PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEMBALI KE KAKI GUNUNG KUNLUN SAN


__ADS_3

"Sudah, kini kondisi ku sudah kembali seperti sebelumnya.."


"Kamu sendiri bagaimana, kini sudah berapa bulan, kapan lahir ?"


tanya Fei Yang sambil membelai perut istrinya yang gendut dengan pelan.


Xue Lian sambil tersenyum bahagia berkata pelan,


"Seperti yang kamu lihat aku cukup baik, kini sudah hampir masuk bulan ke 8, masih jalan tujuh.."


"Mungkin 1 atau 2 bulan lagi, kamu bisa melihat mereka."


ucap Xue Lian sambil menatap kearah suaminya dengan lembut.


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Kekuatan mu sendiri bagaimana ? ada kemajuan..?"


Xue Lian tersenyum dan berkata,


"Untuk bisa kembali seperti dulu agak sulit.."


"Apalagi dengan hadirnya mereka,.."


ucap Xue Lian sambil mengelus perutnya yang gendut besar.


Sesekali perutnya terlihat bergerak gerak sendiri, seperti ada tikus kecil yang bergerak gerak di dalam.


"Hei lihat mereka bergerak gerak, mereka menyambut ku.."


ucap Fei Yang sambil tertawa.


Xue Lian pun ikut tertawa bahagia, melihat kegembiraan suaminya.


Sesaat kemudian Fei Yang pun berkata,


"Lian mei, di mana Zi Di dan Sun Er, kemana mereka ?"


"Kenapa aku tidak melihat mereka dari tadi hingga sekarang.."


Xue Lian menghela nafas panjang dan berkata,


"Kamu tidak ada, aku mudah lelah akhir akhir ini.."


"Nafas ku juga sering sesak, aku tidak bisa terlalu mengurus mereka.."


"Lagipula putri mu itu, kamu tahu sendiri sifatnya.."


"Dia semakin besar semakin sulit di atur, sendiri malas berlatih masih tidak apa-apa.."


"Eh dia malah tiap hari merecoki Sun er menemaninya main, kalau Sun er tidak mau menemaninya.."


"Dia akan ngambek, lalu ajak Kim Tiaw pergi jalan jalan.."


"Sun Er yang khawatir dan tidak tega melihatnya, akhirnya berhenti berlatih.."


"Terpaksa ikut menemaninya, lama kelamaan Sun er pun terbawa dengan nya jarang berlatih.."


"Tarian pedang Naga es Phoenix api yang kamu ajarkan dari 10 jurus, Sun er hanya bisa tiga, sisanya masih berantakan.."


ucap Xue Lian mengeluh ke suami nya.


Fei Yang tersenyum lembut dan berkata,


"Belajar tidak bisa di paksa, yang bisa memaksa mereka berlatih adalah diri sendiri dan keadaan.."


"Kita usahakan saja yang terbaik, bisa atau tidak nya, kelak tergantung pada pengembangan diri mereka sendiri.."


ucap Fei Yang menenangkan kekesalan istrinya, dengan membelai rambut istrinya dengan lembut.


"Bagaimana dengan paman Lai dan Bibi Fu apa kerja mereka bagus dan betah .?"


tanya Fei Yang kembali.


Xue Lian tersenyum dan berkata,


"Kerja mereka sangat bagus dan rajin, selama kamu tidak ada.."


"Untung ada mereka berdua, bila tidak aku tentu akan benar benar kesulitan.."


ucap Xue Lian penuh rasa syukur.


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Aku juga lihat kebun bunga, kebun sayur buah, juga ternak ayam kita, semua sangat berkembang dan terawat dengan baik.."


Xue Lian mengangguk membenarkan dan berkata,


"Yang ke ke benar, aku bahkan berencana menaikkan gaji mereka berdua bulan ini.."


"Soalnya Bibi Fu dan paman Lai pernah mengeluh, putra mereka sangat tidak berguna.."


"Sudah punya anak istri tidak mau pergi bekerja."


"Tiap hari cuma pergi kumpul sama teman temannya, berjudi, minum arak, pulang rumah marah marah kalau kalah judi ."


"Bila aku tidak sedang hamil besar, ingin rasanya aku pergi menghajarnya.."


ucap Xue Lian sedikit emosi.


