
Nan Thian mengangguk membenarkan, dia gak heran bila pelayan itu kaget.
Karena kakek paman gurunya dan istrinya memang bukan manusia biasa.
Lagipula mereka memilki burung tunggangan raksasa, jadi tidak ada yang perlu di buat heran, bila mereka bisa tinggal menyepi di puncak Yu Ni Feng.
Pelayan itu menunjuk ke puncak sebelah timur dan berkata,
"Tuan di sebelah timur sana ada 3 puncak gunung betul..?"
"Anda melihatnya..?"
tanya pelayan itu sambil menatap Nan Thian untuk memastikan Nan Thian mengerti arah yang di tunjuk nya.
Nan Thian mengangguk dan berkata,
"Ya paman aku melihatnya.."
Pelayan itu kemudian melanjutkan berkata,
"Yu Ni Feng terletak di tengah tengah dua puncak di depan nya itu."
"Bila di lihat dari arah timur, posisi Yu Ni Feng tepat menghadap kearah barat."
"Dia adalah puncak ujung segitiga yang menghadap kesebelah timur.."
"Untuk mendaki kearah ketiga puncak itu, kalian harus melewati hutan Cang Lung Lin ( Hutan Sarang Naga )."
"Hutan itu sangat misterius, jarang sekali ada pemburu di daerah sekitar sini, yang berani masuk kesana.."
"Dulu ada sekelompok pendekar mencoba masuk kesana, tapi dari rombongan berjumlah hampir 20 orang, yang kembali hanya satu.."
"Itupun dalam keadaan terluka parah, dia kehilangan sebelah tangan dan mata nya."
"Menurut cerita nya, dia dan rombongannya di serang oleh seekor Naga purba yang punya sayap dan bisa terbang.."
"Begitulah ceritanya tuan muda, aku sarankan batalkan sajalah niat tuan kesana."
"Tuan tidak mungkin bisa mencapai lokasi puncak itu.."
ucap pelayan itu mengingatkan dengan serius.
Nan Thian mengangguk dan berkata,
"Terimakasih banyak paman, tapi selain melewati Cang Lung Lin apa tidak ada jalan lain nya.?"
"Aku lihat puncak Hua San dan puncak Yu Ni Feng sepertinya tidak terlalu jauh.
Ucap Nan Thian mengungkapkan jalan pemikirannya.
Pelayan itu tersenyum dan berkata,
"Bila di lihat dari sini ya seperti itu, tapi tuan jangan lupa, dari satu puncak ke puncak lain."
"Puncak puncak itu di pisahkan oleh jurang dan lembah yang luas dengan dasar yang dalamnya sulit di ukur.."
Nan Thian mengangguk paham dan berkata,
"Terimakasih banyak ya paman atas informasinya.."
"Sama sama tuan muda, ada hal lain tuan muda..?"
tanya pelayan setengah tua itu dengan sabar
__ADS_1
"Ohh tidak, sejauh ini hanya itu saja, terimakasih banyak.."
ucap Nan Thian sambil memasukkan satu Tael perak kedalam telapak tangan pelayan setengah tua itu.
Te.. terimakasih banyak tuan,..bila tidak ada hal lain, saya akan permisi, pergi meminta koki segera menyiapkan masakan andalan restoran kami.."
ucap Pelayan setengah tua itu sambil memberi hormat dan mengundurkan diri dari sana.
Nan Thian adalah tamunya yang royal sopan dan baik, sangat enak di ajak bicara.
Tentu saja pelayan itu sangat gembira, mendapatkan pelanggan seperti itu.
Setelah pelayan itu pergi, Nan Thian sambil menggendong Siau Hei di dalam pelukannya.
Dia berjalan menuju tepi jendela menatap kearah sebelah timur, dan berkata,
"Siau Hei kita akan segera melakukan pertukangan di alam bebas, bagaimana kamu tertarik mencobanya.?"
Siau Hei menyalak pelan, seolah olah menjawab pertanyaan tuan nya.
Nan Thian sendiri sambil membelai kepala Siau Hei, dia terus menatap kearah puncak Yu Ni Feng dengan penuh penasaran.
"Kakak kelihatannya kakek paman guru mu yang bernama Fei Yang itu sepertinya adalah tokoh yang sangat menarik.."
