PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEPUTUSAN FEI YANG


__ADS_3

Fei Yang mengangguk pelan menanggapi pendapat yang di sampaikan oleh istrinya barusan.


Dia mengambil nafas, untuk mengurangi rasa tidak enak hatinya,


Sesaat kemudian dia baru menatap kearah Hong Yi dan Yue Feng secara bergantian.


Sambil menghela nafas pelan Fei Yang menuangkan teh, mengisi cawan didepan Hong Yi Yue Feng dan dirinya sendiri.


Tanpa mengangkat kepalanya Fei Yang berkata,


"Kak Hong Yi, aku juga mengerti kedekatan putri ku dan putra mu Nan Thian.."


"Putra mu Nan Thian adalah seorang pria pilihan yang jarang ada duanya.."


"Kami sekeluarga juga banyak berhutang Budi pada nya, dia juga termasuk ahli waris ilmu ku.."


"Dari segi apapun Nan Thian sangatlah sempurna,.."


Fei Yang menghentikan ucapannya sejenak, lalu dia meletakkan poci teh di tangannya keatas tungku pemanas kecil.


Setelah itu sambil menghela nafas berat, dia baru kembali melanjutkan berkata,


"Andai saja dulu aku tidak menerima permintaan saudara sepupu ku Li Dan.."


"Hari ini dengan senang hati, tanpa kak Hong Yi buka mulut pun, aku dan Xue Lian, pasti akan pergi ke Xu San, membicarakan hal ini, begitu keadaan Xue Lian sembuh.."


"Kini kakak sepupuku Li Dan telah tiada, begitu pula semua wali putranya, semua telah tiada.."


"Aku tidak bisa membatalkan pertunangan Zi Zi dan Li Sun yang sudah ditetapkan oleh saudara sepupuku itu, dari sebelum Zi Zi lahir."


"Bahkan di saat saat terakhir kematiannya demi mempertahankan kerajaan yang harusnya menjadi tanggung jawab ku."


"Dia masih menitipkan surat ini di tubuh Sun Er.."


ucap Fei Yang sambil mengeluarkan sepucuk surat yang dari sampulnya terlihat penuh noda darah yang telah mengering lama.


Saat isi suratnya di keluarkan, Fei Yang mendorong isi surat, yang juga penuh bercak darah, tapi tulisannya masih bisa terbaca kehadapan Hong Yi.


Hong Yi dan Yue Feng ikut membaca surat pesan terakhir dari Li Dan.


"Adik Yang, aku dan istri tercinta ku, kami sudah maximal menjaga mandat dari amanat yang kamu titipkan pada kami.."


"Aku tidak menyesal demi amanat ini, aku harus kehilangan wanita yang sangat aku cintai.."


"Aku sendiripun kelihatannya tidak akan bisa bertahan, untuk melihat putra tunggal kami besar dan berkeluarga.."


"Hanya satu yang aku harap dari mu adik ku, tolong rawat dan jaga putra kami baik baik, bila aku terpaksa pergi mendahului nya."


"Di dunia ini selain kamu, aku sudah tidak punya orang yang bisa di harapkan.."

__ADS_1


"Aku juga sangat berharap kamu tidak melupakan janji kita, untuk tetap mengikat hubungan persaudaraan hingga pita puti kita."


"Bila pria biar mereka jadi kakak beradik, bila wanita biarkan mereka dipersatukan dalam ikatan pernikahan.."


"Hanya itu harapan terakhir ku.."


"Maaf adik ku, sebenarnya banyak yang ingin ku bicarakan dengan mu.."


"Tapi berhubung situasi militer sedang rumit, aku tidak bisa berpanjang lebar.."


"Sekian terimakasih.."


"Tertanda Li Dan Kakak sepupu mu.."


Membaca pesan terakhir itu hingga selesai, Hong Yi pun menghela nafas panjang.


Dengan wajah penuh simpati dan duka, dia melipat kembali surat itu.


Mengembalikan ke Fei Yang dan berkata,


"Paman guru, maafkan permintaan kami, yang telah membuat posisi mu jadi serba salah.."


"Kami mengerti, mungkin ini memang sudah suratan nasib anak kami.."


