PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEDATANGAN TAMU TIDAK DI HARAPKAN.


__ADS_3

Fei Yang mengangguk pelan, dia hanya bisa menatap kearah Fei Hsia dengan wajah tak berdaya, dan tatapan mata di penuhi rasa bersalah.


Fei Hsia membelai wajah Fei Yang dengan kedua tangannya dan berkata,


"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa, ayo kita tidur saja.."


Fei Yang kembali mengangguk pelan, dia memindahkan tubuhnya, mengenakan kembali pakaiannya.


Lalu berbaring di sebelah Fei Hsia, dengan beralaskan kedua telapak tangannya.


Fei Yang menatap langit langit pondok, sambil menghela nafas pelan lalu dia memejamkan matanya.


Fei Hsia juga ikut bangun, lalu mengenakan kembali pakaiannya yang berserakan.


Setelah itu dia berbaring miring memunggungi Fei Yang.


Diam diam Fei Hsia menghapus airmatanya yang jatuh bercucuran.


Sama derasnya dengan hujan yang mulai turun di luar sana.


Hanya pundak nya yang terlihat bergetar, Fei Hsia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


Sehingga tidak ada suara yang keluar sedikitpun, dia menangis dalam diam.


Tidak ingin Fei Yang tahu dan merasa menyesal dan semakin merasa bersalah.


Dalam hal ini dari awal hingga akhir, dirinya lah yang bersalah.


Fei Yang sudah cukup menderita karenanya.


Dia tidak ingin melihat Fei Yang semakin menderita lagi karena rasa bersalah.


Pelan pelan Fei Hsia yang menangis dalam diam akhirnya tertidur juga.


Fei Yang yang berbaring di sebelah Fei Hsia, meski sepasang matanya tertutup, tapi dia tahu dengan jelas apa yang terjadi dengan Fei Hsia.


Setelah Fei Hsia tertidur pulas, Fei Yang baru bangun dari tempat tidurnya.


Fei Yang memperbaiki posisi selimut Fei Hsia.


Lalu dia memilih meninggalkan tempat tidur.


Duduk melamun di depan pintu pondok, menatap kearah kegelapan malam, di mana di luar sana, hujan yang turun semakin lama semakin deras.


Dalam keadaan melamun dan menghela nafas panjang berulang kali.


Fei Yang tanpa sadar telah memegang sebuah patung ukir kayu di tangan kanan, sedangkan dompet kain wewangian ada ditangan kirinya.


Lagi lagi bunyi petir di luar sana membuat Fei Yang tersadar dari lamunannya.


Fei Yang sedikit kaget melihat patung ukir kayu yang ada di tangannya.


"Wanita ini, kenapa dia bisa muncul dalam patung ukir ini ?"


gumam Fei Yang sedikit terbelalak tak percaya.


Dia terus menatap heran kearah patung dalam genggaman tangannya.

__ADS_1


"Siapa sebenarnya dia ? mengapa aku selalu merasakan kami punya ikatan yang begitu dekat."


"Fei Hsia adalah istri ku, seharusnya dengan dia lah aku punya rasa ikatan seperti ini.."


"Tapi kenapa dengan Fei Hsia tidak dengan dia aku malah.."


"Aihh,. apakah masa lalu ku,.dulu adalah seorang pria petualang cinta..? dan gadis ini adalah istri simpanan ku ?"


gumam Fei Yang sambil menatap patung di tangannya lekat lekat.


Fei Yang kemudian membawa dompet wangi itu kedepan hidungnya.


"Wangi ini, ahh lagi lagi terasa sangat akrab dan nyaman.."


"Aku harus menyimpannya kembali, bila sampai terlihat oleh Fei Hsia, bukankah dia akan semakin sedih.."


batin Fei Yang.


"Tapi gimana nyimpannya,? tadi gimana munculnya kedua benda ini ?"


batin Fei Yang bingung.


"Ahh persetan lah,.."


batin Fei Yang, dia masukkan kedua benda itu, kembali kedalam saku baju di bagian dadanya.


Lalu Fei Yang kembali duduk termenung menatap kearah kegelapan malam di tengah laut sana.


Beberapa waktu kemudian Fei Hsia yang sedang tertidur lelap, memutar badannya ingin memeluk Fei Yang.


