
Fei Yang menyadari ketakutan Wei Wen, untuk menenangkannya, Fei Yang pun berkata
"Jangan khawatir sayang, berani mereka macam macam padamu."
"Aku yang pertama akan melempar mereka keluar dari kapal ini, buat santapan ikan di luar sana .."
Beberapa anak buah kapal masih terus menatap kearah Fei Yang dengan penasaran.
Untuk menakuti orang orang itu, agar jangan berani menganggu mereka berdua.
Fei Yang sengaja mempertontonkan, dimana Jangkar kapal yang besar terangkat keatas melayang di udara.
Di kontrol oleh Fei Yang dari jarak jauh, saat di letakkan kembali pun, jangkar yang berat itu turun dengan ringan, tanpa mengeluarkan suara sama sekali.
Padahal biasanya untuk mengangkat jangkar itu saja, perlu di lakukan oleh 10 orang, itupun tidak mungkin bisa di angkat setinggi itu.
Saat di letakkan kembali pun, jangkar itu akan jatuh berdebum keatas geladak kapal, dan menimbulkan guncangan yang tidak ringan.
Melihat aksi yang Fei Yang tunjukkan, semua awak kapal langsung pucat dan menelan ludah mereka sendiri.
Kini mengangkat kepala pun mereka tidak berani, apalagi melototi Fei Yang seperti tadi.
Melihat reaksi mereka Fei Yang pun tersenyum puas, ternyata teori mengajari orang kasar harus dengan cara kasar itu sangatlah tepat.
Karena ada pepatah mengatakan,
Mengajari orang kasar dengan cara halus, itu bagaikan bermain musik buat di dengar oleh kerbau.
Fei Yang pura-pura tidak terjadi sesuatu sama sekali, dia membimbing Wei Wen mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat.
Fei Yang memilih sebuah pojokan yang jarang dilewati orang, tempat itu juga teduh tidak terkena panas dan hujan.
"Wen Wen kalau kamu mengantuk tidurlah, aku akan menjaga mu."
ucap Fei Yang sambil menatap Wei Wen dengan lembut.
Wei Wen menganggukkan sedikit kepalanya, perhatian Fei Yang kembali membuat wajahnya terasa panas dan merah merona.
Dengan malu malu Wei Wen berbaring di pangkuan Fei Yang, seperti yang sering dia lakukan selama ini.
Tapi yang berbeda saat ini, adalah hatinya terasa sangat bahagia, di saat bersamaan jantungnya juga tidak berhenti berdebar-debar.
Fei Yang yang melihat Wei Wen sudah memejamkan matanya, Fei Yang melepaskan baju jubah luarnya, untuk di gunakan menyelimuti tubuh Wei Wen.
Wei Wen yang belum tidur membuka sedikit matanya, melihat apa yang sedang di lakukan oleh Fei Yang.
__ADS_1
Melihat Fei Yang sedang menyelimutinya, dia pun buru-buru memejamkan matanya dan tersenyum bahagia.
Fei Yang sendiri juga ikut memejamkan matanya bermeditasi dengan Qian Kun Im Yang Sen Kung, memulihkan kondisinya yang belum sepenuhnya stabil.
Kebetulan kapal ini akan membawanya ke kerajaan Champa, setelah sampai di sana, dia bisa langsung mencari raja Vijaya membuat perhitungan dengan raja licik itu.
Beberapa hari menumpang di kapal tersebut, akhirnya kapal mereka mendarat di dermaga kerajaan Champa yang cukup ramai.
Di dermaga besar itu, terlihat banyak kapal dari berbagai negara.
Dari cara berbicara dan struktur tubuh mereka,. sudah terlihat jelas mereka semua bukanlah penduduk lokal sana.
Begitu kapal merapat ke dermaga, Fei Yang pun memberi hormat kearah kakek Umar Ali.
"Terimakasih banyak kek,..atas tumpangannya,.. ini ada sedikit tanda ucapan terima kasih .."
Ucap Fei Yang sambil memberikan beberapa keping uang emas kepada kakek itu..
"Jangan,.. tidak perlu anak muda, dari ikan ikan yang kamu tangkap kan buat kami di sepanjang perjalanan..itu pun sudah lebih dari cukup.."
ucap kakek itu menolaknya.
