
Setelah melepaskan serangan belatinya, Si jubah hitam melesat ke udara.
Mendahului kecepatan serangan belatinya, dia melepaskan pukulan pusaran angin hitam.
Keenam Naga Emas yang terbungkus oleh angin pukulan pusaran hitam.
Tidak mampu bergerak, mereka seolah olah terikat menjadi satu, menanti nasib.
Di mana ribuan cahaya belati biru datang menghancurkan mereka semua hingga tak berbekas.
Nan Thian yang melihat hal itu sangat kaget, apalagi saat melihat Chu Eng Lai yang baru saja tiba.
Langsung terlihat sedang di kurung oleh ribuan kelelawar hitam.
Di mana kelelawar hitam itu mengalihkan target mereka kearah Kakek Chu.
Kakek Chu terlihat memutar pedang akar dewa nya, menghalau setiap kelelawar hitam, yang terus menerjang kearah dirinya tanpa putus.
Melihat situasi sulit, ditambah lagi ribuan belati terlihat sebentar lagi bakal mengarah kedirinya.
Setelah menghancurkan keenam Naga Emas yang di lepaskan nya tadi.
Nan Thian dengan sangat terpaksa akhirnya memanggil Kim Kim keluar membantunya.
Sebatang pedang Naga Emas muncul dalam genggamannya.
Mengikuti gerakan memutar pedang seperti sebelumnya, saat terjadi pembantaian di kuil dewa tanah.
Seekor Naga emas raksasa, keluar dari pedang Naga emas, melingkari seluruh tubuh Nan Thian membentuk perisai cahaya emas dengan tubuhnya.
Menyambut serangan dari ribuan belati yang datang.
"Tringg,..! Tringg,..! Tringg,..!"
"Tringg,..! Tringg,..! Tringg,..!"
"Tringg,..! Tringg,..! Tringg,..!"
"Tringg,..! Tringg,..! Tringg,..!"
Bunga api berpijar di udara, saat ribuan belati biru, membentur cahaya yang di keluarkan oleh tubuh Naga emas raksasa.
Naga emas raksasa menyeringai sinis, sambil mengeluarkan raungan dahsyat, yang membuat Si jubah hitam terlempar menghantam dinding gua.
"Groowaaarrrrrrr...!"
"Brakkkk,...!"
Saat Naga Emas Semesta, menggeliatkan tubuhnya.
Cahaya di tubuh naga emas meledakkan, semua bayangan belati biru yang menyerang tubuhnya.
"Groowaaarrrrrrr...!"
Naga Emas Semesta kembali meraung keras, sebelum bergerak dengan moncong dan cakar terpentang.
Menghujam kearah tubuh si jubah hitam yang baru saja bangkit berdiri, setelah dirinya terhempas menabrak dinding gua.
"Crack,..!"
"Arggggghhh...!"
jerit si jubah hitam kesakitan.
__ADS_1
Sebelum suara jeritannya hilang, kepalanya sudah di caplok oleh Moncong Naga Emas Semesta.
Di susul dengan potongan tubuhnya yang bergerak lemah pun langsung di telan habis tanpa sisa oleh Kim Kim.
Setelah menghabisi si jubah hitam, Kim Kim masih belum puas, dia membuka moncongnya lebar lebar menyedot semua yang berada di hadapannya masuk kedalam mulutnya
Termasuk kakek Chu juga tidak terkecuali.
Untungnya kakek Chu bereaksi cepat, dia segera memasang kuda kuda kokoh.
Kedua kakinya seolah olah menyatu dengan tanah, tempat dirinya berpijak..
Pedang Akar dewa dia tancapkan ke atas tanah, hingga setengahnya terbenam kedalam tanah.
Sepasang tangannya memegang, gagang pedang akar dewa erat erat.
Sehingga dia berhasil bertahan dari kekuatan sedotan Kim Kim.
Kim Kim setelah menyedot habis ribuan kelelawar, dengan gerakan santai.
Dia terbang masuk kembali kedalam tubuh Nan Thian.
"Kakak pedang Naga emas itu untuk mu, aku ngantuk mau tidur dulu.."
ucap Kim Kim.
Lalu dia pun tiduran mengambang di dalam samudera Dan Tian nya Nan Thian.
Nan Thian menatap pedang cahaya emas berkilauan di tangan nya.
Saat dia berpikir bagaimana menyimpannya, pedang itu pun mengecil.
