PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
WUJUD ASLI


__ADS_3

Wei Wen mengangguk, dengan cepat dia menarik keluar kedua pedang itu.


Begitu kedua pedang tercabut keluar dari dalam tanah, yang terletak di bawah batu besar tersebut.


"Boommm,.."


Terdengar bunyi keras, yang menggetarkan seluruh ruangan tersebut,. akibat Fei Yang melepaskan, pintu besar itu jatuh menimpa tanah.


Fei Yang langsung menjatuhkan dirinya duduk bersila, berusaha mengatur pernafasan, dan mengatur perputaran sirkulasi tenaga saktinya, agar tidak kacau.


Tidak perlu waktu lama, Fei Yang sudah berhasil mengatur sirkulasi energinya dengan stabil.


Dengan menghembuskan nafas yang di selimuti hawa es dan hawa api, di kiri kanan lubang hidungnya.


Fei Yang menyudahi meditasi nya, menatap kearah Wei Wen dan berkata,


"Kita harus mencobanya dengan cara lain, tidak bisa gunakan pedang ku."


"Aku akan mencoba memindahkan batu batu besar itu kemari, untuk membantu menahan pintu batu ini."


ucap Fei Yang serius.


"Kak, tadi saat aku berjongkok mengeluarkan kedua pedang kakak, aku justru melihat di luar sana keadaan nya gelap gulita.."


"Aku tidak tahu pasti apa saat ini di luar sana sedang malam hari ? atau jangan jangan sebenarnya di luar sana seluruh mulut gua, sudah tertutup habis oleh reruntuhan tebing.?"


"Karena sebelumnya mereka terus terusan menggunakan bahan peledak untuk meledakkan pintu ini.?"


tanya Wei Wen sambil menatap serius kearah Fei Yang.


Fei Yang terdiam saat mendengar informasi dari Wei Wen.


Dia jadi berpikir, apa yang di katakan oleh Wei Wen sangat mungkin terjadi.


"Aku akan menggunakan batu besar, untuk mencoba menahan pintu ini, setelah itu baru masuk kedalam memeriksanya dengan lebih jelas.."


ucap Fei Yang berusaha bersikap setenang mungkin.


Bila jalan keluar mereka benar tertutup habis, maka mereka akan terkurung seumur hidup ditempat ini. mereka hanya bisa menunggu mati saja di tempat ini.


Dengan persediaan bahan makanan yang semakin lama semakin dikit, cepat lambat mereka tetap akan mati kelaparan di tempat ini.


Fei Yang sungguh berharap dugaan kedua Wei Wen keliru, dugaan pertama lah yang benar, di luar hari sedang gelap.


Sambil berpikir, Fei Yang mulai Memindahkan satu persatu batu besar kedepan mulut gua, dengan menggunakan cincin penyimpanan semua menjadi lebih mudah.


Fei Yang akan terlebih dahulu menyimpan nya kedalam cincin. kemudian baru di keluarkan di depan pintu gua.

__ADS_1


Setelah beberapa batu besar sudah di pindahkan kedepan pintu batu.


Fei Yang pun kembali mengangkat pintu batu berat itu setinggi mungkin.


Setelah itu satu persatu batu besar itu, ditendang oleh kaki Fei Yang, hingga masuk ke bawah pintu raksasa, yang sedang di tahan oleh kedua tangan Fei Yang.


Setelah semua batu besar itu sudah berada di posisinya.


Fei Yang baru perlahan-lahan menurunkan pintu batu berat itu, agar tidak langsung menghentak hancur batu penahan nya.


Setelah terganjal batu besar yang berderak hebat, dan sedikit tengelam kedalam tanah.


Fei Yang kini bisa masuk kedalam berjalan menuju mulut pintu, untuk melakukan pemeriksaan, dengan menggunakan mutiara malam hijaunya.


Fei Yang akhirnya menemukan kenyataan, bahwa mulut pintu keluar sudah tertutup habis oleh reruntuhan batu besar.


Fei Yang mencoba memeriksa dengan mengetuk dan mendorongnya.


Tapi bebatuan besar itu tidak bergeming sama sekali, sedangkan ketukan tangannya menunjukkan bahwa batu penutup gua di belakangnya, sangat padat.


