
Tanpa memperdulikan ikan ganas yang berlompatan saling memperebutkan daging teman mereka sendiri, yang dalam sekejab hanya tersisa tulang dan kepala ikan tanpa mata.
Fei Yang dengan sigap sudah menarik Wei Wen mundur menjauhi tepi sungai.
Kemudian menaburkan obat luka, dan membalut luka di tangan Wei Wen dengan robekan ujung bajunya.
Selama Fei Yang melakukan hal itu, Wei Wen terus menatap wajah Fei Yang dengan mesra.
Seluruh perasaan takut dan ngerinya kini sudah hilang sama sekali.
Tergantikan dengan rasa cinta yang berbunga-bunga memenuhi hatinya.
Wanita mana yang tidak akan merasa bahagia, bila pria yang sudah lama dia idolakan.
Berulang kali menyelamatkan diri nya, begitu perhatian dan selalu menjaganya dengan baik, memberikan rasa aman dan nyaman yang sulit di lukiskan.
Begitulah yang di alami oleh Wei Wen, dia merasa bahwa dirinya saat ini adalah wanita yang paling bahagia di dunia.
Perasaan bahagia yang sulit di lukiskan memenuhi hati dan perasaan nya.
Dia terus menatap Fei Yang dengan mesra, hingga Fei Yang selesai membalut luka nya.
Dia pun segera maju memegang tangan Fei Yang dan berkata,
"Kakak Yang bisa bersama mu, adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku.."
"Aku benar benar sangat mencintai mu kakak Yang.."
"Aku ingin menghabiskan sisa hidup ku, hanya bersama mu saja.."
ucap Wei Wen sambil menatap kearah Fei Yang penuh perasaan.
Fei Yang balas menatap kearah Wei Wen dengan mesra dan berkata,
"Adik Wen Wen, aku juga merasakan hal yang sama.."
"Aku juga sangat mencintai mu.."
"Maukah kamu menjadi istri ku yang menemani ku,
hidup berdampingan selama lamanya..?"
Wei Wen langsung mengangguk cepat, sambil memejamkan matanya dia sedikit berjinjit memajukan bibirnya kedepan, mendekat kearah Fei Yang.
"Aduh,..!"
jerit Wei Wen tertahan sambil memegangi keningnya.
"Kamu ini kenapa ?"
"Kamu terkena racun ikan itu..?"
"Kok meruncingkan bibir mu hingga mirip seperti pantat ayam begitu...?"
ucap Fei Yang sambil melangkah mundur dan menatap Wei Wen dengan heran.
__ADS_1
Rasa sakit di keningnya yang di sentil Fei Yang, dan ucapan Fei Yang barusan.
Langsung menghempas Wei Wen kembali ke dunia nyata dari dunia khayal nya.
Wei Wen langsung menutupi wajahnya yang merah padam dengan kedua tangannya.
Dia buru-buru membalikkan badannya memunggungi semua orang.
Dia benar benar malu, dan habis habisan mengutuki dirinya sendiri yang sangat sangat memalukan dan agak murahan..
Tapi di sana cuma Zhao Heng yang menyadari apa yang sedang di alami oleh adiknya.
Fei Yang dan Junta tidak menyadari hal itu, mereka masih menatap bingung atas sikap Wei Wen yang aneh.
"Sudahlah jangan perdulikan dia, dia gak papa, sebentar lagi juga pulih.."
ucap Zhao Heng memecahkan suasana canggung.
"Kelihatannya kita harus kembali membuat perencanaan ulang, tanpa perahu mustahil kita bisa melewati sungai ini.."
ucap Zhao Heng mengalihkan pembicaraan.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Nanggung bila kembali sekarang bolak balik cuma habis waktu."
"Bukankah cuma sebuah perahu kecil, kenapa kita tidak membuatnya saja..?"
"Kayu begitu banyak tersedia di sini, apa yang harus di khawatirkan.."
"Kamu urus bikin dayungnya, perahunya biar sama aku "
ucap Fei Yang santai.
Fei Yang berjalan menghampiri beberapa pohon besar memeriksanya sebatang demi sebatang.
Setelah menentukan pilihannya, dengan menggunakan tangan kanan nya, Fei Yang melakukan sekali tebasan miring.
Maka robohlah pohon besar itu, menimbulkan suara hiruk pikuk.
