PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEMUNCULAN PUTRI SHEVA DAN PUTRI SHANTI DEWI


__ADS_3

Fei Yang tidak menanggapinya, dia terus berjalan santai meninggalkan tempat itu bersama Wei Wen.


Saat tiba di halaman istana, Fei Yang menengadah kearah langit.


Saat melihat Kim Tiaw nya sedang terbang cepat mendatanginya.


Dengan sekali hentakan kakinya, Fei Yang pun membawa Wei Wen terbang ke udara, lalu mendarat ringan di punggung Kim Tiaw.


"Tiaw Siung,..antarkan kami ke kerajaan Pagan, ambil arah barat.."


ucap Fei Yang sambil menunjuk kearah barat.


Kim Tiaw mengangguk mengerti, dengan cepat dia langsung melesat kearah yang di tunjuk oleh Fei Yang.


Wei Wen sudah menjatuhkan diri nya berbaring santai di punggung Kim Tiaw dan berkata,


"Aduh empuknya, rasanya sudah lama sekali aku tidak tidur di kasur empuk seperti ini.."


Fei Yang hanya tersenyum menanggapi sikap Wei Wen yang lucu.


"Sabarlah setelah masalah di kerajaan Pagan selesai, aku akan mengantar mu kembali ke istana."


"Di sana kamu bisa tidur sampai puas makan sampai kenyang.."


"Apa maksud mu,..?"


tanya Wei Wen sambil bangkit duduk.


Dia menatap Fei Yang dengan tajam,wajah terlihat seperti mau menangis.


Melihat reaksi Wei Wen Fei Yang pun berkata,


"Ehh, . kamu kenapa sayang ?"


"Kamu tanya pada ku, harusnya aku yang tanya pada mu, apa maksud ucapan mu barusan ?"


tanya Wei Wen yang airmatanya mulai mengembang di sepasang matanya yang indah.


Fei Yang menatap Wei Wen dengan bingung dan berkata,


"Wen Wen kamu jangan menangis, kalau ada kata kata ku yang salah, aku minta maaf.."


"Tapi tolong jelaskan letak kesalahan ku di mana ?"


Wei Wen menunduk sedih, dan berkata,


"Aku tahu kakak ingin mengembalikan ku ke istana, setelah itu kakak akan pergi sendiri kan, ? untuk menyelesaikan tugas kakak yang masih banyak.."


"Karena bila aku ikut, aku hanya akan menjadi beban bagi kakak.."


"Bukan begitu maksud kakak..?"


Setelah mendengar penjelasan Wei Wen, Fei Yang pun sadar apa yang sedang di risaukan kekasihnya..


"Kamu telah salah mengerti, aku memulangkan mu ke istana, karena aku harus bertemu dan berbicara dengan ayah mu.."


"Bukankah sudah sepantasnya, aku menemui ayah mu, membicarakan hubungan kita dan arah hubungan kita kedepannya meminta persetujuannya.."


"Baru aku bisa membawa mu ikut serta dengan ku ke Xi Xia menemui kedua orang tua ku.."

__ADS_1


"Bahkan bila kamu bukan seorang putri sekalipun, bukankah aku tetap harus menemui orang tua mu.?"


"Meminta persetujuan mereka, baru aku bisa bebas membawa mu mendampingi ku kemana mana.."


"Bila tidak bukankah aku akan di cap sebagai orang yang menggondol lari putri orang.."


"Apa kamu mau aku seumur hidup di kejar kejar pasukan kerajaan Song ? dan di beri gelar Jai Hwa Ta Tao ( penjahat besar pemetik bunga )."


Wei Wen menghapus air yang mengembang di matanya, dia kembali tersenyum manis dan berkata,


"Maafkan aku kakak Yang.."


"Tapi aku benar benar takut kakak akan mencampakkan ku di istana dan menganggap ku sebagai beban kakak.."


"Dasar bodoh kamu berpikir kemana ?"


ucap Fei Yang sambil memegang lembut tangan Wei Wen, lalu menariknya kedalam pelukannya.


"Aku memilih mu menjadi pendamping ku, tentu tidak akan pernah anggap kamu sebagai beban Ku.."


"Tapi kamu adalah tanggung jawab ku, menjaga mencintai dan menyayangi mu, itu semua kewajiban ku, bukan beban.."


