
Fei Yang dan Xue Lian bersembunyi berlindung di balik kegelapan, di puncak menara pagoda, yang merupakan bangunan tertinggi di kota Tai Yuan.
Di balik kegelapan terlihat Fei Yang duduk berselonjor dengan wajah sedikit pucat.
Tapi bibirnya terus menyunggingkan senyum kepuasan.
Sedangkan istrinya yang duduk di sebelahnya terlihat cemberut.
Sebentar sebentar terlihat dia menutupi mulutnya, seperti orang mau muntah, tapi di tahan.
Xue Lian setiap kali teringat kejadian sebelumnya, dia selalu merasa perut nya mual ingin muntah.
Fei Yang tentu menyadarinya, tapi dia berpura-pura tidak melihat dan tidak berani banyak bicara.
Dosa itu datang darinya, bila banyak bicara, dia bisa terkena efek ledakan dinamit dari istrinya.
Xue Lian meski kesal dan sebal, tapi dia terpaksa menelan semuanya, karena tawaran itu datang dari dirinya sendiri.
Jadi tidak ada yang bisa dipersalahkan selain dirinya sendiri yang cari masalah.
"Keparat itu kenapa belum muncul juga,..awas kalau muncul.."
"Aku pasti akan memasukkan kedua bola itu untuk dia telan sendiri.."
ucap Xue Lian melampiaskan rasa kesalnya, karena moodnya sedang kurang bagus.
Fei Yang tidak berani bersuara menanggapinya, dia hanya melirik sekilas dan berusaha menahan senyum.
Semakin malam cuaca semakin dingin, melihat istrinya yang sedikit meringkuk kedinginan.
Fei Yang melepaskan jubah luarnya, membantu menyelimuti istrinya dan berkata,
"Sudah hampir pagi, kelihatannya dia tidak akan datang malam ini.."
"Bagaimana bila kita pulang istirahat, besok malam saja kita teruskan lagi.."
Xue Lian menghela nafas kesal dan berkata,
"Kita tunggu sebentar aja lah lagi.."
"Bila ayam berkokok belum juga muncul, kita baru pulang istirahat."
Fei Yang mengangguk setuju, akan usul istrinya.
Tapi setelah beberapa waktu berlalu hingga terdengar suara Kokok ayam jantan bersahutan, di segala penjuru, yang di tunggu tetap tidak kunjung muncul.
Fei Yang dan Xue Lian saling pandang sejenak, mereka berdua menganggukkan kepala, lalu melayang meninggalkan puncak menara pagoda.
Terbang kembali kedalam kamar mereka, melalui pintu jendela yang di biarkan terbuka lebar.
Setelah tiba di dalam kamar Fei Yang berkata,
"Sayang perut ku mules kamu tidurlah dulu, aku mau ke belakang sebentar.."
Xue Lian dengan wajah mengantuk dan agak suntuk tanpa menoleh berkata,
"Pergilah sana..aku mau tidur ngantuk.."
Fei Yang mengangguk, lalu dia membuka pintu kamar, lalu menutupnya kembali sebelum dia ngeloyor pergi dari sana dengan langkah terburu-buru.
__ADS_1
Belum lama Fei Yang pergi, terdengar bunyi ketokan di depan pintu kamar.
"Tok,..Tok,..Tok..!"
"Apalagi sih,..?"
Omel Xue Lian, yang merasa terganggu tidurnya.
Dengan langkah malas wajah cemberut dan rambut sedikit kusut,
Xue Lian turun dari ranjangnya berjalan pergi membuka pintu kamar.
"Ehh kakak Yang, kenapa sudah kembali ?"..
"Bukannya kamu tadi bilang mules mau ke belakang..?"
tanya Xue Lian sambil menatap suaminya dengan heran.
"Kamar belakang penuh dan bau, mules ku sudah hilang.."
"Ayo kita tidur.."
ucap Fei Yang sambil melangkah masuk menutup pintu kamar.
Kemudian merangkul istrinya berjalan menuju ranjang.
Saat mereka berdua berbaring, Fei Yang langsung menciumi tengkuk istrinya dengan lembut.
Xue Lian yang sedang tidur miring memunggungi Fei Yang, sedikit meng ge linjang geli.
Dengan wajah merah, dia berkata,
"Ayo tidurlah.."
Tapi Fei Yang tidak menghiraukan teguran Xue Lian.
Dia malah kini melingkarkan sepasang tangannya di pinggang Xue Lian memeluknya dengan erat.
