PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
DI HADANG BELALANG RAKSASA.


__ADS_3

Belum juga Fei Yang mendarat keatas tanah, semut semut merah berukuran sebesar kerbau, yang jumlahnya tak terhitung, langsung mengerubungi bangkai ke 8 kalajengking itu.


Dengan taring dan capit mereka yang tajam, semut semut itu mencabik cabik tubuh kalajengking raksasa itu dengan sangat mudah.


Dalam sekejab mata saja 8 ekor kalajengking raksasa itu, hanya tersisa cangkang kulit mereka, yang keras berserakan di atas tanah.


Fei Yang dari udara menatap dengan ngeri, bila dirinya yang di keroyok semut mengerikan itu.


Niscaya dalam sekejap dia akan habis tak bersisa.


Pemandangan mengerikan itu membuat Fei Yang sedikit bergidik, dan harus berpikir dua kali untuk meneruskan perjalanan melewati darat .


Akhirnya Fei Yang memutuskan kembali terbang melayang ringan di atas rumput meneruskan perjalanan nya.


Beberapa saat melayang tanpa gangguan, Fei Yang pun merasa tenang, karena burung walet raksasa tidak lagi muncul menyerangnya.


melewati lapangan rumput luas, sesuai petunjuk arah yang di tunjukkan di dalam peta.


Fei Yang harus melewati sebuah hutan, baru akan tiba di lokasi yang di sebutkan dalam peta.


Fei Yang melayang ringan turun di depan sebuah hutan yang berdiri gagah dan angker.


Berdiri memandang sejenak hutan di hadapannya, Fei Yang akhirnya terpaksa melanjutkan perjalanannya lewat darat.


Perjalanan udara tentu lebih mudah dan cepat, tapi Fei Yang khawatir tidak bisa menemukan lokasi yang di tuju.


Fei Yang dengan langkah ringan, melesat memasuki hutan, yang di tumbuhi rumput dan pepohonan yang memiliki ukuran luar biasa besarnya.


Selagi Fei Yang sedang melesat cepat memasuki hutan, tiba-tiba di hadapannya muncul dua ekor semut hitam, yang ukurannya dua kali lipat dari semut merah, yang memangsa bangkai kalajengking yang tewas di tangannya tadi.


Fei Yang hampir saja bertabrakan dengan kedua ekor semut raksasa, yang muncul secara tiba-tiba dari balik rumput ilalang, yang tinggi dan lebat.


Kedua semut itu terpelanting di hantam kedua telapak tangan Fei Yang.


Kedua semut yang terpental jauh tidak mati, mereka sebaliknya langsung bangun dan mengeluarkan suara berderik keras, seperti bunyi radio rusak.


Mereka terus menatap kearah Fei Yang dengan marah, sambil memamerkan taring dan capit mereka yang besar dan tajam.


Suara berderik itu ternyata adalah suara kode panggilan darurat, kepada teman teman mereka yang lainnya.

__ADS_1


Dalam sekejap mata tempat itu, langsung penuh dengan rombongan semut raksasa, yang terus berdatangan memenuhi panggilan temannya.


Kedua semut hitam yang berada di hadapan Fei Yang, begitu melihat teman teman nya mulai berkumpul di sana.


Mereka mulai bergerak cepat menyerang Fei Yang dengan capit dan taring taring mereka yang tajam.


Fei Yang yang tidak di beri pilihan untuk mundur, karena sudah terkepung.


Dia terpaksa melepaskan tebasan pedang biru dan merah, untuk menahan terjangan dari kedua semut raksasa itu.


Begitu sinar merah biru berkelebat lewat, kedua semut raksasa seketika tubuhnya terbelah menjadi dua bagian.


Yang di lewati sinar biru terbelah dua menjadi potongan es beku.


Sedangkan yang di lewati oleh sinar merah terbelah dengan tubuh gosong.


Tapi serangan Fei Yang, yang sangat mematikan tidak menyurutkan semangat semut semut yang lainnya.


Untuk terus berdatangan menyerang dan mengerubuti Fei Yang.


Fei Yang terpaksa meladeni terjangan mereka, dengan tebasan tebasan pedang merah biru nya.


Tapi semut itu jumlahnya sangat banyak dan terus bertambah, mereka seakan akan tidak ada putus putusnya berdatangan menyerang Fei Yang.


