
Pelayan itu menghentikan pekerjaannya, buru buru maju menghadang langkah Fei Yang.
Fei Yang menanggapi sikap pelayan itu sambil tersenyum.
Dia yang berasal dari kalangan istana, tentu sangat hapal dengan sikap orang-orang macam pelayan ini.
Mereka ini tak ada bedanya dengan anjing' anjing penjilat, yang ada di istana yang di dominasi oleh para Kasim.
Fei Yang menunjukkan satu tael perak di tangannya dan berkata,
"Bila kamu bisa membantu ku mencarikan kamar nyaman, dan makan enak, maka uang ini boleh jadi milik mu.."
"Tapi bila tidak bisa, kamu boleh lanjutkan menutup pintu, aku akan cari teman atau bos mu yang bisa.."
ucap Fei Yang sambil menutup kembali telapak tangan nya.
Pelayan itu sempat mengulurkan tangannya ingin memegang uang yang ada di telapak tangannya.
Tapi telapak tangan Fei Yang keburu tertutup kembali, sehingga uang itu pun lenyap dalam genggaman tangan Fei Yang.
Pelayan itu menunjukkan reaksi kecewa dan menyesal di wajahnya, dia kemudian dengan senyum canggung berkata,
"Tuan jangan khawatir,.. tuan silahkan duduk dan minum dulu di sini sebentar."
"Saya akan mengurus tutup pintu dulu sebentar, percaya pada ku semua pasti beres..."
ucap pelayan itu berusaha meyakinkan Fei Yang.
Fei Yang mengangguk, kemudian mengambil tempat duduk dan menuang teh yang tersedia di atas meja, kedalam cawan yang ada di hadapannya.
Fei Yang duduk minum teh sambil memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
Selain dirinya di sana, ada 3 meja lain yang terisi tamu yang sedang duduk makan dan minum.
Meja pertama di pojok kanan, di isi oleh seorang pria bertubuh tinggi besar berkepala botak dan wajahnya dipenuhi brewok kasar.
Di sampingnya terlihat sebatang tongkat besar dan berat bermata bulan sabit dan sekop di kedua ujung tongkat nya.
Yang dia sandarkan di tembok belakang punggungnya.
Pria itu duduk santai, sambil makan daging dan arak seakan-akan tidak perduli dengan keadaan di sekitarnya.
Terpisah dua meja darinya, terlihat sebuah meja yang di isi oleh 4 orang pria yang membawa senjata pedang berkait, yang di gantung, di belakang punggung mereka masing masing.
Mereka berempat juga terlihat duduk santai mengobrol, dengan suara pelan sambil makan dan minum.
Terpisah dua meja dari sana, terlihat dua orang pemuda yang membawa dua batang golok besar, yang bagian atasnya di pasangi cincin cincin kecil.
__ADS_1
Mereka menggeletakkan golok mereka di atas meja begitu saja, sambil minum arak dan mengobrol santai.
Selain Ketiga kelompok yang duduk di belakang Fei Yang, tidak ada lagi tamu lain yang terlihat.
Tak lama kemudian pelayan tadi, sudah selesai menutup pintu losmen.
Dia langsung buru buru menghampiri Fei Yang dan berkata,
"Mari tuan saya antar ke kamar.."
Lalu sambil terbungkuk bungkuk dengan senyum di buat buat, dia mengantar Fei Yang menuju sebuah kamar di lantai dua, yang jendela depan nya menghadap ke jalan raya.
Sehingga dari kamarnya, Fei Yang bisa melihat situasi jalan, yang kini sudah sepi seperti kota mati, seperti tidak memiliki penghuni yang tinggal di sana.
"Tuan silahkan istirahat, bila tuan ingin mandi, kamar mandi ada di sebelah sana.."
"Air panas juga tersedia di dalam, tuan boleh gunakan sepuasnya, besok pagi akan saya isi ulang lagi.."
ucap pelayan itu dengan penuh hormat.
Fei Yang mengangguk kecil dan tersenyum puas, bagi Fei Yang yang selama hampir 6 tahun tidur di gua dan mandi dikolam air dingin..
