
Arak yang bercucuran dari mulut guci semua mengalir masuk ke mulut Siaw Hong tanpa ada setetes pun yang tumpah.
Pertunjukan yang di tunjukkan oleh Siaw Hong, membuat gadis pelayan usil yang ingin mengujinya terlihat kaget.
"Plok,..! Plok,..! Plok,..!"
Terdengar suara tepuk tangan yang bergema di seluruh ruangan tersebut.
Tak lama kemudian dari balik ruangan dalam, terlihat seorang seorang kakek kurus berjubah longgar berjalan keluar sambil bertepuk tangan dan tersenyum lebar.
"Bagus,..! bagus,..! demonstrasi yang luar biasa, dari wakil ketua Siaw sungguh membuat orang kagum.."
"Kamu bocah kurang ajar, cepat berlutut minta maaf pada Wakil ketua Siaw,..!"
bentak kakek itu sambil menunjuk pelayan muda tadi..
"Maafkan sikap kami yang kurang sopan tadi, wakil ketua Siaw.."
ucap Pelayan muda itu, yang buru buru berlutut dan memberi hormat kearah Siaw Hong dengan wajah pucat.
Siaw Hong menurunkan guci arak yang besar itu keatas lantai tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Lalu sambil tertawa dia maju membangunkan gadis itu dan berkata,
"Kamu membawakan arak bagus dan banyak untuk ku, mau berterimakasih saja belum sempat, bagaimana mungkin aku akan menyalahkan mu.."
"Ayo berdirilah, jangan takut dengan kakek itu, dia hanya sayang araknya yang bagus nanti di habiskan oleh ku.."
"Kalau dia tidak menghendaki mu, kamu boleh ikut dengan ku."
"Kamu bisa menjadi anggota Kai Pang, itu kalau kamu tidak berkeberatan.."
ucap Siaw Hong serius.
Gadis itu mengangguk dan menatap Siaw Hong dengan tatapan mata penuh terimakasih.
Jelas jelas dia tadi yang berulah, ingin mengerjai Siaw Hong,.tapi Siaw Hong bukan hanya tidak marah dan tidak menyalahkan nya, dia malah membelanya di depan tuan nya.
"Ha,..ha,..ha,..!"
"Li Cu kamu bagus ya, berani tidak mendengar lagi ucapan ku..!"
"Berlutut kata ku."
ucap kakek itu sambil mengulurkan tangannya kedepan.
Li Cu seperti di tekan oleh batu sebesar gunung, yang sangat berat. kedua lututnya goyang gemetaran.
Saat dia hampir jatuh berlutut, sebuah telapak tangan lebar dan lembut menahan pundaknya yang kecil.
Li Cu langsung merasa lega, kekuatan besar yang menindihnya tadi seketika lenyap.
Melihat yang di lakukan oleh, Siaw Hong, kakek itu sambil tersenyum menambah kekuatannya, untuk kembali menekan Li Cu.
Siaw Hong bergerak maju memotongnya tenaga tekanan tersebut.
Dia menggunakan telapak tangan nya yang lain mendorongkan nya kearah kakek itu.
__ADS_1
Seluruh ruangan langsung bergetar, oleh raungan sekor naga mas yang muncul dari tapak Siaw Hong.
Naga emas itu meliuk-liuk diudara lalu menabrak kearah kakek itu.
Itu bersikap tenang dia menyambut tenaga serangan Siau Hong dengan (Siau Yao Kung ) tenaga dalam kebebasan miliknya.
"Blaarr,...!!"
Terjadi ledakan di udara, Siaw Hong dan Li Cu terpental mundur beberapa langkah kebelakang.
Tapi mereka berdua baik baik saja.
Hanya Li Cu yang merasa malu, buru buru melepaskan rangkulannya dari Siaw Hong, dan mundur menjauhi Siaw Hong.
Tadi karena situasi mendesak Siaw Hong yang ingin melindunginya, menarik Li Cu kedalam pelukannya.
Li Cu tidak bisa menolaknya, karena pada posisi seperti itu, dia memang hanya bisa mencari perlindungan dari Siaw Hong.
Sementara di posisi kakek itu, dia masih tersenyum lebar diam tidak bergeming di tempatnya.
"Ha,..ha,..ha,..! bagus bagus,! dunia persilatan mengatakan di Kai Pang ada seekor naga sakti yang bersembunyi.."
