
Begitu Naga Kadal Terbang mendarat, Zi Zi dan Sun Er langsung berlarian menghampiri pondok sederhana itu dan berteriak,
"Ayah,.. Ibu....! kami pulang...!"
"Ayah,.. Ibu....! kami pulang...!"
"Ayah,.. Ibu....! kami pulang...!"
"Ayah,.. Ibu....!"
"Paman...bibi...!"
Ayah,.. Ibu....!"
"Paman...bibi...!"
Kedua anak itu saling pandang saat panggilan mereka tidak mendapatkan respon.
Nan Thian dan Siau Hei juga sudah menyusul menghampiri kedua anak itu.
Sedangkan Naga Kadal Terbang begitu penumpang nya turun.
Dia langsung mengepak ngepakkan sayapnya, kemudian terbang keangkasa dan menghilang dari tempat itu.
Nan Thian sendiri tidak ambil pusing, karena kapan pun dia butuh, dia bisa memanggilnya datang.
Lagipula hubungan mereka hanya terbatas perjanjian, tidak ada ikatan lainnya.
Berbeda dengan hubungan nya dan Siau Hei.
Zi Zi dan Sun Er setelah saling pandang sejenak, mereka berdua langsung melanjutkan dengan mendorong pintu pondok itu.
"Krieeet..!"
Pintu terbuka lebar, tapi selain banyak sarang laba laba di mana mana dan debu tebal terlihat di mana mana.
Tidak terlihat ada siapapun di dalam sana.
"Ayah...! Ibu...!"
teriak Zi Zi sambil melangkah masuk dengan wajah cemas.
Dia mempercepat langkahnya, pergi menyingkap tirai penutup kamar kedua orang tuanya.
Tapi dia mendapatkan kamar tersebut kosong, sama seperti di bagian depan, selain debu dan sarang laba-laba tidak terlihat ada siapapun di sana.
Sun er ikut menyusul dari belakang mengikuti Zi Zi.
"Kakak rumah terlihat begitu kotor apa Bibi Lai dan Paman Fu juga tidak datang bekerja..?"
"Ayah Ibu juga tidak terlihat, kira kira kemana mereka ?"
tanya Zi Zi dengan bingung.
Sun Er menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Apa paman bibi belum pulang, karena pergi mencari kita..?
"Tapi entahlah, mungkin saja ada hal lain.."
"Coba kita lihat ke halaman belakang."
__ADS_1
ucap Sun Er berusaha menenangkan adiknya.
Zi Zi mengangguk, lalu mereka berdua keluar dari dalam kamar dengan wajah kecewa.
"Ada apa paman bibi..?"
"Di mana kakek paman guru dan Nenek Bibi guru, ? mengapa rumah ini terlihat seperti sudah lama di tinggalkan..?"
tanya Nan Thian dan Siau Hei yang baru menyusul dengan heran.
Sun er menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Entahlah kak, kami juga kurang paham.."
"Kita coba periksa lagi ketempat lainnya.."
ucap Nan Thian mencoba menyemangati kedua anak itu.
"Ayo kakak temani.."
Zi Zi sambil bercucuran air mata berlari kedalam pelukan Nan Thian dan berkata,
"Mungkin karena Zi Zi nakal, tidak suka menuruti kata kata ayah ibu.."
"Hingga mereka tidak menghendaki Zi Zi lagi."
ucap Zi Zi terisak sedih.
"Bibi kecil jangan nangis dulu, kakek paman guru dan nenek bibi guru tidak mungkin seperti itu.."
"Mereka pasti ada alasannya, ayo kita cari dan lihat lihat ketempat lainnya.."
Lalu berjalan mengikuti kemana Sun Er melangkah.
Sun Er mencoba mencari di kebun halaman belakang.
Tapi saat sampai di sana, dia terbelalak lebar melihat kekacauan yang terjadi di halaman belakang sana.
Kebun sayur dan buah yang biasanya di jaga dengan sangat baik dan rapi.
Kini terlihat sangat kacau berantakan, lubang lubang besar di mana mana.
Bahkan kolam air terjun juga hancur berantakan, kini air terjun yang biasanya di tampung oleh kolam kecil itu.
