PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEMBALI DI GANGGU


__ADS_3

Si penjual permen langsung pucat ketakutan, saat melihat pengemis arogan yang sedang berjalan menghampirinya.


Dia buru buru menyerahkan Ping Tang Hu Lu ke Nan Thian dan berkata,


"Terimakasih tuan, cepat tinggalkan tempat ini.."


"Jangan ikut campur.."


"Aduhhhhh .!"


teriak si penjual menjerit kesakitan.


Karena secara kasar, pengemis itu sudah mencengkram tengkuk si penjual permen itu.


Menariknya ke belakang dan berkata,


"Ini akibatnya, bila berani memandang rendah kami.."


"Blukkkk..!"


"Ngekkk,..!"


"Aduh ampun tuan besar.."


"Hamba tadi tidak sengaja, maafkan hamba.."


ucap si penjual permen ketakutan sambil berusaha menahan mules di perutnya.


Tapi si pengemis arogan itu, dengan tanpa perasaan, menjambak rambut si tukang permen keatas.


Lalu dia melayangkan tangannya kearah wajah si penjual permen, yang hanya bisa memejamkan matanya, siap menerima tamparan itu.


"Tapppp.!"


Tangan si pengemis tertahan di udara, pergelangan tangannya tertahan oleh telapak tangan Nan Tidak yang mencengkram nya dengan kuat.


"Cukup..! dia sudah minta maaf."


"Lagipula salah mu juga, mengapa kaki mu selonjoran di jalan raya..menganggu orang melintas ."


tegur Nan Thian sambil mendorong si pengemis menjauh.


Satu dorongan Nan Thian, langsung membuat pengemis itu terjungkal kebelakang.


Tanpa menghiraukan pengemis itu, Nan Thian membalikkan badannya menghadap si penjual permen.


Memberinya sejumlah uang dan berkata,


"Paman jangan khawatir, urusan di sini, serahkan saja pada ku.."


"Tapi anak muda,.."


ucap si penjual permen dengan wajah khawatir.


"Tidak apa-apa pergilah,.."


ucap Nan Thian sambil memberi kode agar penjual permen itu cepat pergi.


Di tempat lain, setelah terjungkal, pengemis arogan itu langsung berkobar koar,


"Kalian semua lihat,! dia memukuli dan menindas pengemis..!"


"Ada orang menganiaya pengemis..!"


Ada orang menganiaya pengemis..!"


Ada orang menganiaya pengemis..!"


teriak pengemis itu berulang ulang, berkoar koar, mencari perhatian sekaligus memanggil bala bantuan..


Puluhan pengemis baju bersih, dengan tongkat di tangan.


Mereka langsung mengepung Nan Thian.


Dengan sikap mengancam, salah satu diantara para pengepung segera berkata,

__ADS_1


"Hei besar sekali nyali mu, berani mencari masalah dengan kami, dari Jing Yi Kai Pang..( Pengemis baju bersih )."


Nan Thian tersenyum sinis, di dalam hati dia berkata,


"Lagi lagi kelompok ini, mereka kembali berbuat onar.."


"Kelihatannya keberadaan kelompok penganggu ini cukup banyak tersebar di mana mana."


"Organisasi mereka kelihatannya tidak mudah.."


"Sehingga di mana-mana bisa ada anggota mereka, dan selalu muncul sebagai penindas. "


"Pengemis ya pengemis buat apa pake embel embel baju bersih ."


"Ini cuma menunjukkan betapa munafik nya mereka, ingin jadi pengemis tapi tidak ingin kotor."


"Apa bedanya mereka dengan kumpulan orang pemalas, yang mengandalkan jumlah ingin menindas orang lain.."


Semakin pikir Nan Thian semakin kesal, sambil tersenyum mengejek Nan Thian berkata,


"Ya benar sekali, yang paling ingin aku hajar adalah kalian, pemalasan berkedok pengemis, tapi memeras dan menindas di mana mana..!"


"Keparat,..! ayo habisi dia..!"


teriak puluhan pengemis itu sahut menyahut.


Sambil melayangkan tongkat mereka menghajar Nan Thian dari berbagai arah.


"Krakkkk,..! Krakkkk,..! Krakkkk,..!"


"Krakkkk,..! Krakkkk,..! Krakkkk,..!"


"Krakkkk,..! Krakkkk,..! Krakkkk,..!"


Tapi sebelum tongkat mereka berhasil mengenai sasaran, tongkat mereka sudah terlanjur patah berantakan, berhamburan di udara.


Nan Thian yang melihat tongkat berhamburan datang menyerangnya.


Dengan gerakan cepat, dia menggunakan sepasang tangannya, menaikan jurus pemecah karang.


Bersamaan dengan itu Nan Thian juga membalas menyerang dengan telapak tangan kosongnya.