Tapi dia jadi terbangun, saat tidak menemukan Fei Yang berbaring di sisinya.


Dengan kaget Fei Hsia segera bangun dari tempat tidur nya, lalu mengedarkan pandangannya.


Melihat Fei Yang duduk di depan pintu sedang termenung seorang diri.


Fei Hsia pun menghela nafas lega.


Perlahan-lahan Fei Hsia meninggalkan tempat tidurnya, sambil membawa selimut hangat.


Dia berjalan pelan-pelan menghampiri Fei Yang dari belakang.


"Sayang kamu kok sudah bangun ?"


"Apa aku menganggu tidur mu..?"


tanya Fei Yang tiba tiba tanpa menoleh.


Fei Hsia sangat terkejut oleh suara pertanyaan Fei Yang yang datang tiba-tiba.


Sambil tersenyum, dia memilih duduk di samping Fei Yang, menyelimuti Fei Yang dan berkata,


"Di luar hujan gede, angin di sini sangat dingin, kenapa kakak Yang tidak tidur malah duduk sendirian di sini..?"


Fei Yang tersenyum pahit, dia menarik Fei Hsia kedalam pelukannya, sekaligus menggunakan selimut hangat untuk menyelimuti mereka berdua.


"Kamu sendiri sudah tahu dingin, bukannya tidur, kenapa malah kemari.?"

__ADS_1


tanya Fei Yang sambil menoleh kearah Fei Hsia yang kini meringkuk dalam rangkulannya.


Fei Hsia tersenyum dan berkata,


"Aku sulit tidur, bila kamu tidak di sisi ku.."


Fei Yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lembut, dia menggendong Fei Hsia.


Kembali ketempat tidur, dan berkata,


"Baiklah ayo kita tidur lagi.."


"Aku janji akan tidur bersama mu, sampai pagi.."


Fei Hsia mengangguk gembira, lalu dia menyusupkan tubuhnya meringkuk dalam pelukan Fei Yang.


Dia kembali memejamkan matanya sambil tersenyum bahagia.


Fei Yang yang melihat hal ini, kembali merasa bersalah, untuk mengurangi rasa bersalahnya.


Fei Yang menunduk sedikit memberikan kecupan penuh kasih sayang di kening Fei Hsia.


Setelah itu dia pun memaksakan diri memejamkan matanya, ikut tidur menemani Fei Hsia.


Di saat mereka berdua sedang tertidur pulas, sebuah kapal layar yang terkena badai besar semalam.


Secara tidak sengaja, terdampar tidak jauh dari pulau ikan tempat tinggal Fei Hsia.


Kapal itu menghantam batu karang, lambung kapalnya bocor, sehingga kapal tersebut terdampar di gugusan karang yang mengelilingi pulau ikan.


Sementara anak buah kapal dan pemilik kapal sedang sibuk memperbaiki kapal yang bocor.


3 orang yang terdiri dari satu pria paruh baya, dan dua wanita yang sangat cantik, mereka bertiga terbang menuju tepi pantai.


Fei Hsia yang tidur dalam pelukan Fei Yang, lebih cepat bangunnya.


Dia kini terbiasa bangun cepat, karena ingin menyiapkan sarapan pagi buat Fei Yang.


Fei Hsia bangun dengan hati-hati, lalu dia meninggalkan Fei Yang yang masih tertidur lelap.


Fei Hsia pergi meninggalkan pondoknya, mencari telur burung puyuh, yang banyak hidup di pulau tersebut.


Selagi sedang sibuk mencari sarang burung puyuh dari pucuk pohon yang satu ke yang lain.


Fei Hsia melihat pulaunya sedang di datangi orang.


Mata Fei Hsia yang tajam langsung mengenali, tamu tak di undang itu, mereka adalah orang yang paling tidak ingin dia temui.


Melihat kedatangan mereka wajah Fei Hsia seketika pucat pasi, kedua tangannya sedikit gemetar.


Tapi sesat kemudian ekspresi wajah Fei Hsia berubah menjadi sedingin es.


Dengan sikap tenang, dia melesat menghilang dari posisinya.


Fei Hsia menggunakan Wu Ying 72 Pian Pu ilmu keluarganya.


Tiga kali hilang muncul, dia sudah berada di tepi pantai menghadang langkah ketiga orang itu.

__ADS_1


__ADS_2