PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KILAS BALIK 2


__ADS_3

Fei Yang terlihat termenung menatap kearah Jendela saat dia sedang bercerita.


Seolah olah dia melihat kembali keseluruhan peristiwa yang sedang terjadi saat itu.


Dalam lamunannya, Fei Yang seolah olah sedang menonton ulang tayangan peristiwa saat itu.


Di dalam lamunannya, Fei Yang melihat dirinya menggunakan sebuah kain ikat pinggang, untuk mengikat tubuh Sun Er di punggungnya.


Sedangkan Xue Lian mengikat Zi Zi di depan dadanya, juga menggunakan sebuah kain ikat pinggangnya.


Mereka berdua menghadapi kepungan 8 orang tokoh andalan Mongolia.


Sedangkan di pinggir arena pasukan Mongolia, di bawah pimpinan pangeran Tolui sendiri terus berdatangan.


Dari ratusan orang menjadi ribuan hingga akhirnya mencapai ratusan ribu.


Sehingga tempat itu berubah menjadi lautan manusia, yang semua nya adalah pasukan Mongolia.


Pasukan gabungan dari berbagai suku ras bar bar yang menjadi wilayah tahlukkan kerajaan Mongolia.


Semua pasukan itu berbaris rapi berlapis lapis, bagian terdepan adalah barisan pasukan tameng dan tombak.


Lapis kedua adalah pasukan tameng dan golok bengkok, lapisan ketiga adalah barisan pasukan berkuda yang memiliki senjata tombak juga panah.


Barisan berikutnya adalah barisan pasukan panah, yang terlihat bersiaga dengan busur dan anak panah di tangan.


Siap untuk di lepaskan, hanya tinggal menunggu perintah saja dari Tolui.


Di barisan terakhir baru terlihat Tolui duduk di sebuah kereta kuda mewah yang ada penutupnya.


Sehingga Tolui terlindung dari sinar matahari.


Di sekitar Tolui terlihat pasukan elit Mongolia berbaris dengan rapi.


Bersiaga melindungi Tolui dari ancaman apapun.


Di tengah tengah arena sendiri, dari atas terlihat Fei Yang dan Xue Lian hanya begitu kecil.


Mereka hanya dua titik kecil yang harus di kepung hingga begitu banyak orang.


Ini benar benar terlihat sangat tidak masuk akal.


Bahkan bila itu bukan Fei Yang dan Xue Lian, cukup di ludahi saja oleh sebegitu banyaknya orang.


Mereka berdua akan mati tenggelam dalam air liur.


Tapi apa mau di kata Fei Yang dan Xue Lian adalah pasangan tanpa tanding yang sulit di cari tandingannya di dunia ini.


Bahkan kahyangan pun tidak berdaya menanggapi mereka.


Fei Yang terlihat bersikap tenang dengan pedang Mestika Panca Warna di tangan, dia terlihat sangat percaya diri.


Begitupula dengan Xue Lian, dia juga terlihat tenang tenang saja dengan Xuan Yuan Cien ditangannya.


Fei Yang menyapukan pandangannya, dan berkata pelan.


Tapi suaranya berkumandang jelas hingga tidak ada seorang pun yang hadir di sana tidak mendengar dengan jelas.


Itu karena saat berbicara Fei Yang menggunakan Chi nya, sehingga terdengar sangat jelas kesemuanya.

__ADS_1


"Aku sarankan kalian mundurlah, jangan menghalangi jalan kami.."


"Aku tidak ingin membuka pantangan membunuh ku.."


"Tapi kalau kalian memaksa jangan menyesal.."


Sambil tertawa Vipasing mutar tongkat ular kobra nya,


"Itu urusan kami, lebih baik kamu yang tahu diri..!"


"Menyerahlah, kalian berdua pasti sudah letih.."


"Jangan ragu berlututlah..!"


ucap Vipasing sambil tertawa dan berbicara.


Dia sudah.melepaskan kekuatan magisnya.


Tapi dia menjadi terkejut, saat dirinya sendiri yang tiba-tiba jatuh bertekuk lutut.


Tidak mampu bangkit berdiri, kedua kakinya terasa begitu lemah.


Hingga untuk sekedar menopang dirinya pun terasa sulit luar biasa.


Hal ini terjadi karena saat Vipasing melancarkan serangan magisnya.