"Plakkkk,..! Bukkk,..! Krakkkk,..!"


"Arggghh...! Arggghh...!"


"Desss,..!" Blukkk,..! Dukkk...!"


Arggghh...! Arggghh...!"


"Plakkkk,..! Bukkk,..! Krakkkk,..!"


Arggghh...! Arggghh...!"


"Desss,..!" Blukkk,..! Dukkk...!"


Arggghh...! Arggghh...!"


"Plakkkk,..! Bukkk,..! Krakkkk,..!"


Arggghh...! Arggghh...!"


Satu persatu pengepung itu, terjungkal, ada yang tulang bahu patah, lengan, kaki, hingga rusuk patah.


Mereka menjerit jerit bergulingan kesakitan.


Ada yang terkena tamparan hingga tinju bersarang di wajah dan perut mereka, hingga jatuh pingsan.


Ada juga yang terlempar terkena tendangan Nan Thian, hingga meringkuk di atas lantai tak mampu berdiri lagi.


Nan Thian menyapukan pandangannya melihat apakah masih ada sisa pengemis, yang belum mendapatkan hadiah darinya.


Dia tidak melihat ada sisa pengemis yang sanggup berdiri, sebaliknya dia malah melihat tepuk tangan dan senyum gembira.


Dari masyarakat yang berdiri menonton di sekitar tempat itu.

__ADS_1


Ini hanya menunjukkan satu hal, keberadaan pengemis itu tidak di sukai oleh masyarakat.


Keberadaan mereka cuma meresahkan tidak membawa manfaat.


Nan Thian sambil tersenyum, membalas mengangguk kearah penduduk di sekitar nya.


Lalu dia melanjutkan langkahnya memasuki sebuah restoran.


"Tuan silahkan,.."


ucap seorang pelayan menyambut Nan Thian dengan ramah.


Nan Thian mengikuti langkah pelayan itu yang mengantarkannya kesebuah meja kosong.


"Silahkan tuan,.. tuan mau pesan apa tuan..?"


"Kakak aku mau seperti yang sebelah sana 2, yang sebelah situ dua, yang itu juga dua ."


teriak Kim Kim dalam pikiran Nan Thian dengan tidak sabar.


Nan Thian sambil menggelengkan kepalanya, dia meneruskan pesanan nya Kim Kim dengan berkata,


"Aku mau ayam kukus 2 ekor, daging sapi masak cabe 2 kilo, ikan dua ekor masaknya bebas..!"


"Nasi putih 2, mie Yang Chun daging sapi satu.."


"Tolong cepat ya..!"


ucap Nan Thian menambahkan.


Pelayan itu mengangguk heran, mencatatnya lalu pergi.


Dia tidak berani banyak mulut, se heran herannya dia, itu bukan hak nya dia, untuk banyak mulut bertanya yang tidak perlu.


Jadi yang terbaik adalah diam dan jalankan tugasnya dengan baik.


pikir si pelayan sambil melangkah pergi


Wajar saja pelayan itu heran, Nan Thian tubuhnya sedang sedang saja.


Datang cuma sendirian, pesan sampai sebanyak itu apa sanggup dia menghabiskan nya.


Nan Thian sendiri sambil menunggu pesanannya, dia mulai membuka mulut, untuk makan Ping Tang Hu Lu.


Dalam sekejab mata 10 tusuk Ping Tang Hu Lu, sudah ludes tak bersisa.


Tidak cukup sampai di sana, begitu masakan pesanannya datang, Nan Thian hanya bertugas buka mulut.


Kim Kim si naga emas lah yang menghabiskan hampir semua makanan pesanan di atas meja, kecuali Mie Yang Chun.


Kim Kim tidak tertarik, dia lebih memilih berbaring sambil tiduran mengapung di atas samudra.


Khusus Mie itu, itulah jatahnya Nan Thian.


Selagi Nan Thian sedang asyik menyantap mie di hadapannya, terdengar suara teriakan dari depan restoran.


"Bocah busuk keluar lah,! aku tahu kamu bersembunyi di dalam restoran..!"


"Berani berbuat berani tanggungjawab, itu baru pria sejati..!"


"Jangan membuat ku marah, aku akan hitung sampai 3..!"


"Bila belum keluar juga, jangan salahkan aku ,! bila restoran ini ku bikin porak poranda..!"


Seorang Pria bertopi kain, berlari menghampiri Nan Thian dengan wajah ketakutan dan berkata,


"Tuan aku mohon,.. jangan mempersulit bisnis kecil kami.. kami tidak sanggup menanggung nya.."


Nan Thian tersenyum, dia menghabiskan sisa mie nya, lalu dengan tenang, dia berkata,


"Jangan khawatir aku akan pergi menemuinya.."


"Satu..!"


"Dua...!"

__ADS_1


__ADS_2