PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEMUNCULAN XU DA


__ADS_3

Sedangkan Malini dengan buru-buru menotok beberapa jalan darah di bagian punggung dan dada Fei Yang.


Untuk menghentikan pendarahan, begitu pedang tercabut dari luka Fei Yang, langsung terlihatlah sebuah lubang yang


menganga lebar, Malini dengan sigap menaburkan bubuk luka.


Sehingga pendarahan pun langsung berhenti, luka nya pun langsung mengering.


Malini juga memasukkan sebutir pil kedalam mulut Fei Yang dan mendorongnya masuk kedalam perut, dengan di bantu air minum dari kantong air milik Malini.


Perlahan-lahan Nafas Fei Yang yang tadinya lemah dan tersengal sengal, kini mulai bisa bernafas dengan normal.


Wajahnya yang tadinya pucat, kini sudah mulai merah kembali.


Perlahan-lahan sepasang matanya yang terpejam mulai bisa bergerak gerak.


Melihat Fei Yang kondisinya sudah mulai stabil Yi Han Tao Se, menarik kembali sepasang telapak tangannya dari dada Fei Yang.


Yi Han Tao Se berdiri menoleh kearah Li Mu Bai yang sedang memarahi muridnya.


"Mu Bai acara tahunan ini bubarkan saja,..untuk sementara waktu ini.."


"Murid-murid mu tolong di didik ulang, bukan hanya ilmu silatnya saja, tapi yang paling utama adalah ego dan sikapnya.."


"Kamu sendiri juga harus pergi introspeksi diri, menghadap tembok, diruangan hukuman.."


ucap Yi Han Tao Se pelan tapi tegas.


Li Mu Bai meski tidak puas, tapi dia hanya bisa menahan mangkel di dalam hati.


Sambil menjura memberi hormat dia berkata,


"Baik guru.."


Lalu dia pun beranjak dari sana, dengan wajah merah padam menahan amarahnya.


Seluruh muridnya bergerak mengikutinya turun dari gunung Xu.


Zhou Lei juga memberi hormat kepada Yi Han Tao Se, diikuti oleh Malini dan Li Sian Sian, mereka bertiga menjura kearah Yi Han Tao Se dan berkata,


"Guru kami juga pamit undur diri.."


Yi Han Tao Se menghela nafas panjang kemudian berkata,


"Baiklah,.. jaga diri kalian.."

__ADS_1


Lalu Yi Han Tao Se memapah Fei Yang masuk kedalam kediamannya, di ikuti oleh Du Gu Meng Cu yang menyertainya dari belakang.


Saat Li Sian Sian berlalu dari sana, di ikuti oleh semua muridnya, Ye Hong Yi sesekali melihat kearah kediaman Yi Han Tao Se.


Di mana Fei Yang di bawa masuk kedalam oleh gurunya.


Ye Hong Yi merasa sedikit menyesal dan


bersalah dengan sikapnya dulu, yang keterlaluan terhadap Fei Yang.


Hari ini bila tidak ada Fei Yang yang menggantikannya menahan pedang itu, dia pasti sudah mampus.


Sepanjang perjalanan, Ye Hong Yi terus berpikir , mengapa Fei Yang bersikap begitu baik padanya.


Padahal dia selalu bersikap dingin dan galak terhadap Fei Yang, tapi Fei Yang kenapa masih rela berkorban demi menolongnya.


"Apakah dia,.. paman guru..menyukai ku..?"


tanya Ye Hong Yi dalam hati, terhadap dirinya sendiri.


"Ahh tidak mungkin,.. dia masih kecil dan kami masih kecil mana mungkin dia berpikir kearah sana, kamu jangan ngawur dan sembarangan menafsir.."


"Kamu hanya akan mempermalukan diri mu sendiri saja bila salah.."


Di dalam kediaman Yi Han Tao Se, diruang tengah terlihat Yi Han Tao Se dan Du Gu Meng Cu mereka berdua duduk berhadapan sambil minum teh dan main catur.


