PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
SALING BERTEMU


__ADS_3

"Mari tuan muda, lewat sini,.."


ucap awak kapal itu dengan sikap penuh hormat.


Dia mengajak Nan Thian dan Kim Kim naik dari bagian belakang perahu, agar tidak terlihat terlalu mencolok di mata para penumpang lain.


Mereka mengambil jalan melalui bagian dapur dan kamar kecil.


Setelah itu langsung menaiki undakan anak tangga kayu.


Hingga tiba di lantai 3 di sana hanya ada 4 buah kamar berukuran lumayan besar.


Nan Thian di bawa menempati sebuah kamar yang terletak di paling pojok.


Tidak jauh dari posisi anak tangga.


"Tuan muda, silahkan istirahat disini, ini kamar buat tuan muda dan nyonya muda.."


"Nama ku Aguan, bila perlu apa apa hubungi saja Aguan, biar aku yang mengaturnya.."


ucap pelayan itu penuh hormat.


Nan Thian menanggapinya dengan anggukan kecil.


Setelah pelayan itu pergi,.mereka berdua langsung masuk kedalam kamar mereka.


Kamar itu cukup besar ada dua ranjang, juga ada balkon yang menghadap kearah laut kuning.


"Kim Kim kamu istirahatlah, aku mau cari angin di luar sana.."


ucap Nan Thian sambil melangkah menuju arah balkon kamar.


Kim Kim mengangguk kecil, tanpa memperdulikan Nan Thian, dia langsung meringkuk tidur di atas salah satu ranjang yang dia pilih.


Sedangkan Nan Thian sendiri, dia lebih memilih berdiri seorang diri, membiarkan angin laut menerpa wajah dan rambut nya, hingga berkibar kibar tertiup.angin.


Kapal layar yang mereka tumpangi, terlihat bergerak cepat membelah muara sungai kuning menuju laut timur.


Sementara itu di tempat lain, Zi Zi yang berkeras ingin menempati kamar terpisah dengan Li Sun.


Li Sun akhirnya mengikuti keinginan Zi Zi, mereka menempati kamar bersebelahan di lantai satu.


Tanpa Zi Zi sadari dia menempati posisi kamar yang hanya di batasi oleh satu kamar diatasnya.


Saat Zi Zi berdiri di balkon di luar kamarnya, posisinya mereka berdua satu sama lain terlihat hanya terpisah satu balkon di lantai dua.


Baik Zi Zi maupun Nan Thian mereka berdua tidak ada yang menyadari keadaan yang sangat kebetulan tersebut.


Mereka berdua berdiri termenung di tempat masing masing.


masing-masing larut dalam alam pikiran mereka sendiri, yang saling merindukan dan mengkhawatirkan keadaan masing masing.


Akhirnya setelah sekian lama larut dalam keheningan, Nan Thian akhirnya menghela nafas panjang dan bergumam pelan,


"Zi Zi maafkan kakak, kakak tidak akan biarkan kamu jauh dari sisi kakak.lagi.."


Selesai berkata pelan Nan Thian pun berjalan masuk kedalam kamar nya.


Zi Zi terlihat memiringkan kepalanya kesamping mencoba untuk memastikan syara halus yang terbawa angin itu.


"Akhh,..aku hanya terlalu merindukan nya saja, tidak mungkin kakak tampan ada disini.."

__ADS_1


keluh Zi Zi kecewa, lalu dia juga menyusul masuk kedalam kamar nya sendiri.


Beberapa hari kapal berlayar menuju timur, Nan Thian hampir setiap hari menanyakan ke Aguan yang mengantar makanan ke kamar mereka.


Berapa banyak lagi sisa penumpang di atas kapal tersebut.


Berapa lama lagi mereka tiba di pulau ikan.


Di pagi hari kelima seperti biasa, saat Aguan datang mengantar sarapan.


Nan Thian pun kembali bertanya,


"Aguan kapan kita tiba di pulau ikan ?"


"Kini berapa penumpang lagi, yang tersisa diatas kapal ini..?"


tanya Nan Thian untuk kesekian kalinya.


Aguan sambil tersenyum berkata,


"Besok sore kapal kita mungkin akan tiba di luar gugusan karang menuju pulau ikan.."