Tidak ada rongga sama sekali.


Kenyataan ini membuat Fei Yang seketika lesu dan lemas.


"Kak cepat keluar, batu penyangga mulai retak,..!!"


"Sepertinya tidak kuat bertahan lama,...!!"


Fei Yang segera melesat keluar dari dalam gua, baru saja Fei Yang berdiri di samping Wei Wen terdengar bunyi keras.


Krakkk,.. Kreekkk,...!"


"Boooom,...!"


Batu penyangga yang sebesar besar kerbau, kini hancur berkeping-keping tertimpa pintu batu yang besar, tebal dan sangat berat itu.


"Wen Wen kelihatannya kita akan melewatkan sisa hidup kita, di tempat ini.."


ucap Fei Yang sedikit putus asa.


"Kak Fei Yang tetap bersemangat lah, kita bisa coba periksa seluruh gua ini, siapa tahu ada jalan lain."


"Kalaupun tidak ada sama sekali juga tidak apa-apa, selama ada kakak di samping ku, aku juga sudah cukup puas.."


Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,


"Kelihatannya memang harus seperti itu, ayo kita makan buah saja.."

__ADS_1


"Perut'ku tiba tiba jadi terasa lapar,.."


ucap Fei Yang sambil tersenyum terpaksa.


Wei Wen mengangguk dan berkata sambil tersenyum gembira.


"Ayuk kak, tadi aku sudah kumpulkan buah buahan buat kakak..'


Dia segera menarik tangan Fei Yang, pergi menghampiri beberapa pohon buah, yang tumbuh subur di sana.


Fei Yang tidak membantah, dia mengikuti arah tarikan tangan Wei Wen yang terlihat bersemangat.


Sambil makan buah bersama mengisi perut, Fei Yang sambil menatap serius kearah Wei Wen dia bertanya,


"Wen Wen kenapa kamu terlihat begitu gembira dan tanpa beban,? padahal kita ada kemungkinan akan mati di tempat ini."


Wei Wen tersenyum ringan dan berkata,


"Bagi ku di sini masih jauh lebih baik ketimbang di istana, di sini setidaknya jauh dari perseteruan, saling menusuk dari belakang, saling menjatuhkan, bermuka dua."


"Hdup di kelilingi oleh manusia munafik yang penuh ambisi dan siap menghalalkan segala cara itu sangat lah melelahkan kak.."


"Tidak ada yang bisa di percaya dan di ajak berteman dengan tulus, hidup selalu harus waspada dan saling curiga, sudah cukuplah rasanya, 18 tahun hidup ditempat seperti itu."


"Tapi disini berbeda, di sini sangat bebas, aku bisa menjadi diri ku sendiri.."


"Di sini aku juga punya teman, sahabat, seperti kakak yang tak perlu lagi ku ragu kan lagi ketulusannya.."


"Meski kakak sering memarahi ku dan membuat ku kesal, tapi bisa hidup berdampingan dengan kakak, tetap adalah kebahagiaan terbesar bagi hidup ku.."


"Belum pernah ada orang yang bersedia berkorban begitu banyak untuk ku, selain kakak Yang.."


"Kakak Yang bisa terjebak sampai seperti saat ini, bukankah semua juga karena ingin menyelamatkan ku..?"


ucap Wei Wen sambil tersenyum manis dan menatap Fei Yang dengan sepasang matanya yang indah.


Fei Yang hanya melirik sekilas, dia bahkan tidak berani bertatapan mata langsung dengan Wei Wen.


Karena dia khawatir, dirinya nanti akan benar benar menyukai gadis di hadapannya ini.


Apalagi mereka dalam situasi hanya hidup berdua seperti ini.


Fei Yang pura-pura menikmati buah di tangannya dan berkata,


"Kamu jangan berlebihan memujinya, nanti kepala ku jadi semakin besar.."


"Kalau sampai wujud asli ku, yang seperti siluman ba bi keluar, bukankah akan menakuti mu.?"

__ADS_1


ucap Fei Yang sambil terus makan buah dan pura pura tidak perduli.


Mendengar ucapan Fei Yang, malah membuat Wei Wen tertawa sambil menutupi mulutnya sendiri.


__ADS_2