Tempat ini sudah jauh dari memuaskan, ketimbang tempat tidurnya selama ini..
Melihat reaksi Fei Yang, pelayan itu melanjutkan berkata,
"Tuan aku permisi dulu, mau pergi siapkan makanan.."
"Maaf bukannya saya sok mengatur, tapi ini semua demi keamanan tuan sendiri.."
ucap pelayan itu mengingatkan dengan sopan.
Setelah itu dia langsung hendak berlalu dari kamar Fei Yang.
"Tunggu,.. kamu jangan pergi dulu,.. Kamu belum bilang siapa nama mu,?"
tanya Fei Yang.
"Panggil saja saya Asok...orang orang di desa ini biasanya memanggil ku Asok.."
ucap pelayan itu cepat.
"Baiklah Asok kamu duduk dulu sebentar, aku ingin tanyakan beberapa hal padamu, sebelum kamu pergi menyiapkan makanan untuk ku.."
ucap Fei Yang sambil menunjuk kursi di dekat nya, mempersilahkan Asok untuk duduk.
Dengan ragu ragu Asok duduk di hadapan Fei Yang dan berkata,
"Tuan ingin tanya apa ? silahkan saja, asal Asok tahu, Asok pasti akan menjelaskan semuanya kepada tuan.."
__ADS_1
"Asok sebenarnya apa yang terjadi dengan kota ini, ? kenapa semua orang terlihat begitu cemas dan ketakutan ? bahkan sebelum hari gelap, semua orang sudah bersembunyi di dalam rumah mereka masing-masing.."
tanya Fei Yang menatap Asok dengan heran..
Asok menghela nafas panjang dan berkata,
"Bila di ceritakan akan menjadi panjang, singkat cerita nya adalah setelah 6 tahun yang lalu terjadi pertempuran besar besaran di puncak gunung Xu.."
"Hampir 5 tahun sudah berlalu, desa ini tidak pernah bisa hidup tenang seperti dulu lagi.."
"Setiap sebulan sekali pasti ada salah seorang warga yang hilang.."
"Saat di temukan lagi, warga yang hilang tersebut, pasti sudah berubah menjadi mayat yang kehabisan darah."
"Tapi 2 tahun terakhir ini frekwensi warga yang hilang dan tewas kehabisan darah,.semakin kesini semakin banyak dan cepat waktunya.."
"Hingga saat ini hampir tiap malam, selalu ada warga yang hilang dari rumahnya,
Keesokan paginya, dia akan ditemukan mati dalam kondisi kehabisan darah.."
ucap pelayan itu dengan wajah ketakutan dan terus melihat kearah jendela Fei Yang yang masih terbuka.
Sedangkan cuaca di luar semakin lama semakin gelap.
Mendengar cerita Asok, Fei Yang sedikit mengerutkan alisnya, lalu dengan heran dia berkata,
"Ada kejadian meresahkan begitu, mengapa kalian masih terus bertahan tinggal di sini.?"
"Mengapa tidak mencoba pindah ke kota lain saja..?"
ucap Fei Yang sambil menatap dengan heran kearah Asok.
"Tentu saja ada tuan,.tentu saja dari awal sudah langsung banyak yang coba mengungsi."
"Tapi sebelum tiba di tujuan, mereka sebagian besar di rampok, sebagian dari mereka di bunuh oleh para perampok dadakan, yang sekarang sangat banyak bermunculan di mana mana..
"Akhirnya yang selamat banyak yang terpaksa kembali lagi kemari.. dan tidak ada yang berani lagi mencoba untuk meninggalkan tempat ini."
ucap Asok menjelaskan.
"Apa kalian tidak mencari bantuan dari pemerintah..?"
tanya Fei Yang kembali.
Asok menghela nafas dan berkata,
"Tentu saja sudah, tapi pemerintah saat ini sangat korup, mereka yang diatas terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri.."
"Mana mereka punya waktu dan tenaga untuk mengurus masalah di desa kecil begini.."
__ADS_1
"Apa kalian tidak berusaha mencari jalan lain, selain memilih diam menunggu ajal di desa ini..?"
tanya Fei Yang penasaran.