
Tapi baik Fei Yang maupun Xue Lian, mereka memilih pura pura tidak tahu.
Mereka terus melanjutkan langkah mengikuti pelayan itu yang mengantar mereka sampai kelantai ketiga.
Di lantai ketiga, hanya bagian pinggir yang menghadap kejalan saja yang penuh.
Bagian yang menghadap kebelakang bangunan dan bagian tengah masih kosong.
"Tuan silahkan pilih mau duduk di mana ? nanti saya akan aturkan.."
ucap pelayan itu ramah.
Fei Yang mengangguk, lalu sambil bergandengan tangan dengan istrinya, dia berjalan menuju pojok ruangan yang menghadap ke bagian belakang bangunan restoran.
Bagian belakang restoran ternyata berhadapan dengan sebuah taman luas yang bagian pinggirnya di tanami pohon bambu, membuat udara terasa nyaman dan sejuk.
Di bagian tengahnya ada sebuah kolam ikan, paviliun peristirahatan, dengan bagian pinggir di kelilingi tanaman bunga warna warni yang indah.
Melihat pemandangan yang begitu indah dan nyaman, Fei Yang menoleh kearah pelayan, yang terlihat sedang sibuk mencatat pesanan Xue Lian.
Fei Yang yang sudah paham akan kemampuan makan istrinya, dia hanya tersenyum.
"Paman,.. siapa pemilik rumah di belakang restoran kalian ini,? taman nya indah sekali.."
ucap Fei Yang sambil lalu
"Ohh taman itu maksudnya,? taman ini adalah milik orang nomor dua di kerajaan Jin.
"Beliau adalah penasehat negara Jin, Yang Mulia Aisin."
Fei Yang mengangguk paham, pantas saja pikir Fei Yang dalam hati.
Dengan jabatan sebagai seorang penasehat negara, yang memiliki kekuasaan besar, apa yang tidak bisa dia miliki.
"Paman ini untuk mu, bila pesanannya cepat, rasanya memuaskan, pelayanan ok, masih ada tambahan.."
ucap Fei Yang sambil tersenyum.
Fei Yang hapal orang jenis ini, bila tidak ada uang semua akan jadi sulit.
Tapi bila ada uang semua pasti lancar.
Makanya dia kembali iming imingi dengan uang.
"Baik,..baik.. tuan jangan khawatir, serahkan saja pada ku. "
ucap pelayan itu penuh semangat.
Setelah pelayan itu pergi, Fei Yang baru mengedarkan pandangannya melihat tamu tamu yang ada di sekitarnya.
Dari penampilan mereka, rata rata yang mengisi meja di sana adalah orang dari dunia persilatan.
Sebagian besar adalah orang orang dari kalangan hitam.
Dari kalangan putih hanya terlihat seorang pendeta Tao.
Dari pakaian yang dikenakannya, Fei Yang mengenalinya sebagai anggota aliran Thian San.
__ADS_1
Fei Yang tidak ingat pernah mengenal orang itu, jadi dia pun pura pura tidak tahu apa-apa, dan tidak berusaha menegurnya.
"Kakak Yang perjalanan ke lembah kebahagiaan masih jauh ya .?"
tanya Xue Lian pelan.
Sambil mengisi cawan kosong dengan air teh hangat buat suaminya dan dirinya sendiri.
"Mungkin sekitar 5 hari perjalanan kita baru bisa sampai kesana.."
"Kenapa adik Lian, rindu rumah ya ?"
tanya Fei Yang sambil tersenyum.
Xue Lian menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak bukan itu, aku hanya tidak sabar ingin bertemu dengan ibu dan ayah ku.."
"Sabarlah, cepat lambat pasti nyampe, bila kita gunakan ilmu ringan tubuh kita mungkin 2 atau 3 hari nyampe.."
"Tapi setelah itu, kita mungkin butuh sebulan untuk memulihkan kondisi, baru bisa masuk ke lembah.."
"Itu malah jadi semakin lambat, paling tepat memang hanya pakai Kim Tiaw..."
ucap Fei Yang sambil menggenggam lembut tangan istri nya.
Xue Lian mengangguk pasrah, setelah mendengar penjelasan dan alasan suaminya.
Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari arah tangga.