"Penderitaan asmaranya masih akan terus berlanjut.."


ucap Hong Yi tak berdaya dan terlihat sedih.


"Karena Ego ku demi bisa hidup bebas, aku telah menghancurkan hidupnya, cintanya dan keluarganya, jadi aku benar benar tidak punya muka untuk menghancurkan pengharapan terakhirnya.."


"Bila orang nya masih ada, tentu akan jauh lebih mudah bagi ku, untuk menyelesaikan nya.."


"Tapi kini orangnya telah tiada, hanya tersisa pesan dan harapan terakhir nya.."


"Jadi kini selain meminta maaf dari kakak Hong Yi dan kakak Yue Feng, aku sudah tidak ada, yang bisa aku katakan.."


ucap Fei Yang sambil bangkit berdiri dan memberi hormat dalam dalam, hingga tubuhnya membungkuk kebawah..


Yue Feng dan Hong Yi buru buru berdiri, mereka membantu menahan tangan Fei Yang.


Agar paman guru mereka, tidak memberi hormat dan meminta maaf ke mereka berdua, hal itu sangatlah tidak pantas.


Apalagi mengingat Budi Fei Yang yang begitu besar terhadap mereka, ini sangatlah tidak pantas.


Tanpa Fei Yang Hong Yi, mungkin masih gila haus darah dan buta.


Tanpa Fei Yang Yue Feng juga tidak mungkin ada, apalagi bisa hidup berbahagia bersama Hong Yi.


Hong Yi yang biasanya keras kepala pun, tidak enak hati.

__ADS_1


Selain menerima nya, dia sudah tidak bisa berkata apa-apa.


Dia harus memahami kesulitan dan posisi paman gurunya, menyingkirkan ego pribadinya.


Hong Yi sambil membantu Fei Yang berdiri, dia berkata dengan penuh pengertian,


"Paman guru tak perlu seperti ini, kami paham kesulitan paman.."


"Kami tidak bisa menyalahkan keputusan Paman guru, bila kami di posisi paman guru, kami juga pasti akan mengambil keputusan yang sama.."


"Bila saat ini mau di salahkan, kami hanya bisa salahkan nasib putra kami, yang belum punya keberuntungan untuk itu.."


ucap Hong Yi sambil menghela nafas pelan.


Yue Feng dan Hong Yi kembali duduk, menghabiskan teh yang di suguhkan oleh Fei Yang.


Setelah berbasa-basi sejenak, mereka berdua pun langsung mohon pamit permisi dari sana.


Setelah pamit dari sana, Hong Yi langsung pergi menemui putranya, yang sedang duduk bersantai ngobrol di depan pondok Zi Zi.


Thian Er Lin Er, kemarilah.. ada yang ibu perlu bicarakan dengan kalian berdua.."


"Zi Zi bibi pinjam Thian Er sebentar ya, ..?"


ucap Hong Yi sambil tersenyum.


Zi Zi buru buru mengangguk kan kepalanya, dan berkata,


"Silahkan bibi, Zi Zi juga mau pergi temui ayah ibu dan guru ku di sana.."


Hong Yi mengangguk, lalu dia melihat kearah Kim Kim dan berkata,


"Nona Kim Kim bolehkah kamu antarkan kami ke puncak Yu Ni Feng..?"


Kim Kim mengangguk cepat dan berkata,


"Tentu saja boleh bibi.."


"Ayo Kim Kim antar.."


ucap Kim Kim, sesaat kemudian dia sudah berubah menjadi seekor Naga emas mendekam diatas tanah di depan halaman pondok Zi Zi.


"Ayo putra ku.."


ucap Hong Yi sambil naik keatas punggung Kim Kim.


Nan Thian dan kakaknya ikut naik, Kim Kim pun melesat meninggalkan tempat tersebut.


Saat tiba di tepi hutan, Yue Feng juga menyusul naik keatas punggung Kim Kim.

__ADS_1


Sesaat kemudian keluarga kecil itu sudah kembali ke pondok tempat tinggal Nan Thian.


Nan Thian mengajak ayah ibunya masuk kedalam pondok, lalu mereka berempat duduk berhadapan mengelilingi meja kayu sederhana, berbentuk persegi empat.


__ADS_2