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Atur saja, uang bagi kita bukan masalah..yang penting nyaman ."


"Hanya saja soal anaknya, kita lebih baik tidak ikut campur.."


"Itu urusan keluarga mereka, bukan urusan kita.."


"Kalau dia ada apa apa di tangan kita, itu juga tidak akan baik.."


"Beda kalau penjahat yang kita tidak suka, kita mudah saja memberinya pelajaran atau menghabisinya sekalian.."


"Tapi ini menyangkut Paman Lai dan Bibi Fu, tentu saja berbeda.."


"Bagaimana jelek pun, dia masih putra mereka, jadi urusan itu tidak campur adalah yang terbaik.."


ucap Fei Yang mengingatkan istrinya dengan lembut.


Xue Lian mengangguk dan berkata,


"Yang ke ke benar, untung aku tidak bertindak, bila tidak tentu akan jadi kacau dan tidak enak dengan paman Kai dan bibi Fu.."


"Ehh ngomong ngomong Yang ke ke belum makan bukan, aku ada sisa nasi kemaren aku goreng kan ya..?"


tanya Xue Lian sambil ingin bangkit berdiri.

__ADS_1


"Ahh perut ini,.. semakin menganggu jadi sulit bergerak.."


keluh Xue Lian yang mencoba untuk bangun.


Fei Yang sambil tersenyum menahannya dan berkata,


"Kamu diam saja disini, biar aku saja yang turun tangan.."


"Kamu juga pasti sudah rindu dengan masakan ku bukan ?"


"Biar aku yang mengolahnya saja.."


ucap Fei Yang sambil memindahkan Xue Lian yang duduk di pangkuan nya dengan hati hati


Setelah itu tanpa menunggu jawaban istrinya, dia sudah pergi ke dapur untuk masak.


Xue Lian hanya bisa melepas kepergian suaminya dengan senyum bahagia.


Ibu benar, suami ku benar benar adalah yang terbaik, batin Xue Lian terharu.


Fei Yang tidak perlu lama sudah kembali dengan beberapa macam masakan tersaji di hadapan Xue Lian.


Mereka berdua duduk santai di pondok peristirahatan itu sambil makan bersama.


Selesai makan mereka berdua membawanya kebelakang untuk di cuci sama sama.


Setelah beres, Fei Yang menemani istrinya kembali kedalam pondok mereka untuk beristirahat.


Hari hari berlalu dengan cepat, dengan kembalinya Fei Yang.


Sun Er dan Zi Zi di bawah pengawasan ayahnya, mulai kembali berlatih.


Seperti pagi itu mereka pagi pagi sekali sudah berlatih bersama sama.


Di bawah pengawasan Fei Yang, Zi Zi tidak berani macam macam, apalagi Sun Er yang sangat menurut dan menghormati pamannya.


Dia lebih lebih tidak berani macam macam.


Kedua anak itu terlihat berlatih dengan serius.


Hingga menjelang siang, Fei Yang pun berkata,


"Nah sekarang kalian berdua boleh pergi beristirahat..mandi makan, tidur siang."


"Sore nanti ayah akan ajak kalian berdua jalan jalan melihat lihat pemandangan Kun lun San.."


"Kalian belum pernah kan kesana..?"


Zi Zi langsung bersorak gembira, penuh semangat mendengar ajakan jalan jalan dari ayahnya.


Dia selama ini memang sangat penasaran, ingin main ketempat tersebut.


Tapi berhubung Sun er melarang, Kim Tiaw juga tidak bersedia menuruti permintaannya.


Sehingga mau tidak mau, dia harus menelan semuanya, menahan diri dan keinginannya.


Setelah kedua anak itu pergi, Xue Lian menatap suaminya dengan heran dan berkata,


"Sayang kenapa kamu tiba-tiba saja ingin pergi ke Kunlun San..?"


"Mau apa kamu kesana ?"


tanya Xue Lian menatap suaminya dengan heran.


"Hari ini adalah hari peringatan kematian kedua guru ku Huo Lung dan Ping Feng.."


"Aku sudah lama tidak mengunjungi dan menyembahyangi mereka..aku ingin pergi kesana untuk sembahyang.."


