
Nan Thian hanya memperhatikan dari jauh, keributan yang sedang berlangsung di depan gerbang Wu Kuan.
Gadis baju merah itu terlihat bersikap tenang menghadapi kepungan tentara Mongolia.
Bahkan saat pasukan Mongolia itu mencabut senjata mereka dan mulai bergerak menyerangnya.
Gadis itu tetap bersikap tenang melayani mereka dengan pedang tetap berada dalam sarungnya.
Gadis itu dengan langkah teratur bergerak kesana kemari menghindari serangan yang datang.
Sesekali dia akan menangkis dengan sarung pedang di tangan nya.
Pimpinan pasukan itu melihat bahwa hampir dua puluh personilnya.
Belum mampu menahlukkan gadis itu, malah menjadi bulan bulanan tendangan dan pukulan sarung pedang gadis itu.
Dia segera memberi kode ke penjaga gerbang untuk menambah barisan pasukan pengepung.
Tidak butuh waktu lama, kedua puluh puluh pasukan pengepung, mulai bergerak mundur menjauhi gadis tersebut.
Di gantikan dengan barisan pasukan yang menggunakan tameng dan tombak yang berlapis lapis.
Maju mempersempit pengepungan mereka.
Melihat keadaan ini, gadis itu kini terpaksa menarik keluar pedang di dalam sarungnya.
"Sratttt...!"
"Singggg...!"
Gadis itu menebaskan pedangnya kesekitarnya, untuk menangkis serangan tombak yang datang.
"Trangggg...!"
"Trangggg...!"
"Trangggg...!"
"Trangggg...!"
Potongan tombak dan tameng terpental berhamburan, oleh Tebasan Pedang merah yang di lakukan secara berputaran.
Para pengepung barisan terdepan, juga terpental berhamburan, menimpa teman teman yang berada di barisan belakang mereka.
Melihat hal itu pimpinan pasukan memberi kode agar pasukan lapis berikutnya kembali maju menggantikan.
Sehingga gadis itu terus berada dalam kepungan.
Barisan yang berdatangan kini semakin banyak, bahkan anak panah berhamburan dari atas tembok kota.
Mulai di lepaskan untuk mengacaukan pertahanan gadis tersebut.
"Serrrrrrr...!"
"Serrrrrrr...!"
"Serrrrrrr...!"
"Serrrrrrr...!"
Terlihat panah berhamburan di lepaskan kearah gadis yang sedang terkepung ketat.
Di mana dia sedang sibuk menangkis, tusukan tombak dari balik tameng pasukan pengepung.
"Trangggg..!"
Trangggg..!"
Trangggg..!"
Trangggg..!"
Sambil menangkis serangan tombak yang datang dengan putaran pedang nya.
Gadis itu kini semakin sibuk dan harus membagi konsentrasi, menangkis anak panah yang dilepaskan kearahnya.
__ADS_1
"Tringgg,..!"
"Tringgg,..!"
"Tringgg,..!"
"Tringgg,..!"
Anak panah tertangkis rontok oleh putaran pedang merah gadis itu.
"Serrrrrrr,..!"
"Serrrrrrr,..!"
"Serrrrrrr,..!"
"Serrrrrrr,..!"
"Creebbbb..!"
"Cesss,..!"
Diantara putaran pedangnya, ada dua batang anak panah yang lolos.
Satu menancap tepat di pahanya, satu lagi menyerempet lengannya.
Sehingga terluka berdarah, pedang di tangan gadis itu otomatis terlepas.
Ditempat lain Nan Thian sejak awal pengepungan berlangsung, dia sudah turun dari kereta.
Menghampiri seorang kakek yang memikul sayuran, dan berdiri di antrian paling depan.
Sebelum keributan pecah antara gadis itu dan para pasukan penjaga gerbang Wu Kuan.
"Kakek numpang tanya, sebenarnya apa yang terjadi..?"
"Mengapa bisa timbul keributan hingga sebegitu hebohnya.?"
tanya Nan Thian, mencoba mencari tahu informasi kejadian.
Kakek itu menarik tangan Nan Thian mundur menjauh dan berkata,
"Tidak ada gunanya, melawan pemerintah Yuan hanya mencari mati.."
"Gadis itu adalah salah satu contohnya.."
"Hal begini sudah bukan sekali dua terjadi."
"Sudah banyak pendekar pendekar dunia persilatan, yang mati karena hal seperti ini.."
"Bila mau di salahkan ya salah gadis itu sendiri, dia terlalu cantik."
"Melakukan perjalanan seorang diri, tidak menyamarkan kecantikannya.."
"Terlalu percaya diri dengan kemampuannya.."
"Inilah hasilnya.."
ucap kakek itu menjelaskan ke Nan Thian..
