PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
TERKENANG MASA LALU


__ADS_3

Nan Thian tersenyum canggung ke pamannya dan berkata,


"Paman kami pamit permisi dulu, sampai jumpa.."


Fei Yang tersenyum lembut dan berkata,


"Kalian hati hatilah di jalan..'


Kim Kim bergerak menuju pintu portal cahaya, sebelum masuk dia menoleh kebelakang dan berkata,


"Paman tampan, aku pergi dulu demi kamu.."


"Pulang nanti paman harus obati lelah ku ini dengan makanan enak ya..?"


Nan Thian hanya bisa menghela nafas panjang, menanggapi sikap temannya yang ekstra narsis ini.


Fei Yang hanya mengangguk dan tersenyum sabar, menanggapi sikap Kim Kim yang suka ceplas ceplos itu.


Sesaat kemudian melesat Kim Kim kedalam pintu portal dimensi.


Setelah menempuh perjalanan lorong yang mengeluarkan cahaya 6 warna.


Akhirnya mereka muncul kembali di dunia nyata, tidak jauh dari Gua Api Surgawi.


Saat Kim Kim bergerak melewati nya, dan terus terbang keatas.


Nan Thian hanya menoleh sejenak menatap kearah gua tersebut.


Kim Kim terbangnya jauh lebih cepat ketimbang Kim Tiaw.


Sebentar saja, mereka sudah keluar dari dalam jurang.


Melewati puncak Yu Ni Feng tempat tinggal Fei Yang sebelumnya yang terlihat sepi dan langgeng.


Nan Thian sebenarnya ingin mampir ke Hua San Pai melihat dan mencari tahu keadaan di sana.


Tapi berhubung dia ada tugas yang jauh lebih penting, di Puncak Xuan Wu menemui tabib dewa.


Nan Thian terpaksa menahan keinginannya, dia harus prioritas kesehatan bibi nya dulu.


Baru urus hal lain.


10 tahun bukan waktu yang singkat, Nan Thian yakin pasti sudah banyak perubahan yang terjadi selama 10 tahun ini.


Dia perlahan lahan akan mencari tahu, saat ini yang penting adalah segera temukan tabib Hua Sin yang tidak tahu masih hidup atau sudah meninggal.


Perjalanan yang seharusnya memakan satu sampai dua bulan bila lewat jalan darat.


Bersama Kim Kim hanya perlu 3 hari mereka sudah tiba di puncak Xuan Wu yang tidak terlalu jauh dari puncak Xu San.


Nan Thian menatap kearah puncak tertinggi yang tertutup awan itu, dia hanya bisa menghela nafas saja.

__ADS_1


Tempat itu adalah tempat kelahirannya, tempat tinggal ayah ibunya.


Seharusnya dia mampir dan berkunjung ke sana, menemui dan menjenguk kedua orang tuanya.


Tapi Nan Thian masih di dihinggapi perasaan malu dan menyesal.


Dia telah membuat ibunya yang keras sifatnya, marah bahkan mengusir dan tidak mengakuinya lagi.


"Ibu ayah maafkan Nan Thian yang tidak berbakti, biar kak Yue Lin saja yang menggantikan ku membahagiakan kalian."


"Karena sejak kecil memang kak Yue Lin yang lebih patut di banggakan ketimbang aku.."


ucap Nan Thian di dalam hati dengan sedih.


Dia jadi teringat masa kecilnya dulu saat masih di Xu San dulu.


Nan Thian dan Yue Lin berselisih usia 4 tahun, Nan Thian adalah anak kedua sedangkan Yue Lin kakaknya adalah anak pertama.


Yue Lin terlahir pandai bicara cerdas dan supel pandai bergaul.dan pandai membawa diri.


Tidak ada yang tidak menyukai dan menyayanginya dari atas hingga kebawah.


Sedangkan Nan Thian sebaliknya, dia terlahir pendiam, tidak pandai bicara juga kurang suka bergaul.


Lebih suka menyendiri, tidak suka menganggu juga tidak suka di ganggu.


Dia lebih suka dengan ilmu sastra daripada silat, dia lebih suka menyendiri di perpustakaan, membaca dan menghabiskan waktu nya di sana.


