
Tubuhnya terlihat melengkung kedepan sambil menjerit kesakitan.
Di saat bersamaan Nan Thian kembali menyentil kan jarinya.
"Cresss..!"
Kini cahaya transparan menyambar kearah titik di atas anu nya titik meridian Qu Qu.
"Arggghh...!"
jerit Wu Cong Kuan kesakitan sambil kembali meringkuk dan memegangi bagian yang tersengat tersebut.
Seluruh tubuhnya terlihat basah keringat, wajahnya pucat seperti kertas, dia berusaha menahan rasa nyerinya, dengan mengigit bibir bawahnya sendiri, hingga berdarah.
Karir Wu Cong Kuan tamat sudah, mulai kini, dia tidak akan pernah bisa menjadi pria lagi.
Setelah Nan Thian turun tangan mengerjai ketiga titik meridian nya itu, bahkan ada kemungkinan, nanti suaranya akan ikut berubah menjadi kemayu.
Secara kebetulan dari ruang rahasia penyimpanan harta pusaka, pintu rahasia tersebut terbuka dari dalam.
Hung Ping Chi terlihat sedang bergerak keluar sambil mendorong sebuah pedati beroda, yang di gunakan untuk mengangkut beberapa peti besar.
Melihat Nan Thian hadir di sana, wajahnya seketika pucat.
Dia buru-buru melepaskan pedati beroda yang sedang di dorongnya.
Tanpa memperdulikan benda benda itu, dia langsung memutar badannya hendak masuk kembali kedalam pintu rahasia.
Tapi terlambat, tiga titik di bagian punggungnya terlanjur tersentuh oleh totokan jarak jauh yang Nan Thian lepaskan.
Dia langsung berdiri mematung di sana, tidak mampu bergerak.
Matanya terus berusaha melirik kebelakang dengan penuh ketakutan.
Tubuhnya terlihat gemetaran tak terkendali, meski tidak mampu dia gerakkan.
"Nan Thian Sexiong kau mau apa,..? kau sudah membuat ku seperti ini apa belum cukup juga..?"
ucap Lim Ping Chi ketakutan.
"Kamu sendiri lebih tahu, aku akan melakukan apa pada mu, setelah apa yang kamu lakukan pada Siau Semei ku yang malang..?"
ucap Nan Thian dingin, sambil melangkah menghampiri Ping Chi.
Kim Lan tiba tiba dengan emosi berkata,
"Pendekar muda jangan ampuni binatang itu..!"
"Dia lah yang menggunakan nyawa kami bertiga untuk mengancam Kim Hong Semei, agar mau menyerahkan diri menjadi istrinya..!"
"Binatang itu hari ini harus mati..!"
teriak Kim Lan emosi.
__ADS_1
Dia tahu Nan Thian orang baik, mudah kasihan, berhati lembut, dan sangat murah hati.
Dia sedikit khawatir Nan Thian akan mengampuni bajingan biadab yang hampir mirip dengan bawahan nya itu.
Nan Thian tersenyum dingin, tanpa menoleh dia berkata,
"Senior Kim Lan Sethai jangan khawatir, hari akan jadi hari peringatan kematiannya di tahun depan.."
"Nan Thian kau bajingan munafik, ucapan mu bolak balik tidak bisa di pegang..!"
"Lepaskan aku..! dasar munafik..!"
Lim Ping Chi memaki maki Nan Thian, tapi wajahnya jelas menunjukkan dia takut dan panik.
Nan Thian tersenyum dingin, berdiri di hadapan Lim Ping Chi.
"Siao Setie, sebenarnya aku memang berniat melepaskan mu, demi Siao Semei dan Kim Hong aku memang benar ingin melakukan itu.."
"Tapi setelah menyaksikan apa yang kamu lakukan pada Siao Semei, aku berubah pikiran.."
ucap Nan Thian bersiap memberikan tebasan terakhir mengakhiri hidup Hung Ping Chi.
"Nan Thian ke ke tahan..!"
terdengar sebuah suara lembut yang baru saja memasuki ruangan itu.
Nan Thian yang telapak tangan nya telah di penuhi oleh hawa transparan setajam pisau silet.
Terpaksa menahan gerakannya, menoleh kearah asal suara.
