
Pagi pagi setelah berganti pakaian bersih dan rapi, Fei Yang langsung meninggalkan kamarnya.
Dia langsung terbang meninggalkan istana menuju area pemakaman keluarga kerajaan Xi Xia.
Area ini terletak di sebuah bukit yang di kelilingi oleh pohon Cemara.
Saat ingin memasuki hutan Cemara di ujung tangga paling bawah, dari bukit Cemara tersebut.
Di sana terlihat di jaga oleh 4 orang prajurit.
Melihat kedatangan Fei Yang di pagi buta yang masih dingin cuacanya.
Keempat prajurit itu buru buru memberi hormat pada Fei Yang.
Fei Yang hanya mengangguk kecil, lalu dia melewati mereka dan terus melayang ringan menuju puncak bukit.
Setelah mencapai puncak bukit di depan tiga makam baru, Fei Yang melihat hanya ada Li Dan seorang diri yang hadir di sana.
"Pagi kakak Dan,.. mana kak Lan Yi ?"
tanya Fei Yang sambil melangkah menghampiri Li Dan.
"Lan Yi nanti nyusul kemari bersama ibu dan adik ku.."
ucap Li Dan singkat.
Fei Yang mengangguk, dia lalu berlutut memberi hormat kepada nenek kakek pamannya dan Li Yung kakak sepupunya secara bergantian.
Setelah memanjatkan doa sejenak, Fei Yang pun bangkit berdiri di samping Li Dan.
Melihat Li Dan berdiri termenung sedih, Fei Yang pun berkata,
"Kakak Dan apa yang sedang kamu pikirkan ?"
Li Dan tanpa menoleh berkata,
"Adik Yang setelah berhasil membalaskan dendam ayah ku, harusnya aku bergembira dan bersyukur."
"Tapi entah kenapa aku justru tidak merasa berbahagia sama sekali..'
"Hati ku justru merasa sedih dan berduka, apalagi setiap teringat senyum paman Li Yuan Hao di akhir hayatnya."
"Aku justru selalu tidak berhasil menahan diri untuk tidak menangis.."
ucap Li Dan bercucuran air mata, dan menjatuhkan diri berlutut, lalu menangis di depan makam musuh besarnya.
Fei Yang berjongkok di samping Li Dan dan berkata,
"Aku juga tidak jauh berbeda dengan mu, bahkan sesaat setelah berhasil menundukkan paman, perasaan itu langsung menghampiri ku.."
"Mungkin ini semua karena hubungan darah lebih kental dari air.."
Li Dan mengangguk membenarkan.
"Kamu masih ingat tidak,? sewaktu kakak terjatuh dari ayunan hingga kepala kakak bocor dan berdarah."
Li Dan kembali mengangguk dan berkata,
__ADS_1
"Tentu saja aku ingat, waktu itu paman lah yang menggendong dan menenangkan ku."
"Paman pula yang paling sibuk mengobati luka ku, tanpa memperdulikan bajunya yang kotor karena darah ku."
ucap Li Dan tertunduk sedih.
"Masih ada lagi adik Yang, saat kita berdua dan kakak Li Yung tersesat di hutan hampir di terkam harimau.."
"Saat itu bila bukan paman yang datang dengan gagah berani, melawan dan mengusir harimau itu.."
"Mungkin kita hanya tinggal nama saja.."
ucap Li Dan lesu dan menyesal.
"Paman sebenarnya tidak jahat, ambisi lah yang telah membutakan hati nuraninya.."
"Kita harus memetik pelajaran ini, agar kita tidak terjerumus ke hal yang sama.."
ucap Fei Yang sambil menepuk lembut bahu Li Dan.
Li Dan menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Fei Yang.
"Sudahlah kakak Dan yang terjadi biar terjadi, setidaknya kamu dan aku lah yang membantu membebaskan paman, dari langkahnya, yang salah dan tersesat terlalu jauh..."
ucap Fei Yang sambil membantu Li Dan bangkit dari berlutut nya.
"Kamu benar adik Yang, aku juga melihat ada senyum lega di mata paman, di detik detik terakhirnya.."
ucap Li Dan sedikit bisa tersenyum lega, setelah mendengar ucapan Fei Yang.