"Ternyata desas desus itu tidak palsu.."
ucap kakek itu sambil tertawa gembira.
"Senior terlalu memuji, Siaw Hong tidak berani menerimanya,.."
ucap Siaw Hong sambil memberi hormat.
Kakek itu tersenyum dan berkata,
"Selamat datang tuan Siaw silahkan duduk dan minum dengan santai.."
"Aku tidak akan pelit dengan arak, mengenai Li Cu pelayan ku, bila tuan Siaw tertarik padanya, tuan Siaw boleh membawanya, aku tidak akan berkeberatan.."
Mendengar ucapan kakek itu, Siaw Hong pun maju memberi hormat dan berkata,
"Nona Li Cu bukan barang, dia bebas menentukan mau pergi kemanapun dia suka.."
"Apapun pilihannya aku pasti akan mendukungnya, sebagai balasan atas arak enaknya tadi."
ucap Siaw Hong tegas dan berterus terang.
Dia tadi turun tangan ikut campur, hanya merasa kasihan dan ingin melindunginya saja.
Dia sama sekali tidak punya maksud apapun terhadap gadis itu..
"Ha,..ha,..ha,..!"
"Bagus,.. ! bagus,..! Pahlawan sejati tidak mengambil kesempatan, di saat orang sedang kesulitan.."
"Memberikan pertolongan tanpa pamrih.."
"Mengagumkan dan sangat menarik.."
"Baiklah Li Cu kamu pilih sendiri saja mau kemanapun kamu suka, untuk kali ini aku akan bebaskan aturan.."
__ADS_1
"Mengikuti keinginan tamu kehormatan ku.."
ucap kakek itu sambil menatap kearah Li Cu.
Li Cu langsung menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
"Budi besar tuan besar Pai,.. Li Cu seumur hidup tidak akan lupa.."
"Hari ini Li Cu di beri kesempatan memilih oleh Tuan besar Pai, Li Cu mohon maaf.."
"Li Cu memilih mulai hari ini akan mengikuti dan melayani tuan Siaw kemanapun dia pergi.."
ucap Li Cu dengan wajah merah menahan malu.
"Budi besar tuan Pai, Li Cu hanya bisa membalasnya di kehidupan mendatang.."
ucap Li Cu tegas.
Siaw Hong sedikit terkejut mendengar keputusan yang di ambil oleh Li Cu.
Fei Yang sambil tertawa menepuk pundak Siaw Hong dan berkata,
"Selamat ya, kakak hari ini bukan hanya dapat arak tapi juga dapat pelayan cantik.."
"Kelihatannya soal ilmu memikat wanita, Fei Yang masih harus banyak belajar dari kakak,.."
bisik Fei Yang sambil menahan tawa.
"Adik kau jangan salah paham aku,..aku ,.. tidak,.. aku tidak bermaksud seperti itu.."
ucap Siaw Hong panik sambil menatap kearah Fei Yang, berusaha ingin membantah.
Tapi karena dia tidak pandai berbicara, dia malah terlihat gagap dan tidak tahu mau menggunakan alasan apa untuk membantah.
"Baiklah Li Cu,.. kamu mulai sekarang bukan lagi murid lembah kebebasan.."
"Berdirilah,.."
ucap Kakek itu sambil mengibaskan tangannya dengan ringan.
Li Cu pun terlempar kearah belakangnya Siaw Hong.
"Aihhh,..!"
jerit Li Cu dengan suara tertahan, karena kaget.
Siaw Hong tidak melakukan sesuatu karena dia tahu, Li Cu tidak apa-apa hanya kaget saja.
Li Cu setelah mendarat ringan di belakang Siaw Hong dia pun berdiri diam di sana tanpa berkata apapun.
Siaw Hong yang merasa tidak enak hati hanya bisa memberi hormat kearah Pai Su Seng dan berkata,
"Terimakasih banyak senior Pai, terimalah penghormatan ku ini.."
Siaw Hong mengangkat guci besarnya kemudian bersulang kearah Pai Su Seng dan meminumnya.
Pai Su Seng juga membalas sulangan Siaw Hong, sambil tersenyum gembira.
__ADS_1
Fei Yang sambil tersenyum senang juga ikut bersulang dan minum dari cawan nya.