PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
BUAH PERSIK


__ADS_3

Semak belukar di belakang Nan Thian langsung berubah menjadi kobaran api.


Nan Thian bergulingan menghindar lalu melompat berdiri lagi.


Tenaga dalam hilang tapi, gerak reflek yang di latih hingga mendarah daging.


Tidak mungkin bisa hilang begitu saja.


Harimau api yang melihat serangan pertama nya gagal, dia langsung berputar arah depan cepat.


Kembali mengejar dan menerkam kearah Nan Thian, sambil kembali menyemburkan api kearah Nan Thian.


"Wussss..!"


Lagi lagi serangan Harimau api hanya mengenai semak belukar, Nan Thian lagi lagi lolos.


Dengan cara menjatuhkan diri tidur terlentang diatas tanah, begitu semburan api dan terkaman Harimau api lewat.


Nan Thian baru melenting berdiri kembali, lalu mencoba sebisanya kabur kearah mulut hutan.


Tapi harimau api masih terus mengejarnya dari belakang dan berusaha menerkam dengan kedua cakarnya yang berkuku runcing runcing seperti pisau silet.


Nan Thian mulai menggunakan 32 langkah ajaib warisan dari ibunya.


Tubuhnya bergerak kesana kemari terhuyung huyung sempoyongan.


Sambil terus berlari tanpa henti, sedikit demi sedikit dia meninggalkan hutan.


Dia berusaha mencapai wilayah air terjun, kini itulah satu satunya cara bagi dia, untuk meloloskan diri dari kejaran harimau api yang ganas itu.


Harimau Api juga bukan tidak menyadari niat Nan Thian, dia juga tidak bodoh.


Tapi Nan Thian memang sangat licin, sangat sulit dia jangkau.


Kelihatannya sudah dekat dan hampir berhasil.


Tapi di detik detik akhir tetap saja, dia yang selalu kehilangan sasaran.


Perlahan tapi pasti Nan Thian berhasil mendekat kearah air terjun.


Deburan air terjun yang keras, membuat uap air yang seperti kabut halimun.


Membuat harimau api menghentikan langkahnya, dia adalah mahluk alami yang di penuhi unsur Yang, unsur Api.


Bertemu dengan unsur air yang merupakan bintang kutukan baginya.


Tentu saja Harimau api tidak menyukainya, Harimau api memilih menunggui Nan Thian, berbaring santai di tempat agak jauh.


Tapi dia tetap terus mengamatinya, dia belum mau menyerah.


Nan Thian melihat harimau api itu tidak lagi mengejarnya, dia akhirnya bisa bernafas lega.


Nan Thian melangkah menuju kolam air terjun dengan tubuh yang mengalami kelelahan hebat.


Selain itu dia mulai merasa di dalam perutnya sesekali di serang rasa nyeri.

__ADS_1


Seperti ada mahluk yang sedang menggerogoti isi perutnya.


Nan Thian belum sadar itu adalah efek dari racun yang di deritanya.


Nan Thian hanya berpikir mungkin karena dirinya kelaparan sekaligus kelelahan.


Maka nya timbul rasa nyeri di bagian dalam perutnya.


Dengan langkah terseok seok, yang di penuhi kelelahan dan nyeri yang mendera seluruh tubuhnya.


Nan Thian melepaskan seluruh pakaiannya, kemudian dia masuk kedalam kolam, berendam di sana.


Melepaskan rasa penat dan lelahnya, menikmati kesegaran air terjun alami, di tempat tersebut.


Saking lelah dan nyamannya, Nan Thian sampai tertidur pulas di dalam kolam yang berair sejuk dan jernih itu.


Tanpa Nan Thian sadari luka luka goresan di sekujur tubuhnya, perlahan-lahan merapat dan sembuh sendiri seperti semula.


Bahkan rasa nyeri di perutnya pun sedikit demi sedikit berkurang.


Nan Thian baru tersadar dari tidur pulas nya, saat terdengar suara pelan Kim Kim di dalam pikirannya.


"Sejuk sekali tempat ini, di mana kita ?"


"Kelihatannya air ini mengandung anti racun di dalam tubuh mu.."


Nan Thian perlahan lahan membuka kembali matanya dan berkata di dalam hati.