"Mungkin dia tahu dan pernah mendengar tentang saudara ku si hijau itu.."
ucap Kim Kim di dalam pikiran Nan Thian.
Nan Thian mengangguk pelan dan berkata,
"Mungkin saja, karena menurut cerita ayah ibu ku, kemampuan Kakek paman guru ku itu, sudah berada jauh melampaui tingkatan dewa..'
"Yang jelas mereka selain bisa terbang bebas di udara, mereka juga punya tunggangan, yang bisa membawa mereka terbang kemanapun mereka mau.."
"Kakak tampan masakan sudah datang, ayo kita makan..!"
ucap Zi Zi Sambil melambaikan tangannya kearah Nan Thian.
Nan Thian menoleh dan mengangguk, lalu dia berjalan menghampiri mereka.
Nan Thian melepaskan Siau Hei untuk duduk di bawah sana.
Menikmati hidangan khusus untuk dirinya.
Berupa tulang tulang iga sapi dan Ba Bi yang di masak tanpa perasa.
Rombongan itu makan dengan gembira.
Selesai makan, mereka pun kembali ke kamar penginapan mereka masing-masing.
"Kita beristirahat dengan puas hari ini."
"Besok pagi kita akan memulai perjalanan berat menuju Cang Lung Lin."
"Di mana kemungkinan, kita harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.."
ucap Nan Thian berpesan sebelum mereka berpisah menjadi dua kelompok dan masuk kedalam kamar mereka masing-masing.
"Bukan masalah kak kami ikut saja.."
ucap Siu Lian sambil tersenyum lembut.
Keesokan paginya, saat mereka semua sudah dalam keadaan segar.
__ADS_1
Mereka selesai sarapan pagi, langsung bergerak melakukan perjalanan menuju Cang Lung Lin.
Begitu memasuki Cang Lung Lin, Siau Hei langsung berubah menjadi bentuk aslinya.
Seekor serigala sebesar kerbau dewasa, dia berjalan paling depan, sebagai pembuka jalan..
Dengan Siau Hei bertindak sebagai penunjuk jalan bagi mereka.
Hampir tidak ada satupun hewan liar di dalam hutan berani keluar menganggu perjalanan mereka memasuki hutan Cang Lung Lin.
Bahkan harimau sekalipun, lebih memilih bersembunyi, tidak yakin mampu menghadapi Siau Hei.
Semakin memasuki ke bagian tengah Cang Lung Lin, suasana menjadi semakin remang remang.
"Kakak apa kamu merasa, aku merasa ada seekor mahluk buas sedang mengintai kita..?"
ucap Kim Kim di dalam. pikiran Nan Thian.
Nan Thian mengangguk dan berkata dalam hati,
"Kamu benar,.. aku juga mulai merasakan nya, lihat Siau Hei seluruh bulu di tengkuknya pada berdiri ."
"Sepertinya firasat kita tidak meleset.."
ucap Nan Thian membenarkan lewat pikirannya, berbicara dengan Kim Kim.
"Rooaaarrrrrrr....!"
"Rooaaarrrrrrr....!"
"Rooaaarrrrrrr....!"
"Wussss....!"
Wussss....!"
Wussss....!"
"Boooom...!"
"Boooom...!"
"Boooom...!"
Dari arah sebelah kanan depan, terlihat seekor mahluk tinggi besar, sedang bergerak keluar dari dalam hutan.
Langkah dua telapak kakinya, yang lebih sebesar dari tubuh manusia.
Membuat seluruh area tempat Nan Thian dan rombongannya berdiri bergetar hebat.
Seperti sedang di Landa gempa, selain Nan Thian Siau Hei dan Sun Er yang bersikap tenang.
Siau Yen Siu Lian dan Zi Zi sedikit pucat menatap mahluk mengerikan yang keluar dari dalam hutan.
Mahluk itu sambil mengeram keras, dia juga mengepak ngepakkan sepasang sayapnya yang besar dan lebar.
Angin kencang menerpa sekitarnya hingga banyak pohon besar bertumbangan menimbulkan suara hiruk pikuk.
Sepasang mata mahluk itu yang seperti bola api terus menatap tajam kearah Nan Thian dan rombongannya.
Mahluk itu seperti bisa mendeteksi, Nan Thian lah yang akan menjadi lawan terberatnya, dia terus menatap kearah Nan Thian tanpa berkedip.
__ADS_1