
Meski terlihat sepi, di luar sana.
Fei Yang menyumpit sebuah tulang ayam bekas Xue Lian.
Lalu dia lontarkan keluar, tulang ayam itu melesat bagaikan komet jatuh.
Saking cepatnya pergesekan dengan udara, muncul cahaya seperti kembang api menyelimuti tulang ayam tersebut.
"Aahhhh..!"
Terdengar suara jerit tertahan di luar sana.
Tulang ayam itu hilang tak berbekas terkena sambaran petir kecil.
Di luar sana kini muncul seorang pria tinggi besar berjubah hitam, wajahnya yang pucat seperti mayat, bertolak belakang dengan sepasang alisnya yang tebal hitam panjang seperti golok.
Pria itu rambutnya terurai menutupi sebagian wajahnya, yang lonjong sedikit lancip di bagian dagunya.
Dia termasuk sangat ganteng, bila wajahnya tidak pucat seperti itu.
Tubuh besar wajah kecil membuatnya terlihat imut tapi gagah.
"Kalian berdua boleh juga, jauh lebih pantas ketimbang si pendeta Thian San itu."
Fei Yang mengambil sebuah cawan kosong mengisinya hingga tumpah ruah.
Tapi anehnya arak itu tidak tumpah keluar melainkan terus naik keatas, membentuk bulat telur.
Fei Yang mengibaskan tangannya kearah gelas tersebut gelas berpusing melesat kearah pria di luar sana.
"Yang datang adalah tamu, Asun tujuannya harus di sambut dengan layak.."
ucap Fei Yang santai.
Pria jubah hitam itu, saat melihat ada cawan berisi arah terbang menuju dirinya.
Di mengulurkan telapak tangannya kedepan, cawan yang datang berpusing di atas telapak tangan nya.
arak di dalam gelas yang membentuk bulat telur, tidak terlihat setetes pun yang tumpah.
Pria jubah hitam sedikit mendongak arak di dalam cawan itu perlahan melayang di udara.
Kemudian meluncur masuk kedalam mulutnya, seperti di semprotkan dari pistol penyemprot air.
Semua arak meluncur masuk kedalam mulut tanpa ada setetes pun yang tumpah.
Apa yang di tunjukkan oleh Fei Yang dan pria jubah hitam itu, adalah sebuah demonstrasi ilmu tenaga dalam tingkat tinggi.
Bila tidak memiliki kemampuan pengendalian tenaga sakti tingkat tinggi.
Hal itu tidak mungkin bisa di lakukan.
"Ini ku kembalikan cawan nya,.. terimakasih sangat memuaskan.."
ucap Pria berjubah hitam itu, sambil melontarkan kembali cawan yang mengambang di atas telapak tangannya.
"Singgg,..!"
Cawan berdesing keras menyambar kearah wajah Fei Yang.
"Tidak sopan, di berikan arak sanjungan mengembalikan dengan cawan hukuman.."
ucap Xue Lian pelan sambil mengulurkan sumpitnya menahan cawan itu diudara, tanpa bersentuhan.
__ADS_1
Saat sumpit di turunkan, cawan itupun mendarat ringan di seberang meja Fei Yang, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Yang Xue Lian tunjukkan juga bukan demonstrasi tenaga dalam tingkat rendah.
Bila kekuatannya tidak lebih kuat dari si pelontar, hanya bisa mengimbanginya.
Kemungkinan besar cawan dan sumpit akan berbenturan dan pecah di udara.
Tapi bila selisih tipis, cawan akan meledak di tengah udara, tanpa bersentuhan dengan sumpit.
Dengan cara ini, Xue Lian menunjukkan kemampuannya masih diatas pria jubah hitam itu.
Tapi pria jubah hitam tidak kaget apalagi takut, dia tetap memasang wajah dingin.
"Kalian berdua pantas menjadi lawan ku, ayo keluarlah mari kita main main sejenak.."
ucap pria itu dengan suara sedingin es.
Fei Yang menatap kearah istrinya dan berkata,
"Sayang kamu teruskan saja makan mu.."
"Aku pergi sebentar nanti baru kembali menemanimu makan.."
Xue Lian mengangguk dan berkata,
"Berhati hatilah, cepat pergi cepat kembali.."
"Cepat selesaikan dia, jangan bikin acara makan ku terganggu lagi.."
ucap Xue Lian berpesan sambil menahan senyum.
