
"Kek apa tidak ada akal lainnya..?"
tanya cucu kakek itu sekali lagi.
Kakek itu menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Sayang nya kakek harus katakan tidak.."
"Hal itu di luar kemampuan kakek, bila di paksakan, malah bisa membahayakan nyawanya.."
Gadis itu mengangguk, dan menatap iba kearah Nan Thian.
Gadis itu terbayang kejadian setahun yang lalu.
Saat itu dirinya sedang naik gunung mencari daun obat, tanpa sengaja dia bertemu dengan segerombolan penjahat, yang punya niat tidak baik dengan nya.
Dia berusaha melarikan diri, tapi dirinya sudah terkepung oleh penjahat penjahat itu.
Saat itulah Nan Thian tiba di sana menolongnya, membantunya mengusir para penjahat itu.
Nan Thian juga membantunya menemukan beberapa tanaman obat yang sedang dia cari.
Nan Thian juga mengantarnya hingga turun gunung, setelah memastikan dirinya aman, Nan Thian baru pergi meninggalkan dirinya.
Nan Thian waktu itu menolongnya dengan tulus tanpa pamrih sedikitpun.
Semua itu teringat jelas dan tertanam erat dalam pikiran dan hatinya.
Dia bahkan waktu itu sempat berpikir, seumur hidup, dia tidak mungkin akan bisa membalas semua Budi kebaikan Nan Thian.
Tidak di sangka setahun kemudian, dia malah secara kebetulan, kembali bertemu dengan Nan Thian di kediamannya.
Sebenarnya dia sangat ingin membalas Budi ke Nan Thian dengan menyembuhkannya.
Sayangnya, baik dia maupun kakeknya, kemampuan mereka belum sampai kesana.
Kini dia hanya bisa diam diam menatap Nan Thian dengan kasihan dan penuh rasa sesal.
Bahkan bantuan semangkuk nasi dari kakeknya, pun sudah langsung di bayar lunas oleh Nan Thian lewat tenaganya.
Jadi dia masih saja tetap berhutang kepada Nan Thian.
Nan Thian setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan nya, dia kembali ke halaman depan dan berkata,
"Kakek terimakasih atas makanannya..!"
"Nan Thian pamit permisi dulu..!"
teriak Nan Thian dari depan pintu rumah sederhana itu.
Kakek Huo keluar dari dalam pondok sederhananya dan berkata,
"Anak muda tempat ini masih sangat jauh dari kota terdekat.."
"Bagaimana bila anak muda tinggal semalam di sini, ? besok pagi baru lanjutkan perjalanan.."
"Bila anak muda tidak punya tempat tujuan, bagaimana bila tinggal di sini saja bersama kami..?"
"Kami,..maksud kakek, ? di sini selain kakek masih ada orang lain..?"
__ADS_1
tanya Nan Thian heran.
"Kakak Nan Thian,.. masih ingat dengan ku.."
ucap cucu kakek Huo sambil melangkah keluar dan berdiri di belakang kakeknya.
Nan Thian mengerutkan keningnya mencoba mengingat ingat, kemudian dia menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf nona, saya tidak punya bayangan nya.."
Nan Thian terlalu sering berkelana menjalankan misi dari Qing Hai Pai, menolong yang lemah dari penindasan.
Sehingga dia tidak punya banyak kenangan, dengan orang orang yang pernah di tolong nya.
Dia menolong mereka yang sedang mengalami kesulitan dengan tulus tanpa pamrih.
Sehingga dia tidak pernah mengingat orang orang, yang pernah di tolong oleh nya.
Begitu pula dengan cucu kakek Huo, Nan Thian sudah melupakannya.
Cucu kakek Huo sedikit kecewa dan masam hatinya, karena Nan Thian tidak pernah ingat dengan nya.
Tapi dia belum mau menyerah, dia segera berkata,
"Nan Thian ke ke, setahun lalu di puncak awan putih, aku di ganggu orang jahat, saat sedang mencari daun obat.."
"Bagaimana apa sudah ada bayangan nya sekarang..?"
Sambil tersenyum canggung, Nan Thian menggaruk kulit kepalanya dan berkata,
"Ya sekarang aku ingat nona Huo kan.. ya..?"
"Nama ku Ying Ying apa Nan Thian ke ke telah lupa ?"