Seorang pria berusia 40 an, yang memikul kayu bakar di punggungnya ikut berbicara.
"Dunia sudah tidak ada keadilan, sejak penjajah Mongolia itu datang menjajah kita."
"Apa mau di kata, semua adalah salah Kaisar Song, yang mabuk kesenangan, tidak mengurus negara dan rakyat dengan baik.."
"Para pejabat di gaji tinggi, pajak naik terus, sedangkan kemampuan mereka hanya tahu menindas rakyat lemah.."
"Korupsi kolusi dan nepotisme di biarkan terjadi di mana mana.."
"Pejabat jujur dan berkompeten di pecat dan di hukum mati, karena tidak menurut.."
"Sedangkan penjilat koruptor yang kerjanya tidak berkompeten terus di pelihara.."
"Yue Fei dan Yang Ye adalah contoh paling nyata dari kaisar bodoh.."
__ADS_1
"Makanya begitu penjajah tiba mereka hanya bisa menyerah dan melarikan diri.."
ucap pria itu dengan wajah penuh ketidakpuasan.
Tiba-tiba panggilan jiwa untuk bela negara dan bela rakyat lemah Nan Thian terpanggil setelah mendengar ucapan pria itu.
Dia adalah keturunan Yue Fei seharusnya dia harus berbuat sesuatu melihat ketidakadilan terjadi.
Dari cerita kedua orang ini, Nan Thian sadar, kesalahan pasti ada di pihak pimpinan pasukan itu.
Kini setelah memahami situasi Nan Thian kembali melihat kearah arena pertandingan.
Saat melihat kearah arena pertandingan, Nan Thian melihat gadis cantik berbaju merah.
Sedang dalam keadaan bahaya, pedangnya sudah terlepas dari pegangan tangannya.
Kakinya sebelah, jatuh bertekuk lutut, tidak mampu menopang tubuhnya karena ada anak panah yang menancap disana.
Di kini hanya bisa menggunakan tangan kosong menangkap dan menangkis tusukan tombak yang terarah kedirinya.
Melihat hal itu, Nan Thian melesat ke tengah arena pertempuran.
"Rooaaarrrrrrr...!"
Terdengar raungan menggertarkan, yang membuat para pengepung, yang sedang mengerubuti gadis itu terpental kebelakang.
Sedangkan anak panah tertahan di udara oleh energi pelindung yang di pancarkan oleh tubuh Yue Feng membentuk kubah energi berwarna merah.
"Enam Naga Keluar dari sarang..!"
bentak Yue Feng sambil membentangkan sepasang tangannya kearah depan.
Dengan posisi tubuh setengah berjongkok.
"Rooaaarrrrrrr...!"
Terlihat enam Naga emas melesat keluar dari tubuh Yue Feng.
Menerjang kesegala arah, menghancurkan seluruh pasukan tameng, yang mengepung tempat itu.
Termasuk para pasukan pemanah di atas tembok kota, juga ikut di hajar, hingga berjatuhan dari atas tembok kota, oleh naga emas yang melesat keluar dari tubuh Yue Feng.
Yue Feng sendiri sudah melesat kearah Pimpinan pasukan yang terlihat agak pucat ketakutan.
Melihat barisan pasukan nya di hancurkan.
Melihat Yue Feng melesat kearah nya, pimpinan pasukan itu sambil bergerak mundur.
Dia mencabut golok nya, untuk menangkis cakar Yue Feng yang sedang meluncur kearah nya.
"Cakar pemecah karang.."
"Krakkkk..!"
Golok pimpinan pasukan itu hancur berkeping-keping, saat bertemu dengan cakar Nan Thian diudara.
Sebelum pimpinan pasukan sempat berbuat sesuatu, cakar Nan Thian sudah mencengkram leher pimpinan pasukan itu.
"Bila ingin selamat tarik mundur seluruh pasukan mu.!"
"Lepaskan gadis itu, biarkan semua yang ada di sini melewati Wu Kuan..!"
"Ba,,..baik tuan pendekar besar.."
ucap pimpinan pasukan itu gugup.
"Mundur semuanya mundur, buka gerbang..!"
"Biarkan semua orang lewat..!"
Bentak pria itu ke pasukannya.
Sisa pasukan nya, yang masih sanggup berdiri, secara otomatis bergerak mundur teratur dan membuka gerbang Wu Kuan lebar lebar.
Membiarkan semua orang yang antri untuk lewat.
__ADS_1
Si gadis baju merah yang sudah di tolong oleh Siau Yen dan Siu Lian, untuk ikut bergabung di dalam kereta.
Kini kereta itu pun, mulai bergerak melewati gerbang Wu Kuan.