PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENEMUI IBU SURI


__ADS_3

Berpikir sampai di situ, Fei Yang pun bergerak meninggalkan tempat itu.


Kembali terbang menuju istana belakang, kini keadaan istana belakang menjadi sepi.


Karena hampir seluruh pasukan penjaga di sana, saat mendengar keributan di istana bagian tengah.


Apalagi saat melihat langit yang tadi nya gelap gulita, kita menjadi bersinar terang di wilayah istana bagian tengah


Para komandan pasukan langsung memimpin pasukan lapis luar meninggalkan tempat tersebut, untuk memberikan pertolongan ke istana bagian tengah.


Kini di empat penjuru istana belakang, hanya di sisakan masing masing 4 orang pengawal, yang bertugas menjaga pintu gerbang tersebut.


Fei Yang meremas hancur dua buah potongan genteng lalu menyambitkan nya, ke dua arah berbeda.


Mendengar ada suara pergerakan di dua tempat, keempat pengawal itu langsung membagi diri menjadi dua kelompok untuk melakukan pemeriksaan.


Di saat mereka sedang sibuk melakukan pemeriksaan ke asal suara, dengan kecepatan tinggi, Fei Yang sudah menyelinap masuk kedalam istana bagian belakang.


Tapi setelah masuk kedalam istana bagian belakang yang begitu luas dan banyak kamar, di mana biasanya para selir selir muda raja, yang terbuang menempati tempat itu.


Fei Yang sedikit bingung menentukan arah geraknya.


Tiba-tiba pendengaran Fei Yang yang tajam mendengar langkah kaki beberapa orang, sedang berjalan menghampiri tempat nya.


Tanpa pikir panjang, Fei Yang langsung melayang naik dan bersembunyi di atas tiang tiang langit langit istana.


Begitu Fei Yang bersembunyi diatas, terlihatlah 4 orang pasukan pengawal istana bagian dalam sedang bergerak melakukan patroli.


Melihat mereka Fei Yang pun tersenyum, sekarang dia tidak bingung lagi.


Tempat yang digunakan untuk mengurung kedua orang tua nya, tentu pasti akan di jaga ketat oleh para pengawal.


Dia tinggal mencari kamar yang di jaga dengan ketat oleh banyak pengawal, di situlah pasti kedua orang tuanya di tahan.


Berpikir sampai kesitu, saat pasukan patroli berlalu, Fei Yang pun melayang turun dari atas atap istana dengan ringan kebawah, lalu dengan gesit Fei Yang bergerak berkeliling, memeriksa seluruh kamar yang ada di dalam istana tersebut.


Setelah berkeliling Fei Yang menemukan ada dua tempat terpisah, yang di jaga dengan ketat.


Tanpa banyak berpikir lagi Fei Yang langsung melepaskan totokan jarak jauh tanpa wujud kearah para pasukan penjaga.


Setelah menotok puluhan penjaga itu, Fei Yang dengan santai berjalan melewati depan mereka.


Puluhan prajurit itu tidak bisa bergerak dan bersuara, mereka hanya berdiri diam seperti patung.

__ADS_1


Yang membuat mereka berbeda dengan patung adalah sepasang mata mereka masih bisa melirik kesana kemari.


Fei Yang dengan gerakan ringan menebas rantai dan gembok yang di gunakan untuk mengunci kamar tersebut.


Hingga gembok dan rantai besi langsung terbelah dua, lalu dengan santai Fei Yang mendorong pintu didepan nya, sehingga terbuka lebar.


Fei Yang dengan langkah ringan memasuki sebuah kamar yang mewah dan luas.


Di dalam ruangan yang sangat luas itu, hanya terlihat seorang nenek tua yang berpakaian mewah, dengan berbagai perhiasan emas mutiara menghiasi sanggul di rambutnya, yang sudah putih semua.


Begitu melihat nenek tua itu, Fei Yang langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan nya, dengan airmata bercucuran Fei Yang membuka topeng besi penutup wajahnya dan memanggilnya dengan suara tertahan.


"Nenek,.. ! Nenek,..! ini aku cucu mu yang nakal dan tidak berbakti Fei Yang,.."


"Ini Fei Yang nek,..!"


ucap Fei Yang sambil berjalan dengan lututnya menghampiri nenek tua itu.


