
Lie Pai Xue yang di sebut terlihat kaget, wajahnya sebentar pucat sebentar merah.
Dia sambil mengigit bibirnya sendiri maju kedepan dan berkata,
"Guru dan para tetua terimakasih atas budinya selama ini, sudah waktunya Lie Pai Xue membalas Budi baik ini.."
"Biarlah Lie Pai Xue seorang yang keluar menghadapi bajingan tua itu.."
ucap Bai Xue sambil berlutut di hadapan keempat orang yang berjalan di depan Nan Thian.
Lian Se Hua langsung maju membangunkan muridnya dan berkata,
"Pai Xue kamu jangan takut, ada seniang disini."
"Seniang tidak akan biarkan sesuatu terjadi pada mu.."
"Seniang kini hanya tinggal kamu seorang, biar harus hilang nyawa tua ini dan semua nya.."
"Seniang juga tidak akan membiarkan kamu pergi dengan bajingan tidak tahu malu itu.."
ucap Lian Se Hua sambil memeluk dan membelai kepala muridnya dengan penuh kasih sayang.
Seniang adalah panggilan untuk ibu guru.
Ketiga tetua juga menganggukkan kepalanya menyetujui pendapat Lian Se Hua.
"Biar tulang tua yang sudah tak berguna ini pergi menghadapinya.."
ucap Tetua Chen sambil bergerak meninggalkan aula.
Nan Thian yang sejak awal hanya diam akhirnya berkata,
"Tetua Chen, masalah seperti ini, serahkan saja pada junior yang mengurusnya.."
"Biarlah Nan Thian yang pergi menemuinya.."
ucap Nan Thian sambil bergerak maju mendahului Tetua Chen.
"Thian Er jangan bahaya..!"
teriak tetua Kun dan tetua Liu hampir serempak.
Mereka terlihat sangat cemas, tapi sebelum mereka sempat mencegah Nan Thian.
Nan Thian sudah meninggalkan ruangan aula.
Semua yang hadir di sana segera bergerak menyusul keluar dari dalam aula.
Didepan halaman aula terlihat murid murid Qing Hai Pai sedang mengepung seorang Kakek bertubuh pendek gempal.
Tapi kakek itu bergerak dengan tenang, setiap dorongan telapak tangan dan kakinya, selalu menimbulkan angin berkesiur, yang membuat murid murid Qing Hai Pai tidak mampu mendekatinya.
Murid murid Qing Hai Pai bagaikan tersapu angin tornado, yang membuat mereka pada terpental kesana kemari
Bergulingan diatas tanah merintih rintih tidak sanggup bangkit lagi, untuk membantu melanjutkan pengepungan.
Nan Thian yang tiba pertama di halaman depan Aula utama Qing Hai Pai.
Dia langsung mengerahkan kekuatan 8 Tapak Naga Langit yang dia salurkan lewat suaranya.
"Semuanya mundurlah,.. serahkan saja dia pada ku..!"
__ADS_1
Mendengar suara keras Nan Thian, yang membuat mereka semua terdorong mundur, menjauhi si kakek tua, yang bertubuh gempal dan pendek itu.
Mereka semua dengan tertib mundur menjauh, mereka semua juga sadar diri.
Mereka jelas bukan lawannya kakek tua bertubuh pendek gempal yang sakti itu.
"Ha...ha..ha..bagus bagus akhirnya tikus tikus Qing Hai Pai, berhasil mengundang bala bantuan.."
ucap kakek tua pendek gempal itu sambil tertawa keras.
Nan Thian mencoba bersikap sabar dan berkata,
"Senior siapa anda sebenarnya ?,.. antara Qing Hai Pai dan anda tidak ada permusuhan."
"Mengapa anda datang kemari mencari gara gara..?"
"Ha..ha..ha..! anak muda kamu tahu satu tidak tahu dua.."
"Baiklah agar kamu tidak terjebak dalam lembah tak jelas.."
"Aku katakan terus terang pada mu.."
"Aku adalah Ouwyang Fong dari istana gunung Onta di barat."
"Beberapa tahun yang lalu cucu ku datang baik baik meminang dia.."
ucap Ouwyang Fong sambil menunjuk ke Lie Pai Xue.
"Tapi tikus tikus Keparat itu bukan hanya mengusir'nya, tapi mereka melukai cucu ku dan empat pelindungnya, hingga jadi cacat..'