Istilahnya mereka mati satu datang nya seribu, perlahan lahan Fei Yang pun sedikit demi sedikit, mulai terlihat kuwalahan, menghadapi kepungan mahluk yang tiada habis habisnya itu.


Semut semut itu sebagian menyerang, sebagian lagi dengan cepat saling bahu membahu menyingkirkan tubuh teman teman mereka, baik yang terluka maupun tewas.


Sehingga tempat itu selalu terjaga kebersihannya, tidak sampai mayat teman mereka sendiri, menjadi penghalang pergerakan mereka dalam melakukan serangan kearah Fei Yang.


Fei Yang yang sedang terkepung dan terdesak, akhirnya meledakkan energi api dan es membentuk jutaan mata pedang merah biru di tembakkan kesegala arah.


Kini bangkai semut raksasa, yang tewas tertembus energi pedang merah biru, jatuh bergelimpangan memenuhi tempat itu.


Fei Yang terus melepaskan secara berulang ulang energi pedangnya, untuk membunuh semut semut raksasa, yang nekad terus berdatangan mengurungnya.


Dengan cara tersebut, sedikit demi sedikit, energi pedang Fei Yang berhasil mendesak semut semut itu, untuk menjauhinya.


Begitu melihat ada peluang, Fei Yang pun terbang ke udara, meninggalkan kerumunan semut raksasa yang sedang berusaha mengurungnya di bawah sana.

__ADS_1


Fei Yang terbang dari satu pohon ke pohon lainnya, berusaha secepat mungkin meninggalkan tempat tersebut.


Kawanan semut itu belum menyerah, mereka masih berusaha melakukan pengejaran.


Tapi pergerakan Fei Yang terlalu cepat untuk mereka, sehingga dalam sekejap saja kawanan semut itu sudah jauh tertinggal jauh di belakang sana.


Setelah melihat situasi sudah aman Fei Yang baru bisa sedikit menghela nafas lega.


Fei Yang berdiri di atas sebuah cabang pohon melihat lihat kedepan untuk menentukan arah yang akan di ambil nya.


Tiba-tiba pohon tempatnya berdiri bergoyang goyang dan terangkat keatas.


Fei Yang yang kaget langsung terbang menjauhi pohon tersebut.


Pohon di sebelah Fei Yang tiba-tiba terangkat keatas, ujung bawahnya yang tajam seperti mata pedang, dari posisi atas menghujam deras kearah Fei Yang.


Fei Yang terbang menghindari nya, tapi lagi lagi, ada batang pohon yang lainnya, yang ujung bawahnya terangkat keatas, lalu ujung bawahnya yang tajam seperti pedang kembali menghujam kearah Fei Yang.


Fei Yang menghindar sambil terbang menjauh, melihat sebenarnya apa yang sedang terjadi.


Setelah melihat lebih jelas lagi, ternyata kedua pohon di dekatnya itu adalah sepasang kaki belalang sembah raksasa, yang sedang berkamuflase disana menunggu mangsa.


Belalang itu dengan cepat sambil berterbangan, menggunakan sepasang kakinya yang tajam untuk menusuk dan menebas kearah Fei Yang.


Fei Yang dengan lincah terbang kesana kemari menghindari serangan belalang tersebut.


Serangan belalang yang tidak mengenai Fei Yang, tapi menyerempet pohon pohon dibelakang ataupun di dekat Fei Yang.


Membuat pohon pohon besar di sekitar arena pertempuran itu, pada roboh.


Suara hiruk pikuk pohon pohon yang roboh terkena serangan belalang itu memenuhi tempat tersebut.


Fei Yang sendiri setelah memastikan itu adalah seekor belalang sembah raksasa.


Fei Yang juga dengan gesit membalas menyerang mahluk yang sedang berusaha menyerang dan mengejarnya itu.


Dengan tebasan pedang yang mengeluarkan cahaya merah biru menyerang balik kearah mahluk itu.


Saat sinar merah biru tertangkis oleh sepasang kaki belalang yang tajam, bunga api berpijar, dan menimbulkan bunyi nyaring.

__ADS_1


"Cringgg,..Cringgg,..Cringgg,..!"


__ADS_2