"Kim Kim maaf aku menyusahkan mu.."


"Bagaimana keadaan mu sekarang..?'


Mendengar pertanyaan Nan Thian, Kim Kim menghela nafas pelan dan berkata,


"Masih belum mati, berkat keberuntungan mu.."


"Tapi aku kehilangan banyak tenaga, kini kurang lebih sama dengan mu.."


Nan Thian menghela nafas lega dan berkata,


"Tenaga nanti bisa di pulihkan, yang penting nyawa masih bisa di pertahankan itu sudah termasuk untung kita..."


Kim Kim mengangguk pelan membenarkan ucapan Nan Thian.


"Kakak kamu harus jadikan ini sebagai pelajaran, jangan mengulanginya lagi.."


"Jangan terlalu gampang percaya dengan wanita berwajah cantik dan bersikap lemah lembut.."


"Atau suatu hari kita akan benar benar mati karenanya.."


ucap Kim Kim mengingatkan Nan Thian dengan suara lemah.


Setelah berkata, dia kembali memejamkan matanya, berusaha mengatur pernafasannya agar lebih stabil.


Nan Thian mengangguk membenarkan ucapan Kim Kim.

__ADS_1


"Kamu benar Kim Kim, aku akan selalu mengingatnya.."


Nan Thian perlahan-lahan bangkit duduk dan mengedarkan pandangannya ke sekitarnya.


Dia menemukan Harimau api belum pergi, masih dengan setia duduk berjaga di sana.


Harimau api itu masih terus menatap kearah nya dengan tatapan mata tajam.


Seolah-olah dia ingin mencatat semua gerak gerik yang sedang di lakukan oleh Nan Thian.


Setelah melepas lelah kini hanya tersisa perutnya yang masih lapar.


Nan Thian mengedarkan pandangannya melihat lihat.


Ada apa yang bisa dia jadikan sebagai bahan makanan.


Pilihannya jatuh pada beberapa batang pohon persik yang tumbuh subur tidak jauh dari kolam.


Buah buah yang bergelantungan di atas pohon terlihat berwarna merah muda, begitu menawan dan menggugah selera.


Tanpa sadar Nan Thian sampai menelan ludah nya sendiri.


Selain buah persik masih ada ikan panca warna yang berseliweran di dalam kolam.


Tapi Nan Thian sadar, menangkap ikan itu tidak mudah, apalagi dengan kondisinya saat ini.


Lagipula kalaupun dia bisa menangkapnya, dia juga tidak bisa mengolahnya.


Karena di tempat aman, dia tidak mungkin bisa membuat api unggun, untuk bakar ikan, ataupun masak.


Tempat aman terlalu lembab dan basah sulit menyalakan api.


Lagipula semua bahan untuk menyalakan api unggun, ada di hutan sana, di jaga oleh harimau api yang terus menerus mengawasinya.


Untuk mengkonsumsi ikan itu, tanpa melalui proses masak, di makan mentah mentah.


Nan Thian merasa tidak sanggup, dan merasa geli untuk melakukannya.


Jadi yang paling logis adalah buah buah yang tumbuh diatas pohon itu.


Nan Thian akhirnya mengambil keputusan menghampiri salah satu pohon yang tumbuh paling dekat dengan kolam air terjun.


Begitu Nan Thian bergerak, Harimau api dengan gerakan sigap, langsung ikut berdiri.


Dia langsung bergerak mengikuti Nan Thian menghampiri kearah pohon yang di tuju Nan Thian.


Harimau Api memilih duduk tidak jauh dari bawah pohon persik.


Hal ini menyulitkan Nan Thian untuk memanjat keatas pohon, untuk mengambil buah buah yang di inginkan nya.


Ilmu ringan tubuh harus menggunakan hawa sakti, dia tidak mampu melakukan nya saat ini.


Nan Thian terdiam sesaat di tepi kolam mengutuk harimau sialan itu


Beberapa saat terdiam, Nan Thian akhirnya, berjongkok mengambil beberapa butir batu.

__ADS_1


Dia mulai mencoba menimpuk buah buah yang bergelantungan di atas pohon tersebut.


Satu dua tiga meleset, tapi Nan Thian pantang menyerah.


__ADS_2