"Siap nyonya muda,.. jangan makan terlalu banyak nanti mules lagi.."
"Kakak Yang,...!"
teriak Xue Lian sambil mendelik manja.
Fei Yang menahan tawa, menutup mulut dengan tangannya.
tanpa memperdulikan reaksi istrinya, dia sudah melangkah keluar dari dalam kamar.
Dengan kibasan tangan pelan kearah belakang.
Pintu kamar pun tertutup rapat kembali.
"Istri ku tidak ingin di ganggu, mari kita cari tempat lain untuk bermain dengan puas.."
ucap Fei Yang terbang melesat kearah gerbang Utara.
Fei Yang sengaja memilih gerbang Utara, karena dia sempat dengar cerita dari tempat itulah mahluk tersebut berasal.
Pria jubah hitam tanpa berkata apa-apa, dia ikut terbang mengejar kearah Fei Yang pergi.
Dua bayangan biru dan hitam melesat diudara saling mengejar dengan kecepatan tinggi.
Fei Yang mendarat ringan di depan sebuah makam kuno yang besarnya tidak kalah dari bangunan istana kuno.
"Kita main main disini saja, sebelum mulai bolehkah aku tahu nama dan gelar mu.."
tanya Fei Yang sambil tersenyum tenang.
Si jubah hitam menjawab dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Dewa Perang Xiang Yu..."
Fei Yang sedikit kaget, dia pernah belajar sejarah, di era Han awal Chin akhir memang ada seorang tokoh kuat dari negara Chu, bergelar Chu Pa Wang dengan nama Xiang Yu.
Apakah ini orangnya ? batin Fei Yang dalam hati.
Tapi bukannya tokoh tersebut sudah mati bunuh diri di tepi sungai Wu, ? batin Fei Yang di dalam hati.
Fei Yang menatap tajam dan berkata,
"Maksud mu kamu Chu Pa Wang Xiang Yu yang bunuh diri di tepi sungai Wu. itu ?"
Xiang Yu tertawa keras dan berkata,
"Aku memang bunuh diri di sana, tapi raja neraka hanya berhasil mengurungku selama 1000 tahun, sebelum aku akhirnya bangkit kembali.."
"Sudah jangan banyak bicara berputar putar aku tidak punya banyak waktu.."
"Mari kita mulai saja.."
ucap Xiang Yu, sambil mengulurkan tangannya ke udara kosong.
Sebatang golok yang di kelilingi oleh petir ungu muncul dalam genggaman tangannya.
Lalu dia terbang kearah Fei Yang, sambil menebaskan golok cahaya ungunya, yang di selimuti oleh cahaya petir, Xiang Yu berteriak,
"Golok halilintar ungu menebas bumi..!"
"Blaarrr....!"
tanah tempat Fei Yang berdiri sebelumnya membentuk sebuah lubang besar, kilatan listrik kecil menyambar nyambar di pusat lubang.
Fei Yang sudah berpindah ke posisi lain sedang menyerap energi es dan api semesta bersiap memberikan serangan balasan.
Begitu energi terkumpul, Fei Yang menciptakan sebatang pedang energi biru putih di depan dadanya.
Ketika tangannya di dorongkan kedepan pedang cahaya putih biru Fei Yang melesat seperti meteor menerjang kearah Xiang Yu.
Xiang Yu setelah serangan pertama gagal, dia sudah mengerahkan serangan berikutnya yang jauh lebih dahsyat.
Masih dengan golok ungu nya, dia berteriak,
"Golok halilintar ungu menembus awan..!"
"Blaarrr,..!"
Terjadi ledakan dahsyat di udara, akibat pertemuan dua kekuatan besar.
Fei Yang masih di tempat nya, tersenyum tenang.
Sedangkan Xiang Yu kuda kudanya tergempur mundur dua tindak kebelakang.
"Bocah kamu boleh juga...!"
ucap Xiang Yu sambil mengambil ancang ancang dengan serangan yang jauh lebih dahsyat.
Terlihat seberkas petir ungu dari langit, menyambar kearah Golok ungu Xiang Yu, yang terlihat sedang, dia acungkan kearah langit.
Seluruh tubuh Xiang Yu bergetar hebat menerima hantaman tersebut.
Sesaat kemudian dia berteriak keras,
"Golok halilintar ungu membelah langit..!"
__ADS_1