Lalu menyatu kedalam telapak tangannya, berubah menjadi sebuah tato kecil di telapak tangannya.
Pedang itu otomatis kembali muncul, kini mengertilah Nan Thian.
Nan Thian lalu menyimpannya kembali.
Tanpa di jelaskan oleh Kim Kim, Nan Thian sudah mengerti, kini pedang itu tak ubahnya sebatang pedang pusaka biasa.
Dia boleh gunakan sesuka hati memainkan jurus pedangnya, tak perlu lagi memanggil Kim Kim.
Hanya saja tentu saja tanpa di isi oleh roh Kim Kim, pedang itu tak bisa mengeluarkan jurus Naga Emas Semesta.
Seperti yang dua kali ini dia gunakan untuk menghancurkan lawan beratnya.
Nan Thian juga mengerti, dahulu Kim Kim harus merubah dirinya menjadi pedang.
Karena kekuatannya tidak cukup, kini setelah memangsa si jubah hitam dan ribuan kelelawar.
Kekuatan Kim Kim meningkat pesat, sehingga dia bisa memberikan sebagian Kekuatan dari dirinya.
Menjadi sebatang pedang pusaka permanen untuk nya.
Dengan gembira Nan Thian berjalan menghampiri tiga kantung kain hitam yang berada di pojok ruangan.
Nan Thian membuka satu persatu ketiga kain kantong hitam itu.
Kantung pertama berisi seorang anak laki laki berusia sekitar 10 tahun, dalam keadaan tertotok tidak bisa bergerak dan berbicara.
Nan Thian melepaskan totokan nya dan berkata,
"Adik kecil siapa nama mu ?"
__ADS_1
"Siapa orang tua mu ?"
"Kamu berasal dari mana..?"
"Kakak tolong bebaskan adik sepupu ku dulu, nanti aku jelaskan..?"
ucap anak kecil itu dengan sikap tenang.
Tidak terlihat sedikitpun rasa ketakutan di matanya.
Nan Thian mengangguk, lalu dia membuka kantung kedua, di mana dalamnya kantung kain tersebut.
Terlihat ada seorang gadis yang sangat cantik dan imut, juga dalam keadaan tertotok dan tidak sadarkan diri.
Nan Thian menatap anak lelaki itu penuh tanda tanya.
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Di kantung kain yang satu nya lagi kak.."
Sadarlah Nan Thian, dia langsung menoleh kearah kakek Chu dan berkata,
"Senior apakah dia cucu mu yang hilang..!?"
Kakek Chu setelah mengatur pernafasannya, dia segera melayang ringan.
Mendarat di dekat Nan Thian, yang sedang melanjutkan membuka kantung ketiga.
Begitu melihat gadis cantik yang terlihat tertotok dan dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Kakek Chu buru buru, memeriksa keadaan gadis itu dengan cemas.
Dia lalu, terlihat sibuk membuka totokan di tubuh gadis itu, juga membantu mengurutnya dengan penuh kasih sayang.
Mencoba menyadarkan gadis itu dari pingsannya.
Sementara dia sedang sibuk, Nan Thian sudah membuka kantung kain ketiga, di mana di dalamnya ada, seorang anak perempuan yang berusia sekitar 6 tahun.
Anak kecil itu wajahnya sangat imut lucu dan cantik, meski masih kecil tapi sudah terlihat jelas.
Bila kelak dewasa, dia bakal menjadi seorang gadis yang kecantikannya melebihi bidadari.
Rambutnya terlihat agak kuning keemasan, bulu matanya lentik panjang, menaungi sepasang matanya yang tertutup rapat.
Melihat pernafasannya terlihat teratur, Nan Thian tahu anak itu hanya tertidur saja.
Nan Thian pun membantu menyadarkan nya, dengan menepuk pipinya yang halus dengan pelan.
"Adik manis,.. bangunlah .!"
"Adik manis..!"
"Hemmm,..!"
anak perempuan itu bergumam pelan, dari bibirnya yang imut.
Perlahan-lahan bulu matanya yang lentik mulai bergerak-gerak, lalu perlahan-lahan sepasang matanya terbuka.
Dia menatap Nan Thian dengan tatapan mata bingung.
Lalu menoleh kesekitarnya.
Melihat kearah anak laki laki yang berusia 10 tahunan itu.
__ADS_1
"Kakak Sun kita di mana ? kenapa gelap sekali di sini ? apa kita di neraka ya kak..?"