PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PING HUO TA SIA


__ADS_3

Mendengar ucapan Li Dan, Fei Yang pura-pura kaget, takut dan percaya, padahal di dalam hati dia emang sengaja.


Ingin mempermainkan Li Dan dan Sian Sian yang congkak, Fei Yang ingin melihat keributan diantara kedua orang itu.


Fei Yang pura-pura bodoh dan berkata,


"Ohh begitu ternyata, kalau begitu aku minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.."


"Ehh ada nona Sian Sian,.. kamu sudah dengar sendiri kan sekarang, jadi menurut lah pada kakek mu.."


"Jangan keras kepala lagi, lebih baik kamu dengar nasehat kakek mu, tunggu saja tunangan mu itu."


"Kasihan cantik cantik bertepuk sebelah tangan,.."


ucap Fei Yang sambil tersenyum sekilas meledek Li Sian Sian, lalu buru-buru berjalan meninggalkan tempat tersebut.


"Afei kau,..! Kau,.. kau,.. bajingan pengecut, berani kamu ulangi sekali lagi.,..!"


"Kata kata mu itu,..! lihat bagaimana aku menghabisi mu,..!?"


ucap Li Sian Sian emosi sambil menunjuk Fei Yang, dengan jari telunjuknya yang putih dan runcing.


Seluruh tubuhnya bergetar menahan emosi, malu, dan kecewa terhadap Li Dan, yang semuanya,.dia lampiaskan ke Fei Yang.


Fei Yang menoleh kebelakang sambil tersenyum, dia berkata,


"Yang bicara dia, bukan aku,..


kalau kamu mau mendengar ulang, harusnya minta nya ke dia, bukan ke aku.."


Li Dan terlihat serba salah saat menyadari ternyata Sian Sian ada di belakangnya.


Saat dia dengan emosi menegur Afei tadi, dia terlalu emosi terhadap Afei, sehingga dia melupakan kehadiran Sian Sian, yang tepat ada di belakangnya.


Ucapan nya barusan seolah olah menunjukkan dia menolak Sian Sian, tanpa sengaja dia malah menyakiti perasaan gadis yang di sukai nya itu.


"Afei tutup mulut mu..!!"


Bentak Li Dan marah.


Fei Yang meleletkan lidahnya, kemudian dia buru buru berlari menghampiri Li Cing, yang sedang berjalan mendekati mereka.


Setelah berada di hadapan Li Cing, Fei Yang buru buru berkata, dengan mimik lucu.


"Paman Li sebaiknya jangan kesana, mereka berdua seperti habis makan obat peledak."


"Setiap saat mereka berdua bisa meledakkan siapapun, yang mencoba mendekat.."


Li Cing yang sedang kesal dengan ulah cucunya, akhirnya tersenyum melihat tingkah laku Fei Yang.

__ADS_1


"Baiklah,..ayo kita pergi ketempat lain saja.."


ucap Li Cing sambil menggandeng tangan Fei Yang pergi ketempat lain.


Sedangkan di tempat Li Dan dan Sian Sian, mereka berdua berdiri berhadapan dengan canggung tidak tahu mau bicara apa.


Sebenarnya banyak yang ingin mereka berdua ucapkan, tapi karena ulah Afei, yang mengacau tadi.


Keadaan berubah menjadi canggung dan sangat tidak enak.


"Sian Sian maaf aku,.."


ucap Li Dan canggung.


"Tidak apa-apa kak Li Dan, Sian Sian mengerti."


"Ini semua salah Sian Sian, Sian Sian lah yang menyeret kakak ke posisi, tidak berhati nurani dan tidak berbudi."


ucap Sian Sian sambil menoleh kearah lain, mencoba menahan airmata nya yang hampir runtuh.


"Baiklah kak Li Dan, Sian Sian permisi dulu.."


ucap Li Sian Sian sambil membalikkan badannya, lalu menghapus airmatanya yang mulai runtuh.


Sian Sian kemudian berlari meninggalkan Li Dan, yang berdiri bengong di sana, tidak tahu mau bilang apa.


Akhirnya Li Dan hanya bisa menghela nafas sedih dan berkata,


Li Dan kemudian berjalan dengan sedikit terpincang-pincang, menuju tempat Fei Yang bersandar tadi.


Kini setelah semua mereda, dia baru ingat dengan luka di pahanya yang cukup parah.