"Maaf Nona Ying Ying, aku.."
"Tidak apa-apa Nan Thian ke ke, bagaimana dengan tawaran kakek barusan..?"
Kalau tidak ada kemunculan Huo Ying Ying di sana, ada kemungkinan Nan Thian akan mempertimbangkannya.
Tapi dengan kemunculan Huo Ying Ying, yang pernah mengenal dan mengingatnya sebagai Nan Thian yang dulu.
Di mana dia saat itu adalah seorang pendekar muda, tokoh paling berbakat di Qing Hai Pai.
Sedangkan saat ini, dia hanya seorang tak berguna yang patut di kasihani.
Tentu saja Nan Thian malu minder dan tidak ingin Ying Ying, melihat dan mengetahui kondisinya yang memalukan itu.
Sambil tersenyum sewajar mungkin, Nan Thian memberi hormat kearah kakek Huo dan Ying Ying.
"Terimakasih atas tawaran maksud baik dari Kakek Huo dan nona Ying Ying "
"Tapi maaf, Nan Thian hanya bisa menerima dan menyimpan maksud baik itu di dalam hati saja.."
"Sekali lagi terimakasih,"
"Maaf telah menganggu dan merepotkan kalian.."
"Nan Thian permisi dulu.."
__ADS_1
ucap Nan Thian sambil memberi hormat.
Lalu dia membalikkan badannya, langsung berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Ying Ying tentu saja sangat ingin memanggil, dan menahan Nan Thian, agar dia bisa sedikit membalas Budi pada Nan Thian.
Tapi melihat kode dari kakeknya yang menggelengkan kepalanya.
Ying Ying terpaksa membatalkan niatnya.
Setelah Nan Thian pergi kakek Huo baru berkata,
"Bersabarlah Ying Ying, saat ini dia sedang tidak ingin mengenang masa lalunya.."
"Dia tidak ingin mengingatnya, mungkin masa lalu itu punya kenangan yang sangat menyakitkan dan menyedihkan.."
"Jadi saat ini yang terbaik adalah jangan menganggunya.."
Ucap Kakek Huo mengingatkan cucunya.
Ying Ying hanya bisa mengangguk lesu, mengikuti kakeknya masuk kembali kedalam pondok mereka.
Nan Thian sendiri dengan langkah terburu-buru, segera meninggalkan tempat itu.
Saking terburu buru nya ingin menghindari orang, yang pernah mengenali masa lalunya yang jaya.
Dia sampai lupa menanyakan arah yang harus di ambilnya.
Setelah teringat hal itu, Nan Thian pun hanya bisa melanjutkan langkahnya, sambil mengutuk dan menertawai kebodohannya sendiri.
Menjelang matahari terbenam, di hadapan Nan Thian kini terlihat sebuah hutan lebat, menghadang langkah nya.
Tanpa banyak berpikir, Nan Thian yang sudah pasrah dengan kehidupannya.
Dia terus melanjutkan langkahnya memasuki hutan belantara yang lebat dan gelap itu.
Saat matahari benar benar terbenam, suasana hutan menjadi gelap total.
Demi keamanan, Nan Thian memanjat keatas sebatang pohon
Dia beristirahat di atas salah satu cabang dahan pohon besar itu.
Nan Thian berhasil melewati malam itu tanpa gangguan apapun.
Tapi menjelang pagi, saat sinar matahari mulai memasuki celah celah dedaunan.
"Boooom..!"
Tiba tiba terdengar suara ledakan dahsyat, saking kuatnya ledakan tersebut.
Dahan pohon tempat Nan Thian tidur semalam, berguncang hebat,. guncangan tersebut seperti bumi di landa gempa super dahsyat.
Nan Thian yang sedang asyik tiduran di atas sana.
Secara otomatis langsung jatuh dari atas dahan pohon.
"Blukkkk.."
Sesaat Nan Thian sampai merasa Nanar dan pusing kepala nya, hingga sulit berdiri. Seluruh tubuhnya terasa sakit sakit, hingga terasa sedikit sulit bernafas
__ADS_1
Tapi beberapa waktu kemudian setelah keadaan nya membaik.
Nan Thian dengan heran, langsung menyusul kearah lokasi, terjadi ledakan mengguncang itu.