Tapi selama ini, karena Nan Thian selalu memilih menjauh dan mengalah.


Maka tidak ada permasalahan yang terjadi, apalagi dengan statusnya sebagai putra kedua, dari ketua Xu San.


Tentu saja tidak ada yang berani mati menganggu nya.


Apalagi kakaknya Yue Lin sangat menyayanginya.


Kehidupannya boleh di bilang berjalan dengan cukup lancar, kecuali ibunya yang suka memarahinya dan memaksanya belajar ilmu silat.


Selalu menjadikan kakaknya Yue Lin sebagai contoh untuk jadi perbandingan.


Meski sakit hati dan merasa tidak adil, Nan Thian memilih menelannya semua.


Dia tidak mau menantang dan membuat ibunya semakin marah.


Bila di suruh dia akan belajar seadanya.


Bila tidak dia akan mencari alasan ngeloyor pergi ke perpustakaan untuk membaca.


Untungnya ayahnya sangat pengertian sabar dan sangat menyayanginya.


Sehingga dia tidak terlalu merasa, tidak ada yang memperhatikan nya.

__ADS_1


Hingga suatu hari, ayahnya membawa pulang seorang gadis cilik yang sebaya dengan nya.


Gadis cilik yang berusia 8 tahun sama dengan dirinya bernama Kui Mei.


Sejak gadis cilik itu bergabung di Xu San masalah mulai muncul.


Gadis cilik yang biasa di panggil Mei Mei itu lebih suka bergaul dengan Nan Thian.


Selain karena dia juga memilki hobi yang sama dengan Nan Thian, lebih menyukai ilmu sastra dan membaca di perpustakaan.


Hal lainnya adalah dia merasa kasihan dengan Nan Thian yang terkucilkan dari pergaulan.


Makanya dia lebih suka dekat dengan Nan Thian.


Perlahan lahan karena Nan Thian tidak punya teman lain, hubungan mereka menjadi dekat.


Bagi Nan Thian ini adalah suatu hal yang baik, karena dia jadi punya teman.


Tapi hal ini justru mulai menimbulkan rasa tidak suka kakaknya Yue Lin yang iri dengan hubungan mereka.


Hal ini berawal dari kebiasaan kakaknya Yue Lin, yang selama ini tidak pernah di tolak oleh siapapun, bila dia ingin berteman.


ataupun menghendaki apapun.


Tapi terhadap Mei Mei dia terkena batunya, Mei Mei tidak memperdulikannya, lebih suka bergaul dengan adiknya yang tidak berguna menurutnya.


Kian hari melihat Nan Thian dan Mei Mei semakin akrab, Yue Lin semakin iri dan dengki.


Akibat rasa iri dan dengki inilah akhirnya menimbulkan kebencian terhadap adiknya sendiri.


Sedangkan terhadap Mei Mei, dia menjadi semakin penasaran untuk mendapatkannya.


Berkali kali Yue Lin dan beberapa teman temannya, datang ke perpustakaan mengolok olok, menindas, dan membully nya.


Tapi Nan Thian memilih mengalah dan tidak meladeni mereka, sehingga tidak sampai terjadi masalah.


Puncak nya, adalah suatu hari kakaknya membawa beberapa temannya yang jauh lebih dewasa.


Mereka yang awalnya datang hanya ingin menggoda Mei Mei, untuk memancing emosinya.


Tapi karena dia melarang Mei Mei untuk meladeni mereka, mereka menjadi semakin jadi.


Hingga salah satu teman kakaknya mencium pipi Mei Mei dan terkena tamparan dari Mei Mei.


Kemudian teman kakaknya itu tidak terima, dia ingin membalas memukuli Mei Mei.


Akhirnya karena tidak ada jalan lain, Nan Thian berdiri keluar, melindungi Mei Mei.


Akhirnya terjadilah keributan perkelahian satu lawan satu di perpustakaan.


Karena pemuda itu hanya menang lebih dewasa bertenaga lebih kuat tapi tidak menguasai ilmu bela diri yang baik.

__ADS_1


Akhirnya dia di kalahkan oleh Nan Thian dengan mudah dan di buat tak berdaya.


__ADS_2