
Zi Zi langsung tersenyum semakin manis, dia terus menggenggam tangan Nan Thian dengan erat.
Seolah olah takut, bila di lepaskan Nan Thian akan kembali pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Nan Thian hampir saja terpukau di buat senyum indah itu.
Untungnya, dia bisa cepat mengendalikan diri.
Nan Thian buru buru mengalihkan perhatiannya dengan cara melihat kearah awan yang bergerak di sekitar mereka.
Dengan begitu dia baru bisa mengendalikan perasaannya yang galau.
Nan Thian sendiri juga merasa heran, dulu dia sangat menyayangi juga sangat mencintai Xue Xue, tapi selama mereka bersama, dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini.
Dia juga sering bertemu dengan gadis cantik lainnya, tapi sejauh ini dia bisa tetap bersikap sewajarnya.
Tapi terhadap bibi kecilnya ini, tidak tahu kenapa, dia sendiri juga tidak tahu jawabannya.
Dia juga tidak berani mencari tahu perasaan nya, yang dia anggap sangat tidak wajar.
Dari segi usia dia jelas bisa jadi om nya, sedangkan dari segi aturan tata Krama, hal itu makin tidak boleh terjadi.
Karena gadis itu adalah terhitung bibi guru nya, gadis itu adalah seniornya.
Menaruh perasaan pada bibirnya, itu adalah sebuah dosa yang bisa dianggap berkurang ajar terhadap senior.
Dia bukan hanya mempermalukan bibinya, tapi juga mempermalukan nama baik kakek dan nenek paman gurunya.
Dia sudah berkali kali membuat kecewa kedua orang tuanya, bila di tambah dengan hal ini.
Nan Thian memikirkan pun tidak berani.
Untuk itu yang bisa dia lakukan kini hanyalah sebisa mungkin mengontrol dan menahan diri.
Agar tidak menimbulkan masalah tidak perlu yang super rumit.
Zi Zi yang mulai tenang, sambil termenung mengikuti arah tatapan mata Nan Thian.
Dia kembali melanjutkan ceritanya,
"Saat kami berhadapan dengan Hung Ping Chi, Siau Hei di bunuh oleh iblis itu dengan tanpa perasaan.."
"Kakak Sun terluka olehnya, sedangkan kakak Siau Yen dan kakak Siu Lian di tangkap oleh Qi Lian Lao Koai.."
"Mereka dianiaya oleh iblis tua itu di balik batu.."
"Disaat kritis, di mana Hung Ping Chi hampir menghabisi kami berdua, guru ku pun tiba bersama seorang biksu tua dari Tibet."
"Guru ku yang turun tangan mengusir mereka, saat mau kabur melarikan diri.."
"Qi Lian Lao Koai meledakkan bola yang mengeluarkan asap dan jarum beracun."
"Ketidak beruntungan menimpa kakak Siau Yen dan kakak Siu Lian, mereka berdua tewas terkena serangan kabut beracun dan jarum beracun.."
"Selain itu guru kakak yang cedera parah, juga ikut tewas di tempat..itu.."
__ADS_1
ucap Zi Zi sambil menoleh menatap Nan Thian dengan prihatin.