
Kalimat menohok itu membuat Nan Thian tersenyum canggung, tidak tahu mau bilang apa..
"Benarkah kakak tampan ?"
tanya Zi Zi dengan tatapan mata polos.
Sepasang bola matanya yang indah dan jeli, membuat Nan Thian sulit menolak keinginan bibi kecilnya itu.
Sambil tersenyum canggung, dia berkata,
"Baiklah, begini saja bila kedua sahabat mu tidak takut lelah silahkan saja.."
"Murid keponakan tidak punya alasan menolak lagi, karena murid keponakan, memang tidak ada permusuhan.."
"Apalagi membenci sahabat mu.."
ucap Nan Thian terpaksa mengalah.
"Hore Asyikkk,.. terimakasih kakak tampan..!"
teriak Zi Zi sambil melompat lompat gembira.
Nan Thian yang melihat kegembiraan Zi Zi dia akhirnya ikut tersenyum .
Senyum Nan Thian membuat bibi dan ponakan itu sesaat terkesima, hingga terdengar suara Nan Thian,
"Nona berdua aku titip paman dan bibi kecil ku sebentar, boleh,..?"
Kedua gadis itu begitu tersadar, mereka buru buru menganggukkan kepala dengan wajah merah menahan malu.
Nan Thian pura pura tidak tahu, dia menghadap kearah kakek Zhu dan kedua orang tua Siau Yen memberi hormat dan berkata,
"Junior masih ada beberapa hal yang perlu di persiapkan sebelum melanjutkan perjalanan.."
"Harap senior tidak berkeberatan dengan kehadiran bibi dan paman kecil ku di sini, untuk beberapa saat."
Kakek Zhu sambil tertawa gembira berkata,
"Pendekar muda terlalu sungkan, tentu saja itu bukan masalah.."
"Pendekar muda tenang saja, serahkan saja pada kami.."
"Terimakasih senior Chu, kalau begitu Nan Thian pamit permisi sebentar.."
ucap Nan Thian memberi hormat.
"Silahkan,.. silahkan ..pendekar muda ."
ucap kakek Chu sambil tersenyum.
Nan Thian menoleh kearah Sun er dan Zi Zi lalu berkata,
"Paman dan bibi kecil, murid keponakan tinggal sebentar, jangan nakal ya.."
"Harus nurut sama tuan rumah ya..?"
Sun er dan Zi Zi mengangguk cepat, lalu mereka menarik tangan Siau Mei dan Siu Lian meninggalkan ruangan.
__ADS_1
"Thian ke ke tak perlu khawatir, kami pasti akan menjaga nya.."
ucap Siau Yen sambil tersenyum manis.
"Terimakasih, banyak maaf jadi merepotkan kalian ."
"Thian ke ke tak perlu berterimakasih segala, kami dan mereka berteman baik jadi bukan masalah. "
ucap Siu Lian sambil tersenyum lembut.
Tidak mau kalah pesona, di banding keponakannya.
Nan Thian menanggapi nya dengan memberi hormat, lalu membalikkan badannya meninggalkan ruangan tersebut.
Nan Thian setelah keluar dari kediaman keluarga Chu, dia pergi mencari sebuah kereta kuda lengkap dengan kudanya.
Setelah itu, dia baru mulai membeli keperluan, untuk perjalanan mereka.
Setelah semua barang belanjaan tersusun rapi dalam kereta, Nan Thian baru mengendarai kereta kuda itu kembali kekediaman keluarga Chu.
Nan Thian tidak berencana masuk lagi kedalam, jadi dia hanya menemui penjaga pintu kediaman keluarga Chu.
"Kakak, boleh saya minta tolong, sampaikan ke Nona Siau Yen dan nona Siu Lian."
"bahwa aku Yue Nan Thian menunggu mereka di sini.."
ucap Nan Thian sopan.
"Ohh Yue Ta Sia ( Pendekar Yue ) harap tunggu sebentar, saya akan kabarkan ke dalam."
ucap salah satu penjaga penuh hormat.
Nan Thian memutuskan menunggu di tempat duduk kusir kereta.
Tak lama kemudian dari dalam gedung terlihat kakek Chu mantu dan putrinya, ikut keluar mengantar keberangkatan Siau Yen dan Siu Luan yang menggandeng tangan Sun er dan Zi Zi.
