PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
RASA ANTUSIAS ZI ZI, KESABARAN FEI HSIA.


__ADS_3

Nenek Wu menatap sedih kearah cucunya dan berkata,


"Kamu jaga diri mu, nenek kedalam dulu.."


Selesai berkata, nenek Wu pun melayang masuk kedalam istana menyusul suaminya.


Fei Hsia mengigit bibir bawahnya keras keras, untuk mengeraskan tekadnya.


Sepasang mata nya yang indah terlihat sedikit berkaca-kaca.


Dia buru buru membuang mukanya, untuk menutupi kesedihan dan keperihan di hati nya.


Agar semua yang hadir disana tidak ada yang melihatnya.


Tapi hal ini mana mungkin terlewat oleh Zi Zi, Nan Thian dan Kim Kim.


Nan Thian bisa menebak sebagian hal itu, mungkin ada hubungannya dengan masalah asmara masa lalu pamannya.


Dia hanya bisa pura pura tidak tahu, karena hal itu adalah ranah pribadi para senior.


Dia tidak layak tahu terlalu banyak.


Sedangkan Kim Kim yang hambar terhadap urusan begituan, dia juga tidak terlalu tertarik.


Bagi dia yang terpenting cepat menyelesaikan masalah paman Nan Thian, setelah itu meminta petunjuknya.


Agar mereka bisa segera pergi melanjutkan pencarian keberadaan saudaranya.


Berbeda dengan Nan Thian dan Kim Kim, Zi Zi justru menatap kearah gurunya dengan tatapan mata kasihan dan bersimpati.


Dia yang paling tahu dan paling mengerti, bagaimana gurunya melewati hari harinya, yang penuh dengan kesedihan dan ketersiksaan karena kerinduan terhadap ayahnya.


Zi Zi diam diam sangat kasihan dan bersimpati, dia juga sangat kagum terhadap rasa cinta yang begitu besar dan tulus dari gurunya terhadap ayahnya.


Karena Zi Zi selama ikut dengan gurunya, meski gurunya selalu sembunyi sembunyi bila malam tiba pergi menyendiri.


Tapi dia tahu persis, hampir


setiap malam tiba, gurunya pasti akan duduk seorang diri, di depan pondok diatas pohon.


Di sana Guru nya, akan selalu menangis seorang diri, sambil memegang patung kayu ukir, yang sangat mirip dengan wajah dan potongan tubuh ayahnya.


Zi Zi menggandeng tangan gurunya dengan lembut dan berkata,


"Guru jangan hiraukan ucapan kakek, Zi Zi akan selalu berdiri di pihak guru.."


"Zi Zi sangat menyayangi guru.."


Fei Hsia berusaha untuk tersenyum, lalu dia membelai dan menciumi kepala muridnya dengan lembut.


Tanpa sadar dua butir air bening langsung meloncat keluar dari sepasang matanya yang indah.


"Thian Er, kita mampir dulu sebentar ke pulau ikan.."


"Aku ingin membawakan beberapa oleh oleh buat paman mu ."


ucap Fei Hsia pelan.


"Baik senior, itu bukan masalah.."

__ADS_1


ucap Nan Thian penuh hormat.


Fei Hsia dan Zi Zi melompat ringan keatas punggung Burung Bangau Dewata.


Burung itupun terbang ke udara, menuju formasi perisai pelindung pulau pelangi.


Setelah Fei Hsia membuka segel nya, burung bangau Dewata pun terbang meninggalkan pulau pelangi.


Kim Kim menyusul di belakang membawa Nan Thian yang duduk di punggungnya.


Saat tiba di pulau ikan, Fei Hsia pun berkata pelan,


"Kamu dari mereka tunggu di pulau sebentar.."


"Nanti guru menyusul kesana .."


Selesai berpesan, Fei Hsia langsung melesat kearah gugusan batu karang tajam, yang mengelilingi pulau ikan.


Dengan ringan Fei Hsia beterbangan di atas gugusan batu karang.


Setiap telapak tangannya di ulurkan kedepan, pasti ada beberapa ekor ikan jelek dan udang besar, yang hidup di sekitar gugusan batu karang, terlihat melayang keatas.


Dengan telapak tangan yang lainnya melakukan pukulan ringan, ikan dan udang itu langsung berubah menjadi potongan es.


Lalu dengan cepat Fei Hsia menyimpannya kedalam cincin penyimpanan nya.


