PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
SITUASI SULIT


__ADS_3

Nan Thian duduk menanti dengan sabar, sambil sesekali memenuhi harapan Kim Kim, yang terus menerus mendesaknya, untuk mengambilkan masakan daging untuk nya.


Nan Thian tidak menuruti semuanya, karena dia merasa sungkan dan malu.


Akan berbeda bila dia yang pesan dan bayar sendiri.


Bila di pesta seperti ini, akan menjadi pusat perhatian orang, bila kita makan dengan rakus seperti orang kelaparan.


Makanya Nan Thian membatasi permintaan Kim Kim.


Nan Thian bernafas lega, saat melihat kakek Zhu akhirnya kembali duduk di sebelahnya.


"Maaf pendekar muda, membuat mu menunggu lama.."


ucap Kakek Zhu sambil mengisi cawan kosong di hadapan Nan Thian dengan arak.


"Bukan masalah senior, tak perlu sungkan, junior mengerti.."


ucap Nan Thian sambil bersulang kearah kakek Chu.


"Di sini terlalu ramai dan bising, ayo kita bicaranya di dalam saja."


"Kalian berdua ikutlah.."


ucap Kakek Chu sambil menatap putri dan anak menantunya.


Kakek Zhu berjalan duluan masuk keruangan dalam, baru diikuti kedua anaknya.


Nan Thian sebagai tamu, tentu saja, dia mengikuti dari bagian paling belakang.


Kakek Chu membawa mereka masuk sebuah ruangan yang ada sebuah meja bundar dan beberapa kursi antik dari ukiran batu.


"Silahkan duduk pendekar muda, jangan sungkan.."


ucap Kakek Chu ramah.


Nan Thian memberi hormat, lalu dia pun mengambil tempat duduk, menunggu apa kira kira yang akan di sampaikan oleh Kakek Zhu.


Melihat Nan Thian sudah duduk, Kakek Zhu pun memulai pembicaraan,


"Pendekar muda maaf bila yang tua ini banyak mulut dan bertanya hal hal yang bersifat terlalu pribadi.."


"Apa pendekar muda sudah berkeluarga, atau sudah memilki kekasih.."


Kim Kim sambil menahan tawa, menjawab dalam pikiran Nan Thian..


"Dahulu ada kek, rapi kini sudah tiada, si bujang tak laku kini siap menerima tawaran kakek.."


"Bawel, ! anak kecil tahu apa,..! tidur sana..!"


bentak Nan Thian dalam pikirannya.


Kim Kim meletakan lidah nya, lalu dia kembali tidur.


Nan Thian sambil tersenyum pahit berkata,


"Tidak apa-apa senior, itu bukan masalah.."


"Nan Thian belum berkeluarga juga tidak memilki kekasih.."


"Ha..ha..ha..! bagus,.. bagus,.. ini kebetulan sekali.."

__ADS_1


ucap Kakek Zhu sambil tertawa gembira.


Dia langsung melanjutkan dengan berkata,


"Pendekar muda kebetulan, aku punya dua anak gadis yang belum nikah.."


"Bagaimana menurut pendapat mu, tentang putri terkecil ku, Lian er dan cucu perempuan ku Yen er..."


"Keduanya, pendekar muda sudah bertemu dan melihatnya.."


Nan Thian tersenyum kecut dan berkata,


"Putri dari cucu senior Chu sangat cantik dan luar biasa, tapi sekali lagi Nan Thian harus minta maaf.."


"Nan Thian belum berpikir kearah sana, Nan Thian masih muda, belum ada keinginan terikat,"


"Nan Thian masih ingin bebas berpetualang, meluaskan pengalaman.."


ucap Nan Thian menjelaskan sekaligus menolak secara halus.


Kakek Zhu yang kaya pengalaman, sekali dengar dia juga mengerti.


Tapi dia masih belum putus asa, dia kembali berkata,


"Pendekar muda tidak perlu khawatir, soal pernikahan juga tidak mesti buru buru.."


"Bila pendekar muda ada merasa cocok dengan salah satu dari mereka bisa ikat tunangan dahulu.."


"Atau pendekar muda bisa tinggal satu dua bulan di sini, agar bisa saling mengenal lebih akrab.."


