
"Pai Su Seng adalah guru ku.."
"Kenapa..?"
tanya pemuda cantik itu dengan sikap menantang.
Ye Sun tidak melayaninya,.dia hanya berkata pelan,
"Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja, apa beliau masih hidup, atau sudah di musnahkan oleh Ping Huo Ta Sia suami istri yang sempat memburunya..?"
Pemuda itu menjengek dingin dan berkata,
"Tentu saja guru ku masih hidup, sangat sehat malah.."
"Adalah Ping Huo Ta Sia yang harusnya kini menjadi pertanyaan besar, "
"Apa beliau masih hidup cacat atau musnah bersama kerajaan nya ."
ucap pemuda itu sambil tertawa mengejek.
Nan Thian yang mendengar nama julukan kakek paman gurunya di bawa bawa.
Diam diam dia menatap dengan curiga kearah pemuda berwajah cantik itu.
Mungkin dia ini petunjuk di mana keberadaan kakek paman guru nya itu.
pikir Nan Thian dalam hati.
Ye Sun tidak melanjutkan pembahasan tadi.
Tadi dia hanya penasaran, karena mendengar tentang asal usul pemuda cantik ini.
Ternyata masih ada hubungannya dengan Pai Su Seng lembah kebahagian, si biang onar yang hampir saja menghancurkan seluruh dunia persilatan puluhan tahun yang lalu.
Hua San Pai yang paling dekat dengan tempat kejadian keributan, hampir terbawa ikutan musnah dalam pertikaian berdarah tersebut.
Sehingga seluruh generasi tua Hua San Pai, tidak ada yang tidak mengingat peristiwa berdarah tersebut.
Peristiwa itu pulalah, yang membuat lima aliran partai terbesar sekarang berganti.
Shaolin yang merupakan aliran utama terbesar dan akar dari ilmu bela diri.
Kini memilih menutup diri, tidak mengijinkan satupun murid atau anggota nya turun dan ikut campur di dunia persilatan.
Sedangkan Kun Lun, Khong Tong, karena kehilangan banyak petinggi puncak dan anggota berbakat dalam pertikaian berdarah itu.
Kedua partai itu, kehilangan tokoh unggulan dari generasi penerus, sehingga kedua partai itu, pelan pelan namanya tenggelam jarang terdengar kembali.
Ye Sun dengan cepat mengalihkan perhatian dengan berkata,
"Baiklah undian akan segera di mulai, masing masing majulah untuk mengambil nomor undian masing masing.."
Semua peserta satu persatu satu maju mengambil nomor undian.
Setelah masing masing memegang sepotong bambu panjang, yang tertulis nomer undian mereka.
Ye Sun pun berkata,
"Sekarang masing masing ingat nomor undian masing masing.."
"Setelah itu kumpulkan lagi kemari, sebentar lagi nomor kalian akan di undi untuk menentukan siapa lawan siapa.."
__ADS_1
ucap Ye Sun sambil menyodorkan sebuah wadah tabung bambu kedepan.
Semua peserta maju, untuk memasukkan nomer undian di tangan mereka, kedalam wadah tabung bambu yang tersedia.
Setelah semua peserta memasukkan nomer undian mereka kedalam wadah tabung bambu.
Ye Sun mulai mengguncang guncang nya, hingga keluar sebuah nomer jatuh di atas lantai.
Ye Sun memungut nya dan dia menyebutkan nomernya.
"Nomer 12 silahkan maju kedepan..!"
Nomer 12 adalah nomernya Ti Hu dari Hoa San Pai.
Ti Hui dengan sikap tenang melangkah ke depan dan memberi hormat ke wasit pertandingan dan kearah peserta lain, juga kearah semua yang hadir di sana.
Setelah itu dia berdiri di tengah lapangan dengan tenang, menunggu lawan yang akan di hadapinya.
Ye Sun kembali mengguncang wadah tabung bambu di tangannya hingga kembali sebatang bambu yang bertuliskan nomer undian, kembali jatuh di hadapannya.
Ye Sun kembali mengambil dan membacakan nomer di tangan nya.
"Nomer 6..!"
Baca Ye Sun dengan suara lantang.
Terlihat Si tubuh tinggi besar maju kedepan sambil memanggul pedang besar nya.
