PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
CERITA KILAS BALIK


__ADS_3

"Tidak apa apa anak muda, kita bisa bertemu di sini berarti jodoh."


"Anak muda kamu bermarga Yue, apakah kamu punya hubungan dengan Yue Feng ? yang masih merupakan keturunan terakhir Jendral Yue Fei, yang sangat terkenal di jamannya itu..?"


Nan Thian sedikit terkejut, bagaimana orang di dalam sana bisa mengenal nama ayahnya, bahkan nama buyutnya.


Nan Thian kembali menjura dan berkata,


"Benar sekali senior, Yue Feng adalah ayah ku, sedangkan Jendral Yue Fei beliau adalah buyut ku.."


Dari balik pintu pondok yang terbuka, kini melangkah keluar seorang pria yang sangat tampan, rambutnya yang putih berkilauan tidak bisa menutupi wajahnya yang sangat tampan itu.


Pria itu tersenyum gembira, berjalan keluar dari dalam pondok menghampiri Nan Thian.


Tapi meski dia terlihat tersenyum gembira, Nan Thian bisa melihat tatapan matanya, yang menyiratkan kesedihan mendalam.


"Tidak terasa kamu sudah sebesar ini, bagaimana kabar ibu dan ayah mu ?.."


ucap pria berambut putih itu gembira, sambil menepuk bahu Nan Thian dengan lembut.


Nan Thian tersenyum canggung dan berkata,


"Terakhir setahun yang lalu kami bertemu, keadaan mereka berdua sangat baik.."


"Tapi itu sudah setahun yang lalu, sampai kini kami belum sempat bertemu kembali.."


"Jadi aku juga kurang tahu, kabar terakhir mereka berdua kini.."


ucap Nan Thian agak canggung.


Pria itu tersenyum penuh pengertian menatap Nan Thian.


Dia adalah orang yang cerdas dan berpengalaman.


Tanpa Nan Thian jelaskan sekalipun, dia sudah menangkap, pasti ada sesuatu yang kurang menyenangkan terjadi antara hubungan Nan Thian dengan kedua orang tuanya.


Hanya saja apa penyebabnya, tentu saja hanya mereka berdua yang tahu.


Itu juga bukan ranah dirinya untuk mencari tahu dan ikut campur terlalu dalam.


"Nan Thian kamu pasti heran dan menduga duga, siapa aku dan bagaimana aku bisa mengenal ayah ibu mu..?"


ucap pria itu sambil tersenyum lembut.


Nan Thian mengangguk cepat dan bertanya dengan sedikit ragu,


"Apakah senior adalah Kakek Paman guru ku Li Fei Yang..?"


Pria itu sambil tersenyum lebar, menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Nama ku benar Li Fei Yang, tapi mengenai panggilan yang ribet dan berlebihan, yang di sematkan oleh Hong Yi kepada ku.."


"Sebaiknya kamu jangan meneruskannya, cukup panggil aku paman Fei Yang saja, itu akan terdengar jauh lebih nyaman dan praktis."

__ADS_1


ucap Fei Yang ramah.


Nan Thian dengan gembira, dia segera berlutut di hadapan Fei Yang dan berkata dengan penuh rasa syukur, saking gembiranya Nan Thian sampai lupa dengan pesan Fei Yang tadi.


"Ahh,.. Kakek Paman guru Fei Yang, akhirnya kita bertemu juga."


"Aku paman dan Bibi kecil sudah lama mencari kakek Paman guru kemana mana, akhirnya kita malah bertemu di sini."


"Tapi sayangnya bibi dan paman kecil, justru tidak tahu kakek paman guru ada di sini.."


"Mereka sekarang masih ada di puncak Lian Hua Feng sana.."


ucap Nan Thian sedikit menyesal.


Fei Yang dengan sikap tenang, membangunkan Nan Thian untuk berdiri dan berkata,


"Nan Thian panggil saya paman Fei Yang saja, apakah maksud mu tadi adalah Zi Zi putri ku dan Sun Er keponakan ku..?"


Nan Thian mengangguk cepat dan berkata,


"Benar paman Fei Yang, mereka adalah Zi Zi dan Sun Er.."


Fei Yang menghela nafas sedih dan berkata,


"Ini adalah takdir, asalkan mereka berdua baik baik saja, aku sudah bersyukur."


"Tidak paman Fei Yang, paman Fei Yang harus tahu situasi sedang rumit.."


