PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEMBALI KE TEMPAT RAHASIA LELUHUR XUE LIAN.


__ADS_3

Xue Lian langsung tersenyum lebar, begitu mendengar ucapan Fei Yang.


Dia mengeratkan pelukannya dan berkata, pelan


"Terimakasih sayang,.."


"Apa aku gak dengar..?"


ucap Fei Yang menggoda, Xue Lian.


Xue Lian langsung mencubit lengan Fei Yang dengan gemas.


Sambil tertawa Fei Yang bergerak cepat melayang menuju pondok mereka.


Dia menurunkan Xue Lian di depan pondok, lalu berkata,


"Sayang kamu santai sebentar.."


"Aku pergi siapkan segala sesuatunya.."


ucap Fei Yang kemudian dia buru buru pergi kebagian belakang pondok.


Fei Yang bergerak cepat menangkap beberapa ekor ayam di hutan dan beberapa ekor ikan di sungai.


Memetik segala buah sayur dan umbi umbian sebagai bahan masak.


Setelah itu dia pun mulai sibuk memasak di dapur, yang cuacanya sedikit demi sedikit mulai gelap.


Fei Yang menggunakan penerangan beberapa lampu minyak yang pernah di buat menggantung di tiang tiang penyangga dapur.


Lampu minyak yang mirip obor, membuat tempat itu cukup terang.


Setelah ada beberapa macam makanan sudah siap tersaji di atas meja.


Tanpa di undang, Xue Lian sambil senyum senyum malu datang kedapur, lalu duduk di depan meja makan.


Tanpa di suruh dia mulai memainkan sumpitnya.


Sudah lama dia merindukan suasana ini, Fei Yang juga mempercepat gerakan memasak beberapa macam masakan penutup.


Setelah itu dia pun ikut duduk di samping Xue Lian.


Fei Yang tidak terlalu menikmati makanan di hadapannya.


Dia lebih menikmati pemandangan Xue Lian, yang terlihat sangat gembira dalam menikmati masakan yang tersaji di atas meja.


Fei Yang selalu membantu menuangkan air sari buah untuk Xue Lian.


"Kakak Yang ayo makan,.. jangan cuma mengurusi aku aja.."


ucap Xue Lian sambil menyumpitkan daging ikan dan ayam ke mangkuk Fei Yang.


Fei Yang hanya tersenyum dan berkata,


"Santai saja, aku sedang menikmati momen ini yang sudah lama aku tidak merasakannya.."

__ADS_1


Xue Lian melirik Fei Yang dan berkata,


"Menikmati menonton istri mandi , menikmati nonton istri menari ataupun berlatih.."


"Itu wajar, lah ini menikmati istri yang sedang makan dengan rakus itu tidak wajar dan memalukan sayang.."


ucap Xue Lian sambil terus makan tanpa henti.


"Itu kata kata istri boleh juga sangat enak di dengar aku menyukainya.."


ucap Fei Yang sambil tersenyum menggoda.


Xue Lian menghentikan makannya dan berkata,


"Bila suka segeralah nikahi aku.."


"Aku pasti akan memanggil mu suami ku pagi siang dan malam.."


ucap nya sambil menahan senyum lalu kembali melanjutkan makannya.


Fei Yang menggunakan saputangan kecil membantu membersihkan keringat halus di dahi Xue Lian dan berkata,


"Aku tentu saja mau, tapi tentu saja setelah kedua orang tua mu, bisa kita bebaskan.."


"Baru kita bisa menikah secara resmi di depan kedua orang tua kita masing masing ."


"Saat ini paling paling kita hanya bisa melaksanakan pernikahan sembahyang langit dan bumi.."


"Bagaimana bila setelah ini kita lakukan sedikit upacara sederhana, di depan halaman pondok..?"


tanya Fei Yang sambil menatap Xue Lian.


"Aku ikut saja, itu bukan masalah.."


"Kita bisa pinjam baju pengantin bekas ayah ibu ku yang masih tersimpan baik."


ucap Xue Lian berusaha bersikap setenang mungkin.


Fei Yang mengangguk cepat dan berkata,


"Baik kalau begitu aku pergi mandi, terus kita bersiap-siap dengan peralatan yang di perlukan.."