Sedangkan Fei Yang terlihat duduk sendirian dalam posisi bersila, di hadapan Fei Yang ada sebuah meja kecil yang di atasnya ada sebuah Wang Ting ( tempat dupa kuno )


Yang terus menerus mengeluarkan asap kayu harum, yang merupakan sejenis asap wewangian yang dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka dalam yang di alami oleh Fei Yang.


Luka bagian luarnya sudah sembuh hampir 80% berkat obat luka dari Malini, kini hanya tinggal luka bagian dalamnya.


Paling cepat memerlukan waktu satu sampai dua bulan Fei Yang baru bisa pulih kembali seperti semula.


Tapi dengan bantuan asap aromaterapi ini, Yi Han Tao Se ingin membantu mempercepat proses pemulihan Fei Yang.


Fei Yang sendiri duduk diam dan terus mengedarkan tenaga sakti Qian Kun Im Yang Sen Kung, bergerak memutari seluruh tubuhnya.


Sementara itu di tempat kediaman Li Mu Bai, di mana Li Mu Bai terlihat sedang bersemedi menghadap tembok.


Telinga nya bergerak gerak, tak lama kemudian dari arah jendela kamar melesat sebuah belati kecil yang menancap di dinding, tempat dia duduk menghadap.


Li Mu Bai mengulurkan tangannya, dengan ajaibnya, belati kecil tersebut tercabut dari dinding dengan sendirinya.


Masuk kedalam genggaman telapak tangan Li Mu Bai, Li Mu Bai memperhatikan secarik kain kecil yang tertancap di ujung belati kecil tersebut.

__ADS_1


Li Mu Bai mengambil potongan kain putih kecil yang ada tulisannya tersebut dan membacanya.


"Aku menunggumu di kaki Gunung Naga biru.."


Setelah membacanya, Li Mu Bai meremas potongan kain tersebut hingga hancur menjadi bubuk, yang terbang tertiup angin.


Li Mu Bai bangun dari posisi duduknya, lalu tubuhnya melesat kearah jendela kamar nya yang terbuka.


Sesaat kemudian dia sudah berkelebat lenyap menaiki pedangnya menuju hutan yang ada di kaki gunung Naga Biru.


Di sebuah lapangan tanah berbatu yang terletak di tengah hutan, di mana sebuah sungai kecil berair jernih melintasi daerah tersebut.


Dengan penerangan yang berasal dari bulan dan bintang di langit.


Terlihat seorang pria berperawakan sedang, berdiri menatap aliran sungai yang jernih.


Dia berdiri dengan posisi punggung menghadapi kearah Li Mu Bai yang baru saja mendarat ringan di belakangnya.


"Mu Bai lama tidak bertemu, ternyata kemampuan mu tetap segitu gitu saja.."


"Bukannya bertambah hebat, dan menguasai ilmu baru."


"Kamu malah di suruh duduk menghadap tembok, sungguh patut di sayangkan, aku benar-benar turut berduka untuk mu.."


ucap pria itu yang tak lain adalah Xu Da, wakil dari Hei Mo Wang.


"Tak perlu banyak bicara Xu Da, ! katakan apa maksud mu datang kemari !?"


"Bila ingin membuat keributan di sini, kusarankan sebaiknya kamu pikir baik'baik sebelum menyesal..!"


ucap Li Mu Bai sambil tersenyum mengejek.


"Mu Bai ..Mu Bai.. sebaiknya kamu ganti nama jadi Mu Tou (sepotong kayu) saja.


"Mengapa kamu begitu naif, bila aku ingin berbuat keributan di sini, perlukah aku repot repot mengundang mu kemari untuk bicara.?"


"Dan bila kemampuan ku tidak berada di atas mu, kamu pikir apa aku akan berani kemari menemui mu di sini..?"


ucap Wakil ketua Hei Mo Pang sambil tertawa


"Xu Da,.. kamu tidak perlu sombong di hadapan ku..! tunjukkan dulu kemampuan mu,.jangan cuma omong kosong saja..!"


bentak Li Mu Bai yang sudah bersiap melepaskan serangan energi pedang nya.


Tujuh pedang cahaya emas muncul di belakang punggung Li Mu Bai, dalam posisi terarah ke punggung Xu Da.

__ADS_1


__ADS_2