Tidak terlihat lagi, air berceceran mengalir dan menggenang di mana mana.
Sebagian tebing di halaman belakang juga ambruk, berubah menjadi tumpukan batu yang menggunung.
Pohon pohon persik dan pohon bambu yang tertanam rapi di sana, kini telah musnah hancur berantakan.
Pohon persik terlihat roboh hingga akarnya menghadap keatas.
Sekali lihat saja, Nan Thian bisa menebak pasti ada terjadi pertempuran mengerikan dan dahsyat berlangsung di tempat itu.
Tapi semua ini menjadi misteri dan tanda tanya besar, mengapa bisa seperti ini.
Siapa yang punya kemampuan dan nyali macan, berani datang mengusik sarang naga.
Batin Nan Thian di dalam hati.
Tiba-tiba Nan Thian teringat dengan 4 orang pangeran ke 8, dia langsung menoleh kearah Sun Er dan bertanya,
__ADS_1
"Sun Er, coba jelaskan bagaimana ayah ibu mu bisa meninggal ? apa yang terjadi dengan kerajaan Xi Xia..?"
Sun Er terduduk lesu dan berkata,
"Kerajaan kami di serang oleh kerajaan Mongolia sekutu kami sebelumnya, setelah mereka berhasil menahlukkan kerajaan Jin.."
"Ibu kandung ku, memang sudah meninggal sejak aku masih bayi."
"Sedangkan ayah ku dan bibi Sian Sian ibu tiri ku, mereka berdua meninggal saat mempertahankan kerajaan Xi Xia."
"Aku di selamatkan oleh paman Fei Yang dan Bibi Xue Lian, seterusnya aku di bawa kemari dan ikut tinggal dengan paman bibi dan Zi Zi.."
ucap Sun Er menceritakan apa yang dia tahu.
Nan Thian mengangguk, kini dia sedikit curiga kejadian ini ada hubungannya dengan status Kakek paman gurunya sebagai pangeran Kerajaan Xi Xia.
Juga ada hubungannya dengan Sun er sebagai putra mahkota kerajaan Xi Xia yang tersisa.
Tapi semua ini cuma dugaannya saja, untuk pastinya, dia masih harus menemukan kakek paman guru nya dulu.
Baru bisa tahu dengan jelas apa yang sebenarnya telah terjadi.
Nan Thian menatap Sun er dan Zi Zi, lalu berkata,
"Apa kalian tahu kemana kebiasaan kakek paman guru dan nenek bibi guru biasanya pergi selain di sini."
"Seperti tempat rahasia atau apa..?"
tanya Nan Thian serius.
Kedua anak kecil itu menggelengkan kepalanya dengan kompak.
"Ayah ibu selalu bersama kami di sini, kalaupun pergi pergi biasanya hanya Kim Tiaw Sen Tiaw."
"Mereka di tugaskan pulang pergi untuk menjemput bibi Lai dan Paman Fu kemari.."
ucap Zi Zi menjelaskan.
"Siapa bibi Lai dan Paman Fu ? di mana mereka tinggal..?"
tanya Nan Thian cepat.
"Bibi Lai dan Paman Fu adalah suami istri yang bekerja untuk membantu ayah ibu di sini.."
"Aku tidak tahu persis di mana mereka tinggal, aku hanya pernah dengar bibi Lai bilang, dia tinggal di lereng Puncak Lian Hua Feng.
"Lian Hua Feng,..ahh itu bukankah di sebelah barat sana tempat perguruan Hua San berada..?"
gumam Nan Thian seorang diri.
Dia sedikit bersemangat dan buru buru berkata,
"Paman bibi kita bisa mulai menanyakan kepada Bibi Lai dan Paman Fu."
"Siapa tahu mereka paham dengan apa yang terjadi di sini.."
"Ayo kita berangkat saja, ke Lian Hua Feng.."
ucap Nan Thian sambil membelai kepala Paman dan bibi kecilnya dengan lembut.
Kedua anak kecil itu mengangguk kecil lalu mereka berdua menggandeng tangan Nan Thian kembali ke halaman depan menunggu kedatangan Naga Kadal Terbang, yang akan mengantar mereka ke Lian Hua Feng (Puncak Bunga Teratai )
__ADS_1