
Fei Yang hanya bisa berulang kali menghela nafas sedih, melihat pemandangan di depannya.
Sepanjang mata memandang yang terlihat adalah hamparan kuburan yang berjejer rapi di sini.
Fei Yang memperkirakan jumlahnya mungkin mencapai 300 lebih, ini benar-benar pemandangan yang menyeramkan sekaligus menyedihkan.
Tanpa sadar dua butir airmata jatuh membasahi pipinya.
Fei Yang perlahan lahan melakukan pengecekan satu persatu, kuburan sederhana yang di buat darurat dan seadanya, kini sebagian besar telah tertutup semak semak.
Hanya tonggak kayu dan batu sederhana yang menunjukkan di situ adalah perkuburan masal.
Melihat keadaan ini Fei Yang selain merasa sedih, dia juga merasa geram dan marah dengan kekejaman kelompok Hei Mo Pang.
Di dalam hati Fei Yang bersumpah akan memberikan balasan setimpal ke Hei Mo Pang.
Fei Yang berkeliling sambil membersihkan rumput liar di sekitar makam.
Fei Yang berkeliling sambil berharap jangan ada nama Kim Lan Kim Mei Kim Fang dan Ye Hong Yi di antara jejeran makam sederhana itu.
Tapi saat tiba di tiga makam terakhir, Fei Yang menjatuhkan diri berlutut di depan makam sederhana tersebut.
Di atas kayu sederhana yang menjadi nisan ketiga makam itu terlihat nama Li Sian Sian dan Zhou Lei yang di makamkan jadi satu.
Di sebelah nya adalah makam Kim Mei dan Kim Fang.
Ini berarti yang berhasil lolos dari pembantaian adalah Kim Lan dan Ye Hong Yi.
Fei Yang berlutut dan berdoa di depan makam Li Sian Sian.
"Selama jalan San Se Cie dan Er Se Siong,.. maaf Fei Yang baru bisa datang memberi penghormatan kepada kalian berdua.."
"Semoga San Se Cie dan Er Se Siong bisa beristirahat dengan tenang di bawah sana..."
ucap Fei Yang sambil membenturkan dahinya 3 kali diatas tanah.
Kemudian dia melanjutkan perjalanan nya, menuju puncak Gunung Phoenix api, dia kembali melewati rantai baja penghubung, menuju gunung tersebut.
Tanpa kesulitan Fei Yang pun tiba di markas pusat bangunan perguruan, yang di dirikan oleh Malini.
__ADS_1
Tapi di sini Fei Yang, kembali menemukan kehancuran yang sama tragisnya dengan keadaan puncak gunung Xuan Wu.
Bahkan di sini lebih parah, tulang belulang manusia berserakan di mana-mana tanpa terurus.
Bila di lihat dari bentuk tulangnya, Fei Yang bisa menebak yang berserakan di sana adalah tulang belulang wanita, karena ukuran tulang nya lebih kecil kecil.
Fei Yang mengumpulkan semua tulang belulang menjadi satu, lalu membakarnya, kemudian abunya Fei Yang tebarkan di aliran sungai kecil yang mengalir tidak jauh dari sana.
Setelah berkeliling melakukan pemeriksaan Fei Yang hanya menemukan sebuah makam sederhana, yang merupakan makam Malini.
Fei Yang kembali berlutut dan berdoa sebelum meninggalkan puncak Phoenix api, untuk melanjutkan perjalanan nya menuju puncak harimau putih.
Di puncak harimau putih Fei Yang, juga menemukan kehancuran yang sama, hanya tulang belulang yang berserakan tidak sebanyak Gunung Phoenix api.
Dari hal ini Fei Yang memperkirakan sebagian besar murid puncak harimau putih, kemungkinan besar berhasil meloloskan diri, atau mereka memilih menyerah pada musuh.
Hal ini Fei Yang tidak terlalu heran, karena moral dan disiplin murid puncak harimau putih ini, memang bobrok dari awal.
Setelah membereskan tulang yang berserakan sama seperti puncak Phoenix api.
