PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENOLONG PUTRI SHEVA DAN BIAN


__ADS_3

Kasim Wei tersenyum gembira mendengar ucapan Fei Yang, "Baiklah,.. Siau Kui Ce, aku ingin tanya dengan mu, apakah kamu bersedia ikut dan jadi pengawal pribadi ku..?"


Fei Yang dengan cepat mengangguk dan berkata,


"Bila ada kesempatan melayani tuan langsung, tentu saja aku sangat berminat.."


Kasim Wei tersenyum dan berkata,


"Tapi menjadi pengawal ku juga beresiko loh, coba kamu lihat mereka bukankah pada terluka..?"


"Apa kamu tidak takut ?"


tanya Kasim Wei penuh selidik.


"Takut tentu saja aku takut, bila bilang tidak itu berarti berbohong.."


"Tapi imbalan dan masa depan ikut di samping tuan, jauh lebih menarik dari ketakutan ku yang belum tentu terjadi.."


ucap Fei Yang berlagak polos.


"Baiklah anak pintar, kamu punya cita cita dan ambisi, masa depan mu pasti akan cerah."


"Aku sangat suka, dan tertarik dengan mu, mulai.hari ini kamu ikutlah dengan ku.."


Fei Yang didalam hati menertawai rubah tua licik itu.


"Masa depan cerah, ya jelas cerah tinggal pulang ke Xi Xia makan tidur enak tetap aja masa depannya cerah..'


"Atau terima aja putri konyol dan nakal itu jadi istri masa depannya juga cerah.."


"Hanya saja hidup tidak bebas, dan berada di lingkungan yang di kelilingi oleh orang licik, yang mengatasnamakan siasat, itu yang paling dia tidak suka.."


Siau kui ce buru buru memberi hormat dengan menempelkan dahinya keatas tanah dan berkata,


"Terimakasih tuan,.. terimakasih.."


"Kamu bangunlah, sekarang kamu temani aku pergi menemui perdana menteri Qin Kui."


"Setelah itu kita baru pergi temui yang mulia.."


Fei mengangguk, dan berjalan mengikuti Kasim Wei meninggalkan taman bunga.


Tidak sampai 2 Minggu Fei Yang ikut dengan Kasim tersebut, dia sudah banyak mengunjungi berbagai tempat, dan memperoleh informasi yang tidak sedikit tentang rahasia rahasia Kasim tersebut.


Memang saat Kasim itu menerima suap, melakukan korupsi dan kolusi Fei Yang tidak selalu berada di dekatnya.


Tapi setidaknya dia berada di tempat yang tidak terlalu jauh dari Kasim tersebut.


Sehingga semua ucapan dan tindakannya, Fei Yang bisa melihat dengan sangat jelas.

__ADS_1


Tepat memasuki Minggu ketiga, Fei Yang di ajak oleh Kasim tersebut menuju kamar tahanan di istana belakang.


Kasim Wei melewati sebuah terowongan bawah tanah, dan melewati banyak kamar tahanan, yang semuanya berisi tahanan wanita.


Rata rata wanita di dalam tahanan itu memiliki paras yang cantik dan masih kelihatan muda.


Yang membuat mereka terlihat beda, hanya baju putih polos, dengan tulisan didepan dada, yang menunjukkan mereka adalah tahanan.


Fei Yang melihat seluruh penjaga di sana adalah Kasim Kasim muda yang berwajah dingin,. dengan tingkah laku kemayu.


Dari sini bisa di simpulkan semua penjaga yang membawa senjata itu adalah Kasim kecil yang terlatih dan memiliki ilmu bela diri.


Kasim Wei menuju sebuah ruangan yang tertutup pintu besi.


Melihat kedatangan Kasim Wei, kedua pengawal yang berjaga di sana, langsung buru buru memberi hormat.


Kemudian mereka membuka pintu besi itu lebar lebar dan mempersilahkan Kasim Wei untuk masuk kedalam.


Tiba di dalam Fei Yang melihat dua orang gadis muda, yang diikat di tiang gantungan.


Rambut mereka yang hitam panjang terurai berantakan, menutupi sebagian wajah mereka.


Seluruh pakaian yang menempel di tubuh mereka bersimbah darah, pakaian yang melekat ditubuh mereka pun sudah robek robek tidak karuan bentuknya.


