
Fei Yang yang unggul dalam pengalaman bertarung, di tambah dengan kemampuan mengenali pergerakan lawan.
Membuat Nan Thian tidak berkutik.
Meski secara tenaga dalam, saat ini Nan Thian sedikit mengungguli Fei Yang.
Tapi dia tetap tidak mampu mengungguli Fei Yang, Fei Yang selalu mampu membuatnya.
Terlempar, terbanting, bahkan beberapa kali sebelum serangannya mencapai sasaran.
Dia sudah terpukul mundur oleh Fei Yang.
Tapi Nan Thian terus berkembang, dia selalu memperbaiki setiap kesalahannya.
Sehingga semakin lama, Fei Yang perlahan lahan mulai kesulitan menemukan titik lemah Nan Thian, bila Nan Thian bergerak maju menyerang nya.
Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, tanpa terasa Nan Thian sudah menghabiskan waktu hampir 10 tahun di tempat terpencil dan misterius ini.
Fei Yang dan Xue Lian tidak banyak perubahan, hanya kini si kembar Fei Yung dan Fei Lung kini sudah berumur 10 tahun.
Sepasang kembar tersebut tumbuh menjadi anak yang cerdas dan kuat seperti ayahnya.
Meski mereka baru berusia 10 tahun, tapi bila berhadapan dengan tokoh tokoh seperti 5 ketua partai besar di Hua San Pai tempo hari.
Jangan harap kelima orang itu, mereka mampu mengalahkan salah satu dari kedua bocah tersebut.
Kedua bocah ini benar benar mewarisi kecerdasan dan bakat ilmu silat yang sangat baik dari ayah ibunya.
Dengan mewarisi hampir seluruh kemampuan kedua orang tuanya, kedua bocah ini tumbuh menjadi bocah ajaib pilih tanding.
Bila mereka berdua bergabung memainkan ilmu pedang berpasangan Lima elemen, bahkan Nan Thian sekalipun akan kesulitan menghadapi mereka.
Kedua bocah ini hanya kalah di tenaga dalam, kecepatan, latihan dan pengalaman bertarung saja.
Tentu saja untuk bisa memiliki tenaga dalam seperti Fei Yang, mereka butuh keajaiban dan keberuntungan seperti yang pernah di alami oleh Fei Yang.
Bila tidak, mereka tetap akan membutuhkan waktu proses yang cukup lama, untuk bisa mencapai kemampuan seperti Fei Yang, maupun Nan Thian.
Meskipun 361 titik Meridian di dalam tubuh kedua bocah itu, sudah di bantu buka oleh Nan Thian, lewat petunjuk Kim Kim dan Fei Yang.
Tapi tetap saja, semua butuh waktu dan proses yang tidak bisa didapatkan dengan cara instan.
Nan Thian sendiri dalam kurun waktu sepuluh tahun, dia sudah berhasil mematangkan semua ilmu bawaannya.
Juga berhasil menuntaskan seluruh ilmu yang di ajarkan oleh Fei Yang, kecuali ilmu rahasia leluhur Xue Lian tentunya.
Meski untuk mencapai titik kematangan sempurna seperti Fei Yang, Nan Thian perlu proses pertarungan nyata, dalam kondisi hidup dan mati, seperti yang pernah di alami oleh Fei Yang dulu.
Tapi kini Nan Thian sudah merupakan seorang pemuda matang, dengan kemampuan pilih tanding yang sulit di cari lawan tandingnya.
Nan Thian meski sudah mengalami perkembangan pesat, tapi dia masih tetap belum mampu untuk terbang keluar dari alam dimensi ciptaan Fei Yang ini.
Seperti ucapan Fei Yang sebelumnya, tanpa menguasai ilmu terbang bebas di udara, seperti yang di pelajari oleh Fei Yang dan Xue Lian dari kitab tanpa tanding.
__ADS_1
Nan Thian tidak akan bisa pergi dari tempat tersebut.
Di sisi lain sejalan dengan perkembangan kemampuan Nan Thian.
Kim Kim juga mengalami perubahan pesat, semakin hari, dia semakin berkembang.
Berkat buah persik dewa dan sumber mata air surgawi, yang di konsumsi oleh Nan Thian.