Setelah pohon itu tumbang, Fei Yang mulai memotong pohon besar itu , menjadi sebatang gelondongan kayu berbentuk balok yang sangat panjang dan besar.
Fei Yang mengorek ngorek bagian tengah balok tersebut, hingga terbentuk sebuah rongga di bagian tengah balok besar itu.
Bertepatan dengan selesai nya perahu sederhana ciptaan Fei Yang.
Junta juga sudah berhasil membuat empat batang dayung sederhana.
Melihat hal itu Fei Yang pun berkata kepada yang lainnya.
"Perahu dan dayung sudah siap.."
"Kalian tunggu sebentar di sini, aku mau pergi sebentar.."
Selesai berkata Fei Yang langsung menghilang dari sana.
__ADS_1
Tak lama kemudian Fei Yang pun sudah kembali lagi ketepi sungai.
Tanpa banyak bicara Fei Yang langsung melempar perahu balok sederhana buatannya ketengah sungai.
Lalu dia melayang ringan duduk di tengah perahu balok buatannya sendiri.
Fei Yang mencoba mendayung perahu itu kesana-kemari untuk
memastikan keadaan perahu itu kuat, dan layak di gunakan, tidak terdapat kebocoran sama sekali.
Setelah merasa yakin Fei Yang baru mendayung perahu kayu buatannya, kembali ke tepi sungai.
"Ayo naiklah,..! kita lanjutkan perjalanan kita, perahu ini aman.."
ucap Fei Yang sambil memberi kode dengan tangannya, agar teman temannya ikut naik.
Ketiga temannya mengangguk gembira, Junta membantu Zhao Heng dan Wei Wen naik kedalam perahu satu persatu.
Setelah itu dia yang paling terakhir masuk kedalam perahu.
Fei Yang duduk di bagian paling depan, Junta duduk di bagian paling belakang, Wei Wen dan Zhao Heng duduk di bagian tengah tengah.
Mereka berempat mulai mendayung perahu bergerak kedepan menyeberangi sungai.
Begitu perahu mulai bergerak, disisi perahu mulai bermunculan ikan ikan bergigi besi mengikuti perahu mereka.
Semakin lama semakin banyak,.ikan ikan gigi besi yang berkumpul di kanan kiri perahu mereka.
Melihat hal itu Fei Yang mulai melempar Potongan tubuh ular hijau besar, ketempat yang agak jauh dari perahu mereka.
Fei Yang melemparnya ke Kiri dan ke kanan, secara bergantian. Sehingga ikan ikan bergigi tajam seperti pisau silet itu, pada sibuk mengejar ke potongan tubuh ular raksasa itu, menjauh dari perahu mereka.
Fei Yang tadi bergerak pergi, adalah untuk menjemput tubuh ular hijau raksasa, yang dia potong potong kemudian dia masukkan kedalam cincinnya.
Kini potongan tubuh ular raksasa itu mulai menunjukkan hasilnya.
Sehingga perahu mereka dapat melewati sungai itu tanpa hambatan, dan gangguan dari ikan gigi besi itu.
Di luar dugaan,. tak lama setelah perahu mereka pergi, ikan ikan itu malah pada mengambang di atas sungai.
Ternyata darah dan daging ular hijau mengandung racun ganas.
Sehingga ikan ikan bergigi besi yang memakan daging ular hijau itu , langsung pada mati keracunan.
Perahu sederhana Fei Yang terus melintas membelah sungai berwarna hitam kelam itu.
Zhao Heng yang diam diam terus memperhatikan kecerdikan ketangkasan dan ketenangan Fei Yang, dalam menghadapi berbagai situasi.
Di dalam hati dia berpikir, saat ini dengan adanya Fei Yang di pihak mereka, ini tentu adalah sebuah keberuntungan.
Tapi kelak bila Song dan Xi Xia memulai perang, Fei Yang akan menjadi musuh kerajaan Song yang sangat luar biasa berbahaya.
Bila mereka tidak berhasil menemukan cara untuk menyingkir kan Fei Yang, mereka pasti akan berada dalam kesulitan besar.
Di saat Zhao Heng sedang termenung,. tiba-tiba seekor mahluk raksasa berkulit tebal, melompat keluar dari dalam air menerjang kearahnya.
__ADS_1