PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KERIBUTAN DI GERBANG KOTA WU KUAN


__ADS_3

"Blaarrr...!"


Naga Emas di depan kakek rambut hijau hancur berantakan tersambar bola petir yang di lepaskan oleh kakek rambut hijau.


Tapi pecahan kepingan Naga Emas tidak langsung musnah, melainkan menyatu dengan Naga Emas yang datang menyusul.


Sehingga Naga Emas susulan menjadi semakin besar dan kemilau cahaya tubuhnya.


Bola petir yang masih terus menerjang di telannya, kemudian di muntahkan kembali kearah kakek rambut hijau.


Membentuk Bola petir yang di selimuti oleh api merah, menerjang kearah kakek Rambut Hijau.


"Blaaaarrr,..!"


Kakek rambut hijau menyambut bola api merah itu dengan dorongan telapak tangan udara kosong yang di selimuti kilatan petir..


Benturan dahsyat terjadi kakek rambut hijau terpental mundur oleh efek ledakan.


Naga Emas Raksasa meliuk menghindar, sambil meneruskan menerjang menyusul kakek rambut hijau.


Mementangkan moncongnya, siap menelan kakek rambut hijau.


"Blaarrr...!"


Benturan yang jauh lebih dahsyat kembali terjadi, Naga Emas raksasa tertahan meraung marah.


Sedangkan kakek rambut hijau yang terpental jauh memanfaatkan tenaga dorongan, melesat menghilang dari tempat itu.


Di tempat lain kakek rambut putih yang menghadap serangan Naga Emas dengan bola esnya.


Berhasil membekukan Naga Emas yang menyerangnya.


Lalu meledakkan nya, Dia kemudian meluncur cepat mengejar kearah Nan Thian, dengan pukulan Tapaknya, yang menghasilkan energi tapak putih transparan.


Melihat hal ini, Kim Kim segera bergerak menyambutnya dengan putaran pedang Naga Emas.


Seekor Naga Emas lain muncul menghadang menyemburkan pusaran api.


Menembus Tapak putih itu, menghancurkan nya, lalu terus meluncur kearah kakek Rambut Putin itu.


"Blaaaarrr...!"


Terjadi ledakan dahsyat saat Tapak kakek itu bertemu dengan Naga Emas yang di lepaskan oleh Kim Kim.


Naga Emas Kim Kim kembali bisa di hancurkan.


Tapi Kakek rambut putih juga terpental mundur kebelakang.


Naga Emas raksasa yang kehilangan sasaran kakek rambut hijau yang menjadi lawan nya.


Kini berbelok arah mengikuti arahan telapak tangan Kim Kim, menyusul untuk menyambut tubuh kakek rambut putih yang sedang terpental.


Sekali lagi kakek rambut putih melepaskan pukulan tapak udara kosong berhawa dingin untuk membekukan Naga Emas.


Naga Emas Raksasa hanya membeku sebentar, sebelum dia menggeliat, merontokkan lapisan es yang menyelimuti tubuhnya.


Lalu dia menggunakan ekornya, melakukan gerakan mengibas kearah kakek Rambut putih.

__ADS_1


"Dessss..!"


Tubuh kakek itu terpental kebelakang, tapi memanfaat kan tenaga dorongan itu.


Kakek itupun melarikan diri menyusul rekannya si rambut hijau.


Naga Emas meraung marah menyemburkan bola apinya menembak kearah hutan lebat di mana kedua kakek itu kabur.


Hutan langsung terbakar poranda hangus terbakar oleh bola api yang melibas apapun yang menghadang jalan nya.


Kim Kim kurang puas, dua masih ingin melesat melakukan pengejaran, tidak ingin membiarkan mangsanya terlepas begitu saja.


"Kim Kim kembali..!"


"Jangan di kejar, aku harus melindungi mereka yang di kereta..!"


Bentak Nan Thian mengingatkan.


"Ya kakak,...!"


keluh Kim Kim kecewa.


Tapi dia tetap mengikuti kemauan Nan Thian.


Kim Kim menarik kembali energi nya.


Naga Emas bergerak kembali kedalam tubuh Nan Thian, menyatu kembali dengan Kim Kim, yang kini dengan wajah cemberut, melayang layang di atas lautan Dan Tian Nan Thian.


"Sabarlah akan tiba waktunya, sekarang bukan waktu yang tepat.."


"Aku janji bila mereka muncul lagi aku pasti akan berikan mereka pada mu.."