Nan Thian menghela nafas berat , lalu berkata,


"Nan Thian benar benar harus buru buru pergi ke Hua San, pertama aku harus antar paman dan bibi kecil ku kembali kerumah mereka.."


"Kedua, aku ingin mengikuti turnamen murid generasi muda, lima partai aliran lurus yang juga di selenggarakan di puncak gunung Hua.."


ucap Nan Thian sejujurnya.


"Kakek..."


"Ayah.."


Terlihat Siau Yen dan bibinya, melangkah masuk kedalam ruangan, masing masing menggandeng tangan Zi Zi dan Sun er.


Baik Zi Zi dan Sun er mereka di tangan masing-masing memegang beberapa batang Ping Tang Hu Lu.


Kedua anak itu terlihat sangat gembira dan akrab dengan Siau Yen dan bibinya.


"Ehh kalian datang,mari duduklah kemari.."


ucap Kakek Zhu sambil tersenyum lebar.


Kedua gadis itu ikut duduk di sana begitu pula dengan Sun er dan Zi Zi.


"Kakek kami ingin menemani Zi Zi dan Sun Er ke Hua San boleh.."


tanya Siau Yen dengan sikap manja.


Kakek Zhu tersenyum membelai kepala cucunya dengan lembut dan berkata,


"Kalau itu, kamu lebih baik tanyakan ke ayah ibu mu saja.."

__ADS_1


"Ayah kalau aku boleh.."


kini giliran Chu Siu Lian bertanya kearah kakek Zhu, dengan penuh semangat.


Sementara mereka sedang bersandiwara, Nan Thian justru merasa kepalanya mulai terasa sakit.


Dengan ikutnya anak gadis orang, tanggung jawab semakin besar.


Selain itu perjalanan tentu akan menjadi lambat dan terhambat.


Karena pasti akan terbentur dengan kehendak dan keinginan yang berbeda-beda.


Ingin menolak rasanya terlalu kasar, ingin menolak secara halus otaknya buntu memikirkan alasan yang tepat.


Tidak menolak, dia pasti akan semakin terjebak dalam kerumitan.


Sementara Nan Thian sedang kalut dengan pikiran nya, di sana sudah selesai berunding.


Masing masing sudah mengantongi ijin dari orang tua mereka.


Kini mereka tinggal menunggu jawaban Nan Thian.


Nan Thian akhirnya sambil tersenyum pahit berkata,


"Maaf senior Chu dan semuanya, dalam hal ini Nan Thian benar benar ada kesulitan sendiri.."


"Harap Senior Chu sekeluarga bisa memahami kesulitan ini.."


"Nan Thian harus menempuh perjalanan cepat, agar bisa secepatnya mengantar mereka berdua pulang ke orang tuanya, agar mereka tidak berkhawatir.."


ucap Nan Thian serba salah.


"Kakak tampan kedua kakak cantik ini sangat baik, Zi Zi sangat suka berteman dengan mereka.."


"Zi Zi ingin mengajak mereka main kerumah Zi Zi, boleh ya kakak tampan..?"


"Kakak tidak mungkin membenci atau memusuhi kedua kakak baik ini kan ?"


ucap Zi Zi menatap Nan Thian dengan sepasang matanya yang penuh harap.


Nan Thian berjongkok di depan Zi Zi dan berkata,


"Tidak bibi kecil,.aku tentu saja tidak memusuhi sahabat mu, sahabat mu sahabat ku juga.."


"Tapi kita harus secepatnya kembali ke Hua San, agar ayah ibu mu tidak khawatir.."


"Kakak khawatir perjalanan seperti ini, hanya akan menyulitkan sahabat mu.."


"Bila Zi Zi ingin mengundang mereka main kerumah, bukanlah setelah bertemu ayah ibu mu.."


"Zi Zi bisa ajak mereka kemari menggunakan Tiaw Siung bukanlah itu lebih cepat dan mudah.."


ucap Nan Thian berusaha membujuk bibi kecilnya.


Zi Zi menoleh kearah Siau Yen dan Siu Lian, lalu berkata dengan polosnya.


"Kakak,.. apa kakak takut perjalanan sulit dan terburu-buru..?"


Siau Yen dan Siu Lian tentu saja langsung menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tentu saja tidak Zi Zi, hanya saja kelihatannya kakak tampan mu tidak ingin berteman dengan kami.."

__ADS_1


__ADS_2