Xue Lian dan Fei Yang pun menoleh kearah tangga untuk melihat apa yang terjadi.
Tak lama kemudian dari arah tangga, muncul seorang pemuda yang berpakaian dan bertopi bulu binatang.
Rambut nya di kepang dua menggantung di kanan kiri bahu.
Dari penampilannya yang sedikit mirip dengan Wanyen Hong Lie yang pernah di hajar oleh Fei Yang.
Kelihatannya pemuda ini punya latar belakang khusus, batin Fei Yang dalam hati.
Pemuda itu saat bertemu pandang dengan Xue Lian, sepasang matanya langsung berbinar.
Tanpa memperdulikan keberadaan Fei Yang, dengan sikap lancang dan tidak sopan.
Dia langsung berkata,
"Nona anda cantik sekali, hati adik terasa jungkir balik saat melihat mu.."
"Maukah nona memenuhi undangan adik untuk makan minum bersama di sebelah sana..?"
Xue Lian tidak berkata apa-apa, dia hanya tersenyum ringan, sambil menatap suaminya.
Fei Yang yang sangat mengenal karakter Xue Lian, dia pun buru-buru menyentuh punggung tangan istrinya dan menggelengkan kepalanya.
Xue Lian bila sudah tersenyum seperti itu, memang sangat cantik, tapi itu justru sangat berbahaya.
Bila sudah senyum seperti itu, setiap saat dia bisa menghabisi siapapun tanpa berkedip.
__ADS_1
Fei Yang yang tidak ingin menimbulkan masalah tidak perlu, dia buru buru berdiri dan menjura kearah pemuda itu, sambil berkata,
"Maaf kami suami istri tidak bisa memenuhi undangan anda.."
"Kami sedang tidak ingin di ganggu.."
ucap Fei Yang sopan tapi tegas.
Salah satu pengawal di samping pemuda itu langsung mencabut pedangnya menunjuk kewajah Fei Yang dan membentak kasar.
"Lancang kamu,..! siapa yang ijinkan kamu bicara..!?"
"Apa kamu tahu sedang berhadapan dengan siapa..!?"
"Cepat, berlutut minta maaf .!"
bentak pengawal itu marah.
Fei Yang tersenyum tenang, dia tidak mau menanggapi sikap pengawal itu.
Fei Yang tetap menatap kearah pemuda itu tanpa berkedip.
Pemuda itu sambil tersenyum berkata,
"Turunkan senjata mu, jangan menakuti nona cantik itu.."
"Nona cantik, bagaimana ? jangan khawatirkan kakek di sebelah mu, dia tidak akan bisa melarang kita bersenang-senang..."
ucap pemuda itu sambil mengulurkan tangannya hendak memegang tangan Xue Lian.
Tapi sebelum tangannya berhasil, tiba tiba dia berteriak ngeri.
"Arggggghhh,...!"
Tubuhnya terjengkang kebelakang berkelenjotan sebentar kemudian diam tak bergerak lagi.
Melihat hal itu semua pengawal pemuda itu langsung mencabut pedang mereka.
"Tangkap kedua pemberontak ini..!"
teriak si pengawal yang tadi, sambil mengacungkan pedang nya kewajah Fei Yang.
Sebelum rombongan prajurit Jin itu sempat bergerak, mereka semua juga ikut terjengkang ke belakang berkelenjotan, lalu diam tidak bergerak.
Dari lubang mata kanan mereka yang tertancap sebatang sumpit, hingga hanya terlihat ujungnya.
Terus menerus mengucurkan darah segar.
Tadi saat pangeran itu mau menyentuh tangannya, Xue Lian sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Dia langsung menyambitkan sumpit di tangannya, dengan kecepatan tinggi, mengarah ke mata kanan pangeran itu, hingga tembus ke otak.
Lalu saat melihat prajurit itu ingin bergerak menyerang, dia kembali menyambitkan sumpit di atas meja kearah mereka.
Melihat hal itu Fei Yang pun menghela nafas panjang dan berkata,
"Ada jalan menuju surga, kalian tidak mau pilih, malah pilih jalan ini.."
__ADS_1
Fei Yang menoleh kearah Xue Lian dan berkata,
"Adik Lian,.. mari kita tinggalkan tempat ini, sebelum kerepotan lebih besar tiba .'