PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PINDAH RUANGAN


__ADS_3

Sambil menghela nafas sedih bercampur kecewa, Siau Tie mulai melanjutkan kembali permainan musiknya.


Mendengar musik yang mengalun lembut dari bawah sana, Nan Thian berbaring di atas Wuwungan sambil menikmati guci arak di tangannya.


Tanpa sadar Nan Thian mulai berpuisi mengimbangi irama lagu, untuk menghibur hatinya yang hampa,


"Bagaikan Kapal yang kehilangan arah, terus bergerak tanpa arah dan tujuan."


"Membiarkan takdir dan kenyataan yang kejam membawa ku bertualang."


"Seseorang yang pada akhirnya di takdir kan untuk di lupakan,.tapi mengapa justru sulit dilupakan.."


"Pada akhir nya terbelenggu dalam penyesalan mendalam."


"Saat ini hanya bisa menatap langit biru dengan mimpi kosong.."


"Andai aku bisa menembus mimpi kosong itu.."


"Huhhh..."


"Glukkk...!"


terdengar suara keluhan Nan Thian yang mulai mabuk, sambil kembali menegak arak di tangannya.


"Waktu yang telah berlalu tak mungkin kembali.."


"Cinta yang gagal bersama hingga rambut memutih, buat apa terus di kenang."


"Mengapa tidak coba di lupakan.."


"Teori itu aku mengerti, tapi cara menghadapinya yang aku belum mengerti.."


"Hekkk,..! Hekkk,..!"


terdengar suara mabuk Nan Thian yang mulai cegukan.


"Sepanjang hidup tidak mengerti untuk siapa bertahan.."


"Hingga tersisa idiot berambut putih yang terus menanti mimpi kosong."


"Orang tua idiot yang rela mendengarkan suara angin dingin, sambil meneteskan air mata.."


"Ribuan puisi sekalipun akan sulit menghapus luka di hati.."


Ucap Nan Thian pelan sambil menghela nafas panjang.


Di bawah sana Xiao Tie sambil memainkan kecapi kuno nya, dia terus menatap kearah asal suara keluh kesah Nan Thian yang mirip puisi, mengimbangi permainan musiknya.


Tepat dia menyelesaikan petikan terakhir kecapinya, di mana keluh kesah Nan Thian juga berhenti.


Di luar sana justru terdengar suara keributan.


"Tuan tuan harap sabar lah sebentar,.."


"Ruangan ini sudah ada isinya,..Xiao Tie juga sedang ada tamu.."


"Bagaimana bila saya antar keruangan sebelah, yang juga tidak kalah dari ruangan ini.."


"Nanti saya akan kirimkan anak anak ku kesana, untuk menemani tuan tuan sekalian..?"


ucap Fu Ma Ma berusaha membujuk tamu tamunya di depan pintu sana.


Xiao Tie menoleh kearah pintu depan dengan alis berkerut, di dalam hati, dia sedikit mengeluh.


Karena sebentar lagi, kemungkinan bakal ada keributan di luar sana.


Benar saja sesuai dugaan Xiao Tie,

__ADS_1


"Plakkkk..!"


"Brakkkk..!'


"Aduh...!"


Terdengar suara tamparan keras, tubuh Fu Ma Ma yang gemuk bulat menabrak pintu depan ruangan depan hingga terbuka.


Fu Ma Ma terlihat sedang mengaduh kesakitan, dengan pipi sebelah bengkak dan lebam.


"Dasar sialan,.. ! berani kamu macam macam di depan kami..?!"


"Kami bilang mau ruangan ini..!"


"Mau gadis bernama Xiao Tie,.. maka kamu harus sediakan..!"


"Berani membantah, dasar tidak tahu mampus .!"


"Kami ini utusan tuan Lim, gubernur penguasa kota ini..!"


"Apa kamu tahu siapa tamu penting yang akan di jamu di sini..!?"


Fu Ma Ma langsung pucat, saat mendengar disebutnya nama gubernur Lim.


Dia tahu sekali ini dia telah salah, dia tidak menyangka orang orang berbaju hijau ini adalah orangnya gubernur Lim.


Bila tahu, dia tentu tidak akan berani menghalang halangi mereka, kecuali dia ingin menutup tempat hiburannya ini.


"Maaf...maaf ..tuan tuan sekalian maaf.."


ucap Fu Ma Ma sambil memegangi pipinya yang terlihat menyedihkan.