"Sebaliknya dengan kehadiran mu, aku tidak akan kesepian lagi, bisa berbagi pikiran dan apapun dengan mu.."


"Tanpa perlu aku harus ber khawatir, kamu akan memanfaatkan dan mencelakai ku secara diam diam.."


"Setelah kita menikah kamu juga akan melahirkan anak ku, menemani ku, menjaga merawat dan mendidik mereka hingga besar.."


"Kamu juga akan menemani ku hingga ajal kita tiba.."


"Bukan begitu ?"


Wei Wei mengigit bibirnya sendiri menahan haru mengangguk cepat hingga airmata nya kembali jatuh bergulir di pipinya.


Dia membalas memeluk Fei Yang dengan erat tanpa berkata apapun.


"Sekarang istirahatlah dengan tenang, jangan berpikir sembarangan lagi.."


",Kakak selamanya tidak akan pernah meninggalkan mu, kecuali kamu yang tidak menghendaki ku lagi.."


ucap Fei Yang lembut.


Wei Wen mengangguk dan berkata,


"Aku juga tidak akan pernah membiarkan kakak pergi dari sisi ku, kecuali aku telah mati.."


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku tidak akan pernah biarkan hal itu terjadi,.. ayo tidur lah.."


"Nanti bila sampai baru kakak bangunkan kamu.."


Wei Wen mengangguk, lalu diapun berbaring dan tidur dalam pangkuan Fei Yang.


Fei Yang sendiri juga memejamkan matanya, bermeditasi untuk memulihkan kekuatannya, sekaligus berusaha meningkatkan kemampuan tenaga dalamnya.


Terdengar pekik keras Kim Tiaw saat mereka sudah tiba diatas kompleks istana kediaman Raja Pagan.


Fei Yang pun membuka matanya, melihat situasi di bawah sana.

__ADS_1


"Wen Wen kita sudah sampai, kamu mau ikut atau tinggal di punggung Tiaw Siung..?"


tanya Fei Yang pelan, begitu Wei Wen sudah membuka matanya.


"Tentu aku ikut, aku tidak akan membiarkan mu menghadapi bahaya seorang diri.."


ucap Wei Wen cepat.


Fei Yang mengerti apa yang di maksud dengan bahaya dalam pikiran Wei Wen, tentunya bukan raja Kyantha, dan pasukannya.


Melainkan kedua putri cantiknya itulah bahaya menurut Wei Wen.


Fei Yang langsung membawa Wei Wen melayang turun dengan ringan di depan istana.


Begitu mereka mendarat, ribuan pasukan pengawal yang membawa tombak dan tameng di tangan langsung mengepung mereka.


Fei Yang tersenyum dingin dan berkata,


"Cepat suruh Kyantha keluar menerima hukuman, kalian bukan lawan ku..!"


"Jangan cari penyakit.!"


ucap Fei Yang mengingatkan.


Para pasukan itu mana perduli, pertama menjaga keamanan istana adalah tugas dan tanggung jawab mereka..


Bila ada orang asing menerobos masuk sudah jadi kewajiban mereka mencegahnya.


Kedua mereka sama sekali tidak mengerti bahasa Fei Yang.


Mereka terus bergerak mempersempit kepungan mereka terhadap Fei Yang.


"Baiklah bila itu mau kalian,..!"


"Rasakan,..!"


ucap Fei Yang sambil melepaskan pukulan naga es nya.


"Rooaaarrrrrrr,..!!"


Terdengar raungan yang keluar dari seekor naga es besar, yang tercipta oleh cahaya energi yang Fei Yang lepaskan.


Naga es itu bergerak berputar-putar menabrak para pengepungnya.


Dalam sekejab mata. ratusan orang langsung berdiri tegak berubah menjadi patung es.


Naga es belum berhenti, dia masih terus berputar-putar mengincar para pengepung lainnya.


Sebelum situasi menjadi semakin rumit Sheva dan Shanti Dewi melangkah keluar dari dalam istana.


Shanti Dewi dan Sheva langsung berteriak,


"kalian semua mundurlah,..!"


"Kalian bukan tandingannya,..!!"


Dengan penuh rasa terimakasih prajurit yang selamat dari serangan Naga Es.


Mereka semua segera mundur menjauh dari arena pertempuran.

__ADS_1


Fei Yang menatap dingin kearah kedua putri yang sedang berjalan menghampiri nya.


__ADS_2