Masing masing terlihat membawa satu tiket perjalanan mereka mengikuti Nan Thian.
Kedua anak kecil itu adalah Jimat penting, agar bisa terus berdekatan dengan Nan Thian.
Melihat yang di tunggu sudah keluar dari dalam kediaman Chu.
Nan Thian pun turun dari kereta, menghampiri mereka, membantu mereka berempat naik keatas kereta.
Setelah berpamit dan mengucapkan terimakasih kepada kakek Zhu dan kedua orang tua Siau Yen.
Nan Thian kemudian mengendarai kereta kuda itu meninggalkan kota Lan Zhou.
Nan Thian mengambil arah timur, keluar dari gerbang timur kota Lan Zhou.
Nan Thian mengikuti peta arah jalan yang di berikan oleh kakek Chu.
Dengan peta itu, dia bisa bergerak lebih cepat tanpa perlu takut salah jalan.
Tujuannya kini adalah XingLong San, begitu melewati gunung ini, lalu menyeberangi sungai kuning.
Dia segera akan tiba di ibukota Chang An yang merupakan kota terdekat menuju Hua San.
__ADS_1
Sun er duduk di depan sebagai pendamping Nan Thian dalam mengendarai kereta.
"Sun er bagaimana ceritanya, kamu dan Zi Zi bisa di tangkap oleh manusia kelelawar itu.."
tanya Nan Thian sedikit heran, dengan kesaktian kakek paman gurunya yang sulit di ukur.
Bagaimana mungkin putri dan keponakannya, bisa di tangkap oleh manusia kelelawar, yang jelas bukan tandingan Kakek paman gurunya itu
Sun er terlihat termenung sejenak lalu berkata,
"Saat itu aku dan Zi Zi mei mei sedang naik Kim Tiaw menikmati pemandangan pegunungan Hua San."
"Zi Zi mei mei tertarik untuk bermain air di telaga putri giok, yang di kelilingi oleh pohon persik."
"Aku waktu itu setuju saja, karena buah persik di sana terkenal manis dan segar ."
"Tidak di sangka di sanalah kami bertemu manusia jahat itu.."
"Dia membunuh Kim Tiaw, lalu menangkap kami.."
"Selanjutnya aku tidak tahu lagi, karena kami di masukkan kedalam kantung kain hitam."
ucap Sun er menceritakan apa yang dia dan Zi Zi alami..
Nan Thian mengangguk mengerti sambil terus mengendalikan laju kudanya.
Tiba-tiba di kejauhan sana, Nan Thian melihat ada 3 orang yang berdiri menghadang jalan yang akan mereka lewati.
Orang pertama Nan Thian mengenalinya, dia lah kakek baju putih yang ada di kuil dewa tanah bersama rombongan pengemis baju bersih kota Lan Zhou.
Orang kedua dan ketiga, orang berdiri di belakangnya Nan Thian tidak kenal.
Si kakek baju putih itu adalah salah satu jagoan yang di sewa oleh pihak kerajaan Yuan.
Di dunia persilatan dia terkenal dengan julukan Raja Golok Putih. Tan Kim Lan.
Sedangkan orang, yang berdiri di sebelah kanannya, mengenakan jubah hitam.
Bertubuh tinggi besar, wajah penuh brewok sepasang mata terbelalak lebar.
Dia adalah Si Lao Mo, datuk dunia barat, Ouwyang Mo.
Dia termasuk salah satu jagoan undangan kerajaan Yuan.
Orang ketiga yang berdiri di sebelah Tan Kim Lan adalah, Pei Kui Wang ( Raja Hantu Utara )
Lo Qin.
Dia adalah Datuk daerah Utara yang juga bekerja pada kerajaan Yuan.
Tan Kim Lan mengundang kedua orang ini membantunya untuk menghadapi Nan Thian yang telah mengacaukan tugas yang di berikan oleh Junjungan nya.
"Anak muda kamu belum lupa dengan ku kan ?"
tegur Tan Kim Lan.
",Hah dia berani muncul lagi."
__ADS_1
"Bagus kak, berikan dia padaku, biar aku bantu, bereskan mereka untuk mu.."
ucap Kim Kim bersemangat.