
Asok akhirnya gak tahan, saat melihat hari sudah mulai gelap, tapi Fei Yang malah membuka jendela lebar lebar..
Membiarkan sinar lampu kamar yang mencolok, bersinar keluar dari jendela kamarnya yang terbuka lebar.
Asok akhirnya bangun dari tempat duduknya, dan berkata,
"Sebentar tuan muda, biar ku tutup dulu jendela mu, hari sudah malam."
Kemudian Asok menghampiri pintu jendela, dia ingin membantu Fei Yang menutup jendela tersebut.
"Gak perlu di tutup Asok, aku lebih suka ada udara yang bebas keluar masuk, bila di tutup malah jadi panas dan pengab.."
"Tapi tuan.."
ucap Asok ragu.
"Sudahlah, tenang saja,.. ayo duduk sini lanjutkan cerita mu tadi.."
ucap Fei Yang santai.
Asok dengan setengah terpaksa dan sikap takut takut, dia kembali duduk di hadapan Fei Yang.
Dia tadi sempat merapatkan sedikit jendela nya, sebelum Fei Yang menegurnya.
Tapi sebelum dia sempat duduk, Fei Yang mengibaskan tangannya kearah jendela.
Sehingga jendela kembali terbuka lebar.
Melihat aksi Fei Yang, Asok menjadi pucat, dia kaget dengan kemampuan Fei Yang yang mirip tukang sulap.
Tapi selain itu dia juga takut bila tindakan Fei Yang, benar'benar mengundang iblis penghisap darah datang ke losmen mereka.
Fei Yang tersenyum melihat sikap Asok, dan berkata,
"Asok kamu belum jawab pertanyaan ku sebelum nya.."
"Ehh,... ohh,.. ya...ya..ma..maaf tuan muda, ini.."
"Kami tentu saja ada mencari dan menyewa orang pandai untuk mengatasinya.."
"Tapi hampir semua orang pandai yang kami sewa selalu berakhir tragis.."
"Kami bahkan pernah membayar mahal pada Hei Mo Pang, penguasa tertinggi dunia persilatan saat ini, untuk membantu kami.."
"Tapi hantu itu sangat cerdik, dia tidak datang dan memilih beroperasi kedesa lain.."
"Akhirnya saat orang Hei Mo Pang sewaan kami pergi, dia pun kembali muncul dan membunuh Kepala desa kami yang lama, beserta seluruh keluarganya..."
"Sejak saat itu, kami tidak berani lagi mengundang orang pandai untuk mengusiknya.."
ucap Asok menutup ceritanya.
"Tapi ke 7 orang yang terbagi dalam 3 kelompok, yang tadi ada di restoran di bawah sana.."
__ADS_1
"Kulihat mereka semua bukan orang biasa.."
ucap Fei Yang mengemukakan pendapat nya.
Asok menghela nafas panjang dan berkata,
"Mereka hanya orang yang kebetulan lewat, penasaran dan ingin pembuktian diri.."
"Bukan aku omong besar, ini karena aku sudah sering melihatnya.."
"Mereka yang kemana mana membawa senjata, untuk di pamerkan, tidak ada yang bisa di harapkan, bila tiba waktunya.."
ucap Asok setengah berbisik, memberikan pendapatnya.
Fei Yang hanya menanggapinya dengan tersenyum.
Fei Yang mengakui dalam hati, pendapat Asok memang ada benarnya.
Tap juga tidak sepenuhnya benar, buktinya, guru ke 3 nya Yi Han Tao Se, bukankah kemana mana, juga menggendong sebatang pedang di punggungnya..
Tapi bila bicara kemampuan, siapapun tidak akan ada yang berani bilang dirinya nomor satu, bila gurunya bilang dirinya nomor dua.
Asok setelah menyelesaikan ceritanya, buru buru ngeloyor pergi.
Karena di hatinya dia masih sangat khawatir dengan jendela Fei Yang yang terus di biarkan terbuka begitu saja.
Dia tidak mau ambil resiko terus ada di sana, takut terseret seret, bila hantu itu benar mendatangi kamar Fei Yang.
Setelah Asok pergi menyiapkan makan malam nya, Fei Yang sendiri pun pergi ke kamar mandi, untuk mandi air hangat.