"Tuan muda serius ingin turun di sana, kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan sampan kecil, untuk pergi mendekati pulau berbahaya itu..?"


Nan Thian mengangguk pelan dan berkata,


"Hal itu kamu tak perlu khawatir, ikuti saja pesan ku."


"Ohh ya, kini masih ada berapa penumpang lagi yang masih ikut dengan kapal ini..?"


tanya Nan Thian mengulanginya.


"Maaf tuan aku lupa menjawabnya.."


"Saat ini tinggal tersisa tuan muda, nyonya muda dan sepasang muda mudi di lantai satu sana.."


ucap Aguan memberi informasi.


Nan Thian mengangguk puas, lalu berkata,


"Aguan apapun yang terjadi nanti, beritahu nahkoda kapal ini, agar membawa kapal ini, pergi sejauh mungkin dari sini.."


"Bila ada keributan yang pecah nanti.."


pesan Nan Thian serius.


Aguan menatap Nan Thian dengan tatapan mata tak percaya, dan berkata,


"Tuan muda serius,..?"


"Memangnya ada keributan seperti apa, yang bakal terjadi di sini..?"


Tanya Aguan heran.


Nan Thian tersenyum tanpa menjawab Aguan.


Nan Thian menyambar seekor ayam rebus, melempar nya kearah Kim Kim dan berkata,


"Kim Kim kenyang kan perut mu.."


"Setelah ini aku mengandalkan mu, membawa Zi Zi pergi sejauh mungkin dari kami.."

__ADS_1


"Kita akan bertemu lagi d pulau ikan.."


ucap Nan Thian sambil berdiri dari duduknya.


Kemudian melangkah pergi dari sana, meninggalkan kamar.


Kim Kim sambil tersenyum tenang menerima ayam kukus dari Nan Thian.


Dengan sekali membuka mulutnya, ayam kukus yang besar itu, langsung menghilang begitu saja kedalam perutnya.


Beserta tulang tulangnya semua masuk begitu saja.


Saat di muntahkan lagi hanya tersisa kerangka tulang belulang ayam yang berserakan di atas lantai.


Kim Kim sendiri dengan langkah tenang seolah olah tidak pernah terjadi apapun.


Meninggalkan Aguan yang berdiri mematung seperti orang bodoh sedang menatap kearah nya tanpa berkedip dan mulut terbuka lebar.


Kim Kim menyusul Nan Thian yang sedang bergerak menuju lantai satu, sesuai ucapan Aguan.


Nan Thian terus berjalan menyusuri deretan kamar yang sudah kosong di sana.


"Ya kak yang dua ini, mereka di dalam sana.."


ucap Kim Kim mengingatkan Nan Thian.


Nan Thian menatap tajam kearah kedua kamar di hadapan nya,


"Sun Er aku sudah datang, mengapa kamu tidak keluar menyambut kakak mu..!?"


Salah satu pintu kamar langsung terbuka terlihat Zi Zi berdiri terkejut di sana.


Zi Zi sepasang matanya terbelalak Indah, mulutnya yang setengah terbuka, di tutup dengan telapak tangannya.


Dia berkata dengan ekspresi wajah sulit percaya,


"Kakak tampan kamu akhirnya tiba juga, Zi Zi tidak sedang bermimpi kan..?"


Nan Thian tersenyum lembut dan berkata,


"Zi Zi kamu baik baik saja kan..?"


Zi Zi mengangguk cepat, kini meski sepasang matanya kembali basah.


Tapi dia jelas terlihat sangat bahagia dan gembira, wajahnya kembali bersemangat.


Tidak lagi terlihat kusut dan lesu seperti sebelumnya.


Sesaat kemudian Zi Zi langsung berlari kearah Nan Thian sambil berteriak gembira.


"Kakak tampan..!"


Tapi pergerakan nya tertahan di udara, tertarik kembali.


Saat pintu di kamar sebelahnya terbuka.


Di mana terlihat Li Sun muncul dengan wajah menyeringai kejam di sana.


"Zi Zi kembalilah, kamu adalah milik ku, tidak akan ku ijinkan siapapun mengambil mu dari sisi ku..."


ucap Li Sun sambil berusaha menarik mundur Zi Zi dengan tenaga saktinya.

__ADS_1


__ADS_2