Kim Kim sedikit demi sedikit, dia mulai pulih kembali ke kekuatan nya sebelum terkena racun.
Pagi itu di saat Nan Thian sedang berendam di dalam telaga, sambil makan buah persik dan minum air telaga.
Tiba-tiba Kim Kim berkata,
"Kakak bila seperti ini terus, di mana kekuatan ku bisa pulih keasal.."
"Aku nanti bisa coba membantu paman tampan mu, untuk pulih kan diri.."
"Bila dia pulih, bukankah dia bisa bantu kita tinggalkan tempat ini..?"
tanya Kim Kim bersemangat.
"Aku sudah tidak sabar ingin mengunjungi pulau pelangi.."
ucap Kim Kim melanjutkan.
"Kim Kim kamu serius, gimana cara kamu ingin bantu paman ku ?"
tanya Nan Thian yang terlihat ikut bersemangat.
Sambil tersenyum lebar dia berkata,
"Tentu saja dengan cara aku keluar dari tubuh mu dan masuk kedalam tubuhnya.."
"Kapan bisa di laksanakan,..?"
tanya Nan Thian kembali.
"Enghhhmm,..!"
ucap Kim kim terlihat seperti sedang merenung, akhirnya dia pun berkata,
"Mungkin 7 hari lagi, mungkin juga kurang, bila sudah tiba saatnya, aku pasti akan memberitahu mu.."
ucap Kim Kim santai.
Nan Thian menghela nafas panjang, dan berkata,
"Sudah menunggu 10 tahun, apalah artinya 7 hari itu.."
"Aku juga sudah sangat jenuh dengan tempat ini, ingin pergi melihat keadaan dunia luar.."
"Terutama aku ingin mencari tahu nasib Zi Zi Sun er juga Siu Lian Siau Yen dan Siau Hei.."
__ADS_1
ucap Nan Thian pelan.
Kim Kim turut menghela nafas panjang dan berkata,
"Sekarang hanya bisa serahkan ke nasib dan peruntungan mereka.."
"Mau menyesal juga sudah terlambat.."
"Tahu akan jadi begini, kenapa dulu tidak waspada.."
ucap Kim Kim prihatin.
Nan Thian menghela nafas panjang dan berkata,
"Kamu benar lewat pelajaran ini, aku dan dia sudah selesai dan tuntas ."
"Tidak ada lagi yang saling berhutang, mungkin ini juga bukan merupakan hal yang jelek.."
"Setidaknya hubungan kami garisnya jadi jelas.."
ucap Nan Thian penuh tekad.
Kim Kim sambil tersenyum berkata,
"Entah mata mu yang puncak atau gimana, ku lihat Siau Semei mu itu ya biasa saja.."
"Kecuali bila seperti istri paman mu itu, mungkin lain cerita.."
Nan Thian hanya tersenyum pahit menanggapi ucapan Kim Kim.
Dia malas menanggapi betina cerewet itu, yang pandai dan hobi gosip.
Nan Thian memilih memejamkan matanya duduk bermeditasi, membayangkan dirinya sedang memainkan Ilmu pedang tanpa nama.
Merupakan puncak ilmu pedang yang sangat dahsyat, hanya bisa di mainkan dengan pikiran.
Karena daya rusaknya yang begitu besar dalam setiap pergerakan nya.
Makanya Nan Thian hanya bisa memainkan nya, di dalam alam pikirannya saja.
"Kakak Nan...! kakak Nan..!"
"Sudah jam makan siang ! ayah memanggil kakak untuk ikut pergi makan..!"
teriak sepasang kembar Fei Yung dan Fei Lung.
Tanpa terlalu berani mendekati kolam tersebut, karena mereka sudah mendapat pesan, tidak boleh meminum dan memakan buah persik yang tumbuh di sana.
Nan Thian saat mendengar suara kedua kembar, dia langsung menghentikan proses latihannya.
Keluar dari dalam kolam, mengeringkan tubuh dan rambutnya dengan pengerahan hawa api semesta.
Sehingga air yang melekat di tubuh dan rambutnya langsung kering, berubah menjadi uap tipis.
__ADS_1
Setelah berpakaian rapi, Nan Thian pun berjalan beriringan sambil merangkul bahu kedua kembar, mereka langsung kembali ke pondok tempat tinggal Fei Yang.