
Awalnya tidak begitu jelas, tapi semakin lama semakin besar titik tersebut.
Sehingga Pai Xue Xue mulai bisa melihat titik yang sedang bergerak cepat menuju kearah mereka.
Yue Nan Thian dan Pai Xue Xue menatap heran kearah titik itu.
Suara itu kembali berkumandang memenuhi tempat itu.
"Bocah busuk,..! kalau tahu diri segera enyah, dan tinggalkan bocah betina itu untuk kami..!"
Yue Nan Thian kini mulai bisa melihat titik itu ternyata terdiri dari 3 orang.
Orang pertama bertubuh tinggi kurus seperti galah, orang kedua bertubuh gemuk pendek dan orang terakhir paling aneh di bilang pria bukan wanita juga bukan.
Dalam sekejab mata, mereka bertiga sudah tiba di hadapan pasangan muda mudi itu.
Yue Nan Thian sambil mengerutkan alisnya yang hitam tebal.
Dia menegur ketiga tamu tak di undang itu,
"Siapa kalian,? ini adalah wilayah Qing Hal Pai..'
"Bila tidak berkepentingan di larang bikin onar di sini.."
"Ha..ha..ha..!"
"Kak dia bertanya siapa kita..?"
"Dasar anak kerbau tidak kenal harimau.."
ucap orang ketiga menanggapi ucapan Nan Thian, sambil tertawa mengejek.
Orang pertama dan kedua hanya tersenyum mengejek, menanggapi pertanyaan Nan Thian.
Orang ketiga yang bergaya kemayu, berkata sambil menahan tawa.
"Qi Lian San Koai apa kamu pernah dengar ?"
"Pasti belum, lebih baik kamu segera tinggalkan tempat ini.."
"Panggil lah Pai Lao er ( Tua Bangka Pai ) kemari, dia tentu kenal kami.."
ucap orang ketiga Qilian San Koai sambil tertawa mengejek.
Nan Thian berusaha menahan sabar dan berkata se sopan mungkin,
"Silahkan senior bertiga, tinggalkan tempat ini, kedatangan kalian tidak di harapkan di sini.."
Si kemayu menatap Nan Thian penuh tantangan dan berkata,
"Kalau kami tidak mau, kamu bisa apa ?"
Nan Thian mengerutkan alisnya yang tebal semakin dalam, dia menatap tajam kearah ketiga orang itu, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
"Nan Se Xiong, tak perlu banyak bicara dengan sampah seperti itu, tidak akan ada gunanya.."
"Lihat pedang..!"
teriak Xue Xue sambil menerjang kearah si banci dengan pedangnya.
Pedang Xue Xue berubah menjadi sekumpulan cahaya putih, yang datang bagaikan hujan terarah ke tubuh depan si banci.
Si banci sambil tersenyum melayang mundur dengan sepasang tangan di gendong di punggungnya.
__ADS_1
Melihat hal ini Xue Xue langsung melakukan pengejaran sambil berteriak,
"Ciaatt..!"
"Xue Xue jangan bahaya..!"
teriak Nan Thian mengingatkan.
Tapi sudah terlambat, dengan ujung lengan bajunya yang lembar, si banci begitu bergerak langsung menggulung pedang Xue Xue.
Sekali betot tubuh Xue Xue langsung terbetot kedepan.
Xue Xue hanya bisa melotot kaget saat tubuhnya tersentak kedepan.
"Tuk..!"
Dadanya terkena totokan halus dari jari si banci.
Xue Xue langsung terkulai lemas, kehilangan tenaga dan kemampuan melawannya.
Xue Xue hampir saja tertawan oleh si banci, bila Nan Thian tidak bergerak cepat dengan pedang terbangnya meluncur mengancam leher si banci.
Si banci terpaksa membatalkan gerakannya ingin menawan Xue Xue.
Dia menyentil kan jarinya menangkis pedang terbang Nan Thian.
"Tinggg..!"
Gerakan pedang Nan Thian terhenti, pedang terpental balik kembali kedalam genggaman tangan nya.
Meski serangan Nan Thian gagal, tapi dia berhasil menolong kekasihnya dari tangan Si banci.
Si banci sambil menyentil pedang Nan Thian, dia juga menyentil kan ujung jari tangannya yang lain, untuk membalas menyerang Nan Thian.