"Sekalian mengajak anak anak melihat pemandangan tempat itu yang indah dan tenang.."


"Kamu mau ikut sekalian..?"


tanya Fei Yang sambil menoleh menatap kearah istri nya.


Xue Lian menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Kalian saja yang pergi, aku di sini saja.."


"Aku tidak leluasa dengan perut besar begini, nanti hanya akan merepotkan saja ."


"biar aku bantu persiapkan barang barang mau di bawa buat sembahyang saja.."


ucap Xue Lian, sambil membalikkan badannya berjalan pergi.


Satu tangan di gunakan untuk membantu menahan perutnya yang besar.


Tangan lain dia gunakan untuk memegang pinggang nya yang pegal karena terlalu berat menahan beban perutnya yang besar.


Xue Lian hamil anak kembar, tentu saja bebannya jauh dari ibu hamil normal biasa "


Fei Yang buru buru menyusul dan menahannya,


"Tidak usah sayang, kamu santai saja, semua barang sudah aku persiapkan dari kemaren tinggal di bawa saja.."


"Menurut ku kalau kamu mau ikut, itu tentu lebih baik, jangan khawatir merepotkan, aku tidak bakalan merasa repot karena kamu kan istri ku.."


ucap Fei Yang sambil menahan bahu istrinya.


Xue Lian tersenyum lebar dan berkata,


"Serius kamu ingin aku ikut, nanti anak anak gak senang lagi, badut cerewet ikut.."


Mendengar ucapan Xue Lian sambil menahan tawa, Fei Yang berkata,


"Mana ada begitu, kamu saja yang terlalu sensitif. "


"Ayo aku bantu siapkan perlengkapan yang akan kamu bawa saja ."


ucap Fei Yang menenangkan.


"Tapi sayang bawaan ku banyak, gak papa..?"


tanya Xue Lian ragu.


Fei Yang sambil tersenyum berkata,


"Gak papa, asal bukan pondok yang ingin kamu bawa, ku rasa Kim Tiaw masih sanggup.."


"Plakkkk..!"


Xue Lian sambil tertawa memukul lengan suaminya, yang meledek nya.


Fei Yang hanya tertawa ringan, dia lalu membimbing istri nya masuk kedalam pondok untuk menyiapkan segala sesuatunya.


Menjelang sore rombongan itu, sambil mengantar bibi Fu dan Paman Lai kembali kerumah.

__ADS_1


Mereka melanjutkan perjalanan menuju deretan pegunungan Kun Lun San yang luas dan panjang.


Bila dilihat dari kejauhan deretan pengunungan itu terlihat seperti seorang raksasa yang sedang tidur dalam posisi miring .


Begitu deretan pegunungan angker itu terlihat, Kim Tiaw langsung memekik nyaring penuh semangat


Dia langsung mempercepat terbangnya.


Zi Zi juga terlihat penuh semangat, menatap kearah pemandangan di depan sana.


Dia berkali kali menarik tangan kakaknya, melihat kearah pemandangan indah yang di lihatnya.


Fei Yang sendiri hanya tersenyum menikmati perjalanan, menjadi tempat bersandar bagi istrinya.


Xue Lian karena perutnya yang besar, bila tidak duduk bersandaran, dia akan merasa pinggang nya pegal.


Nafasnya sesak karena tertekan diafragma nya, oleh perutnya yang besar.


Fei Yang adalah tempat bersandar yang sempurna untuk nya.


"Pegal tidak sayang,..aku terus bersandar begini..?"


tanya Xue Lian.


Fei Yang sambil tersenyum menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku tidak merasakan nya, karena aku ingin menjadi sandaran hidup mu selamanya.."


Mendengar ucapan suaminya, Xue Lian sambil menahan senyum mencubit tangan suaminya dan berkata,


"Dasar ceriwis, memalukan,.. tidak malu apa sama anak anak..?"


Fei Yang sambil meringis, lalu tersenyum berkata,


"Aku bicara jujur, jadi tidak merasakannya.."


Xue Lian tersenyum bahagia, menganut tangan suaminya, meletakkan nya di atas perutnya.


Tak lama kemudian dua tikus kecil di dalam sana langsung bereaksi.


Fei Yang tersenyum lebar merespon dua bayi kembarnya yang tidak bisa diam, setiap dia menyentuh perut ibu mereka.