Fei Yang sangat menikmati.mandi berendam air panas, hingga tanpa terasa, dia terus bersenandung kecil seorang diri.
Hingga saat terdengar, Ahok dan beberapa temannya, datang mengantar makan malam untuknya.
Fei Yang baru menyudahi mandinya, berganti pakai bersih warisan ayah Xue Lian.
Sebelum berpisah, Xue Lian sempat menyerahkan sebungkus pakaian milik ayahnya buat Fei Yang.
Karena pakaian lama Fei Yang sudah tidak layak lagi di kenakan..
Setelah berpakaian rapi, Fei Yang baru keluar dari kamar mandi, duduk menikmati masakan yang di antar ke kamar nya oleh Asok.
"Bagaimana rasanya tuan muda, ada yang kurang..?"
tanya Asok sambil tersenyum ramah.
Fei Yang mengangguk kemudian meletakkan Dua Tael perak, diatas meja dan berkata,
"Ini bonus mu,.di luar tagihan kamar dan makanan.."
"Besok pagi sebelum pergi, aku akan melunasi semua tagihannya.."
ucap Fei Yang.
__ADS_1
Sambil menggerakkan sumpitnya menikmati masakan yang lezat di hadapannya.
Dia sudah lama tidak menikmati masakan dengan puas dan santai seperti saat ini..
Karena sejak meninggalkan istana, setiap ingin makan, dia harus bersibuk mencari bahannya, memasaknya sendiri baru bisa makan.
Hanya saat di tempat Malini dan Li Sian Sian lah, Fei Yang bisa makan tanpa harus turun tangan masak.
Hanya saja karena kedua kakak seperguruannya itu vegetarian.
Mau tidak mau, Fei Yang harus mengikuti cara makan mereka yang hambar dan tidak berasa.
Baru saat bersama Xue Lian lah Fei Yang, bisa makan dengan puas dan bebas.
Tapi di tempat Xue Lian, dia kembali harus turun tangan masak untuk makan mereka berdua.
Teringat Xue Lian, Fei Yang tersenyum sendiri, mengingat cara makan Xue Lian yang sangat menikmati semua masakan nya.
"Entah bagaimana keadaannya sekarang. ?"
batin Fei Yang menghentikan makannya sejenak.
"Setelah 6 tahun hidup bersama, kini tiba tiba harus kembali hidup sendirian, tidak tahu dia sanggup tidak menghadapi nya..?"
Batin Fei Yang termenung.
"Semoga saja ayah dan ibunya segera kembali, jadi dia tidak terlalu kesepian.."
batin Fei Yang.
Kemudian dia kembali melanjutkan mengulurkan sumpitnya untuk mengambil makanan.
Tapi sebelum sempat sampai di makanan yang di tuju, Fei Yang mendengar suara bentakan dari halaman depan sana.
Sehingga sumpit Fei Yang jadi menggantung di udara.
Fei Yang membatalkan gerakan sumpitnya, menarik kembali sepasang sumpitnya yang menggantung di udara.
Untuk dia letakkan kembali di atas mangkok nasinya.
Lalu Fei Yang sudah melayang ringan duduk di jendela, menonton pertarungan yang sedang berlangsung di bawah sana.
Antara dua pemuda yang membawa golok besar bercincin, melawan seorang berambut tiap riapan, bertubuh kecil.
Dari bentuk tubuhnya yang kecil langsing Fei Yang menebak yang berambut tiap riapan itu kemungkinan besar seorang wanita..
"Iblis penghisap darah, hari ini kamu bertemu kami sepasang naga dan harimau dari Kai Feng..!"
"Tamat lah riwayat mu..!"
ucap salah satu pemuda bergolok besar, sambil terus mendesak si rambut tiap riapan, dengan serangan babatan goloknya yang berat dan tajam itu.
"Tutup mulut mu yang besar itu,..!"
__ADS_1
"Buktikan dulu kemampuan mu, cecunguk kecil. jangan cuma bisa bicara besar..."
ucap si rambut riap riapan yang dipanggil iblis penghisap darah itu sambil bergerak gesit, mengelilingi kedua orang itu.