"Sebenarnya aku sedang sangat mencemaskan mereka, aku takut mereka bertemu dengan orang orang jahat di atas sana.."


Fei Yang menatap Nan Thian dan berkata pelan.


"Terimakasih banyak Nan Thian, tapi saat ini, baik kamu maupun aku.."


"Kita tidak bisa melakukan apapun, untuk menolong mereka kemari.."


"Karena kita saat ini tidak mungkin bisa keluar dari sini, mereka juga tidak bisa masuk kemari.."


"Sebenarnya sebelum kita bertemu aku baru saja melihat batu Kumala, yang terhubung dengan keselamatan mereka.."


"Mereka berdua saat ini baik baik saja, ada kemungkinan saat ini, mereka berdua telah di bawa pergi jauh ke suatu tempat, diluar wilayah Cina daratan ini.."


ucap Fei Yang pelan.


Dia berusaha menekan perasaan sedihnya, mencoba bersikap setenang mungkin di hadapan Nan Thian.


Nan Thian menghela nafas panjang dengan kecewa dan berkata,


"Paman Fei Yang, sebenarnya apa yang telah terjadi ? Nan Thian jadi bingung.."


"Bibi Xue Lian juga kenapa dari tadi tidak kunjung terlihat ?"


"Aku sebelumnya bisa kemari juga karena ada suara tangis bayi.."

__ADS_1


"Apa bibi Xue Lian di dalam sana sedang mengurus bayi yang masih kecil ?"


tanya Nan Thian penuh keheranan.


Di sebutnya nam Xue Lian, sepasang mata Fei Yang langsung merah dan berkaca kaca.


Tubuhnya terlihat bergetar hebat, dia terlihat berusaha menahan diri mengatasi kesedihannya.


Fei Yang tiba tiba membalikkan badannya, berjalan masuk kembali kedalam pondoknya dan berkata,


"Nan Thian ceritanya panjang, ikutlah denganku kedalam, paman akan ceritakan semuanya, pada mu pelan pelan.."


Nan Thian mengangguk lalu berjalan mengikuti Fei Yang masuk kedalam pondok.


Fei Yang menyeduh teh wangi untuk di sajikan kearah Nan Thian.


Teh itu saking panasnya, dari cawan teh tersebut.


Terlihat asap tipis yang mengebul ke udara.


Setelah menyajikan teh Fei Yang baru berkata,


"Semua ini, bila di ceritakan kembali.


Ini semua berawal dari akhir petualangan kami, di mana dengan hadirnya Zi Zi."


"Xue Lian memutuskan ingin menghentikan petualangan kami dan dia ingin kembali ke daratan tengah."


"Mencari suatu tempat yang tenang untuk merawat dan membesarkan putri kami.."


"Saat dalam perjalanan kembali, kami memutuskan untuk mampir kerajaan Xi Xia.."


"Tapi saat kami kembali, semua sudah terlambat, kami justru menemukan kerajaan Xi Xia sudah di hancurkan oleh pihak Mongolia.."


"Kami menemukan kenyataan pahit, tidak ada satupun dari keluarga ku, yang berhasil keluar hidup hidup."


"Setelah kerajaan Xi Xia di hancurkan oleh pihak Mongolia."


"Satu satu nya yang masih berhasil bertahan hidup, dan berhasil kami selamatkan hanya Sun er seorang."


"Untuk menolong Sun er keluar dari cengkraman tangan pihak Mongolia."


"Kami terpaksa bentrok dengan pasukan Mongolia."


"Kami berdua berhasil membuat kocar kacir barisan pasukan Mongolia.."


"Bahkan beberapa Jendral Mongolia semua tewas di tangan kami.."


"Tapi saat kami hendak membawa pergi Sun er, jagoan jagoan undangan pihak Mongolia mulai bermunculan."


"Mereka mengepung dan mengeroyok kami, terutama ada 4 orang yang menjadi andalan pihak Mongolia."


"Mereka adalah 4 Raja Dewa dunia, yang sengaja di undang oleh kaisar Mongolia, Genghis Khan dari berbagai penjuru dunia."

__ADS_1


"Khusus untuk menghadapi jagoan jagoan daratan tengah, yang terkenal banyak memilki orang sakti dan perguruan besar, yang tidak mau tunduk pada kekuasaan Mongolia


__ADS_2