Terlihat dua orang Kasim muda terus melepaskan cambuk kearah tubuh mereka.


Sedangkan dua Kasim lainnya duduk santai sambil makan minum dan mengobrol.


terdengar bunyi cabuk meledak bertubi-tubi kearah tubuh kedua gadis muda itu.


"Ahhhh,...Ahhhhh,...Ahhhh,. Ahhhh,..!"


kedua gadis itu menjerit kesakitan, setiap cambuk yang diayunkan oleh kedua Kasim muda itu mendarat di tubuh mereka.


Melihat kedatangan Kasim Wei, keempat Kasim muda itu langsung menghentikan kegiatan mereka dan memberi hormat kearah Kasim Wei.


"Bagaimana apa sudah ada perkembangan,..?"


tanya Kasim Wei dengan suar khasnya yang bernada tinggi dan dingin.


"Maaf belum ada tuan,.. kedua gadis ini sungguh keras kepala dan keras.."


"Mereka tetap bersikukuh, tidak mau memberitahukan rahasia tersebut.."


Kasim Wei mengerutkan alisnya dan berkata,


"Tidak tahu diri, bawa kemari alat siksa, aku mau tahu apakah tubuh mereka sekeras baja.."


"Baik tuan.."

__ADS_1


ucap kedua orang Kasim yang sedang makan minum tadi, tak lama kemudian mereka telah kembali membawa sejumlah alat siksa yang sadis sadis.


Fei Yang di dalam hati diam diam merasa tidak tega, melihat kedua gadis itu akan mengalami siksaan sedemikian rupa.


Dia sudah bertekad hari ini juga, dia akan memaksa Kasim Wei menunjukkan tempat putri Sheva dan Putri Bian di tahan.


Selain itu dia juga akan turun tangan membebaskan kedua gadis malang ini.


Kasim Wei memegang sebuah tiang besi, yang ujungnya ada sebuah plat besi merah, karena terus di bakar dalam tungku arang.


Sambil mengacungkan plat besi tersebut kearah kedua gadis itu, Kasim Wei berkata dengan dingin,


"Putri Sheva,.. Putri Bian,.. kuharap kerjasama kalian jangan keras kepala lagi..'


"Ini tawaran terakhir ku, bila masih keras kepala, aku jamin kalian akan merasakan penderitaan yang lebih hebat dari kematian.."


Kedua gadis itu memasang wajah sedingin es tanpa ekspresi, bahkan bersuara pun tidak.


Mereka hanya terus menatap kearah Kasim Wei dengan penuh kebencian.


Fei Yang sendiri saat mendengar nama yang di panggil oleh Kasim Wei kepada kedua gadis itu, sepasang mata Fei Yang langsung berbinar binar.


Susah payah di cari, akhirnya malah ketemu sendiri, ini sungguh sungguh suatu kebetulan, yang tidak terduga.


"Lepaskan pakaian mereka,..! aku mau lihat setelah ini, saat seluruh tubuh kalian berdua penuh dengan tato."


"Apa kalian berdua masih bisa terus bersikap keras kepala ?"


ucap Kasim Wei sambil tersenyum sadis.


Kedua Kasim yang mengambil alat siksa langsung bergerak cepat ingin menelanjangi kedua putri bernasib malang itu.


"Berhenti,..!!"


teriak Fei Yang sambil melepaskan totokkan cepat kearah kelima orang di dalam ruangan tersebut.


"Kau,..!"


teriak Kasim Wei kaget melihat aksi Fei Yang yang tiba tiba mengkhianatinya.


Tapi sebelum sempat berteriak, syaraf gagu kelima orang itu sudah Fei Yang totok.


Fei Yang mendekati kedua putri itu dan berkata,


"Aku kesini atas permintaan Shanti Dewi, untuk menolong kalian berdua keluar dari tempat ini.."


Tanpa menunggu respon dari kedua putri itu, Fei Yang langsung mematahkan rantai baja yang mengikat tubuh kedua putri itu dengan mudah.


Fei Yang mematahkan rantai baja yang berat besar dan tebal seperti orang mematahkan kerupuk.

__ADS_1


Kedua putri itu menatap Fei Yang dengan kaget dan penuh kagum.


__ADS_2