PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KENANGAN MENYAKITKAN


__ADS_3

Mucikari itu menatap Nan Thian dan Kim Kim bergantian dengan tatapan mata penuh arti.


Lalu berkata,


"Itu bukan masalah tuan, kami ada menyediakan kamar seperti itu.."


"Tuan sudah bawa pasangan sendiri dari luar, itu bukan masalah."


"Bila tuan mau melakukannya, semua fasilitas sudah lengkap, tuan tinggal pergunakan saja dengan bebas.."


"Tapi bagaimana bila kami lengkapi dengan hiburan musik ? dan tarian, buat tuan..?"


tanya Mucikari itu, mencoba mencari celah untuk menambah income usahanya.


Nan Thian yang mengerti maksud ucapan mucikari itu, wajahnya langsung merah padam.


Tapi untuk menghindari pembicaraan yang semakin panjang, Nan Thian pun berkata singkat,


"Penari tidak perlu, pemain musik datangkan saja.."


"Baik tuan akan saya siapkan,..mari saya antar dulu keruangan terbaik milik kami.."


ucap Mucikari itu bersemangat.


Mucikari itu, lalu menoleh ke anak buahnya yang ngumpul di sana.


"Kalian kenapa berdiri di sini, cepat pergi kerja layani tamu yang lain.."


"Abwee kamu pergi panggil Siau Tie, langsung suruh keruangan super VIP.!"


teriak Mucikari itu memberi perintah.


"Apiao, kamu ke dapur, siapkan arak terbaik dan pesan koki keluarkan masakan andalan kita.."


ucap Mucikari itu berpesan ke pelayan pria, yang berdiri tidak jauh darinya.


Baik Abwee maupun Apiao, mereka menjawab pesan atasan mereka dengan anggukan kecil.


Mereka langsung buru buru meninggalkan tempat itu, pergi jalankan tugas.


Sedangkan kumpulan gadis muda yang tadi bergerombol disana, kini sudah bubar tidak terlihat bergerombol lagi.


Mucikari itu sendiri, sambil memberi perintah, dia terus bergerak menuju tangga.


Nan Thian di bawa menuju lantai 3, di lantai tiga sendiri, hanya tersedia 3 ruangan, yang paling besar ruangannya ada tengah.


Sedangkan ruangan di kiri kanannya, masih termasuk ruangan yang cukup besar, tapi masih kalah besar dengan ruangan di bagian tengah.


Mucikari itu tanpa ragu ragu, langsung membawa Nan Thian menuju ruangan, yang paling tengah.


"Mari tuan.. silahkan.."

__ADS_1


ucap Mucikari itu ramah, sambil membantu membuka kan kamar besar tersebut buat Nan Thian.


Nan Thian melangkah memasuki ruangan kamar yang besar dan luas tersebut.


Begitu masuk kedalam ruangan tersebut, Nan Thian menyapukan pandangannya.


Di bagian depan terlihat ada di sediakan sebuah meja besar, lengkap dengan kursi nya, meja itu seperti di sediakan untuk perjamuan besar.


Di belakangnya di sekat oleh penyekat ruangan, yang terbuat dari kain bersulam indah sedikit transparan.


Di belakangnya ada sebuah ruangan lain, di sana tersedia ranjang untuk beristirahat.


Ranjang dan kelambunya semuanya berwarna merah jambu, menggunakan bahan kain sutra lembut.


Kim Kim yang dengan gembira, langsung berlari untuk mencobanya.


"Wah kakak di sini sangat nyaman juga wangi.."


"Aku sangat menyukai nya.."


Nan Thian menahan senyum melihat sikap temannya yang polos tidak mengerti apa apa.


Tapi si mucikari justru berpikir lain, dia terlihat tersenyum senyum mesum.


Nan Thian pura pura tidak tahu, sedangkan Kim Kim yang sedang asyik mencoba fasilitas ranjang empuk itu, dia terlihat tertawa gembira dan bersemangat.


Mucikari itu, lalu berjalan menuju sebuah pintu lemari, yang berukuran cukup besar, dan menyatu dengan dinding kamar .


"Nona di sini bukan hanya ada ranjang, di sebelah sini juga ada disediakan kamar mandi pribadi.."


Mucikari itu membuka pintu lemari tersebut.


Ternyata pintu kamar mandi itu sekilas terlihat seperti pintu lemari, tapi begitu pintu lemari tersebut di buka, maka kamar mandi itupun terlihat jelas.