Fei Yang tersenyum dan tetap memasukkan kedalam saku baju kakek itu dan berkata,
"Terima saja, itu adalah sedikit ucapan terimakasih dan kenang kenangan dari ku.."
Set berkata, Fei Yang langsung menggandeng tangan Wei Wen untuk turun dari kapal.
Begitu tiba di dermaga, Fei Yang dengan tenang berjalan menghampiri pos jaga di pelabuhan tersebut.
Di dalam pos jaga ada puluhan prajurit kerajaan Champa sedang berjudi.
Kedatangan Fei Yang bersama Wei Wen tidak mereka sadari.
Tapi begitu Fei Yang buka suara bertanya kepada mereka,
"Maaf,.. permisi..."
"Adakah yang bisa membantu mengantar ku, menemui raja Vijaya.."
Mereka semua, seketika menoleh menatap kearah Fei Yang, dengan tatapan mata kurang senang dan merasa terganggu.
Tapi begitu melihat yang berdiri di hadapan mereka adalah Fei Yang.
Beberapa di antara mereka, yang pernah ikut dalam pasukan kerajaan champa menyerang istana kediaman jendral Meng Yu.
__ADS_1
Mereka langsung berteriak dalam bahasa mereka, sambil mencabut senjata mereka masing.
Rekan mereka yang lain meski bingung, mereka juga segera ikut mencabut senjata mereka.
Kemudian semuanya langsung bergerak mengepung Fei Yang dengan senjata di tangan.
Belum sempat mereka menyerang puluhan orang itu telah tumbang dengan tubuh hangus.
Hanya tersisa satu prajurit yang masih hidup.
Prajurit itu langsung membuang senjata nya dan berlutut di hadapan Fei Yang dengan penuh ketakutan.
"Cepat,..!!" antarkan aku menemui Raja Vijaya..!"
bentak Fei Yang untuk menakut nakuti prajurit itu, agar bersedia mengantar dia menemui Raja Vijaya..
Prajurit itu meski tidak mengerti ucapan Fei Yang, tapi mendengar di sebut sebut nya nama Raja junjungannya.
Dia pun tahu dan bisa menebak, apa yang di inginkan oleh Fei Yang.
Prajurit itu buru buru menganggukkan kepalanya dan berlari terhuyung-huyung mengantar Fei Yang, langsung menuju istana kerajaan Champa.
Dalam perjalanan saat bertemu dengan barisan pasukan penjaga gerbang masuk pusat kerajaan.
Prajurit itu langsung berlari kearah mereka dan berteriak dalam bahasa mereka mengingatkan teman temannya.
Fei Yang tentu tahu hal itu, tapi dia tidak ambil pusing, dia sudah memutuskan bila hari ini Raja brengsek itu tidak muncul.
Dia akan terus melakukan pembantaian, hingga kedalam istana, lalu menyeretnya keluar, untuk bertanggung jawab atas semua kelakuan nya.
Mendengar teriakkan prajurit yang ketakutan itu para pasukan penjaga langsung menyiapkan tombak dan tameng melakukan pengepungan terhadap Fei Yang dan Wei Wen.
Ratusan penjaga telah melakukan pengepungan ketat dan mulai menyerang Fei Yang.
Wei Wen terlindungi oleh pancaran energi merah biru yang Fei Yang lepaskan.
Begitu kedua tangan Fei Yang bergerak menyerang secara bergantian.
Maka cahaya biru yang membentuk dua ekor Naga biru, melesat keluar dari tangan nya,
Kedua Naga biru itu bergerak berputar putar menerjang kesana kemari.
Dalam sekejab mata hampir separuh dari pasukan pengepung berdiri mematung tewas dengan tubuh membeku.
Kedua naga biru itu tidak berhenti, mereka masih terus bergerak menerjang dan menambah korban dari pihak pasukan kerajaan Champa.
__ADS_1
Sisa pasukan kerajaan Champa langsung melarikan diri dengan penuh ketakutan.
Fei Yang merangkul Wei Wen membawanya ikut terbang, mengikuti arah lari sisa pasukan yang ketakutan itu.