Kim Hong hadir di sana karena dia dari kamarnya, mendengar suara ribut ribut di bangunan gudang harta dan pusaka.
Saat tiba di sana melihat suaminya mau di habisi, dia segera maju kedepan mencoba untuk menyelamatkannya.
"Nan Thian ke ke demi persahabatan kita, aku mohon ampunilah suami ku untuk kali ini.."
"Aku tidak bisa melihat dia mati di depan mata ku, tanpa melakukan sesuatu."
"Aku berjanji setelah ini, aku akan membujuk dan mengawasinya agar tidak melakukan kejahatan lagi.."
ucap Kim Hong sambil menatap kearah Nan Thian penuh permohonan.
"Kim Hong apa yang kamu lakukan, kembalilah.. bajingan itu tidak layak..!"
"Jangan lupa dia mengawini mu dengan cara paksa dan ancaman..!"
tegur Kim Lan emosi.
Kim Hong menoleh kearah kakak seperguruan nya dan berkata,
"Kim Lan Secie, maafkan keputusan Hong Mei yang berlawanan dengan mu.."
"Terlepas apapun cara perkawinan kami, dia kini adalah suami ku.."
__ADS_1
"I Ye Fu Ci Pai Je En, bagaimana aku bisa melihat dia mati dengan cara seperti ini..?"
ucap Kim Hong sedih.
I Ye Fu Ci Pai Je En, artinya adalah satu malam menjadi suami istri budinya sama dengan Budi selama 100 hari.
"Kim Hong bukan aku tidak memandang hubungan baik kita, justru aku memandang hubungan baik kita.."
"Aku tidak boleh lagi melepaskan nya, atau akan semakin banyak orang yang menderita karena nya.."
"Aku tidak mau mengalami nasib tragis seperti Siao Semei ku.."
"Saat penyesalan datang semua sudah terlambat.."
ucap Nan Thian tegas.
"Senior Bai Xue Sethai, mohon bantu bawa Kim Hong menjauh dari sini.."
ucap Nan Thian sambil melepaskan sebuah totokan jarak jauh, melumpuhkan Kim Hong.
"Cesss..!"
cahaya putih transparan bergerak dengan sangat cepat.
Sebelum Kim Hong sempat menghindar, tubuhnya telah lumpuh, tidak bisa di gerakkan lagi.
Bai Xue Sethai mengangguk cepat, dia segera bergerak menyambar tubuh Kim Hong, lalu membawanya keluar dari tempat itu.
Kim Lan dan Kim Sin sendiri, setelah mereka mengambil senjata guru dan senjata mereka masing-masing.
Mereka berdua segera melesat meninggalkan ruangan itu menyusul guru mereka yang memondong tubuh Kim Hong pergi duluan.
Nan Thian melihat Kim Hong telah di bawa pergi,.dia segera meneruskan tebasan tangan udara kosongnya kearah leher Lim Ping Chi.
Lim Ping Chi terlihat terbelalak ketakutan, saat melihat sinar putih melesat melewati depan matanya.
Sesaat dia merasakan perih di bagian lehernya, kemudian dia merasa pandangan nya pun gelap total.
Lim Ping Chi terlihat terkapar di atas lantai berkelenjotan seperti ayam habis di sembelih.
Dari lehernya yang terbuka lebar, terlihat darah menyembur dengan deras seperti keran bocor.
Nan Thian menatap kearah Ping Chi dengan iba dan berkata,
"Siao Setie kamu jalanilah dengan tenang."
"Semoga di kehidupan mendatang, kamu bisa menjadi orang yang jauh lebih baik daripada saat ini."
Selesai berkata, Nan Thian pun melangkah menuju kamar harta pusaka Lim Ping Chi.
Nan Thian memasukkan semua harta yang di peroleh dengan cara kotor itu, kedalam cincinnya.
Setelah itu Nan Thian baru berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Di halaman depan, ruangan penyimpanan harta, Nan Thian melihat Bai Xue Sethai sedang memeluk dan membelai kepala Kim Hong, yang terlihat sedang menangis sedih dalam pelukan gurunya.
Sedangkan Kim Lan dan Kim Sin Sethai, mereka berdua terlihat berdiri di samping sana, menatap kearah Kim Hong dengan prihatin.