PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
BING HAN


__ADS_3

Sosok itu menatap bingung kearah 4 pelayan muda yang ada di hadapannya.


Dengan tatapan mata kosong, sosok itu menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku tidak tahu, aku juga tidak ingat apapun.."


"Saat bangun tidur, aku tahu tahu sudah ada di sana, dikerumuni banyak orang.."


"Lalu kalian membawa ku kemari.."


"Aku hanya tahu itu lainnya aku sama sekali tidak tahu.."


ucap Sosok misterius itu sambil menatap bingung kearah keempat pelayan muda yang ada di hadapannya.


Keempat pelayan itu saling pandang, salah satu dari mereka berkata,


"Kita bantu dia berpakaian saja dulu, setelah itu kita bawa ke Tao Cu.."


"Sisanya biar Tao Cu saja yang urus."


"Dia seperti telah kehilangan ingatannya.."


ucap salah satu pelayan itu ke tiga rekannya yang lain.


Mereka bertiga mengangguk cepat, lalu segera membantu sosok misterius itu mengenakan pakaian baru, yang sudah mereka siapkan.


Setelah rapi, mereka pun mengajak sosok misterius itu pergi menemui Tao Cu mereka.


Mereka berlima akhirnya tiba di depan sebuah bangunan yang bagian depan nya tertutup sebuah pintu batu besar.


"Salam hormat kami Tao Cu,! gadis yang Tao Cu selamatkan tadi sudah kami layani dengan baik..!"


"Apa Tao Cu ingin menemuinya !?"


"Atau ada pesan lainnya..!?"


ucap salah satu pelayan itu sambil memberi hormat di depan pintu batu besar.


"Tidak Ling er, tanyakan saja asal usulnya, lalu minta paman Lam aturkan dia untuk di kembalikan ke asalnya.."


ucap suara Bing Han dari balik pintu batu itu.


"Tapi Tao Cu,! nona ini tidak ingat apa apa,! sepertinya dia telah lupa ingatan,! tidak ingat lagi siapa dirinya dan asal nya..!"


ucap gadis pelayan yang di panggil Ling er itu menjelaskan dengan suara agak di keraskan.


Setelah Ling Er memberikan penjelasan, keadaan kembali hening.


"Deeerrrr..! Deeerrrr..! Deeerrrr..!"


Pintu batu bergetar hebat, sebelum perlahan-lahan terbuka,


Bing Han terlihat berjalan keluar dari dalam ruangan dengan menggendong kedua tangannya di belakang.


Keempat pelayan itu segera menjatuhkan diri memberi hormat dengan kepala tertunduk.


"Kalian berdirilah.."


ucap Bing Han pelan.


Sepasang matanya yang tajam kini sedang menatap kearah sosok misterius, yang terlihat kebingungan menatap kearah para pelayannya, dan dirinya secara bergantian.

__ADS_1


"Nona benarkah kamu tidak ingat apapun sama sekali..?"


tanya Bing Han penuh selidik.


Gadis cantik misterius itu menggelengkan kepalanya, dengan wajah polos dia berkata,


"Terimakasih banyak tuan penolong, tapi saya benar benar tidak tahu apa pun.."


ucap Sosok misterius itu sambil menatap polos kearah Bing Han.


"Nona coba kamu duduk bersila, biar aku bantu periksa.."


ucap Bing Han pelan.


Sosok gadis misterius itu tanpa banyak membantah, langsung menuruti permintaan Bing Han.


Dia langsung duduk bersila di hadapan Bing Han.


"Ulurkan tanganmu.."


ucap Bing Han pelan.


Sosok gadis misterius itu mengikuti permintaan Bing Han.


Dia mengulurkan lengan kanannya yang berkulit putih mulus kedepan.


Seutas benang merah melesat membelit pergelangan tangan gadis misterius itu.


Bing Han terdiam di sana memegang ujung benang merah lainnya.


Kepalanya sedikit miring, matanya sedikit di picingkan.


Sesaat kemudian benang merah yang melingkar di pergelangan tangan gadis misterius itu, ditarik kembali oleh Bing Han


"Nona maaf,.. kulihat anda dalam keadaan baik baik saja, tidak ada gangguan apapun.."


"Semua berjalan cukup baik dan normal.."


"Aku paham jalan pikiran nona, nona mungkin punya indentitas rahasia yang sulit di ungkapkan.."