Senjatanya menempel ketat di bo kong Xue Lian, sehingga Xue Lian bisa merasakan ada benda keras yang menempel ketat di sana.
Fei Yang kembali mendaratkan ciuman nya semakin ganas, menelusuri tengkuk hingga keleher istri nya, yang jenjang putih dan mulus.
"Xue Lian mende sah nikmat, sambil memejamkan matanya yang sedikit terbuka, dia berkata setengah berbisik,
"Sayang jangan,..aku lagi halangan..Owhh..!"
"Ahhhh,..geli ehmmm.!"
"Kakak Yang hentikan jangan.."
""Aku owhhh,..Ehmm..!"
"Kakak Yang ampun.. jangan,..jangan.. disana..aduh..Ahhh geli..!"
Xue Lian mulai meng ge linjang kegelian menghadapi serangan Fei Yang yang semakin ganas.
Sepasang tangannya bergerak liar dari sepasang bukit indah kenyal berkulit putih halus, dengan puncak berwarna pink.
Kini mulai bergerak turun kebawah menyelusup kearah bawah perut.
__ADS_1
"Owhhh ampun kakak Yang jangan aduh..Ahhh..nikmat..terus jangan hentikan.."
gumam Xue Lian dengan suara tidak jelas.
Sementara Bo kong nya mulai bergerak naik turun mengikuti permainan jemari lembut suaminya.
Suara ******* yang awalnya penuh penolakan, kini malah berubah menjadi e rang an nikmat tak terkendali.
Hingga akhirnya terdengar jeritan tertahan,di mana Xue Lian, terlihat tubuhnya yang indah terlihat mengejang hebat sampai gemetaran.
Dia seperti habis tersengat listrik, pakaian atasnya tersingkap kemana mana.
Terlihat butiran keringat kecil berkilauan seperti mutiara halus, menghiasi kulit tubuhnya yang putih halus tanpa noda.
Xue Lian terlihat tergolek lemas lunglai tak bertenaga, dengan sepasang mata setengah terbuka, bibirnya yang merah merekah sedikit terbuka dan terlihat agak kering.
Keningnya terlihat penuh dengan butiran keringat halus.
"Kakak Yang nakal,..tapi ini sangat enak,..kakak Yang lihat di buku ya..?"
ucap Xue Lian pelan dengan suara sedikit serak.
Fei Yang tidak menjawabnya, dia tersenyum mengejek, tiba-tiba dia menekan jalan darah di tengkuk dan di punggung Xue Lian yang terbuka.
"Ihhhh.!"
keluh Xue Lian kaget.
Dia ingin bertanya, ingin berteriak menjerit tapi tidak bisa, syaraf bicaranya sudah terkunci.
Dia ingin menggerakkan lehernya menoleh kebelakang, mencari kepastian kenapa suaminya menotoknya tapi itu juga tidak bisa.
Karena syaraf motorik geraknya juga sudah terkunci.
"Suami mu yang bodoh itu tidak tahu barang, ikutlah dengan ku.."
"Aku akan jamin, kamu akan dapatkan sensasi kenikmatan sepuluh kali lipat dari yang kamu rasakan barusan."
ucap seorang pemuda tampan yang sedikit pesolek, wajahnya di Pupur bedak, bibirnya di beri gincu merah.
Saking tampangnya dia lebih terlihat cantik ketimbang gagah.
Sepasang matanya yang indah dengan bulu mata panjang melengkung, terlihat genit sadis dan licik.
Dengan tanpa rasa jijik, dia menjilat bersih kedua ujung jarinya, yang di hiasi cairan bening lengket dan ada noda darahnya disana.
Xue Lian kini wajahnya menjadi pias, airmata mulai bercucuran dari sepasang matanya yang indah.
Dia kini mulai sadar ternyata pria di belakangnya, yang tadi memberikan sensasi yang sangat luar biasa itu, bukanlah suaminya,
seperti yang dia duga di awal tadi,
Pria ini pasti si cabul yang sedang dia incar dan cari cari semalam suntuk bersama Fei Yang.
Xue Lian mulai sadar, penjahat itu pasti telah menghipnotis dirinya, merubah penampilannya menjadi suaminya.
Xue Lian kini hanya bisa menyesali kecerobohannya yang kurang hati-hati.
Kini dia hanya bisa berharap agar suaminya, cepat cepat datang menolongnya, sebelum hal yang lebih mengerikan dari maut terjadi pada dirinya.
__ADS_1