"Tapi makan mu..?"


tanya Xue Lian cepat.


"Aku tidak lapar, kamu teruskan saja,. sisanya buat Saga sagi.aja.. mereka sudah menunggu di belakang sana.."


ucap Fei Yang sebelum melangkah pergi menuju arah sungai.


Cuaca di luar cukup terang, karena bulan diatas sana sedang bersinar terang.


Saat Xue Lian kembali ke pondok hendak menyiapkan pakaian pengantin mereka.


Dia melihat Fei Yang sudah menata buah buahan dan dua batang lilin merah diatas sebuah meja.

__ADS_1


Melihat kedatangan Xue Lian Fei Yang pun mengikuti Xue Lian masuk kedalam pondok dan berganti pakaian pengantin.


Fei Yang dan Xue Lian melaksanakan prosesi sembahyang pernikahan, menghadap kearah bulan sebagai saksi.


Mereka berdua melaksanakan prosesi sederhana itu, tanpa terlalu banyak mengikuti peraturan.


Mereka hanya melakukan nya dengan penuh keseriusan dan ketulusan.


Setelah melakukan sembahyang sederhana, Fei Yang dan Xue Lian yang sudah resmi menjadi suami istri pun masuk kedalam kamar bersama sama, sambil bergandengan tangan dan tersenyum penuh kebahagiaan.


Pagi pagi sekali Fei Yang dan Xue Lian sudah berdiri di atas bantu datar yang terletak di bagian atas sumber air terjun.


Seperti yang lalu, Xue Lian mengeluarkan cermin Pat Kwa nya, di arahkan menyambut pantulan sinar matahari pagi.


Saat muncul sebuah lingkaran cahaya, Mereka berdua pun melompat masuk kedalam cahaya tersebut.


Saat mereka muncul lagi, sudah berada di depan sebuah pintu logam biru yang langka.


Dengan memasukkan gagang kipas kearah sebuah lubang kecil dekat pintu.


Setelah gagang kipas di putar sebanyak 3 kali, pintu besar dan berat itu pun terbuka.


Fei Yang dan Xue Lian pun melangkah masuk kedalam gua yang penuh kenangan tersebut.


Mereka berdua pernah menghabiskan waktu hampir 7 tahun hidup bersama di tempat ini.


"Tidak di sangka kita akan kembali ketempat ini lagi, kini malah sebagai suami istri.."


ucap Fei Yang sambil menoleh dan tersenyum mesra menatap Xue Lian.


Sepasang telapak tangan mereka saling menggenggam lembut.


Beberapa waktu larut dalam suasana penuh kenangan itu, akhirnya Fei Yang dan Xue Lian pun berlutut di hadapan kitab tanding mendengarkan ulang penjelasan, dari bayangan dewa Fu Si .


Menemukan tidak ada yang lain dan masih tetap sama seperti dulu.


Fei Yang pun bangkit berdiri dan melakukan pemeriksaan terhadap tiang penyangga buku, hingga ke kitab Tanpa tanding.


Fei Yang melakukan pemeriksaan dengan seteliti mungkin setiap detil yang mencurigakan.


Setelah memeriksa cukup lama baik di bagian bawah maupun bagian langit langit gua.


Akhir nya di bagian langit langit gua, Fei Yang menemukan deretan tulisan kecil halus berderet rapi.


Tapi Fei Yang yang kurang paham memberi kode kepada Xue Lian yang sedang meneliti di bagian bawah,


"Istri ku,.. di sini sepertinya ada beberapa petunjuk, coba kamu kemari lihat.."


Xue Lian mengangguk lalu dia melayang ringan keatas langit langit Gua.


Membaca deretan ukiran tulisan halus itu.


"Sayang ini adalah tulisan dari leluhurku Dewi Nu Wa, dia


menggunakan bahasa Suku Nu, yang hanya bisa di mengerti oleh keturunannya langsung..'

__ADS_1


"Di sini di katakan kitab tanpa tanding memang masih memiliki beberapa rahasia, terutama dalam variasi serangan di tiap jurus 7 penakluk semesta."


"Selain itu di sini juga di katakan, 8000 tahun yang lalu kedua leluhurku pernah bertemu dengan seorang kakek yang sama dengan mereka, bukan berasal dari dunia ini.."


__ADS_2