"Tidak apa-apa, itu adalah hak nona.."


"Ling Er antarkan tamu ke kamarnya untuk beristirahat.."


"Bila dia ingin kembali ke daratan tengah, minta paman Lam aturkan saja.."


Selesai berkata Bing Han langsung membalikkan badannya ingin kembali keruang semedinya.


Gadis misterius itu menatap bayangan punggung Bing Han dengan tatapan mata sedikit tidak enak hati.


Rahasia kebohongannya telah terbongkar oleh penolongnya, dia sebenarnya merasa dirinya agak sedikit kelewatan dan kurang enak hati.


Tapi mau gimana lagi, dia tidak bisa sembarang membuka identitas diri nya.


Karena dia sendiri juga tidak tahu tempat apa ini, dan siapa sebenarnya penolong nya itu, dia sendiri juga belum mengenalinya.


Ling Er menganggukkan kepalanya dan berkata pelan,


"Baik Tao Cu.."


"Nona silahkan lewat sini.."

__ADS_1


ucap gadis pelayan bernama Ling Er itu sopan.


Dia mempersilakan gadis misterius itu mengikutinya.


Gadis misterius itu di antar kedepan sebuah kamar yang terletak di halaman belakang istana, Ling Er lalu mendorong pintu kamar itu hingga terbuka lebar.


"Silahkan nona.."


"Untuk sementara nona bisa tinggal di sini, bila nona berubah pikiran ingin pergi dari sini, atau sudah ingat sesuatu.."


"Silahkan hubungi Ling Er.."


"Kamar kami berempat ada di ujung belakang sana.."


ucap Ling Er sambil menunjuk kearah kamar dia sendiri dan ketiga rekan rekannya.


Gadis misterius itu mengangguk kecil, lalu dia pun masuk kedalam kamar yang khusus di sediakan untuk nya.


Setelah Ling Er dan ketiga rekannya pergi, gadis misterius itu pun menutup dan mengunci pintu kamar tersebut.


Setelah itu dia baru mengedarkan pandangannya melihat keadaan di dalam kamar tersebut.


Kamar tersebut termasuk cukup sederhana, hanya ada kursi meja lemari kayu sederhana, dan sebuah ranjang kayu yang dilapisi kain lembut dan selimut hangat.


Sambil menghela nafas panjang, gadis misterius itu akhirnya membaringkan dirinya meluruskan pinggang.


Menatap kearah langit langit kamar sambil termenung seorang diri.


Dia sibuk.larut dalam kenangan dan pikirannya sendiri.


Sementara itu di suatu tempat lain, yang jauh dari dunia ramai.


Di sebuah pulau kosong yang di kelilingi oleh lautan luas.


Terlihat sesosok tubuh tanpa lengan kanan, terbaring tertelungkup di tepi pantai.


Luka parah di lengannya terlihat sudah tidak lagi mengalirkan darah.


Dari postur tubuhnya dan wajahnya yang menghadap kesamping, sosok itu adalah sosok seorang pria muda yang cukup tampan.


Pakaian nya terlihat compang camping kondisinya terlihat cukup menyedihkan.


Keadaan yang paling parah adalah dia kehilangan lengan kanannya sebatas bahu.


Beberapa waktu berlalu, akhirnya jari kiri pemuda tampan itu, sedikit demi sedikit mulai bergerak gerak.


Tak lama kemudian sepasang mata pemuda itu yang terpejam, perlahan-lahan mulai terbuka.


Matanya sedikit di picingkan membuka dan menutup, menyesuaikan cahaya menyilaukan di luar sana.


Setelah matanya mampu menyesuaikan dengan cahaya di sekitarnya.


Dia baru membuka nya kembali untuk melihat keadaan di sekitarnya.


Saat dia mencoba bergerak untuk bangun.


"Huffff...!"


Dia sedikit mengeluh menahan rasa sakit dan perih yang luar biasa di pangkal bahu kanannya.


Dengan susah payah pemuda tampan itu, di bantu dengan lengan kirinya, akhirnya dia berhasil bangkit untuk duduk.

__ADS_1


"Huffff..!"


Keluh Pemuda itu sambil mengerutkan alisnya, berusaha menahan rasa nyeri luar biasa di pangkal bahu kanannya.


__ADS_2