
Beberapa bagian tubuh Fei Yang mulai alami luka luka tergores pedang hitam milik Zhao Yuan Zuo.
Pedang itu dengan mudah menembus perisai energi yang selalu melindungi seluruh tubuh Fei Yang.
Berkat energi pelindung, Fei Yang hanya mengalami luka gores, tapi bila semakin lama semakin banyak.
Meskipun luka luka itu kecil dan ringan, tapi rasa perih nya, sedikit banyak mulai menganggu konsentrasi Fei Yang yang semakin lama semakin terdesak.
Fei Yang beberapa kali melepaskan tebasan dan tusukan serangan balasan, tapi semuanya selalu menemui tempat kosong.
Zhao Yuan Zuo selalu bisa bergerak menghindar dengan ringan mendahului serangan Fei Yang.
Dia seperti sehelai kapas, kemanapun Fei Yang menyerang, dia akan tertiup mundur mendahului serangan yang Fei Yang lancarkan.
Lalu balas menyerang dari balik kabut asap hitam dengan kecepatan tinggi dan sulit di tebak arahnya karena tertutup asap.
Karena asap hitam itu selalu menganggu, Fei Yang merubah cara bertempur nya, dengan menggunakan Chi, untuk meniup dan menghalau kabut itu menutupi pandangan nya.
Dengan cara ini, Fei Yang berhasil membuyarkan kabut hitam itu.
Sehingga perlahan-lahan dia mulai bisa keluar dari kesulitan kepungan pedang hitam, yang mengurung pergerakan nya.
Setelah berhasil melepaskan diri dari kepungan serangan pedang hitam Zhao Yuan Zuo.
Fei Yang mulai bisa balik menekan dan memaksa Zhao Yuan Zuo, untuk terus bergerak main mundur menghindari serangan tarian pedang Naga Es dan Phoenix Api yang dahsyat.
Berkali kali Zhao Yuan Zuo mencoba menggunakan aura kegelapan nya untuk mengintimidasi Fei Yang.
Tapi dengan menggunakan raungan singa Fei Yang selalu berhasil melepaskan diri.
Membuyarkan ilmu terkutuk milik Zhao Yuan Zuo.
Zhao Yuan Zuo yang terlihat semakin keteteran dengan serangan yang Fei Yang lancarkan.
Di saat Fei Yang melepaskan serangan jurus ke 7 Phoenix api dan Naga es membasmi iblis.
Di mana serangan ini berhasil membuyarkan aura hitam dan kabut hitam yang menyelimuti Zhao Yuan Zuo.
Zhao Yuan Zuo dengan gerakan tiba tiba menarik pedangnya dari bawah menebas keatas.
Memunculkan seberkas cahaya hitam yang meledakkan tanah yang di lewatinya,.sambil terus melaju menelan dan menghancurkan kekuatan serangan naga es dan Phoenix api.
Lalu menerjang ganas kearah Fei Yang.
Fei Yang buru buru menggunakan energi pedang biru dan merah, untuk menangkis dan menghalau serangan dahsyat tersebut.
"Tranggg,..!!"
"Blaarrr,..! Blaarrr,..! Blaarr,..!"
"Blaarrr,..! Blaarrr,..! Blaarr,..!"
"Blaarrr,..! Blaarrr,..! Blaarr,..!"
__ADS_1
terjadi bunyi logam saling beradu d udara, lalu di susul dengan suara ledakan beruntun di sekitar area pertarungan mereka berdua, yang berjualan cukup Imbang...
Mereka berdua sama sama terpisah terlempar oleh kekuatan benturan tersebut.
Fei Yang terdorong belasan meter mundur kebelakang, tangannya yang memegangi pedang merah biru terasa gemetaran.
Akibat benturan energi yang begitu dahsyat.
Kuda kuda Fei Yang tergempur hingga menimbulkan goresan memanjang di atas tanah.
Sedangkan Zhao Yuan Zuo sendiri sudah tidak terlihat lagi bayangannya.
Menggunakan tenaga dorongan itu, dia sudah kabur melarikan diri.
Zhao Yuan Zuo hanya meninggalkan pesan suara jarak jauh ke Fei Yang,
"Kalau punya nyali,..!"
"Ingin balas dendam, ku tunggu kamu di halaman depan istana terlarang...!"
Fei Yang tidak mengejarnya, saat ini yang terpenting adalah melihat keadaan nenek dan ayahnya.
