PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PERTEMUAN


__ADS_3

Nan Thian diam diam kagum dengan sifat guru Zi Zi yang sangat sabar dan sangat menyayangi Zi Zi.


Mereka terlihat lebih mirip ibu dan anak, ketimbang guru dan murid.


Bahkan Nan Thian membandingkan dengan ibunya sendiri, dia juga tidak menemukan hubungan seperti itu antara dirinya dengan ibunya.


Mereka melakukan perjalanan dengan cepat, mereka hanya mendarat untuk istirahat makan sejenak di tempat sepi.


Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan.


Mereka terus bergerak cepat menuju Pegunungan Hua San, yang terdiri dari beberapa puncak yang menjulang tinggi.


Pagi itu akhirnya mereka tiba di puncak Yu Ni Feng, salah satu puncak Hua San, yang sangat sulit untuk di capai, bila ditempuh lewat jalan darat, di mana harus melalui hutan Cang Lung Lin yang berbahaya.


Tapi karena mereka terbang lewat udara, hal itu bukan masalah, dari atas Fei Hsia bisa melihat dengan jelas, tempat kediaman sederhana Fei Yang yang kini sudah terbengkalai.


Zi Zi yang menunjuk dan bercerita dulu dia tinggal di sana bersama kedua orang tuanya.


Saat tiba di puncak Yu Ni Feng, Kim Kim langsung melesat kedalam jurang sebelah barat.


Menuju tebing di mana Gua Api surgawi dulu berada.


Saat tiba di depan portal perisai pelindung, menuju tempat tinggal Fei Yang yang misterius.


Nan Thian dengan hati hati melepaskan beberapa pukulan ringan kearah portal perisai pelindung itu.


Saat ini kekuatan Nan Thian sudah sangat jauh berbeda, sehingga dia harus melakukan dengan hati hati.


Agar tidak sampai merusak portal yang sudah di buat oleh pamannya dengan susah payah.


Setelah pukulan kode rahasia di lepaskan, sesaat kemudian pintu portal cahaya pun muncul di hadapan mereka.


Kim Kim langsung melesat masuk kedalam portal cahaya yang memancarkan 6 warna itu.


Setelah Kim Kim masuk, burung Bangau Dewata pun ikut menyusul nya.


Begitu mereka masuk kedalam portal cahaya, portal cahaya itupun lenyap.


Kini suasana di tengah tengah jurang itu kembali normal dan penuh keheningan.


Seolah olah tidak pernah terjadi apapun di sana.


Kim Kim dan burung bangau Dewata setelah menelusuri beberapa saat terowongan panjang warna warni.


Akhirnya mereka keluar dari sebuah pintu portal yang membawa mereka muncul di alam lain.


Mereka melayang di atas langit, melihat suatu tempat baru yang terlihat sangat tenang dan indah.


Kim Kim langsung terbang melewati Padang rumput dan hamparan bunga yang bermekaran indah.


Setelah melewati sebuah hutan rimba raya yang cukup luas.


Mereka akhirnya mendarat di halaman sebuah pondok sederhana.


Kedatangan mereka di sambut oleh Fei Yang kedua putra kembarnya, juga tabib Hua dan cucunya Hua Lung.


Siau Huo juga terlihat berbaring santai di sana.

__ADS_1


Zi Zi yang melihat ayahnya dari atas sana sudah melambaikan tangannya dan berteriak dari atas.


"Ayahhhhhhhhhh...!!"


Fei Yang terbelalak tak percaya saat melihat putrinya juga ikut hadir di sana, duduk diatas punggung burung bangau Dewata.


Saat melihat wanita cantik yang duduk di depan Zi Zi, Fei Yang semakin terbelalak di buatnya.


Sedangkan Fei Hsia sendiri saat melihat Fei Yang pria, yang selama ini selalu dia rindukan.


Berani mencintai tapi tidak sanggup melupakan, dia terlihat menatap Fei Yang dengan lembut sambil tersenyum sedih.


Air mata sudah jatuh membasahi sepasang pipinya yang halus dan putih.


"Kakak Yamg.."


hanya suara gumam kecil itu yang keluar dari tenggorokan nya, yang serasa tercekat.


Hingga tunggangannya mendarat pun Fei Hsia masih berdiri mematung menatap kearah Fei Yang tanpa berkedip.