Setiap langkahnya, membuat tanah di sekitar arena bergetar, seperti di Landa gempa.
Ti Hu melihat siapa yang menjadi lawannya, melihat otot otot di tubuh si badan besar itu.
"Saudara berbadan besar, tolong sebutkan Nama dan asal perguruan mu.."
ucap Ye Sun, sebelum dia membuka dan memulai pertandingan.
Si tinggi besar memberi hormat dan berkata,
"Nama ku Tu Lung, dari Kang Cien Pai ( Partai Pedang Baja ).."
Suara Tu Lung yang tidak cocok dengan bentuk tubuhnya, langsung mengundang gelak tawa dari para penonton.
Bahkan Ti Hu pun menggunakan tangannya menutupi mulutnya, berusaha menahan tawa.
Ye Sun mengangkat tangannya keatas dan berkata dengan suara keras.
",Harap tenang semuanya..!"
Setelah suasana kembali tenang, Ye Sun baru berkata,
"Darimana asal perguruan mu..? mengapa aku tidak pernah mendengarnya..?"
"Gurun Go Bi sebelah barat.."
jawab Tu Lung tetap dengan suara kemayu nya.
Ye Sun mengangguk dan berkata,
"Kalian berdua sudah siap. !?"
Begitu melihat To Hu dan Tu Lung,.sudah saling memberi hormat dan memasang kuda-kuda.
__ADS_1
Ye Sun pun berteriak lantang..
"Pertandingan di mulai..!"
Setelah berkata, Ye Sun langsung melayang ke pinggir arena pertarungan.
Memberikan tempat yang lebih leluasa, untuk kedua petarung, agar bisa bergebrak dengan bebas.
Ti Hu dan Tu Lung, mulai saling bergerak mengitari lawan.
Masing masing sedang membaca arah gerak lawan, mencari titik lemah, untuk melepaskan serangannya.
"Hiaaatt,..!"
Tu Lung yang akhirnya bergerak lebih dulu, dia memutar pedang beratnya yang menimbulkan angin menderu deru, menyerang kearah Ti Hu.
To Hu berdiri diam di tempat, hingga pedang besar itu bergerak mendekatinya.
Dia baru menjejakkan kakinya keatas tanah terbang mundur menjauh.
Sekaligus melakukan gerakan memutar menyerang dari samping dengan ilmu pedang Budiman. ,( Cun Ce Cian ).
"Jurus ketiga, Pendekar Budiman Memetik bunga.."
Pedangnya menyerang dari arah samping bergetar menjadi puluhan bayangan pedang secepat kilat menyerang beberapa titik di bagian samping tubuh Tu Lung.
Tu Lung langsung menarik pedangnya yang berat melakukan tangkisan kesamping.
Meski pedang itu sangat besar, tapi Tu Lung mampu memainkannya dengan cepat dan lincah.
Seolah olah beratnya pedang tidak membawa pengaruh buat Tu Lung..
"Trangggg...!"
Ti Hu yang tidak menyangka, Tu Lung secepat itu bisa membuat pedangnya menangkis ke arah samping.
Pedangnya yang tertangkis oleh pedang Tu Lung hampir saja terlepas dari pegangan tangannya.
Tapi Ti Hu adalah salah satu murid terbaik angkatan muda selain kakak seperguruannya Thian Ming.
Tentu saja tidak semudah itu dia mengalah.
Dengan gerakan cepat dia mengubah arah pedang terpental nya, mengikuti arah pentalkan dan bergerak menebas dengan secepat kilat kearah leher Tu Lung.
"Jurus ke 5 Pendekar budiman.menebang pohon..!"
Tebasan nya sangat cepat hingga meninggalkan bayangan putih di udara.
Tapi lagi lagi serangan Ti Hu tertangkis di udara.
"Tranggg...!"
", Dessss..!"
Bahkan sekali ini Tu Lung membarengi tangkisannya, dengan sebuah tendangan menyamping.
Sehingga tubuh Ti Hu yang lengannya terkena tendangan Tu Lung, tubuhnya langsung terpental mundur kebelakang.
Ti Hu terlihat terhuyung-huyung kesamping, dengan langkah kacau, hampir terjatuh.
Ti Hu langsung merasa tangannya yang terkena tendangan seperti mati rasa dan kesemutan di buat tendangan tersebut.
__ADS_1