"Menurut mu apa aku harus berpangku tangan ?"
"Nan Thian Sexiong jangan percaya padanya, kenyataannya tidak seperti itu.."
ucap Li Pu Se, ketua Qing Hai Pai membantah dengan wajah tidak puas.
Nan Thian dengan sikap tenang tanpa menoleh berkata,
"Apa yang terjadi sebenarnya, Pu Se Setie,.. jelaskan lah.."
Li Pu Se, mengangguk cepat dan berkata,
"3 tahun yang lalu Ouwyang Ke cucu dari bajingan itu sedang menindas gadis desa di kaki gunung Qing Hai.."
"Secara kebetulan Lie Semei lewat di tempat itu, Lie Semei turun tangan mencegahnya."
"Sehingga terjadi bentrokan dengan cucu nya itu."
"Karena terdesak dan kalah kuat dari Li Semei, cucunya meminta empat pelindungnya maju membantunya mengeroyok Li Semei."
"Terjadilah 5 lawan satu, kini keadaan berbalik Li Semei yang terdesak.."
"Li Semei melepaskan tanda bahaya, memanggil bala bantuan.."
"Ying Tang Cu, Sie Tang Cu, dan Yek Tang Cu yang tidak jauh dari lokasi segera datang membantu Lie Tang Cu.
"Bentrokan lebih serius 4 lawan 5 pun terjadi.."
"Hasilnya Ouwyang Ke dan keempat pelindungnya, memilih melarikan diri.."
"Setahun kemudian, Ouwyang Ke kembali datang bersama keempat pelindungnya mengunjungi perguruan kita.."
__ADS_1
"Dengan alasan melamar, mereka memaksa hendak membawa paksa Lie Tang Cu ikut dengan mereka.."
"Bentrokan kembali terjadi sekali ini, mereka berlima, berhasil mengalahkan keempat Tang Cu kita.."
"Mereka juga mengalahkan aku dan Siau San .."
"Akhirnya ketiga tetua dan Seniang turun tangan, baru kelima orang itu berhasil di usir dari sini.."
"Setahun yang lalu kakek ini yang muncul, membuat keributan di tempat kita "
"Setelah berhasil melukai Seniang dan ketiga tetua, sebelum pergi dia mengancam akan kembali 3 bulan lagi, untuk membawa Lie Tang Cu pergi menjadi istri ke 13 nya.."
ucap Li Pu Se menutup ceritanya.
Nan Thian kini menatap tajam kearah Ouwyang Fong dan berkata,
"Aku masih hargai kamu sebagai orang lebih tua, segera minggat lah dari hadapan ku.."
"Tapi bila masih berkeras jangan salahkan aku membuat mu bisa datang tidak bisa kembali menemui onta mu di barat sana.."
ucap Nan Thian dingin.
Ouwyang Fong tertawa mengejek dan berkata,
"Bocah tengik, baru punya sedikit ilmu Auman kucing saja kamu berani bertingkah di hadapan kakek mu.."
"Ini rasakan...!!"
bentak Ouwyang Fong.
Dia segera langsung menerjang kearah Nan Thian dengan sepasang cakarnya yang mengeluarkan suara angin berkesiur tajam.
"Cuittt..!!"
"Cuittt..!!"
Cakar kanan bergerak kearah wajah, cakar kiri menusuk kearah ulu hati.
Cakar kanan maupun kiri hanya gerak tipu, setelah mendekati sasaran.
Pergerakan Dakar itu berubah, kanan menuju jantung, tangan kiri menuju kandung kemih.
Benar benar serangan yang dahsyat cepat dan licik.
Nan Thian bersikap tenang melihat serangan yang datang, dia diam tidak bergerak.
Hingga serangan itu mendekat, dia baru membalas melepaskan serangan.
"Rooaaarrrrrrr..!"
Dari sepasang telapak tangan Nan Thian melesat bayangan sepasang naga emas menyambut kedua cakar Ouwyang Fong yang tiba.
"Blaaarrr,...!"
"Blaaarrr,...!"
Ouwyang Fong terpental mundur kebelakang dengan langkah terhuyung-huyung.
Pergerakan kakinya saat mundur, terlihat kacau balau.
Nan Thian langsung berkelebat menyusul kearah Ouwyang Fong.
__ADS_1