Beberapa saat kemudian Kim Tiaw mulai melakukan gerakan manuver dengan membentangkan kedua sayapnya lebar lebar.


Mengikuti arahan dari Fei Yang, Kim Tiaw akhir nya berhasil membawa mereka mendarat di kaki pegunungan Kun Lun San.


Tempat mereka mendarat adalah sebuah hamparan rumput luas, tidak jauh dari hamparan rumput luas itu, adalah sebuah hutan rimba, yang sangat lebat dan agak gelap.


Terlihat agak menyeramkan pemandangan di dalam nya.


Fei Yang memandang kearah hutan itu cukup lama, dia teringat dulu dia bersama teman pertama pertulangannya, Siau Huo muncul dari tempat itu.


Berdiri di tepi hutan itu menyaksikan pertempuran dahsyat kedua guru pertamanya, di dunia persilatan.


Huo Lung dan Ping Feng.


Tempat mereka bertarung adalah tempat dia dan rombongannya berdiri saat ini.


Satu persatu kilas balik peristiwa waktu itu terbayang jelas di depan mata nya.


Sayangnya semua kini telah tiada, hanya tersisa dirinya dan keluarganya lah yang kini berdiri di sini.


"Sayang apa yang kamu pikirkan, kenapa terus menatap kearah hutan itu..? ada apa di sana..?"


tanya Xue Lian sambil memegang tangan suaminya.


Fei Yang tersadar dari lamunannya, menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak ada apa-apa sayang, hanya sedikit terkenang hal hal yang telah lama berlalu saja.."


"Ayo kita cari makam guru ku, yang ada di sekitar sini.."


ucap Fei Yang tenang.


"Ayah tolong...!"


Tiba tiba terdengar suara Zi Zi dari balik rumput tebal tidak jauh dari sana.


"Sayang kamu tunggu di sini, aku pergi melihatnya.."


ucap Fei Yang cepat.


Lalu dia melesat cepat kedepan sana, saat tiba di sana.


Dia melihat Kim Tiaw sedang menghadapi seekor harimau yang tubuhnya di selimuti api.


Kim Tiaw menyambar nyambar kebawah dengan paruh dan cakarnya, sambil mengeluarkan pekik marah.


Sedangkan harimau yang seluruh tubuhnya di selimuti api, dia bergerak dengan tenang.


Menghindari serangan dari Kim Tiaw dan membalasnya dengan semburan api, sambil terkadang kadang mengeluarkan suara Auman yang menggetarkan seluruh tempat tersebut.


Zi Zi terlihat berdiri berlindung di belakang Sun Er dengan sikap agak ketakutan.


.Tapi Sun er terlihat tenang, pelan pelan menggiring Zi Zi mundur menjauh dari tempat pertarungan sengit, Kim Tiaw melawan harimau api itu.


Tidak jauh dari lokasi pertempuran, ada dua makam sederhana, yang agak tertutup oleh rumput liar di sekitarnya.


Sekali lihat Fei Yang langsung mengenali harimau api yang sedang bertarung itu, adalah teman masa kecilnya dulu.


Sedangkan kedua makam itu, jelas adalah makam dari kedua gurunya.


"Tiaw Siung mundurlah..!"


teriak Fei Yang untuk menghentikan aksi Kim Tiaw, yang masih bertarung sengit dengan harimau api.


Mendengar perintah dari tuan nya, Kim Tiaw pun segera terbang mundur, menjauhi harimau api itu.


"Groowaaarrrrrrr...!"


Harimau Api terlihat mengeram keras penuh ketidakpuasan.


Fei Yang dengan tenang melangkah kedepan dan berkata,


"Siau Huo..! apa kamu tidak mengenali ku lagi, teman..?"


Harimau Api itu terlihat meragu sejenak, dia terus menatap kearah Fei Yang dengan tajam.


Sesekali dia memamerkan taring nya, yang besar panjang dan runcing.


"Siau Huo ini aku Fei Yang teman mu dulu..aku masih terhitung murid mereka berdua."


"Kamu ingat dengan ku..?"


tanya Fei Yang sambil mengulurkan tangannya kedepan.

__ADS_1


__ADS_2