Berulang kali Fei Hsia melakukan nya, setelah merasa cukup dia baru menyusul kembali ke pulau.


Nan Thian Zi Zi dan burung bangau Dewata menunggu di tepi pantai.


Sedangkan Kim Kim terlihat antusias melesat kesana kemari tidak jauh dari gugusan karang.


Kim Kim dengan gembira mengincar ikan ikan hiu putih yang banyak berkeliaran di sekitar pulau itu.


Awalnya ikan ikan pemangsa itu mendekati Kim Kim, tapi begitu Kim Kim mulai menjadikan mereka sebagai sasaran mangsanya.


Ikan ikan itu terlihat berhamburan melarikan diri kesegala arah.


Tapi ikan ikan pemangsa itu mana mungkin di biarkan lepas oleh Kim Kim sebelum perut nya terpuaskan.


Dengan melakukan gerakan berpusar cepat yang membuat ikan ikan pemangsa itu terseret arus pusaran nya.


Satu persatu ikan pemangsa itu di sedot masuk kedalam mulut Kim Kim yang terbuka.


Hingga dia merasa puas dan melakukan sendawa keras tulang belulang dan kepala ikan ikan pemangsa itu.


Semuanya di muntahkan keluar oleh Kim Kim, laut yang jernih sekejab mata sudah berubah keruh kemerahan.


Kim Kim sendiri dengan gerakan santai melesat keluar dari dalam air, lalu mendarat di tepi pantai.


Burung bangau Dewata terus menatap kearah Kim Kim dengan tidak suka, karena merasa wilayah kekuasaannya, di kacau kan oleh tingkah Kim Kim.


Tapi dia tidak melakukan apa apa karena ada Zi Zi di sisinya.


Sesaat kemudian Fei Hsia sudah kembali ke bibir pantai dan berkata sambil menahan senyum.


"Ayo kita berangkat sekarang, sebelum pulau ku berubah jadi pulau bangkai ikan.."


Nan Thian tersenyum canggung dan berkata,

__ADS_1


"Maafkan teman ku senior, yang secara tidak langsung telah merusak keindahan pulau.."


"Tidak ada apa lupakan saja, ayo kita berangkat.."


ucap Fei Hsia sambil menahan senyum.


Kim Kim sendiri berlagak tidak mendengar dan tidak berdosa.


yang penting perutnya puas.


Daripada makan orang, sudah mending dia ca makan ikan, pikir Kim Kim santai.


Sesaat kemudian kelompok kecil itu pun berangkat menuju arah barat, meninggalkan pulau ikan


Saat mereka tiba di daratan, Zi Zi pun berkata,


"Guru,.. kakak tampan,.. bagaimana bila kita tempuh jalan darat saja..?"


"Zi Zi agak rindu dengan suasana keramaian kota."


Tapi sebagai jawabannya, dia harus kecewa.


Karena Nan Thian dan Fei Hsia dengan kompak menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak Zi Zi, lain kali saja..kita sedang mengejar waktu.."


Zi Zi dengan wajah cemberut, terpaksa menahan keinginannya.


Hal ini karena Kim Kim tidak tahu, ibu kandungnya sedang sakit.


Nan Thian harus cepat cepat kembali untuk membantu proses pengobatan Tabib Hua.


Sedangkan Fei Hsia, dia punya alasan tersendiri.


Tapi Zi Zi cemberut tidak bertahan lama, begitu melihat pemandangan indah dari atas sana.


Sesaat kemudian, dia sudah lupa dengan penolakan permintaan nya tadi.


Dia dengan gembira menunjuk kesana kemari, dengan penuh semangat


Saat dia melihat pemandangan pemandangan yang indah mempesona di bawah sana.


"Guru itu gunung apa..?"


tanya Zi Zi penuh semangat.


"Itu gunung Pai Yun San.."


jawab Fei Hsia sambil tersenyum sabar.


"Itu sungai apa ? yang mirip naga kuning berkelok kelok..?"


tanya Zi Zi kembali.


"Itu sungai Huang He.."


jawab Fei Hsia dengan sabar.


Sepanjang jalan hampir tidak pernah berhenti Zi Zi bertanya dengan penuh antusias.

__ADS_1


Tapi Fei Hsia selalu dengan sabar menjawab semua nya.


Sedikit pun dia tidak terlihat kesal ataupun terganggu, dengan pertanyaan dari muridnya.


__ADS_2