"Di dalam sini dilengkapi dengan fasilitas air hangat, yang selalu siap sedia, kelopak bunga segar sebagai pewangi nya, di letakkan di sebelah sana, semua fasilitas bebas di gunakan.."


"Setiap saat akan di ganti yang baru bila di perlukan.."


ucap Mucikari mempromosikan fasilitas ruangan mewah itu.


"Wah hebat kak, tempat ini luar biasa, aku nanti mesti mencobanya.."


ucap Kim Kim gembira sambil berlari masuk kedalam kamar mandi, untuk memeriksanya.


Nan Thian hanya menggelengkan kepalanya, menahan senyum melihat keluguan sahabatnya.


Nan Thian melangkah menuju ruangan lain,..di sini juga disediakan sebuah meja perjamuan lengkap dengan kursinya.


Tidak jauh dari sana ada sebuah mimbar berukuran sedang, menurut pemikiran Nan Thian, kemungkinan tempat itu, adalah tempat pemain musik dan penari, untuk menunjukkan kebolehannya, menghibur para tamu yang hadir di sana.


Tidak jauh di sebelah kiri mimbar, ada sebuah balkon yang menghadap kearah taman samping gedung.

__ADS_1


Tempat itu adalah bagian ruang terbuka, yang bisa melihat kearah taman dan langit.


Dari tempat itulah angin segar berhembus masuk kedalam ruangan.


Dari seluruh tempat itu, justru balkon inilah yang menarik perhatian Nan Thian.


Nan Thian melangkah menghampiri, pagar pembatas balkon.


Dia berdiri di sana, dengan tubuh sedikit membungkuk kedepan, kedua tangannya dia sandarkan di atas pagar kayu pembatas.


Nan Thian menikmati angin segar berhembus menerpa wajah dan rambutnya.


Nan Thian memejamkan matanya disana, berdiri diam di sana.


Seolah olah ingin menggunakan angin lembut dan segar ditempat itu.


Untuk menenangkan hati pikiran dan perasaan nya yang sedang terluka.


Mucikari itu tidak berani menganggu privasi Nan Thian, dia hanya berdiri diam di sana, menatap bayangan punggung Nan Thian.


Nan Thian sambil menghela nafas pelan, tanpa menoleh dia melemparkan sekantung uang kearah mucikari itu dan berkata,


"Tinggalkan kami, bungkusan itu untuk mu.."


"Kami butuh ketenangan tidak mau di ganggu, pastikan saja arak dan makanan jangan kurang.."


"Bila kami puas masih ada bonus tambahan untuk mu.."


ucap Nan Thian tanpa menoleh maupun membuka matanya.


Mucikari itu menerima bungkusan yang jatuh kedalam pelukannya, seperti menemukan sebungkus harta Karun.


Wajah nya terlihat tersenyum hingga giginya hampir copot, Dua buru buru mengangguk cepat dan berkata,


"Terimakasih banyak tuan, Fu Ma MA mengerti, tuan tenang saja Fu Ma Ma tidak akan kecewakan keinginan tuan berdua.."


"Silahkan di tunggu sebentar tuan, Fu Ma MA pamit permisi, untuk mengatur lebih lanjut.."


Selesai berkata, Fu Ma MA dengan wajah tersenyum lebar, langsung buru buru meninggalkan ruangan tersebut.


Nan Thian tidak menanggapi ucapan Fu Ma Ma, dia bahkan tidak mendengarnya.


Karena dia sedang larut dalam kenangan indahnya, mengingat wajah kekasihnya yang sedang tertawa gembira, cemberut, manja, nakal, menggoda, lembut, sedih.


Semua ekspresi wajah kekasihnya muncul satu persatu di dalam pikirannya dengan sangat jelas.


Nan Thian terlihat tersenyum sendiri saat mengenang hal itu.


Dia juga terlihat sangat bahagia, saat mengenang hari hari dia dan Zi Zi menata ulang, saling membantu membereskan kediaman nya di puncak Yu Ni Feng.


Tiba tiba wajahnya mengeras, lalu terlihat sangat menyedihkan saat terkenang kejadian terakhir yang di lihatnya, sebelum dirinya meninggalkan puncak itu dengan hati pikiran dan perasaan yang hancur lebur.

__ADS_1


__ADS_2