Zi Zi yang lebih duluan mendarat dan berkata,


"Ayo guru,. "


Panggilan Zi Zi baru menyadarkan Fei Hsia, dia buru buru menghapus airmatanya.


Sambil tersenyum canggung, dia juga ikut melompat turun dari punggung tunggangannya.


Zi Zi menggandeng tangan gurunya , menariknya menghampiri Ayahnya..


"Ayah..! aku pulang.."


tanya Zi Zi begitu sampai di hadapan ayahnya.


"Ibu mu ada di dalam sana, "


Jawab Fei Yang sambil melangkah maju, lalu memeluk putrinya yang kini sudah besar penuh haru.


Sepasang matanya yang mirip dengan Zi Zi terlihat berkaca kaca dan sedikit basah.


Sambil memeluk dan membelai kepala Zi Zi terdengar gumam pelan dari Fei Yang,


"Syukurlah kamu selamat dan sudah pulang.."


"Itu yang terpenting, kita sekeluarga akhirnya bisa berkumpul lagi.."


ucap Fei Yang penuh haru.


Zi Zi balas memeluk ayahnya penuh rindu.


Tapi beberapa saat kemudian, wajah nya tiba tiba berubah dingin.


Dengan sikap tidak puas, dia meronta dari pelukan ayahnya, dia menatap ayahnya yang terlihat kaget lekat lekat dan berkata dengan suara sedikit terisak,


"Kenapa,..? kenapa ayah..?"


"Kenapa ayah ibu tidak mencari Zi Zi,. ?"

__ADS_1


"Apa ayah ibu sudah tidak menghendaki Zi Zi lagi Ya..?"


ucap Zi Zi dengan suara bergetar menahan sedu sedan di dadanya.


Fei Yang tersenyum pahit dan berkata,


"Ini semua salah ayah, ayahlah yang tidak bisa menjadi ayah, dan suami baik, sempurna buat kalian.."


"Ini tidak ada hubungannya dengan ibu mu.."


"Ini semua murni salah ayah.."


ucap Fei Yang pelan, penuh sesal.


"Zi Zi ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan.."


"Aku kemarin tidak menceritakan keseluruhan cerita karena takut kamu cemas dan sedih.."


"Itu juga merupakan pesan dari ayah mu.."


"Tapi kini semua sudah ada di sini, aku sudah tidak bisa tidak cerita.."


"Agar kamu tidak salah paham dan menyalahkan ayah ibu mu dalam hati ini.."


ucap Nan Thian maju memegangi tangan Zi Zi mencoba menengahi nya.


Zi Zi menatap kearah Nan Thian dan berkata dengan penasaran,


"Apa yang sebenarnya terjadi dan sengaja kakak simpan dari ku..?"


Nan Thian tersenyum lembut dan berkata,


"Akan lebih jelas kita temui ibu mu dulu di dalam sana, baru akan kakak ceritakan.."


Zi Zi mengangguk dan menatap kearah Nan Thian dan ayahnya yang terlihat sedang tertunduk sedih, dengan wajah di penuhi penyesalan.


"Paman bolehkah aku..?"


tanya Nan Thian pelan penuh hormat.


Fei Yang hanya mengangguk kecil, tanpa berkata-kata, masih tetap dengan kepala tertunduk nya.


Sesaat setelah Nan Thian dan Zi Zi berlalu kedalam bersama si kembar, kakek Hua dan cucunya.


Fei Yang baru menghapus airmatanya yang runtuh, kemudian sambil menghela nafas panjang.


Perlahan-lahan dia mengangkat kepalanya menatap kearah Fei Hsia dan berkata,


"Maaf adik Fei Hsia, aku telah menyajikan drama ketidak becusan ku sebagai kepala keluarga kecil ku."


"Aku memang tidak berguna dan selalu menjadi biang petaka bagi orang di sekitar ku.."


"Bagaimana kabar mu selama ini,..?"


"Tidak terasa rasanya sudah 20 tahun lebih kita tidak bertemu."


tanya Fei Yang sambil memaksakan diri untuk tersenyum.

__ADS_1


"Tepatnya 21 tahun 3 bulan 2 hari.."


ucap Fei Hsia sambil tersenyum sedih.


__ADS_2