Fei Yang melanjutkan perjalanan nya ke Gunung Naga biru.
Tapi saat tiba di sana, Fei Yang hanya menemukan bangunan terbengkalai, yang kelihatannya sudah lama di tinggalkan oleh penghuninya.
Setelah berkeliling melakukan pemeriksaan,. akhirnya Fei Yang mengambil kesimpulan, bahwa semua orang dari Puncak Naga Biru sudah lama pergi dari tempat itu.
Jadi Fei Yang memutuskan untuk turun gunung, mencari para penghianat itu, terutama Li Mu Bai si manusia munafik itu.
Fei Yang yakin, di balik keracunan gurunya Yi Han Tao Se, yang menimbulkan semua tragedi menyedihkan ini.
Li Mu Bai tentu tidak terlepas dari keterlibatannya, dalam kejadian tersebut.
Bila saat itu Yi Han Tao Se tidak keracunan, Hei Mo Pang tidak akan pernah berhasil.
Sehebat apapun Ming Wang dan Xu Da.
Mereka tidak akan mampu melawan Yi Han Tao Se dan kedua kakak seperguruan nya, yang mengundurkan diri dipuncak gunung Xu.
Jadi penyebab utama kehancuran Xu San bukan datang dari luar, melainkan datang dari dalam tubuh perguruan Xu San sendiri.
__ADS_1
Fei Yang yakin, meski bukan Li Mu Bai pelakunya, tapi setidaknya dia pasti mengetahui siapa pelakunya.
Bahkan ada kemungkinan, dia adalah otak dari semua kejadian ini.
Tapi sebelum ada bukti jelas, Fei Yang tidak akan pernah mau menuduh sembarangan.
Dia akan mencari bukti jelas, baru menghukum mereka semua yang terlibat.
Sehingga saat di hukum, mereka tidak lagi bisa berdalih dengan alasan apapun.
Fei Yang bergerak ringan meninggalkan puncak naga biru, dengan kecepatan menakjubkan, padahal Fei Yang hanya menggunakan ilmu ringan tubuh ajaran Malini,
(Meniti Di Atas Daun ).
Sore itu di sebuah desa yang sebenarnya cukup besar, tapi keadaan nya justru terlihat sepi dan lenggang.
Desa tersebut, terletak di kaki gunung Xu, padahal desa ini dulu adalah desa yang sangat tenang aman dan damai.
Sehingga penduduknya cukup ramai, bahkan sebagian besar anak anak dan pemuda di desa ini, yang cukup berbakat, sengaja di kirim oleh orang tua mereka, untuk mengikuti proses seleksi menjadi murid di Xu San Pai.
Fei Yang terlihat berjalan santai memasuki desa yang terlihat agak sepi itu.
Di dalam hati Fei Yang sedikit heran, apalagi saat melihat penduduk yang berpapasan dengannya, selalu menatapnya dengan penuh curiga.
Rata rata wajah mereka juga terlihat agak ketakutan dan cemas.
Mereka semua terlihat buru buru masuk kedalam rumah masing-masing, dan memilih menutup pintu rumah mereka rapat rapat.
Mereka juga terlihat melarang anak mereka, untuk bermain di luar rumah.
Padahal saat itu matahari sama sekali belum tenggelam, bila saat ini mungkin sekitar jam 5,30 sore.
Saat saat di mana biasanya, orang paling senang keluar jalan jalan, atau sekedar duduk duduk didepan rumah, menikmati udara di sore hari.
Fei Yang berjalan menghampiri sebuah losmen yang pegawainya, terlihat sedang sibuk memasang papan kayu, untuk menutup pintu losmen yang terbuka lebar.
Fei Yang buru buru melangkah masuk kedalam losmen, sebelum pintu masuk itu benar-benar di tutup habis oleh si pelayan tersebut.
"Tuan maaf kami sudah tutup, silahkan tuan mencari tempat menginap di tempat lain saja.."
__ADS_1
ucap pelayan tersebut saat melihat Fei Yang hendak menerobos masuk.