
Lim Ping Chi dan Qi Lian Lao Koai saling pandang sejenak, seolah olah mendapatkan kesepakatan.
Lim Ping Chi berteriak,
"Semuanya maju serang dia..!"
Selesai berteriak, Lim Ping Chi melesat kearah kanan di mana pangeran Wuluzhen tersegel oleh bekuan es.
"Prakkk..!"
Sekali tangannya yang bersinar kehijauan menampar lapisan es di bagian pinggang pangeran botak itu.
Seketika es beku yang mengunci bagian pinggang kebawah pangeran Wuluzhen.
Seketika bekuan es itu rontok berceceran di atas lantai.
Nan Thian sendiri langsung di serang oleh puluhan orang berseragam hijau.
"Wusss,..! Singgg..! Cuiiit..!"
"Wusss,..! Singgg..! Cuiiit..!"
"Wusss,..! Singgg..! Cuiiit..!"
"Wusss,..! Singgg..! Cuiiit..!"
Senjata berseliweran semuanya terarah ke Nan Thian.
Nan Thian tidak terlalu memperdulikan serangan mereka, dia justru melirik kearah Lim Ping Chi dan Qi Lian Lao Koai.
Di mana mereka setelah membuat pengalihan hendak melarikan diri, mengambil dua jurusan berbeda.
Nan Thian tersenyum sinis, sambil mengibaskan tangan kirinya, menyambut serangan yang datang.
"Wuutttt...!"
Nan Thian mengirim pesan suara ke Kim Kim yang sedang asyik tidur.
"Kim Kim mangsa di depan mata, kamu masih terus tidur..!"
"Jangan salahkan aku bila mangsa mu , aku gantikan mu membereskan nya..!"
ucapan Nan Thian yang seperti bunyi Guntur di samping telinga Kim Kim.
Berhasil membangunkan naga tidur tersebut.
"Rooaaarrrrrrr..!!!"
"Brakkkk..!"
Kim Kim melesat keluar dari kamar sebelah membuat dua orang panik histeris ketakutan.
Saat menyaksikan seekor Naga Emas raksasa' muncul di sana, secara tiba tiba.
"Dimana mangsa ku..!?"
tanya Kim Kim begitu muncul.
Nan Thian yang baru saja, membuat semua orang berbaju hijau, yang sedang bergerak menyerang nya, semuanya berubah menjadi patung es.
Dengan santai dia menanggapi Kim Kim dengan menunjuk tangannya kearah kiri.
__ADS_1
Di mana ujung koridor kiri jendelanya berlubang, bekas di terjang oleh Qi Lian Lao Koai.
Begitu mendapat jawaban, Kim Kim langsung bergerak mengejar kesebelah kiri.
"Rooaaarrrrrrr...!"
"Brakkkk...!"
Raung Kim Kim dahsyat sambil meluncur menabrak hancur dinding bangunan yang menghalangi pergerakan nya.
Di tempat lainnya, sebelum Kim Kim muncul, Lim Ping Chi dengan cepat menyambar tubuh pangeran Wuluzhen, lalu membawanya pergi.
Lim Ping Chi menerjang jendela di koridor deretan kamar di lantai 3.
"Brakkkk..!"
Dalam sekejap mata, dia sudah menghilang dari sana.
Saat mendarat di atas tanah, dia langsung berteriak pada komandan barisan pasukan elite Mongolia.
"Cepat tahan, pria rambut putih itu, dia ingin mencelakai Yang Mulia..!'
Setelah berkata, dia langsung menyelinap diantara pasukan elite Mongolia, mencoba melarikan diri dari kejaran Nan Thian.
Nan Thian yang bergerak menyusulnya di belakang langsung di hadang dan di kepung pasukan elite Mongolia yang berlapis lapis.
Di bawah komando komandan pasukan Mongolia yang menggunakan bahasa yang Nan Thian tidak mengerti.
Pasukan elite itu maju dengan berikade Tameng dan tombak di tangan mereka.
Jauh di belakang sana panah berhamburan di lepaskan kearah Nan Thian, hingga langit seketika jadi gelap.
Penduduk dan penjual kaki lima serta pemilik toko di sekitar sana, jauh sebelum bentrokan pecah.
Hingga dalam sekejap, tempat itu berubah sepi, selain barisan pasukan elite Mongolia dan Nan Thian, tidak terlihat lagi ada orang lain yang hadir di sana.
Nan Thian mengibaskan tangannya kanannya kearah barisan pasukan Tameng yang sedang mendekatinya.