Li Dan merawat dan menaburkan obat luka seorang diri,.. lalu dia membungkusnya dengan potongan robekan kain di lengan bajunya.


Sebagai orang yang sejak kecil berkecimpung di militer, bagi Li Dan luka seperti ini adalah hal biasa.


Saat Li Dan sedang merawat luka di pahanya,. sedangkan Fei Yang dan Li Cing sedang asyik bermain catur.


Di sebelah barat terlihat 4 titik kecil, yang sedang bergerak dengan sangat cepat menghampiri lokasi di mana rombongan Li Cing berada.


Bayangan itu semakin lama semakin membesar, terlihatlah yang sedang datang adalah 4 orang biksu lhama jubah merah.


Keempat biksu lhama Jubah merah terlihat sedang berlari cepat, sepasang kaki mereka hanya meniti ringan di atas rumput, tanpa menyentuh tanah.


Mereka berempat ini pernah hadir di halaman kuil halilintar, mereka adalah pimpinan kuil empat penjuru Timur Barat Utara dan Selatan.


Mereka adalah lhama Thasi Thasa Thase dan Thasu.


Fei Yang yang berpendengaran dan berpenglihatan tajam, dari awal dia sudah menyadari kedatangan ke empat orang itu, yang pastinya tidak akan membawa maksud baik.

__ADS_1


Sebelum kehadiran mereka di sadari yang lain, Fei Yang pun berkata kepada Li Cing.


"Maaf perut ku sakit, aku harus pergi untuk,..maaf ya paman,.."


Li Cing sambil tersenyum lebar berkata,


"Ya sudah, pergi sana tidak apa-apa.."


Fei Yang memberi hormat, lalu sambil berpura-pura memegang perut dan lubang ****** nya.


Fei Yang langsung berlari kearah balik pohon, yang tertutup gerombolan rumput tinggi.


Dari balik rumput Fei Yang buru buru mengenakan topeng besi menutupi wajahnya.


Lalu tubuhnya melesat ke atas, mendarat ringan di atas punggung Kim Tiaw yang terbang di angkasa tidak terlalu jauh darinya.


Fei Yang menyadari dengan kehadiran keempat biksu lhama jubah merah ini.


Dia harus tampil kedepan menghadapi mereka.


Agar penyamarannya tidak terbuka, Fei Yang terpaksa menggunakan topeng besi, yang ada di dalam cincin penyimpanan peninggalan Wu Ti Sin Tong.


Fei Yang berbisik pada Kim Tiaw nya dan berkata,


"Tiaw Siung, ayo kita turun kebawah melihat lihat keramaian.."


Kim Tiaw mengangguk, lalu sambil mengeluarkan suara pekik nyaring nya, dia meluncur cepat kebawah.


Suara pekik nyaring Kim Tiaw mengejutkan keempat biksu, yang sedang berlari cepat mendekati kearah kereta kuda Li Cing.


Baik Li Cing Sian Sian dan Li Dan mereka semua juga di kejutkan, dengan kehadiran burung rajawali emas raksasa, yang sedang meluncur cepat mendekati kearah mereka.


Li Dan langsung mengenali itulah Kim Tiaw yang pernah menolong nyawanya, dari tangan keji pasukan bulan sabit.


Li Dan saat melihat ada orang yang berdiri di punggung Kim Tiaw, mengenakan topeng besi, memegang sepasang pedang merah biru di kedua tangan nya.


Li Dan segera sadar, inilah orang hebat pemilik Kim Tiaw, yang pernah menolongnya itu.


Pasti orang inilah yang telah menyuruh Kim Tiaw, untuk menyelamatkan nyawa nya.


Li Dan menatap orang yang melayang turun dari punggung Kim Tiaw dengan tatapan penuh kagum.


Fei Yang berdiri menghadang di depan keempat biksu lhama jubah merah, yang baru saja tiba di tempat itu.


"Apa kabar kalian berempat, kita benar-benar jodoh bisa bertemu di sini..?"


Keempat biksu itu menatap dengan heran kearah Fei Yang.


Tapi saat melihat kedua pedang di tangan Fei Yang, mereka tanpa sadar mundur dua tindak kebelakang, dan berteriak dengan kompak.

__ADS_1


"Ping Huo Ta Sia (Pendekar Api dan Es )


__ADS_2