"Buka mata dan telinga mu dengarkan baik baik, tamu penting itu adalah Pangeran keempat Yang Mulia Wuluzhen."


"Cepat aturkan dengan baik setengah jam lagi kami akan kembali..!"


bentak orang orang berbaju hijau itu galak.


Fu Ma Ma mengangguk dengan cepat dengan wajah ketakutan.


Sesaat kemudian orang-orang itu pun pergi meninggalkan tempat tersebut.


Xiao Tie dan kedua rekan nya baru berani menghampiri Fu Ma Ma membantunya bangun.


Setelah orang orang kejam itu pergi.


Nan Thian yang mendengar suara ribut ribut di sana, dia mengedarkan hawa api surgawi berputaran di dalam perut hingga ke syaraf di otaknya.


Sesat kemudian terlihat kabut uap tipis terpancar keluar dari dalam tubuh nya.Itu adalah sisa racun kadar alkohol yang menguap dari tubuhnya.


Sehingga dia kini kembali segar bugar, pikirannya kembali jernih.


Dengan heran Nan Thian melayang masuk kedalam ruangan tersebut, untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.


Mengapa tiba-tiba ada suara ribut ribut di bawah sana.


Saat tiba di dalam ruangan, melihat keadaan Fu Ma Ma yang menyedihkan, sedang di bantu berdiri oleh Xiao Tie dan kedua rekannya.


Nan Thian segera menghampirinya dan berkata,


"Apa yang terjadi, mengapa kamu jadi seperti ini..?"


Fu Ma Ma tiba tiba mengembalikan bungkusan uang dari Nan Thian dan berkata,


"Tuan harap anda jangan tersinggung, ini uangnya aku kembalikan.."


"Tapi tolong segera kosongkan ruangan ini.."

__ADS_1


"Ruangan ini dan Siao Tie, kini telah di booking oleh orang yang tidak boleh kami singgung.."


ucap Fu Ma Ma dengan wajah memelas bercucuran air mata.


Nan Thian menghela nafas panjang dan berkata,


"Bukannya cuma hanya ruangan saja.."


"Itu bukan maslahat besar, biar kami pindah kekamar lain saja.."


"Ruangan ini juga agak terlalu besar untuk kami.."


"Ini uangnya tetap kamu pegang saja, antar saja kami keruang lain nya. "


ucap Nan Thian santai.


Fu Ma Ma sangat gembira, dengan tubuh terbungkuk bungkuk memberi hormat dan mengucapkan terimakasih.


Dia segera berkata,


"Baik tuan terimakasih banyak, mari lewat sini tuan.."


"Biar nanti saya atur pindahkan hidangan yang ada disini kekamar sebelah "


"Sebentar teman ku masih tidur di sana.."


ucap Nan Thian sambil melangkah menuju ranjang, di mana Kim Kim masih tertidur pulas.


Nan Thian mencoba menepuk pipi Kim Kim dan berkata,


"Kim Kim,..! Kim Kim,..! ayo bangun..!"


"Kita harus pindah kamar..!"


ucap Nan Thian mencoba membangunkan sahabatnya.


"Apaan sih ganggu saja.."


"Udah kasih tambah bayaran, aku suka disini.."


ucap Kim Kim setengah sadar.


Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Bukan soal bayaran, tempat ini sudah di booking orang ayo kita mesti pindah..ayo bangun..!"


ucap Nan Thian sambil menarik tangan Kim Kim agar dia bangun.


"Gendong..!"


ucap Kim Kim dengan mata terpejam dan bibir cemberut.


Nan Thian sambil menggelengkan kepalanya, dia memunggungi Kim Kim lalu menggendongnya naik ke punggung.


"Ayo Fu Ma Ma, di mana ruangan kami.."


ucap Nan Thian sambil menggendong Kim Kim di punggung, dia berjalan menghampiri Fu Ma Ma.


"Silahkan lewat sini tuan.."


ucap Fu Ma Ma cepat, dia tidak berjalan keluar dari kamar tersebut.


Melainkan membuka pintu lemari yang lain dengan sebuah kunci khusus, rupanya di balik pintu itu, ada pintu penghubung menembus ke ruangan sebelah.


Nan Thian pun ikut dengan Fu Ma Ma pindah ke ruangan sebelah yang terlihat tidak kalah mewah, hanya ruangannya jauh lebih kecil saja.


Tapi pada dasarnya fasilitas sama.

__ADS_1


__ADS_2