Kim Kim tidak menjawab dengan wajah kesal, dia terjun menyelam ke dasar lautan.


Nan Thian selain menghela nafas panjang, tidak ada yang bisa dia lakukan.


Dia juga ingin menghabisi kedua kakek itu, tapi dia masih punya tanggung jawab melindungi kereta dan isinya.


Setelah Kim Kim menghilang, langit pun kembali normal.


Tubuh Nan Thian pun kembali keasal, dia kini hanya merasa lelah, ngantuk dan lapar.


Dengan langkah lesu, Nan Thian kembali ke kereta yang parkir cukup jauh darinya.


"Kakak bagaimana keadaan mu,..?"


tanya Sun er begitu melihat Nan Thian kembali .


Nan Thian tersenyum dan berkata,


"Aku tidak apa-apa ? hanya sedikit mengantuk dan lapar."


Tiba-tiba tirai terbuka, Siau Yen menawarkan ransum kering dan air minum ke Nan Thian.


"Kakak Nan makanlah dulu, seadanya.."


"Bila kakak ngantuk tidurlah di dalam, biar aku di depan membantu Sun er mengurus kereta.."

__ADS_1


"Terimakasih Nona Yen, itu tak perlu aku bisa duduk beristirahat di depan sini."


"Paman kecil sudah cukup mengendarainya.."


ucap Nan Thian sambil menerima bungkusan makanan dari Siau Yen.


Tanpa sengaja jari mereka berdua bersentuhan, Siau Yen langsung merah padam wajahnya.


Sambil tersenyum malu, dia segara masuk kembali kedalam kereta.


Nan Thian hanya bisa menghela nafas menyesal atas sikapnya yang kurang hati hati tadi.


Siu Lian tidak bisa keluar, melihat keadaan Nan Thian, karena dia sedang memangku Zi Zi yang terlelap di dalam pangkuannya.


Mereka berdua terpaksa menotok tidur Zi Zi, yang sibuk ingin pergi melihat keadaan Nan Thian, yang sedang sibuk berhadapan dengan penghadang perjalanan mereka.


Demi keamanan nya, mereka berdua terpaksa membuatnya tidur.


Lalu diam menanti di dalam kereta dengan perasaan cemas.


Mereka mengamati pertempuran lewat jendela kereta.


Melihat kemampuan Nan Thian dan para penjahat yang menghadang nya.


Mereka berdua semakin kagum dan sadar bahwa selisih kemampuan mereka dan Nan Thian bagaikan bumi dan langit.


Mereka tidak mungkin bisa pergi membantu nya.


"Paman kecil jalankan saja kereta nya, kita teruskan perjalanan kita.."


ucap Nan Thian sambil makan dan duduk santai bersandaran di tiang pintu kereta.


Sun Er mengangguk, dia semakin mahir mengendalikan kereta, karena sering berlatih di bawah pengawasan Nan Thian.


Sedangkan Siau Hei terlihat berbaring malas di sebelah kakinya, sambil mengibas ngibaskan ekornya.


Nan Thian yang kelelahan, perut kenyang, terkena hembusan angin sepoi sepoi akhirnya tertidur.


Saat bangun.lagi matahari sudah tenggelam, mereka kini sedang melewati gerbang kota Wu Kuan.


Di sana terlihat antrian panjang, karena ada pemeriksaan yang sedang di lakukan oleh pasukan jaga Mongolia, yang menguasai wilayah Utara dan barat daratan tengah.


Melihat sikap kasar mereka saat melakukan pemeriksaan terhadap rakyat jelata Han.


Nan Thian hanya bisa menghela nafas sedih.


Dia sedikit teringat kejadian di kaki gunung Qing Hai, di mana dia di siksa oleh para penindas ini.


Bila bukan karena Siau Semei nya dan Hung Ping Chi muncul.


Mungkin saat ini, dia sudah tidak bisa berada di tempat ini.


Tiba-tiba antrian terhenti, Nan Thian melihat ada keributan di depan sana.


Sekelompok tentara Mongolia, sedang mengepung seorang gadis cantik.


Gadis itu mengenakan pakaian merah, dan membawa sebatang pedang dengan sarung merah ditangan.

__ADS_1


Keributan memuncak, hingga sekelompok pasukan Mongolia, berjumlah kurang lebih 20 orang, di bawah pimpinan seorang perwira berwajah brewokan.


Mereka mencabut senjata mengepung wanita cantik itu di tengah.


__ADS_2