Sedangkan tangan kiri, dia kibaskan ke udara, untuk menyambut anak panah, yang berhamburan menyerang kearah nya.
"Wuutttt...!"
Wuutttt...!"
Serangkum angin dahsyat menerjang kearah barisan pasukan tameng tombak Mongolia.
"Ahhhhh...!!"
Terdengar jerit ngeri pasukan Mongolia yang terpental kebelakang hingga tumpang tindih menimpa barisan di belakang mereka.
Sedangkan panah di udara semua terlihat membeku, kemudian semua nya runtuh keatas tanah hancur berkeping-keping.
Pihak pasukan elite Mongolia dari komandan mereka melihat kejadian di depan mereka dengan tatapan mata tak percaya.
Mereka serasa sedang mimpi, bahkan ada beberapa diantara mereka mengucek ngucek matanya kurang percaya dengan apa yang mereka lihat.
Nan Thian tidak memperdulikan reaksi pasukan Mongolia, dia berkata dengan suara dingin.
"Aku ingatkan kalian,.. jangan halangi aku mengejarnya..!"
"Kecuali kalian tidak sayang nyawa .!"
__ADS_1
Pasukan Mongolia sempat meragu sejenak, hingga terdengar suara teriakan dari komandan mereka.
Mereka semua sambil berteriak keras, menguatkan mental.
Barisan pasukan Mongolia itu dengan nekad maju menyerang kearah Nan Thian, mengikuti perintah dari komandan mereka.
Nan Thian menghela nafas panjang dan berkata,
"Kalian sendiri yang memilih, jangan menyesal...!"
Sambil mengeraskan hati, dengan mengingat kekejaman pasukan penjajah ini menindas rakyat.
Nan Thian maju dengan pukulan udara kosong dengan sepasang telapak tangannya.
Secara berganti-ganti an di dorong kedepan, untuk membongkar kepungan pasukan Mongolia yang menghadang jalannya.
"Wussss..! Wussss..! Wusss..!
"Wussss..! Wussss..! Wusss..!
"Wussss..! Wussss..! Wusss..!
"Wussss..! Wussss..! Wusss..!
Angin menderu deru di lepaskan oleh kedua telapak tangan nya.
Tangan kanan mengeluarkan cahaya hitam tangan kiri mengeluarkan cahaya putih.
Dalam sekejap mata, ratusan pasukan Mongolia yang tersambar hawa pukulan tangan kanan Nan Thian.
Langsung hancur menjadi butiran abu yang melayang layang di udara.
Sedangkan pasukan Mongolia yang terkena serangan tangan kiri Nan Thian.
Mereka langsung berubah menjadi pecahan kristal es yang meledak, berserakan di atas tanah.
Nan Thian sambil melepaskan pukulan nya, dia terus bergerak mengejar.kearah Lim Ping Chi tadi melarikan diri.
Tidak sampai sepeminum teh 50.000 pasukan elite Mongolia sudah Nan Thian hancurkan.
Kini hanya tersisa seorang komandan pimpinan puncak pasukan Mongolia yang masih hidup.
Dia berdiri di sana dengan wajah pucat pasi, tubuh gemetaran menatap ke arah Nan Thian.
"Bila ingin nyawa mu selamat, katakan di mana Lim Ping Chi berada. ?!"
Bentak Nan Thian dengan wajah dingin.
Dia sudah membunuh begitu banyak orang, tambah satu juga bukan masalah lagi baginya.
Komandan itu buru buru mengangguk, lalu dia berlari cepat sambil menunjukkan arah yang di ambil oleh Lim Ping Chi.
Dia membawa Nan Thian berlari menuju sebuah bangunan besar mewah, yang sekelilingnya di Pagari tembok setinggi 3 meter.
Di setiap sudut bangunan terlihat di bangun sebuah menara, yang di jaga oleh pasukan berseragam hijau.
Nan Thian menduga pasukan berseragam hijau ini adalah pasukan bentukan Lim Ping Chi sendiri.
Saat Nan Thian dan komandan pasukan Mongol itu tiba di depan pintu gerbang utama, pasukan berseragam hijau, yang berjaga di depan pintu gerbang tersebut langsung bergerak.
Mereka bukan hanya menyerang Nan Thian, komandan pasukan Mongolia yang mengantar Nan Thian itu pun, ikut mereka jadikan sasaran.
__ADS_1
Komandan pasukan Mongol yang di hujani senjata dari berbagai arah, tidak butuh waktu lama, dua sudah berubah menjadi potongan daging cincang.