Kehadiran Fei Yang, yang tiba-tiba sangatlah mengejutkan Nenek tersebut.


Setelah mendengar ucapan Fei Yang nenek itu semakin kaget.


Bibirnya bergetar getar tapi tidak terdengar ada suara yang keluar.


Hanya airmatanya yang mengalir deras membasahi wajahnya yang sudah banyak di hiasi keriput.


"Fei,..Fei Yang, kamu,.. kamu masih hidup dan sudah kembali,.. syukurlah hu,..hu,..hu,..!"


"Akhirnya doa nenek terkabulkan juga ."


"Oh cucu ku,..ayo,.. ayo berdirilah biar nenek lihat dengan lebih jelas.."


ucap Nenek Fei Yang dengan airmata bercucuran.


Nenek Fei Yang membantu Fei Yang untuk berdiri di hadapannya.


Lalu Nenek itu memeluk Fei Yang dengan erat dan menangis sedih..


Fei Yang balas memeluk neneknya dengan penuh rasa haru, Fei Yang teringat sewaktu dia masih kecil, neneknya inilah yang paling menyayangi dirinya.


Apapun kesalahan dan kenakalan yang dia lakukan, neneknya inilah yang selalu maju melindungi dan membelanya.


Neneknya inilah yang paling menyayangi dan memanjakan dirinya, melebihi cucu cucu nya yang lain.

__ADS_1


Karena menurut neneknya sepasang matanya, selalu mengingatkan neneknya akan kakeknya, yang telah pergi duluan gugur di Medan perang, saat berhadapan dengan musuh dari kerajaan Chi Dan (Liao Dong ).


Neneknya inilah yang paling membenci bangsa Chi Dan (Liao Dong), saat pamannya Li Yuan Hao, memilih menikah dengan putri kerajaan Liao.


Neneknya inilah yang menentang keras dan sangat marah dengan pamannya.


Baru setelah Putri Liao itu melahirkan cucu untuk nya, nenek nya ini sedikit melunak sikapnya.


Dan bersedia menerima kehadiran Putri Liao itu masuk kedalam keluarganya.


Fei Yang membiarkan neneknya melepaskan seluruh kesedihannya, lewat tangisan sambil memeluk dirinya.


Setelah tangis neneknya mereda, Fei Yang baru berkata,


"Nenek hari ini aku datang kemari adalah khusus untuk membebaskan ayah ibu dan nenek keluar dari tempat ini.."


"Nenek mau kan ikut dengan Fei Yang meninggalkan tempat ini..?"


tanya Fei Yang pelan.


Nenek itu melepaskan pelukannya, lalu membelai wajah Fei Yang dan berkata dengan suara sedih..


"Tidak Fei Yang,.. nenek sudah tua, kamu membawa nenek pergi dari sini, itu hanya akan menjadi beban bagi mu.."


"Asal bisa melihat mu, meski untuk terakhir kali sekalipun nenek sudah puas.."


"Bila harus pergi menyusul kakek mu di bawah sana, nenek pun tiada penyesalan lagi.."


Mendengar ucapan neneknya Fei Yang langsung menjatuhkan diri nya berlutut dan berkata,


"Tidak nek, Fei Yang tidak akan pernah membiarkan nenek hidup menderita di tempat ini.."


"Bila nenek tidak bersedia ikut pergi dengan Fei Yang, maka Fei Yang hanya punya satu pilihan.."


"Fei Yang akan membunuh paman Li Yuan Hao beserta seluruh keluarganya saat ini juga.."


"Siapapun yang berani menghalanginya, akan Fei Yang musnahkan seperti ini."


ucap Fei Yang sambil melepaskan pukulan api semesta nya yang langsung menyambar sebuah patung hiasan, yang terbuat dari logam bersepuh emas, patung tersebut langsung hancur meleleh menjadi segunduk logam yang tak berbentuk lagi.


Nenek Fei Yang melihat dengan sepasang mata terbelalak tak percaya.


"Nenek percayalah, nenek bukan beban bagi Fei Yang.."

__ADS_1


"Demi kebaikan bersama sebaiknya ikutlah dengan Fei Yang, Fei Yang punya kemampuan untuk itu.."


"Nenek tidak perlu khawatir.."


__ADS_2