Fei Yang dan Xue Lian, yang seluruh tubuhnya di kelilingi oleh cahaya 6 warna kebajikan dan kebijaksanaan.


Secara otomatis membuat kekuatan magis hawa kegelapan yang di lepaskan oleh Vipasing.


Di retur kembali oleh kekuatan murni yang di pancarkan oleh seluruh tubuh Fei Yang dan Xue Lian.


Melihat hal itu sambil tersenyum Fei Yang berkata,


"Kalian berdelapan punya kemampuan, bukannya hidup tenang."


"Malah kembali kedunia ramai mencari kepuasan fana. Serta membuat keributan.."


"Aku sarankan untuk terakhir kalinya, sebelum semuanya terjadi."


"Lebih baik kalian segera bubar kembali ketempat kalian masing masing..'


"Jangan mau ikut terlibat di sini..tapi bila kalian tetap ingin.."


"Maka laporkan lah nama kalian, agar aku tahu siapa yang menjadi lawan ku.."


ucap Fei Yang tetap tenang.


Dari pihak pengepung Vipasing yang baru di normal kan kembali oleh tiga rekannya.


Dia tidak berani banyak bicara lagi, dia hanya bersiap dengan tongkat kepala ular cobra di tangan.


Lei Mo yang berambut hijau dan bersuara keras akhirnya angkat bicara, mewakili rekan rekannya


"Baiklah, agar kamu tidak mati penasaran kami akan beritahu pada mu nama kami.."


"Di sebelah kanan ku adalah Qi Lian Lao Koai dari Qi Lian San, sedangkan di sebelahnya lagi adalah saudara Vipasing dari Persia.."


"Sedangkan aku sendiri adalah Lei Mo dan di sebelah kiri ku adalah Ping Mo."

__ADS_1


"Mengenai keempat senior ku, itu tergantung mereka, apa mau beritahu kamu atau tidak nama dan julukan mereka.."


ucap Lei Mo dengan suara keras nya.


Fei Yang mengangguk sambil tersenyum tenang, dia berkata,


"Terimakasih,.."


Fei Yang kini menyapukan pandangannya ke arah keempat orang yang berwajah dingin itu.


Keempat orang itu dengan sikap ayal ayalan, berkata pelan,


"Aku Thian Tu dari barat.."


ucap Thian Tu pelan.


"Aku Zee Raja Dewa Utara.."


ucap Zee sambil mendengus.


"Aku dari timur, Musashi .."


ucap seorang pria botak bermata sadis dan sipit dengan dua Alus tebal seperti golok.


Kepala botak di pinggir di tengah di kuncir tinggi keatas.


"Aku Dewa pedang dari selatan, Kam Hong.."


ucap seorang pemuda berambut putih sama seperti Fei Yang dingin.


Wajahnya memang muda, tapi Fei Yang menaksir pria ini adalah mahluk abadi mirip Ming Wang.


Dari gelagat keempat orang ini, Fei Yang menafsir dia dan Xue Lian, pasti akan menemukan kesulitan dari mereka.


"Baiklah mari kita mulai saja.."


ucap Fei Yang tenang.


Lalu tubuhnya di iringi oleh Xue Lian mulai melayang naik keangkasa.


Menyerap hawa inti sari langit dan bumi, siap melepaskan ilmu andalan mereka.


Lei Mo Ping Mo Vipasing dan Qi Lian Lao Koai tidak berani menganggap remeh Fei Yang dan Xue Lian.


Mereka masing masin langsung melesat keatas dengan ilmu andalan mereka masing-masing.


Vipasing dengan putaran pusaran tongkat kepala Cobra nya,


Bergerak melakukan serangan yang mendatangkan angin pusaran hitam.


Berpusaran menerjang kearah Fei Yang dan Xue Lian yang sedang melayang di udara.


Dari arah lain Qi Lian Lao Koai juga bergerak dengan sepasang cakarnya yang mengeluarkan cahaya hijau menerjang kearah Xue Lian.


Diawali dengan dya bayangan cakar hijau yang bertebaran di udara.


.


Semuanya terbang pergi mengepung seluruh tubuh Xue Lian.

__ADS_1


Lei Mo dan Ping Mo dari sisi berbeda juga melepaskan ilmu andalan mereka masing-masing


__ADS_2