Fei Yang buru buru melesat kearah rombongan, yang bergerak mundur menjauh sesuai arahan dari Li Dan.
Sampai di lokasi, Fei Yang melihat pasukan elite Xi Xia berbaris rapi dengan wajah tertunduk sedih.
Begitu pula dengan Li Dan dan Lan Yi mereka juga terlihat sedih dan terpukul, sepasang mata mereka basah.
Ibunya terlihat sedang menangis sedih sambil memangku tubuh ayahnya, yang terlihat lunglai diam tak bergerak dengan wajah sedikit membiru.
Kini satu satunya harapan adalah pil ajaib dari kakak Dewi langit, yang hanya tersisa satu biji itu.
Fei Yang mengalihkan pandangannya ke sisi lain, di mana terlihat Yue Feng sedang duduk menempelkan kedua telapak tangannya di punggung neneknya.
Wajah Yue Feng terlihat pucat, sudut bibirnya mengalirkan darah segar.
Dari ubun ubun kepalanya, terlihat keluar uap putih.
Fei Yang tahu Yue Feng sudah maksimal menggunakan energinya, untuk berusaha mempertahankan nafas neneknya yang tinggal satu satu.
Fei Yang segara ikut duduk di antara mereka berdua.
Satu tangan dia tempelkan di lengan Yue Feng, tangan lainnya dia tempelkan di lengan nenek ratu Halimah.
Mendapatkan tenaga bantuan dari Fei Yang kondisi Yue Feng perlahan-lahan membaik.
Nenek ratu Halimah, juga mulai bergerak gerak bulu mata nya, perlahan-lahan matanya bisa kembali terbuka.
"Hong Yi tolong bantu ambil botol putih di saku ku, berikan dua butir pil ke Kakak Feng."
"Lima butir buat nenek.."
ucap Fei Yang tanpa menoleh.
__ADS_1
Dengan cepat Hong Yi bergerak mengikuti instruksi Fei Yang.
Setelah masing-masing telah di minumkan pil oleh Hong Yi.
Fei Yang kini melepaskan tangannya dari bahu Yue Feng.
Dia menggantikan Yue Feng menempelkan kedua telapak tangannya di punggung nenek Ratu Halimah.
"Fei Yang jangan buang tenaga mu lagi, kondisi nenek,.. nenek lebih tahu dari siapapun.."
"Tapi nek,.."
ucap Fei Yang sedih tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
Fei Yang merasa sedih, bersalah, juga bingung mau menolong siapa, dengan sisa pil kehidupan yang hanya ada satu..
"Tidak apa-apa jangan bersedih cucu ku, ini bukan salah mu.."
"Musuh yang terlalu licik,.."
"Tolong bantu Nenek mendekati ayah mu.."
ucap Nenek Halimah dengan sepasang mata basah.
Fei Yang mengikuti permintaan neneknya, dengan hati-hati dia menggendong neneknya mendekati kedua orang tua nya.
Nenek Halimah berbaring lemah dalam pelukan Fei Yang, dia mengulurkan tangannya yang gemetar menyentuh wajah putra pertama nya yang telah dingin.
"Ini dosa ku, maafkan ibu nak.."
ucap Nenek Halimah sedih.
"Ibu terlalu banyak dosa di masa muda, sehingga kalian berdua harus menanggung dosa ibu..'
"Cucu ku kamu pernah menolong ibu mu hidup kembali.."
"Bisakah kamu,..?"
ucap Nenek Halimah dengan suara semakin lirih.
"Bisa nek tentu bisa sayangnya obat ku hanya tersisa satu, Fei Yang bingung memilih."
"Anak bodoh, berikan pil nya ke nenek sekarang.."
Fei Yang dengan ragu memberikan pil kehidupan yang tersisa satu ke telapak tangan neneknya.
Begitu pil itu ada di telapak tangan nenek Halimah, nenek Halimah langsung tersenyum lebar.
Dia melihat sebentar pil tersebut, lalu dengan cepat pil itu, dia masukkan kedalam mulut putranya.
Setelah melakukan hal itu dengan tenaga terakhirnya, nenek Halimah kembali terkulai lemah dalam pelukan Fei Yang.
"Li Cing,..ma,..maafkan ego ku,.."
__ADS_1
"Aku sungguh sungguh..."
Kepala nenek Halimah terkulai menghadap kedalam dada Fei Yang.