
"Terimakasih,.."
jawab kedua gadis itu sambil tersenyum dan menerima Ping Tang Hu Lu dari Nan Thian.
Nan Thian mengangguk pelan, dan berkata,
"Sama sama tak perlu sungkan.."
"Perjalanan mungkin besok pagi baru tiba di dermaga Hu Yang.."
"Permisi.."
ucap Nan Thian, lalu dia membalikkan badannya dan langsung masuk kedalam kamar nya.
Kedua gadis itu hanya bisa saling pandang, mereka sebenarnya ingin ngobrol banyak bersama Nan Thian.
Selama perjalanan darat mereka tidak punya kesempatan, sebenarnya saat inilah waktu yang tepat.
Mereka bisa berkumpul dan mengobrol bersama.
Untuk saling memahami, secara lebih dekat.
Tapi sebagai wanita, tentu mereka tidak bebas untuk mengungkapkan perasaan mereka.
Dengan agak kecewa kedua gadis itu terpaksa kembali kekamar mereka, tanpa berkata apapun.
Nan Thian sendiri setelah masuk kedalam kamar nya, dia duduk di samping jendela, menatap kearah sungai dan bergumam,
"Maafkan sikap ku Yen er dan kamu Lian Er."
"Aku bukan tidak paham perasaan kalian, hanya aku sudah tidak ingin memulai dan mengulanginya lagi.."
"Cukup dia saja.."
gumam Nan Thian sambil menghela nafas panjang.
Tak lama kemudian Nan Thian terlihat mulai duduk berlatih seorang diri.
Di tempat lain di sebuah ruangan yang luas terlihat tiga pria berusia antara 60 an sampai 70.
Mereka bertiga duduk dengan wajah membelai menatap kearah Siangkoan Li , yang pulang memberikan laporan dalam keadaan menyedihkan.
Mereka bertiga duduk diam, tidak berkata apa-apa hanya mendengarkan saja.
Mereka bertiga adalah Huang Ho San Gui ( Tiga Hantu dari Sungai Kuning ).
Orang ketiga berwajah brewok kasar dengan sepasang mata besar.
Dia adalah Ta Li Gui ( Hantu bertenaga besar.)
Kelebihannya adalah dia memilki tenaga luar yang sangat dahsyat.
Hingga dengan mudah dia akan mencabut pohon besar, ataupun merobohkan sebuah tembok dengan tinju nya yang kuat.
Orang kedua berambut abu abu, berusia sekitar 65 tahun, dengan tubuh dan wajah Tirus.
Dia adalah Wu Ying Gui ( Hantu tanpa bayangan )
Kelebihannya adalah dua memilki ilmu ringan tubuh yang sangat tinggi.
Hingga saat dia bergerak akan sulit bagi orang untuk melihat bayangan tubuh nya.
Orang pertama dari Huang Ho San Gui adalah seorang kakek berambut putih dan beralis putih, usianya mungkin sudah diatas 70 tahun.
__ADS_1
Dia di dunia persilatan terkenal dengan nama Sen Gui ( Hantu sakti )
Dia pantas menggunakan nama ini, karena kesaktiannya sangat tinggi hingga sulit di ukur.
Dia biasanya jarang tampil, tapi setiap tampil pasti ada orang terkenal yang menjadi korban keganasan nya.
5 pendekar Thian San gagal dan gugur, dia lah yang menjadi aktor utama nya.
Karena masalah ini si Topeng Besi Yang Jian sempat turun gunung mencarinya.
Tapi Sen Gui sangat cerdik dan Licin, dia menyadari dirinya bukan lawan si Topeng Besi.
Jadi dia bersembunyi, brain kucing mencari tikus, dengan si Topeng Besi.
Setengah tahun si Topeng Besi mencarinya tanpa hasil, akhirnya si Topeng Besi memutuskan kembali lagi ke Thian San.
Setelah memastikan si topeng besi sudah kembali ke Thian San, Sen Gui baru kembali keluar, membalas dendam ke orang orang, yang berani membocorkan tempat tinggalnya ke Si Topeng Besi.
Sen Gui memilki keahlian lengkap, tapi yang paling menonjol adalah tenaga dalam nya.
Setelah Siangkoan Li menyelesaikan ceritanya.
Orang ketiga Ta Li Kui Ying Xiong, yang tidak sabaran langsung berkata,
"Di mana posisi mereka sekarang..?"