"Adik Yang apa rencana mu selanjutnya ?"
tanya Li Dan sambil menatap Fei Yang dengan serius.
Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,
"Kamu tahu sendiri, sejak awal aku memang tidak tertarik kehidupan di istana.."
"Sebenarnya aku sangat ingin pergi berkelana, aku ingin pergi kemanapun kaki ku melangkah, hidup dengan bebas tanpa ikatan dan peraturan.."
"Maksud adik Yang, adik Yang ingin pergi meninggalkan Xi Xia ?"
tanya Li Dan kaget.
Fei Yang tersenyum pahit dan berkata,
"Itu hanya keinginan ku saja, dulu mungkin bisa, tapi setelah kejadian itu yang membuat nenek pergi.."
"Aku tidak mungkin mengecewakan harapan nenek.."
ucap Fei Yang lesu.
"Ha,..ha,..ha,..!"
Li Dan langsung tertawa penuh semangat mendengar ucapan Fei Yang.
Lalu dia kembali berkata dengan penuh semangat dan wajah berseri-seri.
__ADS_1
"Bagus itu, berarti adik Yang akan segera jadi raja Xi Xia, masa depan Xi Xia, pasti akan cerah, bila adik Yang yang menggantikan paman Li Yuan Ming."
"Ha,..ha,..ha,..! dan aku bisa pensiun dengan tenang, lalu mengajak Lan Yi bertamasya mengunjungi seluruh pelosok negeri hidup santai dan tenang.."
ucap Li Dan sambil berkhayal dan tersenyum senang.
Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kamu jangan senang dulu, aku sudah putuskan, aku hanya akan menerima jabatan itu selama masa perkabungan nenek."
"Aku lakukan hal ini semata hanya untuk memenuhi keinginan dan harapan nenek.."
"Setelah masa perkabungan Nenek selama 3 tahun selesai, aku tetap akan pergi memenuhi panggilan hati ku.."
ucap Fei Yang sambil tersenyum lepas.
"Adik Yang kamu tidak boleh seperti itu, bila kamu pergi kamu mau suruh siapa menggantikan mu,?"
ucap Li Dan kaget dan tidak puas, mimpinya tadi seketika sirna, di siram oleh ucapan Fei Yang.
"Kamu harus ingat paman Li cuma punya kamu seorang putranya.."
ucap Li Dan kurang setuju dan mencoba mengingatkan Fei Yang
Fei Yang sambil tersenyum berkata,
"Kan keturunan keluarga Li masih ada kamu ?"
"Adik Yang kau ini bicara apa !? hal ini bukan main main, kamu tidak boleh sembarang bicara..!"
ucap Li Dan sedikit terbawa emosi.
"Ini wasiat nenek dan sudah di tandatangani oleh ayah ku dan ada stempel nya, kamu baca sendiri.."
ucap Fei Yang sambil memberikan sebuah gulungan kain kuning kepada Li Dan.
Sekali lihat Li Dan juga tahu kain kuning bersulam naga itu adalah amanat kaisar, yang tidak bisa di tawar.
Wajahnya seketika pucat, dengan tangan gemetar, dia langsung menjatuhkan diri berlutut menerima gulungan kain itu dari Fei Yang.
Begitu selesai membaca isi gulungan tersebut, wajah Li Dan langsung berkerut kerut.
Senyum di wajahnya tadi langsung hilang, terganti dengan wajah yang kecewa tapi tak berdaya.
"Maafkan suami mu Lan Lan,.."
ucap Li Dan sedih.
Li Dan mengembalikan gulungan itu kembali ke Fei Yang dengan wajah lesu.
Fei Yang menyimpan gulungan tersebut kedalam cincinnya dan berkata,
"Orang lain mati matian, dengan segala cara ingin jadi raja, tidak berhasil."
"Kita cuma dua bersaudara, di beri kesempatan menempati posisi itu, malah melihat posisi itu seperti kita mau di dorong kedalam pintu neraka.."
ucap Fei Yang sambil tertawa
__ADS_1