Nan Thian menggunakan ilmu meringankan tubuh nya, melakukan gerakan berputaran diudara menghindar sambil merangkul pinggang kekasihnya mundur menjauh.
Nan Thian melepaskan totokan kekasihnya dan berkata,
"Se Mei, cepat tinggalkan tempat ini, aku akan coba menahan mereka."
Xue Xue mengangguk cepat, mengikuti lemparan Nan Thian.
Xue Xue melesat cepat meninggalkan tempat tersebut, untuk mencari bala bantuan.
Melihat hal itu si pendek gemuk yang seperti bola menggelinding di atas air.
Langsung melesat melakukan pengejaran.
Tapi gerakannya terhenti oleh sebilah pedang terbang yang melesat cepat menghadang nya.
"Tinggg..!"
Pedang itu terpental saat menyentuh tubuh sipendek gemuk yang seperti bola.
Si gendut ternyata memilki kekebalan tubuh seperti binatang trenggiling yang miliki kulit keras.
Tapi meski kebal gerakan si pendek gemuk tetap saja terganggu.
Dengan marah si pendek gemuk melancarkan serangan telapak tangannya yang mengeluarkan angin pukulan beruntun kearah Nan Thian.
Nan Thian menggunakan pedangnya yang terpental balik.
Untuk melepaskan tebasan energi pedang, yang meluncur deras.
__ADS_1
Menyambut kedatangan kedua pukulan telapak tangan kosong, yang di lepaskan oleh sipendek gemuk.
Energi pedang Nan Thian yang melintas lewat diatas air danau.
Membuat air danau sedikit terbelah, seperti sedang di lintasi oleh kapal motor cepat.
Air danau menyibak ke kiri kekanan, sebelum akhirnya meledak saat energi pedang bertemu dengan energi pukulan Tapak tangan kosong.
"Boooom...!"
Air muncrat tinggi menghalangi pandangan Qi Lian San Koai.
Si banci yang mencoba melakukan pengejaran ke Xue Xue yang sedang melarikan diri.
Gerakannya kembali harus berhenti di tengah jalan, karena Nan Thian setelah terpental dari benturan energi keras lawan keras, melawan si pendek gemuk.
Nan Thian memanfaatkan tenaga dorongan itu, dia meluncur cepat kearah si banci seperti pusaran angin tornado.
Dengan ujung pedang bagian depan ingin menikam punggung Si banci.
Di halang halangi oleh Nan Thian secara berulang kali, Si banci menjadi kesal.
Dia menyambut kedatangan serangan dari Nan Thian, dengan sentilan ujung jarinya, menerjang secara beruntun
"Tringgg...!"
"Tringgg...!"
"Tringgg...!"
Serangan Nan Tian gagal, tubuhnya terpental jatuh tercebur kedalam danau.
'"Byuurr..!"
Air danau yang tertimpa tubuh Nan Thian melompat tinggi keudara.
Nan Thian mengalami luka dalam di dadanya, mulutnya mengeluarkan darah, saat tubuhnya tenggelam ke dasar sungai.
Sentilan jari pedang si banci tidak berhasil dia tangkis sepenuhnya.
Ada dua yang.berhasil.menembus pertahanan nya, satu di dada satu lagi di perut.
Luka di dada dan perut juga ikut berdarah, saat tubuh Nan Thian melayang layang di dalam air.
Nan Tian dalam keadaan setengah sadar mendengar suara teriakan dari atas danau.
"Jangan biarkan lolos bocah itu..!"
Nan Thian tidak bisa memastikan siapa yang mengeluarkan instruksi.
Dia hanya merasa tubuhnya terus meluncur ke bawah.
Sesaat kemudian dia melihat energi energi tajam tanpa berhenti terus di lepaskan kearah nya.
Beberapa bagian tubuhnya yang terkena serempet energi putih itu.
Langsung terluka berdarah, seperti di sayat pisau.
Nan Thian buru buru berenang menjauh, Dia mencoba kabur, dengan bersembunyi di rerumputan yang tumbuh subur di dasar danau.
Tapi baru saja Nan Thian ingin masuk kedalam gerombolan rumput.
Tiba-tiba dia merasa tubuhnya tertarik naik keatas permukaan danau, oleh kekuatan tak kasat mata.
__ADS_1