"Mereka bergerak menuju ke Hu Yang ketua ketiga.."
ucap Siangkoan Li cepat.
"Hu Yang,.. bagus, aku akan menuntaskannya di sana.."
"Ayo kita berangkat.."
"Tahan adik ketiga..!"
ucap Sen Gui, Lei Sen.
Ying Xiong terpaksa menghentikan langkah nya, menatap kearah kakaknya dengan alis berkerut.
Dia menatap kearah kakak nya memohon penjelasan.
Lei Sen berkata pelan,
"Kamu tak pernah berubah adik ketiga, kamu sudah lupa dengan kejadian setengah tahun yang lalu ya..?"
"Kejadian sudah berlalu, buat apa di ungkit lagi sih kak..?"
ucap Ying Xiong kurang puas.
Lei Sen menggeleng gelengkan kepalanya dan berkata,
"Kamu ini, aku bukan ingin mengungkitnya, aku hanya ingin kamu belajar dari pil pahit itu.."
"Agar tidak kembali terulang dan berakibat fatal.."
"Lebih baik kita amati dulu kekuatan lawan, dan mencari tahu lebih banyak informasi, baru bergerak.."
"Jangan langsung asal maju melabrak, nanti yang rugi adalah kita sendiri ."
ucap Lei Sen tenang.
"Kakak pertama benar,..Adik ketiga kamu bersabarlah sedikit, cepat lambat kita tetap akan bertemu dengannya.."
__ADS_1
"Jadi buat apa tergesa-gesa.."
ucap Wu Ying Gui, Yun Sen.
Ying Xiong mengangguk lalu kembali ketempat duduknya, tidak banyak bantah lagi.
Lei Sen menoleh kearah Siangkoan Li dan berkata,
"Li Tang Cu tolong kamu awasi gerak geriknya, kumpulkan informasi sebanyak banyaknya.."
"Terus laporkan ke kami.."
"Siap ketua.. segera di laksanakan.."
ucap Siangkoan Li sambil memberi hormat.
"Ada pesan lain ketua..? bila tidak bawahan mohon pamit permisi dulu.."
ucap Siangkoan Li penuh hormat.
Lei Sen memberi kode mempersilahkan Siangkoan Li untuk pergi.
Setelah Siangkoan Li pergi, dia baru berkata,
"Dia mampu membunuh 3 Tang Cu kita dalam satu kali tebas itu sungguh tidak mudah.."
"Aku curiga dia adalah pemuda yang sama, yang pernah di hadapi saudara Tan Kim Lan, si Raja Golok Putih, Si Lao Mo dan Pei Kui Wang beberapa waktu yang lalu."
ucap Lei Sen sambil mengerutkan alisnya.
"Kita sebaiknya awasi dan amati saja dulu, adik kedua kamu pergilah ke Luo Yang, laporkan hal ini ke pangeran ke delapan."
"Agar masalah ini bisa di tangani dengan baik dan tidak berlarut larut."
ucap Lei Sen memberi perintah ke Wu Ying Gui, Yun Sen.
Dia berpikir tugas ini paling cocok di emban oleh Yun Sen.
Selain memilki ilmu ringan tubuh tinggi sehingga bisa pulang pergi lebih cepat.
Orangnya juga lebih teliti dan sabar, kerjanya rapi dan bersih.
"Siap kak,..kalau begitu aku berangkat sekarang saja.."
ucap Yun Sen sambil memberi hormat.
Lei Sen mengangguk dan berkata,
"Pergilah hati hati di jalan..'.jaga diri.."
Di tempat lain Nan Thian, di dalam kamarnya setelah bolak balik tidak bisa tidur.
Dia takut kegelisahannya karena susah tidur, nanti malah menganggu tidur paman kecil nya.
Nan Thian dengan langkah pelan pelan dan hati hati, melompat keluar dari jendela kamar.
Nan Thian mendarat ringan di atas geladak kapal, dia lalu berjalan menuju bagian paling belakang kapal yang sepi.
Dengan sebotol arak di tangan, Nan Thian mencari tempat duduk di sana.
Sambil duduk bersantai menikmati sinar bulan dan hembusan angin malam, yang dingin menusuk tulang, Nan Thian mulai minum arak menghangatkan badan nya.
Nan Thian menangkap ada langkah kaki halus mendekatinya dar arah nelakang.
__ADS_1